https://proceedings.ums.ac.id/apc/issue/feed Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025-12-17T11:29:09+07:00 Adnan Faris Naufal [email protected] Open Journal Systems <p>Proceeding Title: <strong>Academic Physiotherapy Conference Proceeding<br /></strong>Organizer: Department of Physiotherapy, Universitas Muhammadiyah Surakarta<br />ISSN (Online): <a href="https://issn.perpusnas.go.id/terbit/detail/20220105001128159" target="_blank" rel="noopener">2809-7475</a><br />INDEXED: <a href="https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/journal/view/27049" target="_blank" rel="noopener">Garuda</a></p> <p><a href="http://apc.ums.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">Academic Physiotherapy Conferences</a> are a series of activities that include international seminars and call papers. This activity aims to improve literacy and scientific publications of physiotherapy which specifically discuss cases related to problems of function and movement of the human body.</p> https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6193 Flexibility Lumbal Exercise Efektif dalam Mengurangi Keluhan Low Back Pain: Systematic Review berdasarkan Randomized Control Trial 2025-10-04T11:30:46+07:00 Farrah Rizky Mutiara [email protected] Mahendra Wahyu Dewangga [email protected] Tiara Fatmarizka [email protected] <p>Pendahuluan: Low back pain atau nyeri punggung bagian bawah yang sering terjadi pada individu terutama pada pekerja, Hal tersebut terjadi karena jenis pekerjaan dan faktor ergonomis saat bekerja. LBP yang terjadi dengan jangka waktu yang lama disebut dengan CLBP. Faktor ergonomi atau postur yang buruk saat bekerja yang dilakukan secara berulang serta gaya hidup seperti aktivitas fisik dan kebiasaan merokok dapat menjadi salah satu faktor terjadinya LBP pada pekerja sehingga dapat mempengaruhi tingkat fleksibilitas lumbal. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka (literature review) menggunakan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA).</p> <p>Tujuan: Kajian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam terkait intervensi untuk lumbal flexibility dalam meningkatkan kualitas hidup pada setiap individu terutama pada pekerja melalui analisis data sekunder.</p> <p>Hasil: Fleksibilitas lumbal memiliki banyak manfaat bagi tiap individu khususnya bagi yang mengalami keluhan LBP. Fleksibilitas dapat di maksimalkan dengan Exercise yang dilakukan secara rutin di rumah. Selain pengukuran tingkat fleksibilitas lumbal (Sit And Reach Test &amp; Finger to Floor), beberapa komponen yang dapat diatasi dengan Exercise yaitu penurunan tingkat nyeri (Numeric Rating Scale), peningkatan fungsional tiap individu (Owestry Disability Index) dan Peningkatan Kualitas hidup tiap individu (Short Form-36 (SF-36)).</p> <p>Kesimpulan: Exercise menjadi salah satu pengobatan non-farmakologi dan dapat dijangkau dengan mudah dan murah tetapi memiliki efek yang banyak dalam mengatasi CLBP terutama pada pekerja.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6194 Manajemen Fisioterapi pada Reaksi Morbus Hansen Type II "A Case Report" 2025-10-04T12:10:07+07:00 Azizah Shalsa Billa [email protected] Dwi Rosella Komalasari [email protected] Christina Wahyu Wijayanti [email protected] <p>Introduction: Kusta tipe II atau Eritema Nodosum Leprosum (ENL) merupakan reaksi inflamasi akut yang sering ditemukan pada pasien dengan kusta tipe multibasiler. Reaksi ini dapat menyebabkan gejala sistemik seperti nyeri hebat, nodul subkutan, anhidrosis, dan pembengkakan yang berujung pada penurunan kualitas hidup pasien. Studi kasus ini bertujuan mengevaluasi efek intervensi fisioterapi berupa active assisted exercise dan oiling terhadap nyeri, odema, dan elastisitas kulit pada pasien dengan diagnosa reaksi Morbus Hansen tipe II.</p> <p>Case Presentation: Desain penelitian ini dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Penelitian ini dilaksanakan di RS Sumber Glagah Mojokerto pada bulan Oktober-November 2024 pada seorang laki-laki berusia 26 tahun dengan diagnosa reaksi Morbus Hansen Tipe II.</p> <p>Management and Outcome: Penatalaksanaan fisioterapi dalam tiga sesi intervensi aktif dengan active assisted exercise, oiling, dan breathing exercise. Pemeriksaan fisioterapi dengan palpasi untuk mengukur elastisitas kulit, lembar POD (Prevention of Disability) untuk mengukur sensitivitas saraf, penilaian nyeri dengan NRS (Numeric Rating Scale) dan pengukuran lingkar odem dengan antropometri.</p> <p>Conclusion: Fisioterapi berupa active assisted exercise dan oiling dapat mengurangi gejala inflamasi dan mempertahankan fungsi ekstremitas pada pasien kusta tipe 2. Penanganan berkelanjutan dibutuhkan untuk memperbaiki disfungsi saraf dan elastisitas kulit secara menyeluruh.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6195 Manajemen Fisioterapi pada pasca Rekonstruksi ACL Sinistra (Lateral Extra-Articular Tenodesis) 2025-10-04T13:13:28+07:00 Mutiara Sabta Amanda [email protected] Dwi Rosella Komalasari [email protected] Sigit Saputro [email protected] <p>Introduction: Rekonstruksi anterior cruciate ligament (ACL) dengan prosedur Lateral Extra-articular Tenodesis (LET) merupakan tindakan pembedahan yang bertujuan untuk mengembalikan stabilitas lutut, terutama pada pasien dengan risiko tinggi retear. Proses rehabilitasi fisioterapi pasca operasi memiliki peran penting dalam pemulihan fungsi, pengurangan nyeri, peningkatan kekuatan otot, lingkup gerak sendi dan kemampuan fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam program rehabilitasi fisioterapi pada individu dengan kasus pasca rekonstruksi ACL disertai lateral extra-articular tenodesis, serta untuk mengevaluasi efektivitas program rehabilitasi yang diberikan melalui pendekatan studi kasus.</p> <p>Case Presentation: Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi kasus yang dilakukan pada seorang pasien pasca rekonstruksi acl.</p> <p>Management and Outcome: Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus terhadap seorang pria berusia 19 tahun pasca rekonstruksi ACL dengan LET. Intervensi fisioterapi yang diberikan meliputi ultrasound, muscle release, latihan penguatan (quadriceps setting, SLR, clamshell, calf raise), mobilisasi patella, latihan proprioseptif, dan core strengthening. Intervensi diberikan dalam empat kali pertemuan, yang dievaluasi pada setiap pertemuannya. Evaluasi dilakukan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), goneometer, Manual Muscle Testing (MMT), dan International Knee Documentation Committee (IKDC). Discussion: Hasil menunjukkan adanya penurunan nyeri, peningkatan lingkup gerak sendi, kekuatan otot, serta perbaikan fungsi aktivitas setelah dilakukan empat kali intervensi. Dengan demikian, program fisioterapi yang terstruktur dan tepat dapat memberikan perbaikan signifikan pada pasien pasca rekonstruksi ACL dengan LET.</p> <p>Conclusion: Program fisioterapi yang diberikan selama empat kali pertemuan menunjukkan perbaikan pasien yang diukur menggunakan NRS (Numeric Rating Scale), goneometer, MMT dan IKDC (International Knee Documentation Committee).</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6394 Penatalaksaan Fisioterapi pada Pasien dengan Kondisi Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) et Causa Emfisema di RSUD Dungus Jawa Timur: Case Report 2025-11-22T11:58:09+07:00 Rizki Setiawan [email protected] Dwi Rosella Komalasari [email protected] Mulatsih Nita Utami [email protected] <p>Introduction: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) merupakan kondisi yang mempengaruhi paru-paru dan menghambat proses bernapas, ditandai dengan terbatasnya aliran udara yang masuk ke dalam tubuh dan bersifat progresif. Gejala utama dari COPD mencakup kesulitan bernapas, batuk yang berlangsung lama, dan keluarnya lendir. Banyak pasien merasakan suara mengi dan tekanan di dada. Terapi nebulizer dapat diterapkan kepada pasien yang menderita penyakit pernapasan obstruktif kronis, reaksi alergi, serta infeksi pada paru-paru. Pursed Lip Breathing digunakan untuk menangani isu pembersihan saluran pernapasan yang tidak optimal pada pasien COPD, Deep Breathing Exercise sangat bermanfaat dalam memperbesar volume dan kemampuan paru-paru, dan ACBT dengan efektif dapat menghilangkan dahak, meningkatkan kapasitas paru-paru serta memperbaiki fungsi pernapasan.<br>Case Presentation: Pasien berusia 77 tahun dengan keluhan batuk, sesak disertai demam selama 3 hari, saat ini dahak belum bisa keluar. Terdapat nyeri dada bagian kiri bawah, merasa kesulitan atau ampek saat menarik napas. Nilai sesak dengan borg scale didapatkan skor 5, respiratory rate 28x/menit, saturasi oksigen 92%, mMRC dengan skor 3. Ekspansi thoraks pada axilla 2 cm, ICS 4 didapati 1 cm, processus xipoid 3 cm.<br>Management and Outcome: Setelah pemberian terapi nebulizer, Pursed Lip Breathing, Deep Breathing Exercise dan ACBT selama 3 kali sehari dan dilakukan evaluasi 3 kali dalam sehari, didapati peningkatan saturasi oksigen dari 92% menjadi 95%, penurunan derajak sesak dari 5 menjadi 2, penurunan respiratory rate dari 28x/menit menjadi 22x/menit, dan peningkatan ekspansi sangkar thoraks pada ICS 2, ICS 4 dan prosesus xiphoideus.<br>Conclusion: Manajemen fisioterapi untuk pasien COPD menunjukkan dampak yang baik dalam mengurangi kesulitan bernapas, meningkatkan kapasitas dada, serta fungsionalitas paru-paru, sehingga secara keseluruhan pasien merasakan perbaikan dibandingkan kondisi sebelumnya.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6395 Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Bell's Palsy Sinistra: Case Study 2025-11-22T12:02:08+07:00 Muh Anugerah Dzul Kaidah [email protected] Dwi Rosella Komalasari [email protected] S Sukatwo [email protected] <p>Introduction: Bell's Palsy adalah kelumpuhan saraf wajah perifer yang bersifat idiopatik, biasanya terjadi secara mendadak, dan sering kali dikaitkan dengan paparan dingin yang berkepanjangan. Penatalaksanaan fisioterapi seperti penggunaan infrared, stimulasi listrik, dan pijat wajah dapat membantu mempercepat pemulihan otot wajah.<br>Case Presentation: Seorang pria berusia 37 tahun bekerja sebagai satpam dengan paparan AC dan angin malam yang tinggi, mengalami kelumpuhan otot wajah sisi kiri. Pasien mengeluh nyeri di telinga kiri, kesulitan menutup mata, dan asimetri wajah yang nyata.<br>Management and Outcome: Intervensi fisioterapi yang diberikan meliputi terapi infrared, stimulasi listrik faradik, dan pijat wajah, dilakukan dua kali seminggu. Evaluasi menggunakan Manual Muscle Testing (MMT) dan Ugo Fisch Scale menunjukkan peningkatan kekuatan dan fungsi otot wajah setelah empat sesi terapi.<br>Conclusion: Terapi fisioterapi yang terstruktur dengan kombinasi modalitas infrared, stimulasi listrik, dan facial massage terbukti efektif dalam meningkatkan fungsi dan kekuatan otot wajah pada pasien Bell's Palsy sinistra.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6396 Eksplorasi Center of Pressure (COP) Deviasi dalam Kontrol Postur pada Gangguan Muskuloskeletal: Systematic Review 2025-11-22T12:06:02+07:00 Anida Azkia Fitri [email protected] Mahendra Wahyu Dewannga [email protected] <p>Introduction: Gangguan muskuloskeletal merupakan penyebab utama disabilitas global dan berhubungan erat dengan penurunan kontrol postur. Deviasi Center of Pressure (COP) menjadi indikator penting dalam menilai keseimbangan tubuh pada individu dengan gangguan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi deviasi COP dalam kontrol postur pada pasien dengan gangguan muskuloskeletal berdasarkan hasil systematic review.<br>Methods: Penelitian ini menggunakan kerangka PICO dengan pencarian artikel melalui database PubMed untuk publikasi tahun 2020-2025 menggunakan kata kunci "Center of Pressure" AND "Musculoskeletal" AND "Posture". Kriteria inklusi meliputi studi penelitian primer berbahasa Inggris, populasi dewasa usia 19-44 tahun, dan pengukuran COP sebagai variabel utama, dengan lima artikel yang memenuhi syarat.<br>Results: Lima artikel terpilih dari 97 hasil pencarian di PubMed setelah proses seleksi inklusi dan eksklusi, kemudian dianalisis dan dinilai kualitas metodologinya menggunakan JBI Critical Appraisal Tools, dengan hasil dua studi berkualitas tinggi, satu studi baik, dan dua studi moderat. Discussion: Hasil review menunjukkan bahwa obesitas, kelelahan otot, nyeri muskuloskeletal kronis, keterbatasan rentang gerak sendi, serta kesadaran terhadap gangguan eksternal berkontribusi terhadap peningkatan deviasi COP. Deviasi ini mencerminkan penurunan stabilitas postural, terutama dalam arah mediolateral dan anteroposterior, yang meningkatkan risiko jatuh. Conclusion: Deviasi Center of Pressure (COP) berkaitan erat dengan gangguan kontrol postur pada individu dengan masalah muskuloskeletal dan mendukung penggunaannya sebagai alat evaluatif dalam perencanaan intervensi rehabilitatif yang tepat sasaran.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6397 Efektivitas Intervensi Nonfarmakologis terhadap Low Back Pain Kronik dalam Meningkatkan Kualitas Tidur: Tinjauan Naratif 2025-11-22T12:08:33+07:00 Erma Juana BR Ginting [email protected] Mahendra Wahyu Dewangga [email protected] <p>Introduction: Chronic Low Back Pain (CLBP) merupakan satu dari beberapa permasalahan muskuloskeletal yang sangat biasa terjadi pada orang dewasa serta kerap kali berhubungan dengan gangguan tidur, yang pada akhirnya memperburuk kualitas hidup. Keterkaitan antara nyeri dan tidur menciptakan tantangan dalam penanganan jangka panjang individu dengan nyeri punggung bawah kronis.<br>Method: Studi ini menerapkan metode kualitatif dengan pemenggunakan pedoman Preferred Reporting Items for Naratif Literatur Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Tinjauan sistematis ini menelaah uji coba terkontrol secara acak (RCT) yang dipublikasikan antara tahun 2020 hingga 2025 dan meneliti efektivitas intervensi terhadap kualitas tidur pada orang dewasa dengan nyeri punggung bawah kronis. Artikel dikumpulkan dari database PubMed menggunakan kata kunci "chronic low back pain" dan "sleep quality". Kriteria inklusi meliputi peserta berusia ≥18 tahun dengan LBP ≥12 minggu, serta penggunaan alat ukur kualitas tidur yang tervalidasi seperti PSQI, ISI, atau PROMIS.<br>Result: Sebanyak enam studi RCT memenuhi kriteria. Intervensi yang dianalisis mencakup mindfulness-based stress reduction (MBSR), latihan akuatik, yoga virtual, fisioterapi konvensional, stimulasi listrik (TENS), kinesio taping, dan diatermi radiofrekuensi. Mayoritas studi menunjukkan adanya peningkatan kualitas tidur, terutama pada intervensi yang menggabungkan komponen fisik dan psikologis. Mindfulness dan terapi akuatik menunjukkan hasil paling konsisten dalam menurunkan nyeri dan meningkatkan kualitas tidur<br>Discussion: Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan multimodal yang mengintegrasikan relaksasi psikologis dan latihan fisik lebih efektif dalam meningkatkan kualitas tidur dibandingkan pendekatan tunggal yang hanya bersifat fisik. Intervensi yang fokus pada pengurangan stres dan pengaturan sistem saraf memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan teknik pasif seperti kinesio taping.<br>Conclusion: Tinjauan ini memperkuat pemahaman bahwa kualitas tidur perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam tujuan terapi bagi pasien dengan nyeri punggung bawah kronik. Pendekatan yang menggabungkan aspek fisik dan psikologis secara bersamaan direkomendasikan karena mampu memberikan manfaat klinis yang lebih menyeluruh.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6398 Pengaruh Cryotherapy dan Faktor Psikologis dalam Performa Atlet Bocchia Tinjauan Sistematis 2025-11-22T12:13:50+07:00 Rico Anandri Sembiring [email protected] Mahendra Wahyu Dewangga [email protected] Suryo Saputro Perdana [email protected] <p>Introduction: Boccia adalah olahraga yang dirancang khusus untuk atlet difabel, yang memerlukan tingkat presisi, strategi, dan koordinasi yang tinggi. Cryotherapy menjadi metode pemulihan yang efektif bagi atlet, membantu mengurangi rasa nyeri dan peradangan. Objectives: Kajian ini bertujuan untuk merangkum temuan-temuan terkini mengenai pengaruh cryotherapy terhadap pemulihan atlet serta kontribusi faktor psikologis terhadap performa atlet Boccia.<br>Method: Jenis penelitian kajian literatur ini ndengan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian yang digunakan Quasi Eksperiment menggunakan pendekatan pre test dan post test one group. Jumlah sampel minimal yang digunakan adalah 8-12 partisipan, sesuai standar minimal studi pilot intervensi klinis. Instrumen penelitian menggunakan Ultrasonografi Muskuloskeletal (USG), Pulse oximeter atau heart rate monitor, Lembar observasi dan termometer digital.<br>Result: Cryotherapy dan latihan berbasis Boccia terbukti efektif meningkatkan pemulihan fisik dan fungsi motorik, termasuk kekuatan dan fleksibilitas otot. Selain itu, performa atlet Boccia juga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti efikasi diri dan harapan sukses, terutama pada kelas BC4.<br>Conclusion: Berdasarkan lima artikel yang telah dianalisis, cryotherapy menunjukkan manfaat dalam pemulihan otot dan peningkatan performa fisik, sedangkan aspek psikologis seperti identitas atlet, kecemasan, dan efikasi diri berperan dalam keberhasilan kompetisi, khususnya pada atlet dengan disabilitas berat.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6399 Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus post Amputation above Knee Sinistra di RSUP Prof. I.G.N.G Ngoerah: A Case Study 2025-11-22T12:20:01+07:00 Zulfikar Yucha Putra [email protected] Umi Budi Rahayu [email protected] Nilam Nur Hamidah [email protected] <p>Introduction: Amputasi merupakan sebuah prosedur pengambilan atau pemotongan bagian tubuh yang telah mengalami kerusakan jaringan atau nekrosis. Setelah menjalani amputasi seseorang akan mengalami perubahan anatomi dan fisiologi, maka diperlukan proses rehabilitasi oleh fisioterapi untuk mengoptimalkan proses pemulihan pasca amputasi.<br>Case Presentation: Pasien Tn. I.N.A.N merupakan seorang laki-laki berusia 32 tahun datang dengan keluhan nyeri tak tertahankan dan keterbatasan gerak pada kaki kirinya akibat kecelakaan yang ia alami. Pasien didiagnosa mengalami compartement syndrome ec multiple fracture serta pasien tidak memiliki riwayat penyakit lainnya. Setelah menjalani amputasi pasien tampak lemas, mengeluhkan rasa nyeri (Phantom Pain) dan kesulitan untuk bergerak meskipun dalam keadaan di atas kasur. Pasien lalu mendapatkan rujukan untuk menjalani treatment fisioterapi dengan tujuan nyeri dapat berkurang, mampu menggerakkan anggota tubuh yang mengalami amputasi, dan pasien mampu untuk melakukan kegiatan transfer dan ambulasi.<br>Management and Outcome: Jenis penelitian ini merupakan case report yang memiliki sampel 1 orang pasien laki-laki dengan diagnosis post amputee above knee sinistra ec compartement syndrome ec traumatic injury. Alat ukur yang digunakan yaitu Numeric Pain Rating Scale (NPRS) untuk skala nyeri, goniometer untuk lingkup gerak sendi, Manual Muscle Testing (MMT) untuk tingkat kekuatan otot, meterline untuk lingkar segmen odema, dan Amputee Mobility Predictor (AMP) untuk tingkat kemampuan fungsional<br>Discussion: Setelah dilakukan pemberian intervensi oleh fisioterapi sebanyak 3 kali didapatkan hasil bahwa terjadi perubahan yang cukup meningkat pada lingkup gerak sendinya, tingkat nyeri, kekuatan otot, integritas kulit, dan kemampuan fungsionalnya<br>Conclusion: Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi exercise serta massage dapat memberikan peningkatan kemampuan namun tidak signifikan.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6400 Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Ataxic Cerebral Palsy di PNTC Colomadu: A Case Report 2025-11-22T13:27:45+07:00 Zehra Karil Deistriany [email protected] Umi Budi Rahayu [email protected] Arif Kurniawan [email protected] <p>Introduction: Cerebral Palsy (CP) adalah kondisi neurologis yang mempengaruhi perkembangan otak dan sistem saraf, sehingga mengganggu kemampuan motorik dan keseimbangan tubuh. Pada anak-anak, CP dapat mempengaruhi kemampuan belajar dan bergerak. Salah satu jenis CP, yaitu CP ataxia, terjadi akibat kerusakan pada bagian otak yang mengatur keseimbangan dan gerakan, sehingga menyebabkan kesulitan dalam mengontrol gerakan tubuh.<br>Case Presentation: Pasien merupakan seorang anak perempuan yang berumur 1 tahun 11 bulan datang bersama dengan keluarganya ke PNTC. Di usia ke 6 bulan keluarga pasien merasa pertumbuhan pasien tidak seperti anak pada umumnya dan seusianya. Menurut keterangan keluarga, pasien belum mampu berguling, berlutut, posisi ongkang-ongkang, dan berdiri tegak sendiri. Pasien sudah memiliki kemampuan untuk duduk, namun posisi duduknya kurang tepat. Pasien juga masih sensitif dengan suara yang membuat ia merasa terganggu. Hingga saat usianya sekarang pasien juga belum mampu untuk berbicara dengan kata yang bermakna, hanya bisa berbicara bubbling. Pasien juga tidak memiliki riwayat penyakit, tidak terdapat permasalahan dimasa kehamilan seperti tidak pernah jatuh dan tidak ada terdiagnosa virus. Pasien lahir dalam usia kehamilan cukup bulan dan tidak ada diagnosis apapun. Pasien menerima treatment oleh fisioterapis selama 2-3 kali pertemuan setiap minggunya.<br>Management and Outcome: Penelitian dengan metode Case Report dilakukan di Pediatric Neurodevelopmental Therapy Center pada anak berusia 1 tahun 11 bulan dengan diagnosis cerebral palsy ataxia. Anak tersebut memiliki kemampuan terbatas, yaitu hanya dapat mengangkat kepala. Penelitian ini menggunakan intervensi Neurodevelopmental Treatment (NDT), latihan kekuatan, mobilisasi sendi, dan pijat. Peningkatan diukur menggunakan beberapa alat ukur, yaitu GMFM, PFRT, PEDI, dan TCMS.<br>Discussion: Pengukuran yang telah dilakukan pada responden cerebral palsy ataxia yang berusia 6 bulan menemukan hasil berupa GMFM, PFRT, PEDI, dan TCMS mendapatkan score yang sama dari T1-T4, yang mana GMFM dengan score 46%, PFRT dengan score &lt;10 cm, PEDI dengan score 12,5%-25% dan TCMS dengan score total 23.<br>Conclusion: Berdasarkan penelitian dengan menggunakan Case Report menunjukkan penatalaksanaan fisioterapi dalam jangka waktu 4 minggu sebanyak 2 kali/minggu dengan intervensi Neurodevelopmental Treatment (NDT), latihan kekuatan, mobilisasi sendi, dan pijat secara keseluruhan dari hasil evaluasi didapatkan belum ada peningkatan.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6401 Peran Chest Physiotherapy dalam Optimalisasi Komposisi Gas Darah: Tinjauan Naratif terhadap Mekanisme Fisiologis dan Implikasi Klinis 2025-11-22T13:34:08+07:00 Galih Adhi Isak Setiawan [email protected] <p>Introduction: Pasien dengan gangguan pernapasan yang dirawat di ruang intensif sering membutuhkan ventilator mekanik. Pemantauan gas darah arteri (AGD) seperti PaO2, PaCO2, dan pH penting untuk menilai efektivitas ventilasi. Chest physiotherapy (CPT) digunakan sebagai terapi adjuvan untuk meningkatkan ventilasi dan oksigenasi, namun bukti ilmiah mengenai pengaruhnya terhadap komposisi gas darah masih bervariasi.<br>Objective: Meninjau secara naratif efek fisioterapi dada terhadap komposisi gas darah (PaO2, PaCO2, SaO2) berdasarkan bukti ilmiah dari 20 tahun terakhir.<br>Metode: Tinjauan naratif ini mengkaji tujuh artikel penelitian intervensional, termasuk RCT, crossover, dan review sistematis, yang mengevaluasi parameter gas darah pada pasien dewasa, anak, dan neonatus setelah intervensi CPT. Analisis menggunakan pendekatan PICO.<br>Discussion: Teknik seperti manual hyperinflation, oscillating PEP, dan vibrasi mekanik menunjukkan peningkatan PaO2 dan penurunan PaCO2, khususnya pada pasien dewasa ventilator dan anak dengan fibrosis kistik. Namun, pada anak yang mendapat ventilator dan pasien tanpa produksi sputum, CPT tidak menunjukkan perbedaan signifikan atau bahkan menurunkan oksigenasi. Efektivitas sangat tergantung pada teknik dan kondisi pasien.<br>Conclusion: Chest physiotherapy dapat memberikan manfaat terhadap ventilasi dan oksigenasi secara akut, namun memerlukan seleksi pasien dan teknik yang tepat agar aman dan efektif. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan desain yang kuat dan populasi homogen.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6402 Pengaruh Intervensi Mobilization Exercises dan Scar Massage terhadap Kasus Luka Bakar Grade II AB 21,5% pada Anak: A Case Report 2025-11-22T13:37:57+07:00 Ahmada Norma Syinta [email protected] Umi Budi Rahayu [email protected] Nilam Nur Hamidah [email protected] <p>Introduction: Luka bakar (combustio) pada anak-anak merupakan kondisi yang dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan dan perkembangan, khususnya bila tidak ditangani secara optimal. Salah satu komplikasi umum adalah terbentuknya kontraktur dan keterbatasan mobilitas, sehingga fisioterapi sejak dini sangat penting untuk mencegah disabilitas jangka panjang.<br>Case Presentation: Seorang anak berusia 2 tahun mengalami luka bakar derajat II seluas 21,5% akibat api, dengan lokasi luka pada ekstremitas atas dan bawah. Pasien menunjukkan keterbatasan fungsi gerak, risiko tinggi kontraktur, dan nyeri pada area luka.<br>Management and Outcome: Penanganan fisioterapi dilakukan melalui latihan range of motion (ROM) pasif dan aktif, latihan aktif-terbantu, latihan berdiri dan berjalan, latihan keseimbangan, serta massage pada jaringan parut. Evaluasi dilakukan menggunakan SWEAT untuk integritas kulit, Vancouver Scar Scale, dan WeeFIM sebelum dan setelah dua sesi intervensi. Hasil menunjukkan belum ada perubahan klinis yang signifikan, namun terdapat perbaikan berupa penurunan nyeri dari 5/10 menjadi 4/10, peningkatan fleksibilitas tungkai kiri, dan munculnya refleks meskipun masih minimal. Skor WeeFIM meningkat dari 60 menjadi 61.<br>Conclusion: Intervensi fisioterapi awal memberikan dampak positif meskipun belum signifikan secara klinis. Lanjutan terapi secara rutin disertai program latihan di rumah sangat penting untuk mencegah kontraktur dan mendukung optimalisasi fungsi motorik pada anak dengan luka bakar.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6403 Manajemen Fisioterapi pada Kasus Bronchiectasis et Causa post Tuberculosis Lung Disease (PTLD): Case Report 2025-11-22T13:44:24+07:00 Nabila Rizka Lathifani [email protected] Dwi Rosella Komalasari [email protected] P Prayitno [email protected] <p>Introduction: Bronkiektasis adalah penyakit saluran napas kronis yang ditandai dengan batuk produktif dan produksi sputum berlebihan akibat kerusakan permanen pada dinding bronkus. Dyspnea dan kelelahan juga menjadi gejala yang dapat dialami oleh penderita. Pendekatan fisioterapi diperlukan untuk manajemen gejala tersebut.<br>Case Presentation: Penelitian ini merupakan case report dengan single subject research yang dilakukan selama dua hari pada satu pasien wanita penderita bronchiectasis. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui efek pemberian muscle release, diaphragmatic breathing, pursed lip breathing, segmental breathing, postural drainage, serta Active Cycle of Breathing Technique (ACBT). Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan parameter ekspansi thoraks, skala sesak (NRS), fungsi aktivitas (mMRC), dan auskultasi. Terdapat peningkatan ekspansi thoraks sebesar 1,3cm pada segmen axilla dan ICS IV serta 0,8cm pada segmen xyphoid process. Demikian pula suara ronchi yang menurun di area paru tertentu. Namun, tidak terjadi perubahan signifikan pada tingkat sesak (NRS) dengan nilai 2/10 dan aktivitas fungsional (mMRC) dengan grade 1.<br>Conclusion: Intervensi fisioterapi selama dua hari menunjukkan potensi dalam memperbaiki ekspansi paru dan mengurangi suara ronchi pada pasien bronchiectasis. Pendekatan ini dapat menjadi bagian dari manajemen rehabilitasi pasien.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6404 Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Claw Finger e.c. Morbus Hansen disertai Drop Foot: A Case Report 2025-11-22T13:49:15+07:00 Etik Yunita Sari [email protected] W Wahyuni [email protected] Christina Wahyu Wijayanti [email protected] <p>Introduction: Kusta atau lepra merupakan salah satu penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini dapat menyerang pada area kulit, saraf tepi, saluran pernapasan, dan jaringan tubuh lainnya. Kusta ditandai dengan gejala berupa lesi kulit yang tidak terasa sakit,atau mati rasa serta penurunan sensitivitas kulit, deformitas pada ekstremitas tubuh akibat kerusakan saraf. Meskipun kusta merupakan penyakit yang dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat, jika tidak diobati, penyakit ini dapat menyebabkan cacat permanenpada penderita kusta.<br>Case Presentation: Seorang pasien dengan nama TN. A, laki-laki berusia 28 tahun, didiagnosis menderita claw finger bilateral dan drop foot bilateral. Pasien mengeluhkan nyeri di tangan kiri dan mati rasa di telapak tangan kanan, khususnya pada area jari keempat dan kelima. Ia juga kesulitan untuk meluruskan jari-jarinya.<br>Management and Outcome: Diberikan intervensi fisioterapi sebanyak 2 kali pertemuan selama 2 minggu diapatkan hasil pada kekuatan otot yang masi sama , pengukuran lingkup gerak sendi yang meningkat , dan peningkatan kemampuan fungsional yang masi sama<br>Discussion: Pemberian intervensi fisioterapi dalam dua pertemuan menunjukkan hasil bahwa kekuatan otot tidak berubah, lingkup gerak sendi sedikit meningkat, dan aktivitas fungsional tetap sama. Kerusakan saraf butuh waktu lama untuk sembuh, sehingga diperlukan waktu evaluasi lebih lama. Penelitian yang lebih lama dapat memberikan hasil yang baik untuk evaluasi jangka panjangn<br>Conclusion: Intervensi fisioterapi dalam dua pertemuan tidak mengubah peningkatan otot, sedikit peningkatkan lingkup gerak sendi, serta tidak mengubah aktivitas fungsional sehari-hari. Pemulihan saraf butuh waktu lama. Penelitian lebih panjang bisa menghasilkan hasil yang lebih baik.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6407 Efektivitas Myofacial Release terhadap Nyeri dan Disabilitas pada Low Back Pain Chronic Non Specific: A Narrative Review 2025-11-22T14:47:25+07:00 Risti Ananda [email protected] Dwi Rosella Komalasari [email protected] <p>Introduction: Low Back Pain Chronic Non Specific merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal paling umum yang menjadi penyebab utama disabilitas global, khususnya pada lansia. Gaya hidup sedentari menjadi faktor risiko utama, dengan nyeri berlangsung lebih dari tiga bulan tanpa penyebab patoanatomi spesifik, serta berdampak signifikan pada kualitas hidup dan biaya ekonomi. Tujuan; mengevaluasi efektivitas terapi manual, khususnya Myofascial Release (MFR), dalam mengurangi nyeri, meningkatkan fungsi, dan mobilitas pada penderita Low Back Pain Chronic Non Specific.<br>Method; Studi ini menggunakan metode narrative review berdasarkan pencarian artikel melalui Google Scholar dan PubMed dengan kata kunci relevan. Artikel yang diseleksi adalah RCT berbahasa Inggris, dipublikasikan antara 2020–2025, dengan sampel &gt;30 orang, dan akses penuh.<br>Result menunjukkan bahwa MFR efektif dalam menurunkan nyeri dan meningkatkan fungsi punggung bawah. Dibandingkan Muscle Energy Technique (MET), MFR menunjukkan hasil baik, walaupun MET lebih unggul dalam meningkatkan fleksibilitas dan keseimbangan otot pada beberapa studi. Kombinasi MFR dengan teknik lain seperti Core Stability Exercise (CSE), Postero-Anterior Mobilization, atau Mulligan SNAGs menghasilkan manfaat tambahan, terutama dalam meningkatkan mobilitas spinal dan mengurangi ketegangan fasial.<br>Conclusion: terapi manual seperti MFR, MET, CSE, dan SNAGs efektif dalam menangani nyeri dan disabilitas pada pasien Low Back Pain Chronic Non Specific. MFR sangat berguna pada kasus dengan keterbatasan mobilitas akibat disfungsi jaringan lunak. Pendekatan multimodal dan kombinasi terapi disarankan untuk hasil klinis yang optimal. Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengevaluasi efek jangka panjang dari kombinasi teknik ini.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6408 Efektivitas Latihan Fisik terhadap Sindrom Metabolik pada Lansia: Systematic Review 2025-11-22T14:50:03+07:00 Farita Adhynda Amithya [email protected] <p>Intrpduction: Sindrom metabolic pada lansia meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2. Latihan fisik merupakan langkah pemberinan intervensi non-farmakologis yang potensial untuk mengelola metabolic syndrome.<br>Objectives: menilai efektivitas berbagai jenis latihan fisik dalam memperbaiki parameter sindrom metabolic yang banyak terjadi pada populasi lansia.<br>Method: penelurusan literatur dilakukan pada database PubMed yang diterbitkan antara 2015-2025. Kriteria inklsi meliputi studi dengan subjek lansia lebih dari 60 tahun dan memiliki diagnose sindrom metabolic dan menerima berbagao intervensi latihan fisik.<br>Result: Intervensi latihan fisik terutama latihan aerobic dan kombinasi latihan lain menunjukkan hasil penelitian terjadi peningkatan signifikan pada parameter sindrom metabolic termasuk dalam penurunan tekanan darah, lingkar pinggang, kadar glukosa darah, dan peningkatan profil lipid.<br>Conclusion: latihan fisik dengan berbagai jenis latihan fisik terbukti efektif dalam memperbaiki parameter sindrom metabolic pada lansia. Latihan fisik diharapkan menjadi bagian dari lifestyle yang berkelanjutan.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6409 Efektivitas Terapi Ultrasound dalam Penanganan Diabetic Foot Ulcer: Tinjauan Naratif 2025-11-22T14:52:07+07:00 Nadiya Izzatul Jannah [email protected] <p>Introduction: Diabetic Foot Ulcer merupakan komplikasi kronis pada pasien diabetes mellitus yang berpotensi menyebabkan infeksi, morbiditas, hingga amputasi. Terapi ultrasound menjadi salah satu pendekatan biofisik yang menunjukkan potensi dalam mempercepat proses penyembuhan luka.<br>Objectives: Tinjauan naratif ini bertujuan mengevaluasi efektivitas terapi ultrasound, baik sebagai intervensi tunggal maupun dalam kombinasi dengan modalitas lain seperti stimulasi listrik.<br>Method: Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed dan Google Scholar, mencakup artikel terbitan tahun 2015-2025.<br>Result: Hasil review terhadap enam studi menunjukkan bahwa penggunaan Ultrasound-Assisted Wound Debridement (UAW) dan Combined Ultrasound and Electrical Current Stimulation (CUSECS), dapat mempercepat penyembuhan luka, meningkatkan proliferasi sel, serta mengurangi ukuran luka. Meskipun demikian, sebagian studi memiliki keterbatasan berupa ukuran sampel kecil dan ketidakterbukaan desain.<br>Conclusion: Simpulan dari tinjauan ini menyatakan bahwa terapi ultrasound merupakan modalitas adjuvan yang menjanjikan dalam penanganan Diabetic Foot Ulcer, meskipun dibutuhkan uji klinis berskala besar untuk mendukung penerapannya secara luas di praktik klinis.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6410 Latihan untuk Meningkatkan Keseimbangan, Kekuatan Ekstremitas Bawah dan Mengurangi Risiko Jatuh pada Lansia: Tinjauan Naratif 2025-11-22T14:55:48+07:00 Shofa Salma Salsabila [email protected] Mahendra Wahyu Dewangga [email protected] <p>Introduction: Prevalensi populasi lansia di Indonesia mencapai 12% pada tahun 2024 dan di Jawa Tengah mencapai 15,46%. Adanya ageing process yang terjadi pada lansia berpengaruh terhadap keseimbangan hingga risiko jatuh pada lansia. Latihan fisik dapat mengurangi risiko jatuh pada lansia. Oleh karena itu, diperlukan adanya identifikasi latihan apa saja yang dapat meningkatkan keseimbangan, kekuatan ekstremitas bawah, dan mengurangi risiko jatuh pada lansia.<br>Objectives: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi latihan yang dapat meningkatkan keseimbangan, kekuatan ekstremitas bawah dan menurunkan risiko jatuh pada lansia.<br>Method: Penelitian ini menggunakan metode tinjauan naratif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara menelusuri artikel dari database Pubmed. Artikel yang digunakan adalah artikel terbitan lima tahun terakhir (2020-2025) dan menggunakan bahasa Inggris. Didapatkan empat artikel yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.<br>Result: Sebanyak empat studi Randomized Controlled Trial yang dianalisis menunjukkan bahwa berbagai jenis latihan, yaitu baduanjin exercise, otago exercise, gaze stability exercise, taekkyon-based exercise, dan virtual reality training efektif meningkatkan keseimbangan dan kekuatan ekstremitas bawah serta menurunkan risiko jatuh pada lansia. Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan rata-rata skor berg balance scale, 30s-chair stand test dan penurunan rata-rata skor timed up and go test.<br>Conclusion: Latihan memiliki berbagai manfaat untuk lansia, salah satunya adalah untuk meningkatkan keseimbangan dan kekuatan ekstremitas bawah serta menurunkan risiko jatuh pada lansia.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6411 Assosiasi Profil Lipid terhadap Peningkatan Nyeri pada Kronik Low Back Pain: Tinjauan Sistematis 2025-11-22T14:58:44+07:00 Sulista Putri [email protected] Dwi Rosella Komalasari [email protected] <p>Introduction: Nyeri punggung bawah kronis (Chronic Low Back Pain/CLBP) merupakan salah satu penyebab utama disabilitas di seluruh dunia. Selain faktor mekanis, faktor metabolik seperti dislipidemia mulai dianggap berkontribusi dalam memperburuk gejala nyeri. Profil lipid abnormal, seperti peningkatan kadar LDL dan penurunan HDL, diduga berperan dalam mekanisme inflamasi sistemik yang dapat memperparah persepsi nyeri. Namun, hubungan antara profil lipid dan peningkatan intensitas nyeri pada CLBP belum sepenuhnya dipahami.<br>Method: Tujuan dari tinjauan sistematis ini adalah untuk mengevaluasi dan menganalisis asosiasi antara profil lipid (total kolesterol, LDL, HDL, dan trigliserida) terhadap peningkatan nyeri pada penderita CLBP. Penelusuran literatur dilakukan pada lima basis data elektronik utama: PubMed, Scopus, ScienceDirect, Web of Science, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan meliputi: "chronic low back pain", "lipid profile", "cholesterol", "HDL", "LDL", "triglyceride", dan "pain intensity". Proses seleksi artikel mengikuti pedoman PRISMA dengan penyaringan berdasarkan tahun publikasi (2020-2025), bahasa (Inggris/Indonesia), dan relevansi topik. Setelah proses identifikasi dan skrining, dari total 218 artikel yang ditemukan, 38 artikel lolos tahap penyaringan awal. Selanjutnya, setelah dilakukan evaluasi kualitas dan pengecekan duplikasi, sebanyak 12 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi direview secara menyeluruh.<br>Result: Hasil tinjauan menunjukkan bahwa sebagian besar studi yang direview melaporkan adanya korelasi positif antara dislipidemia terutama tingginya kadar LDL dan rendahnya HDL- dengan peningkatan intensitas nyeri pada penderita CLBP. Mekanisme yang mendasari korelasi ini mencakup peningkatan respons inflamasi, disfungsi endotel vaskular, dan gangguan perfusi jaringan spinal. Namun, terdapat variabilitas metodologi dalam pengukuran nyeri dan parameter lipid antar studi yang memengaruhi kekuatan.<br>Conclusion: Tinjauan sistematis ini menyimpulkan bahwa terdapat bukti yang mendukung adanya hubungan asosiasi antara profil lipid yang abnormal dan peningkatan nyeri pada pasien dengan CLBP. Pemantauan dan manajemen profil lipid dapat menjadi strategi tambahan dalam penanganan nyeri kronis punggung bawah. Studi prospektif dengan desain yang lebih terstandar diperlukan untuk memastikan hubungan sebab akibat dan mengevaluasi efektivitas intervensi metabolik dalam mengurangi nyeri CLBP.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6406 Physiotherapy Management in Cases of Lumbar Radiculopathy e.c Lumbal Spondylosis: Case Report 2025-11-23T15:24:41+07:00 Milan Dwi Winanti [email protected] Wahyu Tri Sudaryanto [email protected] K Kingkinarti [email protected] <p>Introduction: Lumbar radiculopathy akibat spondylosis lumbalis menyebabkan nyeri menjalar dan gangguan aktivitas fungsional. Fisioterapi berperan dalam mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsional pasien.<br>Objectives: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervensi fisioterapi berupa kombinasi Short Wave Diathermy (SWD), Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), latihan neurodinamik, stretching, dan strengthening terhadap penurunan intensitas nyeri, peningkatan kekuatan otot trunk, serta peningkatan aktivitas fungsional pada pasien dengan lumbar radiculopathy akibat spondylosis lumbalis.<br>Method: Penelitian ini menggunakan desain case report dengan pendekatan single subject research pada wanita usia 45 tahun. Intervensi terdiri dari SWD, TENS, latihan neurodinamik, stretching, dan strengthening selama empat sesi. Evaluasi menggunakan NPRS, MMT, dan ODI.<br>Result: Terjadi penurunan skor nyeri dari 8 menjadi 3, dan skor ODI dari 15 menjadi 7, yang menunjukkan perbaikan gejala dan peningkatan aktivitas fungsional. Namun, tidak terjadi peningkatan bermakna pada kekuatan otot trunk, dengan nilai MMT tetap pada 3.<br>Conclusion: Kombinasi terapi fisioterapi berupa SWD, TENS, latihan neurodinamik, stretching, dan strengthening efektif dalam menurunkan nyeri dan meningkatkan aktivitas fungsional pada pasien dengan lumbar radiculopathy akibat spondylosis lumbalis. Namun, tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan kekuatan otot trunk dalam jangka pendek.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Milan Dwi Winanti, Wahyu Tri Sudaryanto, Kingkin Narti https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6405 Manajemen Fisioterapi pada Kasus Cervical Root Syndrome di RSJ Soerojo Magelang: Studi Kasus 2025-11-23T15:34:05+07:00 Dika Tiara Salsabila [email protected] Arif Pristianto [email protected] Muhammad Fauzan [email protected] <p>Introduction: Cervical Root Syndrome merupakan skondisi abnormal yang diakibatkan oleh peradangan atau kompensasi akar saraf cervical, yang dapat terjadi karena trauma. Arthritis, atau penekanan discus intervertebralis di daerah leher. Indikasi penderita mengalami CRS mengakibatkan keluhan dari CRS yaitu terdapat otot spasme, nyeri menjalar hingga lengan serta kesemutan, rasa kebas ditangan dan keterbatasan lingkup gerak sendi yang mengakibatkan penurunan aktivitas fungsional pasien.<br>Case Presentation: Penelitian ini menggunakan metode case report (studi kasus) yang dilaksanakan di RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang pada bulan September 2024. Responden penelitian ini pada pasien Ny. U usai 46 tahun dengan diagnosa Cervical Root Syndrome. Pasien merupakan pegawai kasir. Pasien datang dengan keluhan nyeri belakang leher hingga ke jari-jari tangan kanan, rasa seperti tertusuk-tusuk dan jari tangan terasa lemah saat menggenggam atau mengambil barang. Nyeri dirasakan sejak 3 bulan yang lalu. Pasien telah periksa ke RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang pada bulan Agustus 2024 dan dilakukan rontgen didapatkan adanya penjepitan syaraf pada cervical C5-C7.<br>Management and Outcome: Manajemen fisioterapi yang diberikan dalam penangan CRS yang bertujuan untuk meredakan nyeri, ketegangan otot, meningkatkan range of motion serta aktivitas fungsional, berupa modalitas intervensi yang bertujuan untuk meredakan beberapa keluhan yang dirasakan pasien CRS seperti Ultrasound, stretching, mobilisasi saraf, latihan isometrik. Alat ukur yang digunakan berupa NRS untuk mengevaluasi derajat nyeri, MMT untuk evaluasi kekuatan otot, serta NDI untuk evaluasi kemampuan fungsional.<br>Discussion: Program fisioterapi yang dberikan pada kasus Cervical Root Syndrome (CRS) bertujuan untuk meredakani nyeri, meningkatkan range of motion, mengurangi ketegangan otot, dan meningkatkan aktivitas fungsional sehari-hari. Intervensi yang diberikan berupa US, mobilisasi saraf, latihan isometrik, dan stretching. Conclusion: Penatalaksanaan program fisioterapi yang diberikan sebanyak 3 kali yang mendapat pengobatan berupa ultra sound, stretching, mobilisasi saraf, latihan isometrik dapat mengurangi nyeri serta meningkatkan kemampuan fungsional.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Dika Tiara Salsabila, Arif Pristianto, Muhammad Fauzan https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6412 Efektivitas Sit-To-Stand Exercise dalam Menurunkan Risiko Jatuh pada Lansia: Literature Review 2025-11-28T09:09:47+07:00 Khairina Zulfah [email protected] Dwi Rosella Komalasari [email protected] <p>Pendahuluan: Jatuh merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang sering dialami oleh lansia dan berdampak signifikan terhadap kualitas hidup mereka. Penurunan kekuatan otot, keseimbangan, dan mobilitas menjadi faktor utama peningkatan risiko jatuh. sit-to-stand (STS) exercise dikenal sebagai exercise sederhana yang berfokus pada peningkatan kekuatan otot tungkai dan fungsi fungsional.<br>Metode: penulisan artikel ini menggunakan metode literature review melalui dua database, yaitu PubMed dan Science Direct pada 07 Juni 2025 yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Terdapat 2.494 artikel yang ditemukan, kemudian dilakukan seleksi dan diperoleh 3 artikel untuk dilakukan review akhir.<br>Tujuan: untuk mengetahui efektivitas sit-to-stand exercise untuk menurunkan risiko jatuh pada lansia melalui literature review.<br>Hasil: Tiga studi menunjukkan bahwa STS exercise, baik dilakukan secara mandiri maupun dikombinasikan dengan strategi lain (seperti visual feedback dan suplemen protein), mampu meningkatkan kekuatan otot, keseimbangan, kemampuan berjalan, dan fungsi mobilitas. Hasil ini menunjukkan perbaikan parameter fungsional yang berkaitan erat dengan penurunan risiko jatuh pada lansia.<br>Kesimpulan: Sit-to-stand exercise efektif meningkatkan kekuatan otot dan keseimbangan lansia, sehingga berpotensi menurunkan risiko jatuh. Intervensi ini sederhana dan dapat diterapkan di berbagai komunitas lansia.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6413 Hubungan Derajat Keparahan Stroke dengan Status Kognitif dalam Mempengaruhi Kualitas Hidup Pasien Pasca Stroke: Systematic Review 2025-11-28T11:04:18+07:00 Lela Lutfiana Safitri [email protected] Umi Budi Rahayu [email protected] <p>Introduction: Stroke adalah gangguan pembuluh darah otak yang mengakibatkan gejala hilangnya fungsi system saraf pusat. Gangguan yang terjadi pada pasien stroke dikelompokkan berdasarkan area otak yang mengalami lesi. Hal tersebut dapat berupa kelumpuhan satu sisi tubuh yang mengurangi control tonus otot, gangguan sensorik, gerakan tubuh, postur, dan keseimbangan tubuh, sehingga dapat mengurangi kemampuan melakukan gerakan fungsional.<br>Methode: artikel ini menggunakan metode telaah sistematis. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mencari, mendokumentasikan, dan mengkaji ulang semua artikel yang terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan antara tingkat keparahan stroke dengan fungsi kognitif. Pencarian dan pemilihan artikel dalam penelitian ini berdasarkan metode Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA). Berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan.<br>Result: Berdasarkan hasil pengumpulan artikel jurnal dan pemilihan kelayakannya sesuai variabel yang akan diteliti dengan kriteria inklusi data untuk membatasi artikel dengan desain tertentu, maka tahap selanjutnya adalah analisis artikel. Berikut ini adalah penjelasan dari 9 artikel yang telah dianalisis oleh penulis. Artikel jurnal penelitian yang dianalisis memiliki rentang tahun terbit 2014 - 2022, yaitu berdasarkan nama penulis, tahun terbit, jenis penelitian, responden, intervensi, dan hasil utama. Dari tabel di atas, secara keseluruhan merupakan jenis penelitian eksperimen.<br>Penelitian menunjukkan bahwa pasien dengan stroke atau serangan iskemik transien (TIA) mengalami penurunan fungsi kognitif global dan sebagian besar domain lainnya secara keseluruhan (p&lt;0,001), kecuali domain memori verbal (p=0,647).31 Riwayat stroke yang diketahui meningkatkan risiko demensia Alzheimer (AD) hingga 59%.32 Sebuah studi kohort prospektif di Swedia yang meneliti fungsi kognitif selama tahun pertama setelah stroke menemukan bahwa penurunan kognitif setelah stroke, secara umum, meningkat dalam tiga bulan pertama.33 Rosebud, dkk., menemukan bahwa hanya 38% (n=201) pasien MCI, terlepas dari etiologinya, mampu kembali ke fungsi kognitif normal dan 65% pasien akan mengalami peningkatan risiko 6,6 kali lipat untuk mengalami demensia [Rasio bahaya (HR): 6,6, p&lt;0,001.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6414 The Effectiveness of Neuromuscular Taping (NMT) and Combination of Physiotherapy Exercise in Improving Microsirculation, Balance and Mobiliy: Systematic Review 2025-11-28T11:13:59+07:00 Asri Seftika Dewi [email protected] Umi Budi Rahayu [email protected] <p>Intoduction: Diabetes Millitus yang tidak terkontrol akan mengakibatkan komplikasi seperti penyakit jantung, nefropati, retinopati, cedera kaki diabetik, neuropati serta arteri perifer, yang disebabkan oleh aterosklerosis pada penyakit pembuluh darah perifer yang berdampak pada menurunnya aliran darah ke ekstremitas bawah yang ditandai dengan penurunan Ankle Brachial Index (ABI). Penurunan Microsirculation akan mempenaruhi balance dan mobility pada pasien dengan diabetes millitus.<br>Method: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka (literature review) menggunakan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Kajian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam terkait intervensi untuk Neuromuscular Tapping (NMT) dan Exercise Therapy dalam meningkatkan microsirculation, Balance and Mobility melalui analisis data sekunder.<br>Result: Hasil review menunjukkan bahwa NMT dapat meningkatkan mikrosirkulasi dengan memperbaiki aliran darah melalui efek mekanis pada jaringan lunak. Senam kaki diabetik dan latihan fisioterapi lainnya terbukti efektif meningkatkan keseimbangan dan mobilitas melalui peningkatan kekuatan otot dan propriosepsi. Kombinasi NMT dengan fisioterapi memberikan efek sinergis, memperkuat mekanisme perbaikan mikrosirkulasi dan fungsi neuromuskular yang lebih optimal dibandingkan intervensi tunggal<br>Conclusion: Exercise Therapy and Neuromuscular Tapping (NMT) menjadi salah satu pengobatan non-farmakologi dan efektif meningkatkan mikrosirkulasi, keseimbangan, dan mobilitas pada pasien Diabetes Mellitus. Kombinasi terapi memberikan manfaat lebih besar dibandingkan intervensi tunggal.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6415 Physiotherapy Management in Case of Osteoarthritis Genu Dextra Grade 1: A Case Report 2025-11-28T11:16:51+07:00 Anggitya Widyastuti [email protected] Adnan Faris Naufal [email protected] Reza Arshad Yanuar [email protected] <p>Introduction: Osteoarthritis (OA) genu merupakan salah satu penyebab utama disabilitas pada populasi lanjut usia. Meskipun gejalanya sering muncul sejak stadium awal, OA grade 1 sering kali tidak ditangani secara aktif, padahal penanganan dini berpotensi mencegah progresi penyakit. Fisioterapi multimodal dapat menjadi pendekatan efektif dalam mengatasi nyeri dan meningkatkan fungsi aktivitas pada pasien OA.<br>Case Presentation: Seorang perempuan usia 52 tahun dengan diagnosis OA genu dextra grade 1 menjalani fisioterapi sebanyak empat sesi selama dua minggu. Evaluasi dilakukan sebelum dan setelah terapi menggunak NPRS, MMT, dan WOMAC.<br>Management and Outcome: Melaporkan respons klinis pasien OA genu dextra grade 1 terhadap kombinasi intervensi yaitu Ultrasound (US), Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), serta latihan Open Kinetic Chain (OKC) dan Close Kinetic Chain (CKC).<br>Result: Adanya penurunan skor NPRS pada nyeri saat gerak (6 menjadi 3), nyeri tekan (4 menjadi 2), dan nyeri istirahat (1 menjadi 0). Kekuatan otot meningkat dari MMT skor 4 menjadi 5. Skor WOMAC menunjukkan penurunan dari 42 menjadi 23, menandakan perbaikan fungsi aktivitas harian.<br>Conclusion: Kombinasi fisioterapi US, TENS, OKC, dan CKC berpotensi memberikan manfaat klinis jangka pendek bagi pasien OA genu grade 1. Namun, temuan ini bersifat deskriptif dan perlu dikaji lebih lanjut melalui studi eksperimental dengan sampel yang lebih besar.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6416 Management Fisioterapi pada Kasus post Orif 1/3 Distal Radius di RS PKU Muhammadiyah Sukoharjo 2025-11-28T11:21:59+07:00 Ali Imroni Muhammad Panrus [email protected] Umi Budi Rahayu [email protected] Guntur Rusmana Putra [email protected] <p>Introduction: Fraktur merupakan gangguan pada kesinambungan struktur tulang. Umumnya, ketika mengalami kecelakaan, tangan secara otomatis menjadi korban untuk menopang atau menahan beban saat jatuh, dan dengan posisi tangan yang sedikit terputar, fraktur 1/3 distal radius dapat terjadi. Inframerah mampu menghasilkan panas lokal yang bersifat superfisial dan disarankan untuk kondisi subakut guna mengurangi rasa sakit dan peradangan. Pemijatan merupakan teknik terapi yang memanfaatkan gerakan tangan atau alat pada jaringan tubuh yang lembut, dengan keahlian gerakan tangan yang bertujuan untuk meraih kenyamanan dan menjaga kesehatan.<br>Case Presentation: Desain penelitian ini dengan menggunakan pendekatan studi kasus yang bertujuan untuk memahami manajemen fisioterapi dalam kasus pasca ORIF 1/3 radius distal. Penelitian ini dilaksanakan di RS PKU Muhammadiyah Sukoharjo pada seorang pria berinisial Tn. A.S yang berusia 44 tahun, bekerja di sektor swasta, tinggal di Songgorunggi Desa Kepuh Kecamatan Nguter Kabupaten Sukoharjo. Pasien mengunjungi poli fisioterapi dengan keluhan nyeri pada pergelangan tangan kanan dan kaku saat digerakkan.<br>Management and Outcome: Pasien menerima pijatan dan latihan terapi selama 1 minggu dengan 3 pertemuan, serta dosis 3 kali dalam 4 minggu dengan durasi setiap sesi 10-15 menit. Evaluasi dilakukan dengan memanfaatkan Rentang Gerak (ROM), Pengujian Otot Manual, Skala Penilaian Numerik dan WHDI.<br>Conclussion: Setelah menjalani intervensi dengan masase dan terapi latihan sebanyak 3 kali pertemuan, diperoleh hasil perubahan yang cukup signifikan.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6417 Management of Physiotherapy in Pre and post Mitral Valve Replacement e.c. Mitral Regurgitation: A Case Study 2025-11-28T14:10:03+07:00 Dwi Mutiara [email protected] Arif Pristianto [email protected] Purnomo Gani Setiawan [email protected] <p>Introduction: Manajemen fisioterapi pada pasien dengan kondisi pre dan post operasi penggantian katup mitral akibat regurgitasi mitral memiliki peran penting dalam mendukung pemulihan fungsi respirasi, aktivitas fungsional, dan kemampuan fisik. Penelitian ini merupakan studi kasus yang melibatkan evaluasi klinis pada tiga titik waktu: sebelum terapi (T0), setelah terapi awal (T1), dan pasca terapi lanjutan (T2). Program fisioterapi meliputi latihan pernapasan, spirometri, mobilisasi dini, latihan ROM, dan edukasi home program<br>Purpose: Penelitian ini bertujuan untuk mengisi gap of knowledge dengan mengevaluasi efek fisioterapi pada pasien dengan kondisi pre dan post operasi penggantian katup mitral akibat regurgitasi mitral.<br>Case Presentation: Seorang ibu rumah tangga 42 tahun menjalani operasi penggantian katup mitral di RS Kariadi akibat regurgitasi mitral yang menyebabkan nyeri dada, sesak napas, dan batuk berdahak kronis.<br>Management and Outcome: Pasca operasi, pasien mendapat fisioterapi berupa latihan pernapasan, mobilisasi, dan ROM untuk mempercepat pemulihan. Evaluasi dilakukan menggunakan NRS, 6MWT, spirometri, dan tanda vital. Hasil awal menunjukkan nyeri ringan, jarak tempuh 252 m (6MWT), volume paru 1,5 liter, dan SpO2 93%. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas fisioterapi terstruktur terhadap pemulihan pasien. Hasil menunjukkan adanya peningkatan kapasitas paru, dengan volume inspirasi meningkat dari 1000 ml (T0) menjadi 2000 ml (T2). Skor Indeks Barthel meningkat dari 11 (T0) menjadi 19 (T2), menandakan perbaikan signifikan dalam aktivitas fungsional. Kemampuan fisik juga membaik, tercermin dari hasil 6 Minute Walk Test (6MWT) sejauh 252 meter pada T2. Parameter laboratorium mendukung proses pemulihan, seperti peningkatan hemoglobin dari 10,8 g/dL (T0) menjadi 11,6 g/dL (T2).<br>Conclusion: intervensi fisioterapi yang terstruktur dapat memberikan dampak positif yang signifikan dalam pemulihan pasien pre dan post operasi penggantian katup mitral. Studi ini menggarisbawahi pentingnya manajemen fisioterapi sebagai bagian integral dari perawatan multidisiplin pada pasien kardiovaskular.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6418 Effektivitas Pelvic Floor Exercise pada Kasus post Sectio Caesarea: A Case Report 2025-11-28T14:16:38+07:00 Fifi Nursyifa Rizwana [email protected] W Wijianto [email protected] Nurul Muflihah [email protected] <p>Introduction: Peran fisioterapi dalam mengatasi kelemahan otot panggul pada ibu post sectio caesarea yaitu secara manual, menggunakan pelatihan fungsi gerak tubuh. Dengan menggunakan metode menggunakan intervensi fisioterapi yang dapat menunjukkan program latihan pada ibu post partum, hal itu mampu dilakukan dengan mandiri sebagai tujuan mengurangi rasa nyeri, meningkatkan pemulihan dan meningkatkan kekuatan otot panggul pasca melahirkan.<br>Case Presentation: Seorang ibu berusia 30 tahun telah melakukan operasi section caesarea datang ke fisioterapi dengan keluhan pasien merasakan nyeri, mengalami kelemahan kekuatan otot panggul dan penurunan kemampuan fungsional.<br>Management and Outcome: Intervensi fisioterapi yang diberikan yaitu Pelvic floor exercise, latihan mengontraksikan perineum atau seperti menahan buang air kecil (BAK) dengan menahan selama 15 detik atau semampunya pasien menahan, lalu dirileksasikan selama 5 detik, dengan dosis 8 repetisi dalam 2 set per sesi terapi. Pengukuran dilakukan dengan beberapa parameter, yaitu tingkat nyeri dengan Numeric Rating Scale (NRS), kekuatan otot dengan Manual Muscle Testing (MMT), serta kemampaun fungsional menggunakan Kenny Selfcare Index. Hasil penelitian menunjukkan penurunan nyeri yang signifikan, peningkatan kekuatan otot dari MMT 2 hingga MMT 3, dan peningkatan kemampuan fungsional aktivitas sehari-hari.<br>Discussion: Peningkatan aktivitas fungsional pada pasien terjadi karena adanya penurunan nyeri, peningkatan kekuatan otot, dan peningkatan kemampuan fungsional sehingga dapat dikatakan bahwa Exercise Fisioterapi berupa pelvic floor dapat meningkatkan aktivitas fungsional pasien akibat problematika yang ada.<br>Conclussion: latihan pelvic floor memberikan dampak positif pada pemulihan pasien pasca operasi sectio caesarea dengan kondisi kelemahan pada otot panggul.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6420 Manajemen Fisioterapi pada Kasus pasca Laparotomi Debulking Histerektomi Total Salpingooforektomi Bilateral Limfadenektomi Pelvic Kanan: Studi Kasus 2025-12-01T15:40:27+07:00 Klarisa Salsa Bila Maharani [email protected] Rinna Ainul Maghfiroh [email protected] Nurul Muflihah [email protected] <p>Introduction: Neoplasma ovarium kistik merupakan salah satu tumor ginekologis yang sering memerlukan tindakan pembedahan mayor seperti laparotomi debulking dan histerektomi total. Prosedur ini berdampak besar pada sistem muskuloskeletal dan fungsi dasar tubuh, termasuk nyeri, gangguan pernapasan, serta penurunan kemampuan fungsional.<br>Case Presentation: Pasien perempuan usia 39 tahun didiagnosis dengan neoplasma ovarium kistik susp. maligna dan menjalani prosedur pembedahan berupa laparotomi debulking, histerektomi total, salpingooforektomi bilateral, omentektomi, dan limfadenektomi pelvic kanan. Pasien mengalami keluhan nyeri hebat pascaoperasi, keterbatasan mobilisasi, gangguan pernapasan, serta belum mampu buang angin.<br>Management and Outcome: Intervensi fisioterapi dilakukan sejak pre-operasi hingga tiga hari pascaoperasi, terdiri dari deep breathing exercise, general active exercise, abdominal strengthening, pelvic floor exercise, mobilisasi bertahap, dan edukasi postur. Evaluasi menunjukkan penurunan nyeri (NRS diam dari 6 ke 0), peningkatan kekuatan otot abdomen (MMT dari 1 ke 3), perbaikan kontrol pernapasan (Borg Scale dari 3 ke 0.5), serta peningkatan skor Kenny Self Care Index pada kemampuan fungsional dasar pasien<br>Discussion: Intervensi fisioterapi yang diberikan terbukti efektif dalam menurunkan nyeri dan sesak napas, serta meningkatkan kekuatan otot dan kapasitas fungsional. Latihan seperti abdominal strengthening dan pelvic floor exercise mendukung stabilisasi core dan kontrol kandung kemih. Mobilisasi dini mempercepat pemulihan, dan edukasi postur membantu mencegah komplikasi gerak dan nyeri.<br>Conclusion: Fisioterapi pascaoperasi mayor ginekologis yang diberikan secara bertahap dan komprehensif berperan penting dalam mempercepat pemulihan fisik, mengurangi keluhan, dan meningkatkan kemandirian aktivitas pasien.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6421 Pengaruh Terapi Rehabilitasi terhadap Visuomotor Neuronal Plasticity pada Pasien Stroke dengan Diabetes Millitus: Systematic Review 2025-12-02T08:40:02+07:00 Citra Dewi Loh Budi Pratiwi [email protected] Umi Budi Rahayu [email protected] <p>Introduction: Stroke merupakan penyebab utama keterbatasan neurologis dan sering disertai gangguan fungsi visuomotor. Komorbiditas diabetes melitus (DM) memperparah kondisi ini melalui gangguan vaskular dan metabolik kronis yang menghambat proses pemulihan dan mengurangi kapasitas plastisitas neuronal. Terapi rehabilitasi diketahui dapat merangsang reorganisasi saraf dan memperkuat konektivitas neuron, namun efektivitasnya pada pasien stroke dengan DM masih perlu ditelaah lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh terapi rehabilitasi terhadap plastisitas neuronal visuomotor pada pasien stroke dengan DM.</p> <p>Methode: penelitian ini merupakan kajian literatur sistematis yang menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Kajian ini bertujuan untuk mengevaluasi bukti ilmiah yang ada mengenai pengaruh terapi rehabilitasi terhadap plastisitas neuronal visuomotor pada pasien stroke dengan diabetes melitus (DM). Studi ini disusun berdasarkan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) untuk menjamin informasi dan penulusuran proses seleksi artikel. Pencarian disesuaikan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi serta sumber data melalui pencarian Pubmed,PMC dan google scholar dengan total 250 artikel ditemukan. Rentang publikasi dari tahun 2020-2025 dan disaring berdasarkan skrening hingga didapatkan 5 artikel jurnal yang masuk analisis sistematis.</p> <p>Conclussion: terapi rehabilitasi berperan penting dalam mendukung plastisitas neuronal visuomotor pada pasien stroke dengan DM. Namun, keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh jenis intervensi yang diterapkan serta kondisi metabolik pasien. Penyesuaian terapi berdasarkan status glikemik dan neurofisiologis individu diperlukan untuk mengoptimalkan pemulihan neurologis secara menyeluruh.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6422 Penatalaksaan Fisioterapi pada Pasien Pneumothorax Dextra Et Causa Tuberculosis dengan Pemasangan Water Seal Drainage di RS Paru Dr. Ario Wirawan Salatiga: Case Report 2025-12-02T08:44:14+07:00 Hanif Ar Rosyad [email protected] W Wijianto [email protected] Joko Sri Hartoto [email protected] <p>Introduction: Pneumothoraks adalah keadaan di mana terdapat ruang di dalam kantong pleura. Kondisi ini bisa menyebabkan masalah pada pernapasan, pasokan oksigen, atau kedua-duanya. Gejala yang dialami dengan kesulitan untuk bernapas, kulit yang berubah menjadi kebiruan, pernapasan yang cepat, keterbatasan dalam bergerak, serta nyeri di dada yang berasal dari paru-paru akibat adanya udara di ruang pleura. Pneumotoraks terjadi akibat infeksi tuberculosis (TB) pada paru-paru dan pleura serta berdampak pada sekitar 1,5% dari semua pasien. Teknik Pursed Lip Breathing dapat digunakan untuk membantu mengatasi masalah pembersihan saluran pernapasan yang tidak efektif pada pasien pneumotoraks. Latihan Ekspansi Toraks, baik yang dilakukan secara aktif maupun pasif, dapat membantu memperbaiki kondisi dinding dada, dan pijatan lembut dapat digunakan untuk merelaksasi otot-otot pernapasan yang tegang.<br>Case Presentation: Pasien berusia 34 tahun dengan keluhan batuk, sesak, dan saat menarik napas terasa dada sebelah kanan terasa berat dan tidak full mengembang saat menarik napas. Nilai sesak dengan borg scale didapatkan skor 5, heart rate 84x/menit, respiratory rate 24x/menit, mMRC dengan skor 2. Ekspansi thoraks pada axilla 1,5 cm, ICS 4 didapati 1,5 cm, processus xipoid 2 cm.<br>Management and Outcome: Setelah pemberian intervensi Pursed Lip Breathing, Thoracic Expansion Exercise dan Gentle Massage selama 3 hari dan dilakukan evaluasi, didapati penurunan derajak sesak dari 5 menjadi 3, peningkatan kemampuan fungsional dengan mMRC dari 2 menjadi 1, dan peningkatan ekspansi sangkar thoraks pada ICS 2, ICS 4 dan prosesus xiphoideus.<br>Discussion: Rehabilitasi paru-paru memiliki manfaat yang signifikan dalam mengurangi gejala sesak napas, serta meningkatkan kekuatan dan stamina otot. PLB dan TEE sering dilakukan dalam program rehabilitasi paru-paru dan selama aktivitas kehidupan sehari-hari karena mengurangi laju pernapasan saat istirahat, meningkatkan saturasi oksigen dan volume tidal. Begitu juga dengan Gentle Massage efektif pada peningkatan aliran darah dan suhu kulit, serta pengaktifan sistem limfatik.<br>Conclusion: Manajemen fisioterapi untuk pasien yang mengalami Pneumothoraks menunjukkan hasil yang baik dalam mengurangi kesulitan bernapas, meningkatkan ekspansi dada, dan memperbaiki kemampuan fungsional paru-paru, sehingga secara keseluruhan pasien menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6423 Management Fisioterapi pada Kasus Lymphedema et Causa Ca Mamae di Poli Rehab Medik RSUP Prof. Dr. I. G. N. G Ngoerah Bali: Studi Kasus 2025-12-02T08:56:41+07:00 Ery Nafisah Hanum [email protected] W Wahyuni [email protected] Nilam Nur Hamidah [email protected] <p>Introduction: Limfedema pada kanker payudara merupakan kondisi ketika terganggunya sistem limfatik sehingga menimbulkan akumulasi cairan yang kaya dengan protein di ruang interstisial yang menyebabkan terjadinya pembengkakan. Kejadian ini akan merasakan nyeri, keterbatasan gerak, distorsi bentuk anggota tubuh, dan penurunan kemampuan fungsional pada ekstremitas atas pasien. Fisioterapis memiliki tujuan untuk menurunkan rasa nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi, menurunkan bengkak, meningkatkan kekuatan otot, dan meningkatkan kemampuan fungsional pasien dengan pemberian modalitas dan intervensi lain.<br>Case Presentation: Seorang pasien perempuan berusia 46 tahun mengeluhkan nyeri pada leher hingga jari-jari tangan sisi kiri ketika ditekan, keterbatasan gerak pada leher dan bahu sisi kiri, serta bengkak pada lengan sisi kiri. Pasien mempunyai riwayat 5 tahun lalu muncul benjolan pada payudara kiri dan ketiak, ketika menjalani kemoterapi pasien mulai merasakan bengkak pada lengan kiri yang kian membesar setiap harinya. Dilakukan pemeriksaan nyeri menggunakan NRS, kekuatan otot menggunakan MMT, lingkup gerak sendi menggunakan goniometer, oedema menggunakan midline, dan kemampuan fungsional menggunakan SPADI.<br>Management and Outcome: Penelitian menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan observasional. Pasien mendapatkan intervensi berupa modalitas TENS, manual lymphatic drainage vodder (MLDV), stretching, dan mobilisasi sendi. Pasien mendapatkan terapi sebanyak 5 kali pertemuan dengan fisioterapis dan dilakukan evaluasi pada setiap pertemuannya. Hasil menunjukkan penurunan nyeri NRS. Rata-rata lingkup gerak cervical dan shoulder sinistra meningkat. Oedema lingkar lengan menurun. Kemampuan fungsional meningkat, skor SPADI dari 33,8% menjadi 28,4%. Namun, kekuatan otot regio cervical dan shoulder sinistra tidak menunjukkan peningkatan.<br>Discussion: Kombinasi terapi TENS, MLDV, stretching, dan ROM terbukti efektif untuk menurunkan gejala lymphedema dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Hasil ini sejalan dengan teori bahwa intervensi fisioterapi multimodal dapat memperbaiki fungsi sistem limfatik, mengurangi nyeri akibat peradangan kronis, dan meningkatkan mobilitas pasien pasca kanker payudara<br>Conclusion: Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi fisioterapi menggunakan modalitas TENS, stretching exercis, mobilisasi sendi, dan Manual Lymphatic Drainage Vodder (MLDV) selama 5 kali pertemuan efektif menurunkan nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi, mengurangi oedema, dan meningkatkan fungsi pada kasus lymphedema et causa CA Mamae.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6424 Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Chronic Low Back Pain pada Lansia: A Case Report 2025-12-02T09:25:55+07:00 Ayundya Putri Antoko Wulan [email protected] Totok Budi Santoso [email protected] Nurwidya Pradana [email protected] <p>Introduction: Chronic Low Back Pain (CLBP) pada lansia sering menyebabkan penurunan fungsi dan kualitas hidup. Pendekatan fisioterapi multimodal diperlukan untuk mengatasi nyeri peningkatan kekuatan otot trunk dan peningkatan aktivitas fungsional.<br>Case Presentation: Seorang pasien Tn.S berusia 65 tahun dengan komorbid hipertensi dan mitral stenosis mengeluhkan nyeri kronik pada regio lumbal yang menjalar ke paha kanan, disertai rasa kaku dan sensasi tidak nyaman (kemeng) saat berdiri atau berjalan. Pasien memiliki riwayat jatuh yang cukup lama, namun tidak segera mendapat penanganan. Dalam aktivitas sehari-hari, pasien bekerja sebagai penjaga warung yang sering mengangkat beban berat dan duduk dalam waktu yang lama. Keluhan pegal telah dirasakan selama bertahun-tahun namun diabaikan, hingga setahun terakhir terjadi penurunan kekuatan otot yang menyebabkan perubahan postur menjadi membungkuk (kifosis). Pada pemeriksaan spesifik ditemukan bahwa SLR test negatif, patrick test positif, fair test positif, piriformis test positif, slump test negatif. Saat ini, pasien masih mengeluhkan nyeri punggung bawah yang menjalar ke tungkai kiri. Pasien disarankan untuk menjalani program fisioterapi untuk mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot trunk, dan meningkatkan aktivitas fungsional.<br>Management and Outcome: Subjek diberikan kombinasi intervensi fisioterapi berupa Microwave Diathermy (MWD), Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), dan Core Stability Exercise (CSE) seperti hamstring stretch, piriformis stretch, iliopsoas stretch, tensor fasciae latae stretch, erector spine stretch diberikan 2x dalam seminggu selebihnya dilakukan dirumah. Setelah diberikan latihan didapatkan hasil penurunan nyeri gerak dan nyeri tekan serta peningkatan kekuatan otot dan peningkatan aktivitas fungsional sehari-hari<br>Conclusion: Pemberian kombinasi intervensi MWD, TENS, dan CSE efektif dalam mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot flexor trunk, dan meningkatkan fungsi pada lansia dengan CLBP.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6425 Management Fisioterapi pada Kasus Tennis Elbow di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta 2025-12-02T09:50:29+07:00 Gusti Dwi Apriyanto [email protected] W Wijianto [email protected] Galih Adhi Isak Setiawan [email protected] <p>Introduction: Degenerasi tendon yang paling sering terjadi pada siku adalah tennis elbow. Kelainan ini menyebabkan nyeri pada sisi lateral siku. Nyeri ini terutama terjadi pada epicondylus lateralis dan otot ekstensor pergelangan tangan. Kelainan ini terutama terjadi pada pemain tenis lapangan atau pada orang-orang yang sering menggunakan lengan bawah dalam posisi pronasi, seperti ibu rumah tangga, tukang, pemahat, montir, dan orang lain yang sering menggunakan pergelangan tangan dalam posisi ekstensi jari.<br>Case Presentation: Desain penelitian ini dengan menggunakan metode studi kasus bertujuan untuk mengetahui manajemen fisioterapi pada kasus tennis elbow. Penelitian di lakukan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada seorang laki-laki berinisial Tn. NK berusia 31 tahun, merupakan seorang content creator dan beralamatkan Gunung Kidul, Yogyakarta, Jawa Tengah. Pasien masuk ke RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dengan keluhan nyeri pada area siku pada saat di gerakan.<br>Management and Outcome: Pasien diberikan ultrasound, Tens dan myofascial release selama 4 minggu 4x pertemuan dengan dosis dosis 3 kali dalam 2 minggu setiap sesinya 10-15 menit. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan Range Of Motion (ROM), Manual Muscle Testing, Numeric Rating Scale dan kemampuan fungsional.<br>Conclusion: Setelah diberikan intervensi berupa TENS, ultrasound dan myofascial release sebanyak 4x pertemuan didapatkan hasil perubahan yang cukup signifikan.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6428 Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Gangguan Aktifitas Fungsional Akibat Kelemahan Otot dan Penurunan Sensibilitas pada Ekstremitas Bawah et Causa Spinal Cord Injury setelah Tindakan Meningioma dan Posterior Stabilization Fusion VTH 6-11 (on Treatment) 2025-12-15T11:34:09+07:00 Hendi Saputra [email protected] Arin Supriadi [email protected] S Sukatwo [email protected] Dwi Rosella Komalasari [email protected] <p>Introduction: Spinal cord injury (SCI) adalah cedera pada medula spinalis yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk hilangnya fungsi motorik dan sensorik, serta gangguan pada organ di sekitar area cedera. SCI yang terjadi setelah berbagai tindakan medis memiliki risiko menurunnya aktivitas fungsional. Tujuan laporan kasus ini untuk mengetahui pengaruh fisioterapi multimodal terhadap nyeri dan aktivitas fungsional pada pasien pasca tindakan meningioma dan posterior stabilization fusion pada VTH 6-11 akibat spinal cord injury.<br>Case Presentation: Penelitian ini mengidentifikasi pasien berjenis kelamin perempuan berusia 22 tahun dengan diagnosa medis spinal cord injury non traumatik akibat tumor, pasien sudah dilakukan tindakan meningioma dan juga posterior stabilization fusion pada vertebra thoracal 6 sampai 11. Neurological level of injury pasien berada pada T12<br>Management and Outcome: Pasien menjalani intervensi fisioterapi multimodal sebanyak tiga kali, meliputi electrical stimulation, PNF joint approximation, mobilisasi pasif, penguatan tungkai bawah, serta penataan posisi. Penilaian nyeri dilakukan menggunakan Numerical Pain Rating Scale (NPRS), evaluasi tingkat neurologis dengan ASIA Scale, serta penilaian aktivitas fungsional dengan Barthel Index. Terdapat penurunan dari derajat nyeri dengan NPRS, dimana nyeri tekan area ankle 5/10 ke 4/10 dan nyeri gerak pasif dari 5/10 ke 4/10. Terdapat peningkatan motor scoring dengan ASIA Scale. Tidak ada perubahan nilai aktivitas fungsional dari sebelum dan sesudah 3 kali terapi.<br>Discussion: Pasien dengan SCI incomplete, seperti pada kasus dengan level T12 ini, umumnya memiliki prognosis fungsional yang lebih baik dibandingkan dengan SCI complete, meskipun hasil akhir sangat bergantung pada penanganan dini yang tepat. Imobilisasi yang berkepanjangan meningkatkan risiko komplikasi seperti atrofi otot, kontraktur sendi, luka tekan, dan penurunan propriosepsi, sehingga mobilisasi dini, penataan posisi yang baik, serta latihan penguatan otot menjadi sangat penting. Kombinasi intervensi seperti electrical stimulation dengan fisioterapi standar dapat membantu mempertahankan kekuatan otot dan mendukung pemulihan neuromuskular. Namun, perbaikan fungsi yang bermakna umumnya memerlukan rehabilitasi intensif jangka panjang, sekitar 3–6 bulan, sehingga pendekatan multidisipliner yang tepat waktu sangat penting untuk memaksimalkan pemulihan dan mencegah komplikasi jangka panjang.<br>Conclusion: Setelah menjalani tiga sesi fisioterapi multimodal, pasien menunjukkan perbaikan fungsi motorik dan penurunan tingkat nyeri. Namun, belum didapatkan peningkatan pada aktivitas fungsional.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6429 Manajemen Fisioterapi pada Kasus Stroke Intracerebral Hemorage di RS Syaiful Anwar Malang Jawa Timur: Case Report 2025-12-15T11:38:30+07:00 Ferrarista Nadja Raihani [email protected] W Wijianto [email protected] Melur Belinda [email protected] <p>Introduction: Stroke atau biasa dikenal sebagai cerebrovascular accident merupakan suatu penyakit pada sistem saraf pusat yang dapat menyebabkan defisit neurologis akibat dari adanya permasalahan suplai darah di otak baik berupa sumbatan/iskemik maupun pecahnya pembuluh darah/hemoragik. Menurut WHO stroke menduduki peringkat ke tiga penyebab kecacatan di dunia dengan presentase 42%. Gangguan disabilitas pada stroke dapat berupa penurunan kekuatan otot, gangguan kognitif, gangguan motorik, gangguan sensorik, gangguan komunikasi, gangguan menelan, gangguan keseimbangan dan mobilitas. Tujuan artikel ini untuk memberikan gambaran rehabilitasi fisioterapi pada pasien pasca stroke.<br>Case Presentation: Tn. DM usia 42 tahun dengan diagnosa cerebro vascullar accident intracerebral hemorage sejak bulan Oktober 2024. Pasien mengalami gejala kelemahan separuh badan sisi kanan yang diikuti dengan adanya gangguan sensasi.<br>Management and Outcome: Intervensi fisioterapi yang diberikan berupa PNF, MRP, Gait training, Strengthening exercise dan NMES. Evaluasi dilakukan dengan mengukur kekuatan otot menggunakan Manual Muscle Testing (MMT), Range of Motion (ROM) dengan Gonio Isom, dan kemampuan fungsional menggunakan Index Barthel.<br>Discussion: Hasil intervesi fisioterapi yang diberikan sudah menunjukan adanya perbaikan meskipun masih belum signifikan. Hal ini menjadi bukti positif adanya manfaat dari intervensi yang telah diberikan dan sejalan dengan penelitian-penelitian terdahulu pada kasus serupa.<br>Conclusion: Intervensi fisioterapi yang diberikan memberikan efek positif terhadap kondisi pasien meskipun belum signifikan. Intervensi fisioterapi yang dilakukan secara rutin dan diikuti dengan evaluasi yang terstruktur akan mendorong tercapainya hasil yang optimal.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6430 Strengthening dan Balance Training pada Kasus Hemiparase Sinistra et Causa Stroke Hemoragik: Case Report 2025-12-15T14:20:48+07:00 Zahrani Bakhita Hanifah [email protected] Dwi Rosella Komalasari [email protected] Christine Viola [email protected] <p>Introduction: Stroke hemoragik sering menyebabkan hemiparase, yaitu kelemahan pada satu sisi tubuh, yang berdampak pada penurunan kekuatan otot, keseimbangan, serta aktivitas fungsional pasien. Intervensi fisioterapi yang tepat diperlukan untuk mendukung proses pemulihan. Tujuan studi kasus ini untuk mengevaluasi efek intervensi fisioterapi berupa strengthening exercise dan balance training pada pasien hemiparase pasca stroke hemoragik.<br>Case Presentation: Seorang pria usia 60 tahun dengan hemiparase sinistra akibat stroke hemoragik, mengalami kelemahan pada ekstremitas kiri dan kesulitan berjalan. Pemeriksaan awal menunjukkan penurunan kekuatan otot, gangguan keseimbangan (Berg Balance Scale = 24), dan ketergantungan sedang dalam aktivitas harian (Barthel Index = 70).<br>Managmenet and outcome: Pasien menjalani fisioterapi sebanyak empat sesi dalam dua minggu yang mencakup stimulasi listrik, latihan penguatan (active-resisted, sit-to-stand, static cycle), dan latihan keseimbangan (sitting/standing balance, jalan di tempat, tandem walking). Setelah intervensi, terjadi peningkatan kekuatan otot, skor Berg Balance Scale meningkat menjadi 31, dan Barthel Index menjadi 85.<br>Discussion: Hasil menunjukkan bahwa kombinasi strengthening exercise dan balance training efektif dalam memperbaiki kekuatan otot, stabilitas postural, serta kemandirian fungsional. Intervensi ini mendukung pemulihan motorik dan mengurangi risiko jatuh pada pasien stroke dengan hemiparase.<br>Conclusion: Pendekatan fisioterapi terstruktur yang menggabungkan strengthening exercise dan balance training terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan fungsional pasien hemiparase pasca stroke hemoragik. Terapi ini dapat menjadi bagian penting dari program rehabilitasi pasien stroke.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6431 Manajemen Fisioterapi pada Kasus Joint Instability et Causa Rupture Posterior Cruciate Ligament: Studi Kasus 2025-12-16T11:15:57+07:00 Ana Triasari [email protected] Dwi Rosella Komalasari [email protected] K Kingkinarti [email protected] <p>Background: Posterior Cruciate Ligament (PCL) merupakan salah satu ligamen penting dalam menjaga stabilitas lutut. Rupture PCL dapat menyebabkan ketidakstabilan sendi, nyeri, keterbatasan gerak, dan kelemahan otot, yang memerlukan intervensi fisioterapi.<br>Purpose: Melaporkan intervensi fisioterapi pada pasien dengan joint instability akibat rupture PCL dan mengevaluasi efektivitas terapi yang diberikan.<br>Case Presentation: Pasien laki-laki usia 57 tahun dengan keluhan nyeri dan keterbatasan gerak lutut kiri setelah bekerja dalam posisi jongkok lama.<br>Methods Outcome: Intervensi fisioterapi dilakukan dua kali seminggu, terdiri dari Ultrasound, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), stretching, dan latihan penguatan otot (strengthening). Evaluasi dilakukan melalui pengukuran skala nyeri (NRS), kekuatan otot (MMT), lingkup gerak sendi (ROM), lingkar segmen, dan Barthel Index. Terdapat penurunan nyeri gerak dari NRS 5 menjadi 2. ROM lutut meningkat, menunjukkan perbaikan mobilitas serta pengurangan bengkak. Namun, peningkatan kekuatan otot dan kemampuan fungsional belum meningkat secara signifikan.<br>Conclusion: Intervensi fisioterapi dengan kombinasi modalitas dan latihan terapeutik dapat membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan ROM serta mengurangi edema pada pasien dengan joint instability akibat rupture PCL. Namun, diperlukan waktu lebih lama untuk perbaikan kekuatan otot dan fungsi secara keseluruhan.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6432 Interval Walking Training for Functional Optimization and Health in The Elderly: A Narrative Review 2025-12-16T11:21:35+07:00 Muhammad Raihan Ishad [email protected] Farid Rahman [email protected] <p>Introduction: The global rise in the older adult population presents challenges in maintaining their functional capacity and health. Aging is associated with declines in physical function, cardiovascular fitness, and metabolism, affecting quality of life. Interval Walking Training offers an adaptive, affordable, and safe exercise option to address these issues.<br>Aim of the Study: This review aims to identify the benefits of Interval Walking Training in optimizing physical function and health in older adults and evaluate protocol variations and their effects.<br>Methods: This narrative review includes seven studies published in the last ten years (2015–2025) and evaluates the effects of Interval Walking Training on various aspects of elderly health. Literature sources were obtained from PubMed, Cochrane, and Google Scholar using the keywords "Interval Walking Training," "Elderly," "Health," and "Functional Mobility."<br>Results: Interval Walking Training consistently shows improvements in VO2max, walking speed, flexibility, and blood pressure and blood glucose control. Several studies also report improvements in quality of life. Although the effects on cognitive function are inconsistent, Interval Walking Training is considered safe, flexible, and reasonably compliant.<br>Conclusion: IWT is a promising exercise alternative for older adults in the community and clinical settings. In the future, long-term studies with more homogeneous designs are still needed to strengthen the evidence and develop optimal protocols.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6433 Efek Pemberian ROM Exercise pada Contracture Axilla Dextra post Burn pada Anak Usia 8 Tahun 2025-12-16T11:25:28+07:00 Gemma Nurulfatiha Arianeputri [email protected] Mahendra Wahyu Dewangga [email protected] Nilam Nur Hamidah [email protected] <p>Introduction: Cedera luka bakar menjadi penyebab utama kecacatan dari tahun ke tahun. Kontraktur akibat luka bakar menjadi salah satu komplikasi umum terjadi yang menyebabkan keterbatasan gerak dan memengaruhi area fleksibilatas seperti sendi.<br>Case Presentation: Seorang pasien anak perempuan usia 8 tahun dengan kontraktur axilla post burn. Pasien mengeluhkan kekakuan dan keterbatasn ROM pada gerak shoulder dextra akibat kontraktur pada axilla.<br>Management and Outcome: Pasien diberikan program latihan berupa latihan ROM aktif-pasif, mobilisasi glenohumeral joint, massage axilla, gentle stretching dan strengthening exercise dan finger walking exercise. Evaluasi nyeri, dilakukan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), kekuatan otot menggunakan Manual Muscle Testing (MMT), lingkup gerak sendi (ROM) menggunakan Goniometer, skala gatal menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) dan kemampuan fungsional menggunakan Shoulder Pain and Disability Index (SPADI). Terdapat penurunan nyeri dan rasa gatal pada T1-T4. Pada ROM dan aktivitas fungsional SPADI dijumpai peningkatan pada T1-T4.<br>Discusion: Pendekatan fisioterapi yang intensif seperti stretching exercise dapat meningkatkan ROM dan mencegah kekakuan lebih lanjut. Selain itu, pemberian latihan secara signifikan dapat meningkatkan kualitas hidup pada anak-anak dengan cedera post burn.<br>Kesimpulan: Hasil dari pemberian exercise selama 4 minggu didapati hasil peningkatan ROM dan aktivitas fungsional pada pasien.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6434 Manajemen Fisioterapi pada Kasus Frozen Shoulder Sinistra Komorbiditas Diabetes Mellitus: A Case Study 2025-12-16T11:29:33+07:00 Fitriya Ningsih [email protected] W Wijianto [email protected] Reza Arshad Yanuar [email protected] <p>Introduction: Frozen shoulder adalah gangguan muskuloskeletal yang ditandai dengan nyeri dan keterbatasan mobilitas sendi bahu. Salah satu faktor primer pemicu frozen shoulder adalah diabetes melitus. Prevalensi frozen shoulder pada populasi umum sekitar 0,75%, namun prevalensi frozen shoulder pada penderita diabetes melitus lebih tinggi yaitu sekitar 13,4%.<br>Case Presentation: Seorang pasien laki-laki berusia 44 tahun yang didiagnosis menderita frozen shoulder kiri dan memiliki riwayat diabetes melitus menjalani fisioterapi selama tiga sesi. Pemeriksaan menunjukkan pasien terdapat nyeri, penurunan kekuatan otot, keterbatasan lingkup gerak sendi, dan penurunan aktivitas fungsional.<br>Management and Outcome: Intervensi yang diberikan adalah terapi inframerah (13 menit), US (5 menit), dan terapi latihan (15–30 menit). Penilaian dilakukan dengan NRS, MMT, Goniometer, dan SPADI. Skor nyeri berkurang dari 3 menjadi 2, sementara nyeri akibat gerakan berkurang dari 4 menjadi 3. Rentang gerak sendi membaik dalam fleksi (+5°), ekstensi (+4°), abduksi (+6°), dan rotasi eksternal (+4°). Penilaian disabilitas SPADI turun dari 36,9% menjadi 33,8%.<br>Discussion: Terapi kombinasi yang diberikan berupa terapi inframerah, ultrasound, dan terapi latihan bertujuan untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi sendi bahu pada kasus frozen shoulder sinistra.<br>Conclusion: Terapi kombinasi inframerah, ultrasound, dan terapi latihan efektif meredakan nyeri, menjaga stabilisasi kekuatan otot, meningkatkan lingkup gerak sendi, dan kemampuan fungsional pasien frozen shoulder sinistra komorbiditas diabetes melitus.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6435 Physiotherapy Approach in Early Elderly Patients with Neck Pain Due to Cervical Spondyloarthrosis and Cervical Hernia Nucleus Pulposus: A Case Report 2025-12-16T11:33:32+07:00 Yuyun Apriliyani [email protected] Umi Budi Rahayu [email protected] K Kingkinnarti [email protected] <p>Introduction: Cervical spondyloarthrosis adalah kondisi degeneratif yang menyerang vertebra cervical, termasuk sendi facet, diskus intervertebralis, dan ligamen pendukung. Cervical Herniated Nucleus Pulposus (CHNP) adalah kondisi nucleus pulposus menonjol melalui robekan annulus fibrosus yang dapat menekan saraf di sekitarnya<br>Case Presentation: Penelitian ini menggunakan desain case report yang dilakukan di RSUD Dr. Harjono Kabupaten Ponororgo, Jawa Timur pada tanggal 4 hingga 21 Februari 2025 pada pasien cervical spondyloarthrosis dan cervical hernia nucleus pulposus berdasarkan hasil rontgen dan MRI.<br>Management and Outcome: Penelitian dilakukan secara langsung kepada pasien dengan kondisi cervical spondyloarthrosis dan CHNP dengan pemberian intervensi sebanyak tiga kali. Program rehabilitasi fisioterapi berupa SWD (Short Wave Diathermy), TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation), cervical traction, stretching neck, neck calliet exercise. Pengukuran yang digunakan yaitu pengukuran nyeri dengan Numerical Rating Scale (NRS), pengukuran kekuatan otot dengan Manual Muscle Testing (MMT), pengukuran Lingkup Gerak Sendi (LGS) dengan goniometer, dan pengukuran kemampuan fungsional dengan Neck Disability Index (NDI). Setelah pemberian program rehabilitasi fisioterapi selama tiga sesi didapatkan hasil adanya terjadi penurunan nyeri pada nyeri gerak dan tekan. Terjadi- peningkatan LGS pada semua bidang gerak leher. Terjadi peningkatan kekuatan otot penggerak lateral fleksi dextra dan rotasi dextra. Selain itu, terjadi penurunan disabilitas yang dibuktikan dengan menurunnya skor NDI dari 38% pre-intervensi menjadi 26% pasca-intervensi.<br>Conclusion: Pemberian program rehabilitasi fisioterapi telah terbukti dapat menurunkan intensitas nyeri dan spasme, meningkatkan LGS, meningkatkan kekuatan otot, serta meningkatkan kemampuan aktivitas fungsional.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6436 Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Carpal Tunnel Syndrome Bilateral di RSUD Panembahan Senopati Bantul: A Case Report 2025-12-16T14:15:42+07:00 Shafira Dilla Setya Ardana [email protected] Suryo Saputro Perdana [email protected] Warih Sri Widodo [email protected] <p>Introduction: Carpal Tunnel Syndrome adalah salah satu gangguan pada muskuloskeletal yang sering sekali terjadi akibat kompresi atau penekanan pada saraf medianus di dalam terowongan karpal pada pergelangan tangan. CTS disebabkan oleh gerakan repetitif dan posisi yang menetap pada jangka waktu yang lama yang dapat mempengaruhi saraf, suplai darah ke tangan dan pergelangan tangan.<br>Case Presentation: Ny.S berusia 60 tahun dengan diagnosa medis CTS. ini pasien masih mengeluhkan kebas pada jari-jari tangan dan kesemutan terutama saat beraktivitas.<br>Management and Outcome: Sesi terapi diberikan sebanyak 3 sesi terapi dengan intervensi yang sama dan dosis yang sama setiap sesi. Intervensi berupa Infra Red, TENS, Hold Relax Stretching dan Tendon and Gliding Exercise. Terdapat perubahan pada Intensitas Nyeri, Lingkup Gerak Sendi, dan Kemampuan Aktivitas Fungsional. Kombinasi pemberian modalitas Infra Red, TENS dengan terapi latihan berupa Hold Relax Stretching dan Tendon and Gliding Exercise memberikan peningkatan yang signifikan.<br>Conclusion: Selama terapi yang dilakukan rutin selama 3 sesi di dapatkan hasil yang cukup signifikan. Pada pasien CTS terjadi penurunan nyeri, mempertahankan kekuatan otot, meningkatkan LGS, dan meningkatkan kemampuan aktivitas fungsional.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6437 Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Neuralgia Trigeminal: A Case Report 2025-12-17T09:28:51+07:00 Azizah Rahma Sarita [email protected] Agus Widodo [email protected] Melur Belinda [email protected] <p>Introduction: Neuralgia trigeminal merupakan gangguan nyeri neuropatik yang ditandai dengan nyeri tajam dan tiba-tiba pada distribusi nervus trigeminus. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup. Fisioterapi dapat menjadi pilihan intervensi tambahan, terutama ketika terapi farmakologis tidak memberikan hasil optimal.<br>Case Presentation: Pasien berusi 58 tahun dengan diagnosa neuralgia trigeminal yang memiliki keluhan nyeri wajah unilateral disertai tertusuk-tusuk dan memburuk saat makan dan minum.<br>Management and Outcome: Case report dilakukan sebanyak 3 pertemuan dengan pemberian modalitas fisioterapi berupa Transcutaneous Electrical Stimulation dan Head-Neck Exercise yang dilaukan evaluasi saat akhir sesi terapi.<br>Conclusion: Pemberian modalitas fisioterapi berupa TENS dan Head-Neck Exercise secara rutin dapat menurunkan tingkat nyeri yang dirasakan pasien secara bertahap.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6438 Manajemen Fisioterapi pasca Orif Fraktur Klavikula: Studi Kasus 2025-12-17T10:07:23+07:00 Putri Kinasih [email protected] Adnan Faris Naufal [email protected] <p>Introduction: Fraktur klavikula terjadi akibat cedera atau trauma. Lokasi fraktur yang paling umum adalah pertemuan antara dua kelengkungan tulang, yang merupakan titik terlemah. Tindakan pembedahan dikaitkan dengan hasil fungsional yang lebih baik. Pada Tindakan pasca operasi tentunya terdapat beberapa penurunan kemampuan fungsional.<br>Case Presentation: Pasien laki-laki insial Tn.D berusia 21 tahun mengalami trauma cedera berkendara, kemudian dilakukan tindakan operasi. 1 bulan pasca operasi pasien mengeluhkan nyeri gerak, terbatasnya lingkup gerak sendi, dan kelemahan otot.<br>Management and Outcome: Terapis memberikan intervensi berupa modalitas ultrasound dan hold relax. Setelah dilakukan terapi selama 4 kali terdapat penurunan nyeri Gerak T4 memiliki skor 4, nyeri diam menjadi skor 2, dan skor nyeri tekan 3, peningkatan lingkup gerak sendi, dan rata-rata peningkatan kekuatan otot menggunakan MMT memiliki skor 3+. Modalitas berupa ultrasound dapat mengurangi nyeri dari rata rata nilai nyeri berat ke nyeri ringan, selain dari mengurangi nyeri dalap meningkatkan fleksibilitas jaringan. Sedangkan hold relax dapat meningkatkan lingkup gerak sendi dengan teknik isometrik otot yang diikuti dengan relaksasi lalu di regangkan.<br>Conclusion: Dapat disimpulkan bahwa ultrasound dan hold relax dapat membantu penurunan nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi dan meningkatkan kekuatan otot pada kasus post orif fracture clavicula sinistra.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6439 Management Fisioterapi pada Kasus Sprain Wrist dengan Grip Strengthening Exercises: A Case Report 2025-12-17T10:09:45+07:00 Tessya Hadika Novitasari [email protected] Suryo Saputra Perdana [email protected] K Kingkinnarti [email protected] <p>Introduction: Sprain wrist terjadi ketika adanya regangan berlebih atau overstretch dari ligament dan adanya rupture atau robekan pada ligament. Hal ini biasanya terjadi karena overuse, trauma, gerakan yang mendadak berubah arah, dan menahan atau mengangkat beban secara berlebihan. Sprain wrist dapat mempengaruhi aktivitas fungsional tangan, tangan yang mempunyai peran vital pada pergerakan yang ada. Oleh karena itu memerlukan modalitas fisioterapi dengan tujuan mempercepat pemulihan dan kembalinya fungsi tubuh. Tujuan untuk mengetahui keefektifan dalam pemberian intervensi fisioterapi yang dikombinasikan dengan ultrasound, TENS, massage therapy dan grip strengthening exercise pada kasus sprain wrist.<br>Case Presentation: Pasien Tn. F berusia 28 tahun yang bekerja di perkapalan dating ke fisioterapi dengan keluhan nyeri pada pergelangan tangan saat digerakan ke arah atas, bawah, kanan dan kiri. Awal mula keluhan yang dirasakan Tn.F dikarenakan pasien mengalami kecelakaan pada tanggal 3 November 2024. Subjek diberikan intervensi terapi sebanyak 2x dalam 1 minggu.<br>Management and Outcome:<br>Tindakan fisioterapi yang diberikan yaitu pemberian ultrasound, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), terapi latihan diantaranya myofascial release massage, gerakan aktif, pasif dan isometric, serta strengthening exercise dengan teknik Grip-Strengthening Exercises Combined with Wrist Stability Training (GSE Plus WST). Hasil evaluasi nyeri menggunakan NRS dengan nyeri diam 0, nyeri tekan 4, nyeri gerak 6 mengalami penurunan nyeri tekan 2, nyeri gerak 2. Pemeriksaan kekuatan juga menunjukan peningkatan yang diukur dengan MMT dari nilai 4 menjadi nilai 5. Hasil evaluasi pemeriksaan LGS mengalami peningkatan pada gerakan palmar fleksi T1(40°) menjadi T2 (45°), kemudian pada gerakan dorsal fleksi T1(40°) menjadi T2 (45°), pada gerakan radial deviasi T1 (10°) menjadi T2 (15°), pada gerakan ulnar deviasi T1 (25°) menjadi T2 (25°), pada gerakan supinasi T1 (85°) menjadi T2 (90°), pada gerakan pronasi T1 (80°) menjadi T2 (80°). Kemampuan aktivitas fungsional mengalami peningkatan yang dievaluasi dengan WHDI T0 (25% Moderate) menjadi T1 (18% Minimal disability) dan pemeriksaan terakhir T2 (14% Minimal disability).<br>Conclusion: Hasil yang didapatkan yaitu meningkat signifikan pada kasus sprain wrist yaitu ditandai dengan adanya penurunan nyeri, peningkatan kekuatan otot, penambahan LGS, serta peningkatan kemampuan fungsional.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6440 Manajemen Fisioterapi pasca Debridement dan STSG pada Kasus Necrotizing Fascitis: Studi Kasus 2025-12-17T10:12:48+07:00 Asri Lutfika Hidayati [email protected] Tiara Fatmarizka [email protected] Nilam Nur Hamidah [email protected] <p>Introduction: Necrotizing fasciitis merupakan infeksi jaringan lunak yang bersifat progresif dan mengancam jiwa, ditandai dengan nekrosis pada fascia superfisialis dan jaringan subkutan. Penanganan bedah berupa debridement dan STSG sering menimbulkan permasalahan fungsional seperti nyeri, kekakuan sendi, keterbatasan lingkup gerak, dan penurunan kekuatan otot yang memerlukan manajemen fisioterapi komprehensif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil dari manajemen fisioterapi pasca debridement dan STSG pada kasus Necrotizing Fascitis dengan pemberian intervensi berupa Electrical Stimulation (ES) Stretching, Scar Massage, ROM Exercise, Strengthening Exercise, dan Gait Training<br>Case Presentation: Desain penelitian ini dengan menggunakan metode pendekatan studi kasus. Penelitian dilaksanakan di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah Bali pada bulan November hingga Desember 2024 pada seorang pasien wanita berusia 33 tahun, dengan diagnosa medis Post Debridement + STSG Regio Femur E.C. Necrotizing Fascitis. Permasalahan fisioterapi yang terdapat pada pasien, yaitu terdapat nyeri gerak, keterbatasan gerak aktif Range of Motion (ROM) penurunan kekuatan otot pergelangan kaki, serta terdapat oedem di area pergelangan kaki dan penurunan aktivitas fungsional<br>Management and Outcome: Pengukuran yang dilakukan adalah pengukuran nyeri dengan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Pengukuran kekuatan otot menggunakan Manual Muscle Testing (MMT). Goniometer untuk mengukur Range of Motion (ROM). Pengukuran oedem dengan mitline Figure of Eigth. Skala Fungsional Ekstremitas Bawah (LEFS) untuk mengukur kemampuan fungsional. LEFS adalah kuesioner kualitas hidup yang terdiri dari 20 item kemampuan sseorang ntuk melakukan tugas sehari-hari. Hasil setelah 3 kali fisioterapi terjadi penurunan nyeri gerak pada T1 = 3 menjadi T3 = 2. Peningkatan kekuatan otot regio hip dextra dalam gerakan fleksi, abduksi dan adduksi T1 = 4, menjadi T3 = 5. Regio knee dextra dalam gerakan fleksi dan ektensi T1 = 3 menjadi T3 = 4. Peningkatan Lingkup Gerak Sendi (LGS) pada regio knee dextra yaitu 0-0-40 mengalami peningkatan menjadi 0-0-50. Sedangkan pada regio ankle pada awal terapi yaitu 20-0-10° dan mengalami peningkatan menjadi 25°-0°-15° pada gerakan dorsal dan plantar fleksi. Penurunan oedem dengan selisih pada T1 = 5 cm menjadi T3 = 0. Peningkatan kemampuan fungsional LESF T1 = 31,2% kemudian menjadi T3 = 45%.<br>Conclusion: Terdapat penurunan nyeri dan peningkatan pada ROM, kekuatan otot, oedema, aktivitas fungsional setelah diberikan intervensi Electrical Stimulation (ES), stretching, scar massage, ROM exercise, strengthening, serta gait training selama 3 sesi terapi.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6441 Pengaruh Head Control Exercise terhadap Kemampuan Kontrol Kepala pada Kasus Cerebral Palsy Spastic Quadriplegi: Case Study 2025-12-17T10:15:54+07:00 Sarah Citra Aulidya [email protected] Arif Pristianto [email protected] Salma Muazzaroh [email protected] <p>Introduction: Kondisi Cerebral Palsy mempengaruhi sistem gerak fungsi tubuh, anak dengan cerebral palsy akan memiliki koordinasi dan keseimbangan yang buruk, serta pola gerakan yang tidak normal. Prevalensi global kasus cerebral palsy adalah 2,5% per 1.000 kelahiran, dengan risiko 70% lebih tinggi pada bayi dengan berat badan lahir kurang dari 1.500 gram. Sedangkan di Indonesia terdapat 5 juta kelahiran per tahun, sekitar 1.000-25.000 kelahiran didiagnosis menderita cerebral palsy, yang berarti ditemukan 1-5 kasus per 1.000 anak dengan cerebral palsy yang terdiagnosis. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengevaluasi kemanjuran head control exercise dengan prinsip neuro development treatment yang dikombinasikan dengan tummy time terhadap fungsi motorik kasar terutama kemampuan kontrol kepala pada anak dengan cerebral palsy spastic quadriplegi.<br>Case Presentation: Seorang anak berusia 6 tahun yang menjalani terapi di UPT PLDPI Surakarta. Setelah dilakukan pemeriksaan pasien memiliki spastisitas pada pada anggota gerak atas dan anggota gerak bawah, kemampuan head control yang buruk dan belum mampu untuk berguling.<br>Management and Outcome: Pemberian intervensi head control exercise dilakukan pada posisi neck capital flexion, head control in prone position, head control in sitting position dan tummy time. Setelah dilakukan terapi sebanyak enam kali didapatkan hasil adanya peningkatan kemampuan kontrol kepala dan perbaikan motorik kasar (GMFM).<br>Conclusion: Adanya efek untuk peningkatan kemampuan kontrol kepala dan perbaikan motorik kasar dengan head control exercise.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6442 Efek Pemberian Electrical Stimulation dan Terapi Latihan pada Kasus Drop Foot: Studi Kasus 2025-12-17T10:18:55+07:00 Fadhilla Mutiara Zahra [email protected] W Wijianto [email protected] P Purbasasana [email protected] <p>Introduction: Drop foot ditandai oleh ketidakmampuan untuk melakukan dorsifleksi pada bagian depan telapak kaki akibat kelemahan otot dorsifleksi. Kondisi ini dapat mengakibatkan gaya berjalan yang tidak stabil dan kompensasi, serta meningkatkan risiko terjatuh.<br>Case Presentation: Seorang pria berusia 69 tahun, dengan diagnosa medis drop foot sinistra. Pasien datang dengan keluhan kelemahan otot kaki/drop foot pada bagian kaki kiri serta adanya rasa nyeri pada ankle kiri pada saat berjalan.<br>Management and Outcome: Intervensi fisioterapi yang diberikan yaitu Electrical Stimulation dan Terapi Latihan. Pemberian Electrical Stimulation diberikan 1x/minggu dan Terapi Latihan dilakukan 2x/setiap hari. Hasil yang didapat adalah nyeri gerak sudah berkurang, MMT (Kekuatan otot) meningkat, Range of Motion meningkat, Kemampuan fungsional pasien juga meningkat, serta massa otot pada kaki kiri yang bertambah. Nyeri gerak pada pertemuan kedua sudah berkurang menjadi nilai 1 (nyeri ringan) dari yang sebelumnya nilai 2 (nyeri ringan) dan untuk nyeri diam serta nyeri tekan tetap di nilai 0; MMT (Kekuatan otot) meningkat yaitu untuk gerakan eversi dari nilai 2 menjadi nilai 3, gerakan plantar fleksi dari nilai 3 menjadi nilai 4, gerakan inversi dari nilai 3 menjadi nilai 4 sedangkan untuk gerakan dorsi fleksi belum ada perubahan dari nilai 2 tetap di nilai 2; Range of Motion meningkat pada gerakan dorsi fleksi-plantar fleksi dan untuk gerakan eversi-inversi; Kemampuan fungsional pasien juga meningkat yaitu dari nilai 74 menjadi nilai 75; serta massa otot pada kaki kiri yang bertambah.<br>Conclusion: Setelah di berikan intervensi fisioterapi 2 kali pertemuan terlihat perubahan yaitu nyeri gerak sudah berkurang, MMT (Kekuatan otot) meningkat, Range of Motion meningkat, Kemampuan fungsional pasien juga meningkat, serta massa otot pada kaki kiri yang bertambah.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6443 Penerapan Active Exercise dan Pumping Ankle Exercise untuk Mengurangi Nyeri dan Meningkatkan Fungsional pada Penderita Chronic Ulcers ec Morbus Hansen: Sebuah Studi Kasus 2025-12-17T10:22:29+07:00 Annisa Putri Amalia Setyawan [email protected] Isnaini Herawati [email protected] Christina Wahyu Wijayanti [email protected] <p>Introduction: Chronic ulcer merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas dengan prevelensi yang terus meningkat yang terjadi karena disfungsi vena, diabeteus mellitus, infeksi, neuropati parifer, tekanan dan aterosklerosis. Bakteri penyebab chronic ucler salah satunya adalah bakteri mycobacterium leprae. Bakteri ini biasanya muncul pada penderita morbus hansen (kusta). Morbus,hansen merupakani infeksii kronis yangi disebabkani olehi bakterii mycobacterium lepraei yang menyerang saraf tepi kemudian mengenai organ-organ tubuh lainnya, yang dapat mengakibatkan hilangnya sensibilitas serta susah melakukan aktivitas sehari-hari karena penurunan kekuatan otot serta penurunan kemampuan fungsional pada penderitanya.<br>Case Presentation: sebuah case report yang dilakukan di RSUD Sumber Glagah Mojokerto dengan diagnose medis Chronic Ulcers ec Morbus Hansen pada seorang ibu yang berusia 59 tahun dengan keluhan luka di kedua kaki yang sudah 2 bulan belum sembuh, luka basah dan terasa nyeri serta melakukan aktivitas sehari-hari dengan bantuan kursi roda.<br>Management and Outcome: Penatalaksanaan fisioterapi pada kasus ini adalah dengan Active Assisted exercise ROM dan Pumping ankle. Intervensi ini dilakukan untuki meningkatkani lingkupi gerak sendi, meningkatkani kekuatan ototi pada regio ankle, mencegah luka berlubang serta untuk meningkatan activity daily living pasien sehingga pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Active Assisted exercise ROM dan Pumping ankle dilakukan selama 3 hari dengan dosis 10 menit disetiap intervensinya. Evaluasi latihan dilakukan di setiap hasil latihan untuk mengetahui efektivitasnya. Evaluasi nyeri dengan NRS, LGS dengan goniometer, kekuatan otot dengan MMT dan Kemampuan fungsional dengan index bartel<br>Conclusion: setelah meakukan latihan Active Assisted exercise ROM dan Pumping ankle selama 3 hari, didapatkan bahwa nyeri mengalami penurunan akan tetapi Kemampuan fungsionalnya tidak mengalami peningkatan.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6444 Intervensi Fisioterapi untuk Mengurangi Nyeri pada Kondisi Postpartum pasca Sectio Caesarea: Studi Kasus 2025-12-17T10:25:05+07:00 Nimah Hastuti [email protected] Taufik Eko Susilo [email protected] Arif Abdullah [email protected] <p>Introduction: Persalinan melalui operasi sectio caesarea semakin sering dilakukan di Indonesia, namun menimbulkan risiko nyeri pasca operasi dan keterbatasan aktivitas pada ibu postpartum. Nyeri yang tidak tertangani dengan baik dapat menghambat pemulihan fisik, menurunkan kualitas hidup, serta memengaruhi keberhasilan laktasi dan peran ibu dalam keluarga. Intervensi fisioterapi menjadi salah satu pendekatan penting untuk mendukung pemulihan dini dan mencegah komplikasi jangka panjang.<br>Case Presentation: Seorang ibu berusia 35 tahun, postpartum hari pertama pasca sectio caesarea dan Metode Operatif Wanita (MOW), mengalami nyeri tekan di area insisi abdomen, keterbatasan mobilisasi, serta ketergantungan dalam perawatan diri. Pasien juga memiliki riwayat operasi sesar sebelumnya dan menjalani tirah baring dengan keluhan utama nyeri dan keterbatasan aktivitas.<br>Management and Outcome: Pasien menjalani dua sesi intervensi fisioterapi meliputi breathing exercise, bridging, segmental rotation, ankle pumping, kegel exercise, mobilisasi aktif, dan breast care. Evaluasi dilakukan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) untuk nyeri dan Kenny Self Care untuk aktivitas fungsional. Hasil menunjukkan penurunan nyeri diam dari 2 menjadi 0, nyeri tekan dari 5 menjadi 3, dan nyeri gerak dari 6 menjadi 3. Selain itu, skor Kenny Self Care meningkat dari 35 menjadi 51, menandakan adanya perbaikan signifikan dalam kemampuan aktivitas fungsional pasien.<br>Conclusion: Intervensi fisioterapi terstruktur efektif dalam menurunkan nyeri dan meningkatkan aktivitas fungsional pada ibu postpartum pasca sectio caesarea. Program latihan yang berkelanjutan dan edukasi mandiri di rumah sangat penting untuk mempercepat pemulihan, mencegah komplikasi, serta mendukung kualitas hidup ibu secara menyeluruh.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6445 Rehabilitasi Fisioterapi pasca Operasi Rekonstruksi ACL pada Atlet Sepakbola: Case Report 2025-12-17T10:29:04+07:00 Haydar Aly Abdalla [email protected] Tiara Amalia [email protected] Halim Mardianto [email protected] <p>Introduction: Cedera ligamen anterior cruciate (ACL) sering terjadi pada atlet, terutama dalam cabang olahraga yang menuntut perubahan arah cepat seperti sepak bola.<br>Case Presentation: Studi kasus ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas program fisioterapi dalam meningkatkan fungsi lutut pasca operasi rekonstruksi ACL pada seorang atlet sepakbola pria usia 23 tahun.<br>Management and Outcome: Intervensi terdiri dari latihan sepeda statis, lunges, latihan proprioseptif menggunakan BOSU dan theraband, serta passing drill. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam kekuatan otot, lingkup gerak sendi (LGS), penurunan nyeri (NRS), dan perbaikan skor fungsi lutut berdasarkan Lysholm Knee Scoring Scale (LKSS) dari skor 89 (baik) menjadi 94 (sangat baik). Conclusion: Rehabilitasi fase 2 menunjukkan peran penting dalam persiapan kembali ke aktivitas olahraga.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6446 Penatalaksaan Fisioterapi pada Pasien dengan Kondisi Respiratory Failure di RSUP Surakarta: Case Report 2025-12-17T10:32:49+07:00 Hafid Dito Priambodo [email protected] W Wijianto [email protected] Fatonah Sulistyowati [email protected] <p>Introduction: Respiratory failure merupakan situasi dimana sistem pernapasan tidak dapat melaksanakan tugas pertukaran gas, yang meliputi penyerapan oksigen dan pengeluaran karbondioksida. Ketidakberhasilan pembersihan jalan napas merupakan ketidakmampuan untuk menghilangkan lendir atau hambatan pada jalan napas demi menjaga agar jalan napas tetap terbuka. Active Assisted Exercise berfungsi untuk menghindari atrofi dan kontraktur pada otot – otot ektremitas dan Chest Therapy merupakan salah satu tindakan terapi yang dapat digunakan untuk mengatasi bersihan jalan nafas.<br>Case Presentation: Pasien berusia 68 tahun sudah 3 hari terakhir kedua kaki bengkak, batuk, berdahak. Keluhan utama pasien yaitu sehabis pemasangan alat bantu napas melalui mulut, pasien menjadi memiliki retensi mucus. Heart Rate 94 kali per menit, frekuensi pernapasan tinggi mencapai 45 kali per menit, dan kadar oksigen tercatat sebesar 58%. Nilai sesak dengan borg scale didapatkan skor 5, dan mMRC dengan skor 4.<br>Management and Outcome: Setelah menjalani terapi Active Assisted Exercise dan Chest Therapy sebanyak tiga kali, tampak adanya penurunan tingkat kesulitan bernapas dari 5 yang mengindikasikan sesak napas yang sangat parah. Namun, setelah terapi, angka tersebut berkurang menjadi 3, yang menunjukkan adanya sedikit sesak napas tingkat sedang, serta peningkatan dalam kemampuan fungsional dengan mMRC dari 4 turun menjadi 2.<br>Conclusion: Manajemen fisioterapi untuk kasus gagal napas menunjukkan dampak yang baik dalam mengurangi kesulitan bernapas, memperbaiki kapasitas dada, serta meningkatkan fungsi paru-paru, sehingga secara keseluruhan pasien mengalami perbaikan dari keadaan sebelumnya.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6447 Manajemen Fisioterapi pada post Orif Fraktur Olecranon Sinistra: Studi Kasus 2025-12-17T10:37:42+07:00 Yona Risha Prahesti [email protected] Suryo Saputra Perdana [email protected] Reza Arshad Yanuar [email protected] <p>Introduction: Fraktur olecranon merupakan cedera yang umum terjadi, yang mencakup 10% dari seluruh fraktur yang terjadi pada lengan. Manajemen fisioterapi bertujuan untuk mengurangi keluhan yang dirasakan seperti nyeri, keterbatasan lingkup gerak sendi, penurunan kekuatan otot, penurunan kemampuan fungsional, dan untuk mencegah timbulnya masalah baru. Tujuan studi kasus ini yaitu untuk mengetahui pengaruh dari management fisioterapi menggunakan multimodal intervensi berupa Infrared, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), dan terapi latihan berupa Proprioceptive Neuromuscular Facilitation (PNF) Hold-relax stretching exercise.<br>Case Presentation: Pasien wanita berusia 23 tahun dengan diagnosa medis post ORIF fraktur olecranon sinistra mengeluhkan kaku, kesulitan untuk menekuk dan meluruskan siku kiri secara maksimal, dan terasa nyeri saat siku sebelah kiri digerakkan sehingga pasien merasa terganggu dalam beraktivitas sehari-hari.<br>Management and Outcome: Manajemen Fisioterapi yang diberikan pada kasus ini berupa InfraRed, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), dan terapi latihan berupa Proprioceptive Neuromuscular Facilitation (PNF) Hold-relax stretching exercise. Discussion: Manajemen fisioterapi selama 3 sesi pada post ORIF fraktur olecranon sinistra dapat menurunkan nyeri tekan dan gerak, peningkatan lingkup gerak sendi, peningkatan kemampuan fungsional, menjaga kondisi otot. Conclusion: Manajemen fisioterapi selama 3 sesi pada post ORIF fraktur olecranon sinistra dapat meningkatkan kemampuan fungsional pasien.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6448 Pengaruh Program Rehabilitasi berbasis Latihan pada Kasus Osteoarthritis Knee: A Case Report 2025-12-17T10:40:42+07:00 Rehning Puji Hastuti [email protected] W Wahyuni [email protected] Sri Yunanto [email protected] <p>Introduction: Osteoartritis lutut adalah penyakit degeneratif yang memengaruhi sendi dan berkembang seiring waktu. Penyakit ini ditandai dengan kerusakan struktur tulang rawan, yang menyebabkan perubahan patologis. Gejala yang sering terjadi meliputi kekakuan di pagi hari dan suara "cracking", terkadang dikenal sebagai suara krepitus, saat menggerakkan lutut. Ketidaknyamanan lutut memengaruhi banyak elemen kualitas hidup karena mengurangi tugas fungsional seperti berjongkok, berdiri, berjalan jauh, dan naik turun tangga. Prevalensi penderita osteoartritis lutut sekitar 25% orang dewasa, dan dalam 20 tahun terakhir.<br>Case Presentation: Penelitian ini dilakukan di RSUD Bagas Waras Klaten, dan partisipan penelitian yaitu Tn. S.B. berusia 59 tahun dan berdasarkan hasil pemeriksaan rontgen telah didiagnosis menderita osteoartritis lutut unilateral. Pasien datang dengan keluhan kaku dan nyeri pada lutut kanan. Keluhan ini membuat pasien kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Pergerakan dari duduk ke berdiri, berjalan jauh, dan gerakan sholat menjadi aktivitas utama yang terganggu. Selain itu pasien melaporkan saat melakukan gerakan lutut terdengar bunyi "krek" atau krepitus pada lutut kanan.<br>Management and Outcome: Rehabilitasi berbasis Latihan dapat meningkatkan status fungsional, mengurangi tingkat dan intensitas nyeri, serta meningkatkan kualitas hidup yang merupakan manfaat manajemen fisioterapi untuk mengatasi masalah Osteoartritis.<br>Conclusion: Pertemuan Fisioterapi pada pasien osteoartritis lutut dengan empat kunjungan menggunakan TENS, mobilisasi patela, dan latihan mengurangi rasa tidak nyaman, meningkatkan aktivitas fungsional, memperkuat otot, dan memperluas jangkauan gerak sendi.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6449 Manajemen Fisioterapi pada post Sectio Caesaria et Causa Ketuban Pecah Dini+Mal Posisi: A Case Report 2025-12-17T10:55:06+07:00 Ike Puteri Elgina [email protected] Arin Supriyadi [email protected] Arif Abdullah [email protected] <p>Introduction: Sectio caesarea merupakan prosedur pembedahan yang umum dilakukan untuk mengatasi komplikasi kehamilan, salah satunya ketuban pecah dini (KPD) dan malposisi janin. Kondisi pasca operasi seringkali menimbulkan nyeri, keterbatasan mobilitas, dan gangguanlaktasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi fisioterapi dalam mempercepat pemulihan pasca sectio caesarea dengan indikasi KPD dan malposisi.<br>Case Presentation: Studi ini menggunakan desain studi kasus pada pasien Ny. I, usia 35 tahun, pasca operasi sectio caesarea. Intervensi fisioterapi dilakukan dua kali pada hari ke-1 dan ke-2 pasca operasi, meliputi mobilisasi dini, latihan pernapasan, penguatan otot abdomen dan dasar panggul, serta senam laktasi. Evaluasi dilakukan menggunakan NRS, MMT, dan Kenny Self CareEvaluation.<br>Management and Outcome: Terdapat penurunan nyeri signifikan (nyeri diam 3→0, tekan 5→2, gerak 6→2), peningkatan kekuatan otot abdomen (MMT 2→4), dan peningkatan kemampuan fungsional (KSCE F→A). Produksi ASI juga menunjukkan perbaikan pasca intervensi.<br>Conclusion: Intervensi fisioterapi terstruktur terbukti efektif dalam mempercepat pemulihan fisik dan fungsional, serta mendukung laktasi pada pasien post sectio caesarea dengan komplikasiobstetri.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6450 Physiotherapy Management for Bell's Palsy in A 17-Year-Old Female: A Case Report 2025-12-17T11:00:29+07:00 Muhammad Ghofar Aminarto [email protected] <p>Introduction: Bell's palsy is an acute, idiopathic peripheral facial nerve paralysis that commonly affects individuals between 15 and 45 years old. It is often attributed to viral reactivation, particularly herpes simplex virus type 1. The sudden onset of facial weakness or paralysis may cause significant psychological and functional impairments, especially in adolescents. Physiotherapy is considered an effective supportive treatment to restore neuromuscular function when pharmacological approaches alone are insufficient.<br>Case Presentation: A 17-year-old female presented with progressive right-sided facial stiffness and pain without apparent cause, eventually leading to noticeable facial asymmetry. Physical examination revealed reduced facial muscle strength (MMTgrade 0-3), tenderness in facial andneckmuscles, andmoderatepain(VAS 5-6). A facial function score of 51 on the Ugo Fisch scale indicated moderate facial paralysis. The patient's condition also interfered with chewing and social interaction due to altered facial appearance.<br>Management and Outcome: The patient received a three-week physiotherapy intervention including infrared therapy, neuromuscular electrical stimulation, manual massage techniques, and isometric facial exercises. Sessions were held twice per week, complemented by a daily home- based exercise program. Pain levels decreased steadily, and a mild improvement was observed in forehead movement and overall facial function (Ugo Fisch score increased from 51 to 54).<br>Conclusion: Physiotherapy combining infrared, NMES, manual techniques, and facial muscle training proved beneficial in managing Bell's palsy in an adolescent patient. Consistent home exercises and long-term monitoring are recommended to optimize outcomes and prevent persistent dysfunction.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6451 Manfaat Fisioterapi pada Pasien Perempuan Berusia 65 Tahun dengan Hemiparesis Dextra pasca Stroke Non Hemorraghic: Studi Kasus 2025-12-17T11:03:21+07:00 Muhammad Andre Agasi [email protected] Wahyu Tri Sudaryanto [email protected] Muhammad Fauzan [email protected] <p>Introduction: Stroke non Hemorraghic merupakan penyebab utama kecacatan fisik, khususnya pada populasi lanjut usia. Salah satu manifestasinya adalah hemiparase yang berdampak pada gangguan mobilitas, kekuatan otot, koordinasi, serta kemampuan menjalankan aktivitas fungsional. Fisioterapi memiliki peran penting dalam rehabilitasi untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasi<br>Case Presentation: Penelitian ini merupakan studi case report terhadap seorang pasien perempuan berusia 65 tahun dengan hemiparase dextra akibat stroke non hemoragik.<br>Management and Outcome: Intervensi fisioterapi dilakukan selama tiga minggu (2 sesi/minggu) dengan modalitas Infrared (IR), Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), latihan ROM aktif, massage, dan core muscle exercise. Evaluasi dilakukan pada T0, T1, dan T2 menggunakan NRS, MMT, MAS, dan Barthel Index Disability. Terjadi penurunan nyeri (NRS nyeri gerak: 6 menjadi 5; nyeri tekan: 4 menjadi 3) dan spastisitas (MAS fleksor elbow dan knee dextra dari 3 menjadi 2 dan 2 menjadi 1). Tidak ada peningkatan signifikan pada kekuatan otot maupun skor Barthel Index (tetap 85).<br>Conclusion: Intervensi fisioterapi efektif dalam menurunkan nyeri dan spastisitas pada pasien pascastroke, namun peningkatan kekuatan otot dan kemampuan fungsional memerlukan intervensi lanjutan.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6452 Kombinasi Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation, Low Laser Light Therapy dan Mirror Therapy Exercise sebagai Intervensi Fisioterapi pada Pasien post Herpetic Neuralgia: A Case Report 2025-12-17T11:07:05+07:00 Dian Maharrani [email protected] Arif Pristianto [email protected] Nilam Nur Hamidah [email protected] <p>Introduction: Post Herpetic neuralgia (PHN) atau neuralgia pasca herpes adalah komplikasi paling umum dari terjadinya herpes zoster. Karakteristik Postherpetic Neuralgia (PHN) ditandai dengan nyeri tajam atau sensasi terbakar yang mengikuti pola dermatom satu sisi, dan berlangsung selama tiga bulan atau lebih setelah infeksi herpes zoster terjadi. Faktor risiko PHN yang sering terjadi adalah usia lanjut, jenis kelamin perempuan, imunosupresi berat, ruam parah, dan nyeri akut saat terpapar herpes zoster.<br>Case Presentation: Penelitian ini menggunakan metode case report yang dilakukan di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah Bali pada bulan November 2024. Pasien seorang pria, atas nama Tn. IMS, berusia 71 tahun dengan diagnosis post herpetic neuralgia. Pasien mengeluhkan nyeri dan sensai terbakar di bagian mata, alis, dan dahi sebelah kiri sejak 3 bulan yang lalu. Nyeri yang dirasakan hilang-timbul, tajam, dan tidak menjalar. Nyeri bertambah parah saat terkena gesekan, seperti pakaian atau masker dan saat terkena angin. Nyeri tidak terasa saat tidur sehingga tidak mengganggu waktu tidur pasien. Pasien mempunyai riwayat hipertensi, diabetes, dan bell palsy.<br>Management and Outcome: Intervensi fisioterapi yang diberikan kepada pasien adalah Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), Low Laser Light Therapy (LLLT), dan Mirror therapy exercise. Evaluasi pengukuran tingkat nyeri pasien menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), pengukuran kekuatan otot wajah pasien menggunakan Manual Muscle Testing (MMT), pengukuran skala integritas kulit dengan metode SWEAT, dan pengukuran kemampuan fungsional menggunakan Ugo Fisch Scale.<br>Conclusion: Penelitian ini dilaksanakan langsung pada pasien dengan kondisi Post Herpetic Neuralgia dengan terapi sebanyak 5 kali sesi pertemuan dengan modalitas fisioterapi berupa TENS, LLLT, dan mirror therapy exercise terlihat perubahan yang signifikan dalam mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot, memperbaiki integritas kulit, dan meningkatkan kemampuan fungsional pasien.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6453 Penanganan Fisioterapi pada Kasus post Bentall Procedure: A Case Report 2025-12-17T11:13:35+07:00 Alfi Salatina [email protected] Umi Budi Rahayu [email protected] Kadek Agustini Aryani [email protected] <p>Introduction: Prosedur Bentall merupakan salah satu metode operasi jantung yang penting dan sering digunakan untuk mengatasi gangguan pada akar aorta, seperti aneurisma aorta asendens serta diseksi aorta tipe A. Teknik bedah ini pertama kali dikembangkan oleh Hugh Bentall pada tahun 1968 dan telah mengalami berbagai penyempurnaan untuk meningkatkan keberhasilan jangka panjang serta mengurangi risiko komplikasi pascaoperasi.<br>Case Presentation: Seorang remaja berusia 20 tahun mengalami kondisi post operasi jantung yaitu Bentall procedure. Pasien menunjukkan menurunnya kapasitas aerobik, nyeri pada luka post operasi serta terbatasnya kemampuan fungsional.<br>Management and Outcome: Intervensi fisioterapi dilakukan meliputi latihan pernapasan, latihan aktif ROM, latihan batuk efektif serta mobilisasi dini sebelum dan setelah dua sesi intervensi. Hasil menunjukkan belum ada perubahan klinis yang signifikan, namun terdapat perbaikan berupa penurunan 1 angka skala nyeri, Skor Index Barthel meningkat dari 40 menjadi 60.<br>Conclusion: Walaupun perkembangan pasien belum terlihat secara signifikan, akan tetapi ada manfaat didapat dari latihan yang sudah dilakukan. Dukungan dari penelitian terbaru memperkuat efektivitas teknik yang digunakan, sehingga fisioterapi perlu dilakukan secara rutin dengan evaluasi berkala untuk mendukung pemulihan fungsi pasien secara optimal.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6454 Management Fisioterapi pada Kasus post Operasi Fraktur Tibia Proximal Dextra di Rumah Sakit Islam Sakinah Mojokerto: Studi Kasus 2025-12-17T11:21:30+07:00 Muhammad Fathan [email protected] Wahyu Tri Sudaryanto [email protected] G Gemilang [email protected] <p>Introduction: Fraktur adalah diskontinuitas pada tulang (atau tulang rawan) kekuatan akibat mekanisme yang melebihi kemampuan tulang untuk menahannya. Tujuan guna memahami tata laksana fisioterapi pada kasus pasca fraktur tibia proximal dextra.<br>Case Presentation: Ny. U, berusia 59 tahun, berprofesi sebagai ibu rumah tangga, yang menjalani terapi fisioterapi pasca operasi fraktur tibia proximal kanan. Program intervensi dilakukan sebanyak empat kali sesi di Rumah Sakit Islam Sakinah Mojokerto.<br>Management and Outcome: Penanganan fisioterapi pada kasus ini dilakukan dalam empat sesi terapi. Pasien dengan diagnosis post operasi fraktur tibia proximal kanan menjalani intervensi berupa terapi ultrasound, stretching (termasuk teknik hold-relax), serta latihan penguatan otot (quadset dan ankle range of motion).<br>Conclusion: Berdasarkan hasil evaluasi penerapan modalitas ultrasound, Streching (senam peregangan), dan program penguatan otot pada pasien berinisial Ny. U yang didiagnosa Post Fraktur Tibia Proximal Dextra, disimpulkan bahwa setelah menyelesaikan empat kali perawatan selama sebulan, terjadi peningkatan kapasitas fungsional dengan FADI, ada perubahan kekuatan otot quadricep dan ankle dextra, dan terjadi pengurangan nyeri pada knee dan ankle dextra.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6455 Tai Chi untuk Lansia dengan Fisioterapis Puskesmas Kartasura 2025-12-17T11:27:06+07:00 Bella Arianti [email protected] <p>Introduction: Lansia adalah mereka yang berusia 60 tahun atau lebih yang pada fase ini mengalami perubahan pada dimensi fisik, psikologis seperti depresi, cemas, dan sulit konsentrasi dan social. Kualitas tidur berhubungan dengan tingkat kesejahteraan lansia. Kualitas tidur pada lansia meliputi tujuan tidur, durasi tidur dan latensi tidur, kualitas tidur secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Tai Chi berpengaruh dalam kualitas hidup lansia. Management and Outcome: Metode penelitian One Group Pre-Post Test Design. Pengujian data menggunakan uji normalitas data dan juga uji paired t-test yang tujuannya melihat pengaruh senam tai chi. Berdasarkan karakteristik usia responden lanjut usia di Indonesia berusia 60-90 tahun dan juga lansia yang masih bisa melihat dan juga mendengar dan tidak mnegonsumsi obat tidur, lansia yang masih aktif, lansia yang tidak memakai alat bantu untuk berdiri, lansia yang masih bisa melakukan aktifitas sehari-hari seperti berkebun,beribadah, memasak, memakai baju<br>Conclusion: Program latihan Tai Chi yang dilakukan bersama fisioterapis terbukti memberikan manfaat nyata bagi lansia, baik secara fisik maupun psikososial. Gerakan Tai Chi yang lembut, berirama, dan penuh perhatian terbukti dapat meningkatkan keseimbangan, kelenturan, dan mengurangi risiko terjatuh. Dengan bantuan fisioterapis, latihan dapat disesuaikan dengan kondisi individu sehingga aman dan efektif.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6456 Pengaruh Neuromuskular Taping terhadap Nyeri, Keseimbangan, serta Proprioseptif pada Pasien Neuropati Perifer Diabetik: Tinjauan Naratif 2025-12-17T11:29:09+07:00 Hikmatul Laili Nuraini [email protected] Umi Budi Rahayu [email protected] <p>Introduction: Diabetes Melitus (DM) merupakan kondisi kronis yang sering disertai komplikasi seperti neuropati perifer dan gangguan fungsi otot, yang secara signifikan memengaruhi kualitas hidup penderita. Neuromuscular taping (NMT) telah muncul sebagai pendekatan terapi non-invasif yang berpotensi bermanfaat dalam mengelola komplikasi terkait DM.</p> <p>Method: Tinjauan literatur dilakukan dengan menelusuri data menggunakan teknik Boolean (AND, OR) untuk mengidentifikasi studi yang membahas penggunaan NMT pada individu dengan DM. Artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditentukan. Result: Sebanyak 22 artikel relevan diidentifikasi, dengan 8 di antaranya secara khusus membahas aplikasi NMT pada DM. Dari artikel tersebut, 5 merupakan randomize control trial terhadap efektivitas NMT. Hasil menunjukkan bahwa NMT dapat memberikan dampak positif terhadap Ankle Brakialis Indeks (ABI), sirkulasi darah perifer, dan parameter kesehatatan lainnya seperti penurunan nyeri, keseimbangan, dan propioseptif. Prinsip dan teknik aplikasi NMT juga diuraikan, memberikan landasan pemahaman terhadap potensi efek terapeutiknya.</p> <p>Discussion: Potensi mekanisme terapeutik NMT mencakup peningkatan umpan balik sensorik, aktivasi otot, serta perbaikan sirkulasi darah yang berdampak pada peningkatan keseimbangan dan propioseptif. Aspek keamanan dan kelayakan integrasi NMT dalam manajemen komprehensif DM juga menjadi fokus pembahasan, mengingat tantangan terkait kurangnya protokol standar dan variasi desain studi.</p> <p>Conclusion: Neuromuscular taping merupakan terapi non farmalogis yang menjanjikan dalam penanganan komplikasi DM. Tinjauan ini memberikan pemahaman menyeluruh terkait potensi manfaat NMT sekaligus menganalisis keterbatasan layanan kesehatan dalam implementasinya.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/apc/article/view/6192 Front Matter 2025-10-04T11:27:00+07:00 Arin Supriadi [email protected] <p>Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan bangga menyelenggarakan Academic Physiotherapy Conference (APC) 2025, yang mengangkat tema "Peran Fisioterapi dalam Membangun Komunitas Menuju Masyarakat Berkualitas." Kegiatan ini terdiri dari webinar ilmiah dan call for paper sebagai bagian dari komitmen kami untuk mendorong pengembangan keilmuan dan praktik fisioterapi berbasis bukti serta berorientasi pada kebutuhan masyarakat.</p> <p>Melalui konferensi ini, kami berharap tercipta ruang dialog ilmiah yang produktif antara akademisi, praktisi, peneliti, dan mahasiswa dalam membahas berbagai pendekatan dan inovasi fisioterapi yang mampu berkontribusi dalam membangun komunitas yang sehat dan tangguh. Selain itu, konferensi ini juga menjadi wadah untuk mempublikasikan hasil-hasil penelitian terkini serta memperkuat jejaring kolaborasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.</p> <p>Dengan menghadirkan narasumber dari dalam dan luar negeri, serta mengundang kontribusi tulisan dari berbagai institusi, APC 2025 menjadi momentum penting untuk mengintegrasikan pengetahuan, pengalaman, dan empati dalam menjawab tantangan kesehatan masyarakat melalui peran fisioterapi yang aktif dan solutif.</p> 2025-07-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025