https://proceedings.ums.ac.id/densium/issue/feed Prosiding Dental Seminar Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025-07-11T20:22:32+07:00 Open Journal Systems <p>Proceeding Title: <strong>Prosiding Dental Seminar Universitas Muhammadiyah Surakarta</strong><br />Organizer: Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Muhammadiyah Surakarta<br />ISSN (Online): <a href="https://issn.perpusnas.go.id/terbit/detail/20210630111458750" target="_blank" rel="noopener">2798-2769</a></p> <p><a href="https://densium.ums.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">Dental Seminar UMS (Densium)</a> adalah seminar ilmiah nasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Seminar yang dilaksanakan setiap dua tahunan ini umumnya merupakan rangkaian kegiatan seminar dan hands on.</p> https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5669 Front Matter 2025-07-05T13:43:20+07:00 Nendika Dyah Ayu Murika Sari [email protected] <p>Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh<br>Alhamdulilah, alhamdulilahirabbil 'alamin</p> <p>Marilah kita ucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, sehingga kita diberikan kesempatan dan kesehatan. Ini merupakan kali ke-Tujuh DENSIUM diselenggarakan oleh FKG UMS. DENSIUM ke 7 FKG UMS kali ini bertema "Collaborative Dentistry: A Multidisciplinary Approach to Comprehensive Patient Care". Sesuai dengan tema Collaborative Dentistry, kami menghadirkan 9 narasumber dari berbagai bidang keilmuan seperti bedah mulut, radiologi kedokteran gigi, ortodonti, prostodonti, etika kedokteran gigi, periodonti, konservasi gigi, dan kedokteran gigi anak. DENSIUM yang dilaksanakan setiap dua tahun ini umumnya merupakan rangkaian kegiatan Konferensi/Seminar, Workshop/Hands On, Call for Abstract, Oral Presentation, Poster Presentation, dan Dentistry Got Talent.</p> <p>Melalui serangkaian kegiatan DENSIUM 7 ini diharapkan mampu menjadi wadah bagi civitas akademika FKG UMS dan seluruh civitas akademika institusi kesehatan untuk menyajikan hasil kajiannya. Oral Presentation dan Poster Presentation yang diselenggarakan oleh DENSIUM 7 mengundang antusiasme yang relatif banyak dari para peserta. Terdapat 48 abstrak yang masuk pada Call for Abstract, kemudian terdapat 10 naskah terbaik sebagai nominator pada Oral Presentation, serta terdapat 35 naskah yang lolos untuk dipublikasikan. Kegiatan Oral Presentation dan Poster Presentation DENSIUM 7 ini diikuti oleh banyak peserta baik mahasiswa, dokter gigi, residen, dan dokter gigi spesialis dari beberapa institusi terkemuka di Indonesia, yakni Universitas Sriwijaya, Universitas Indonesia, Universitas Kristen Maranatha, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.</p> <p>Kami berharap bahwa pelaksanaan kegiatan Oral Presentation dan Poster Presentation DENSIUM selanjutnya lebih banyak lagi diikuti oleh civitas akademika dan praktisi kesehatan serta menerbitkan karya-karya yang semakin berkualitas dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.</p> <p>Saya selalu ketua panitia mengucapkan terima kasih kepada Rektor UMS beserta jajarannya, Dekan FKG UMS beserta jajarannya, para sponsor yang telah berpartisipasi dalam kegiatan seminar DENSIUM 7, serta pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Penghargaan yang setinggi tingginya juga kami sampaikan kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras demi suksesnya kegiatan DENSIUM 7 ini. Masukan yang membangun sangat kami harapkan untuk DENSIUM yang lebih baik lagi kedepannya.</p> <p>Akhir kata, apabila terdapat kekurangan dalam penyelenggaraan kegiatan ini, kami mohon maaf. Semoga bermanfaat bagi kita semua.</p> <p>Terima kasih,<br>Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5713 Perawatan Kuretase Gigi Insisivus Rahang Atas dengan Malposisi: Laporan Kasus 2025-07-10T11:14:53+07:00 Tamara Al Kautsar Sugiharto [email protected] Ariyani Faizah [email protected] Aisha Farrachan Widodo [email protected] <p>Latar belakang: Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan jaringan periodontal adalah usia, bakteri patogen, dan morfologi serta susunan gigi. Malposisi gigi akan mempercepat terbentuknya plak dan kalkulus karena retensi plak dan bakteri yang sulit dibersihkan sehingga meningkatkan terjadinya penyakit periodontal seperti gingivitis dan periodontitis. Perawatan inisial penyakit periodontal adalah menghilangkan faktor etiologi melalui scaling, root planning, dan kuretase.</p> <p>Tujuan: Laporan kasus ini membahas tentang penatalaksanaan kuretase untuk mengurangi poket periodontal pada gigi insisivus rahang atas yang mengalami malposisi.</p> <p>Laporan kasus: Seorang wanita 45 tahun mengeluhkan gusi sering berdarah dan terasa linu. Pemeriksaan intraoral ditemukan gingiva yang oedem, hiperemi, dan kalkulus di seluruh regio anterior. Skor OHI 6.6, skor plak indeks 68%, dan BOP positif pada gigi 12, 13, 31, 32, 33, 41, 42, dan 43. Ditemukan poket periodontal sedalam 3 mm di gigi incicivus rahang atas.</p> <p>Diskusi: Kondisi malposisi gigi mempengaruhi retensi plak dan bakteri pada gigi. Kondisi tersebut mempercepat proses patologis jaringan periodontal. Plak dan bakteri yang dibiarkan terus menerus menjadi pencetus penyakit periodontal. Poket periodontal merupakan salah satu ciri inflamasi jaringan periodontal. Jaringan granulasi pada dinding poket berisi plak dan bakteri akan menghalangi proses perlekatan baru. Kuretase gingiva bertujuan untuk membuang jaringan granulasi pada dinding poket supaya terbentuk perlekatan baru.</p> <p>Kesimpulan: Perawatan kuretase pada pasien gingivitis sedang yang memiliki poket periodontal 3 mm menunjukkan hasil yang baik setelah 1 minggu pasca tindakan, skor OHI baik, dan terdapat pengurangan kedalaman poket.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Tamara Al Kautsar Sugiharto, Ariyani Faizah, Aisha Farrachan Widodo https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5726 Perawatan Pulpotomi pada Gigi Desidui Posterior Mandibula: Laporan Kasus 2025-07-11T09:56:05+07:00 Qitarah Safa Haqiqah [email protected] Nendika Dyah Ayu Murika Sari [email protected] <p>Latar belakang: Menjaga kesehatan mulut anak dapat mencegah masalah yang lebih kompleks seperti karies gigi yang dapat mengganggu perkembangan gigi. Dengan prevalensi global sebesar 80-95% dan 94,3% di Indonesia untuk Karies Anak, kebiasaan buruk dalam menjaga kesehatan gigi dan kesadaran yang rendah memperburuk masalah tersebut. Karies lanjut yang menyebabkan keterlibatan pulpa dapat diobati dengan pulpotomi, yaitu prosedur membuang pulpa koronal yang meradang dan mempertahankan vitalitas pulpa radikular menggunakan formocresol. Perawatan ini mencegah kehilangan gigi prematur, maloklusi, dan memastikan fungsi dan perkembangan gigi yang baik.</p> <p>Tujuan: Laporan kasus ini membahas tentang perawatan pulpotomi pada gigi sulung yang mengalami pulpitis reversible.</p> <p>Laporan kasus: Anak perempuan berusia 8 tahun datang ke RSGM Soelastri dengan keluhan gigi berlubang pada gigi molar bawah kiri terasa sensitif terhadap dingin. Diagnosis pulpitis reversibel dipastikan melalui pemeriksaan klinis dan radiografi. Anak tersebut menjalani pulpotomi, meliputi anestesi, pembuangan karies, dan fiksasi ruang pulpa dengan formocresol dan zinc oxide eugenol. Setelah pulpotomi berhasil, gigi direstorasi dengan stainless steel crown.</p> <p>Diskusi: Kondisi pulpitis reversible ini bisa ditangani dengan perawatan pulpotomi sebagai salah satu cara untuk mempertahankan vitalitas gigi sulung yang sudah mengenai tanduk pulpa.</p> <p>Kesimpulan: Memberikan gambaran mengenai keberhasilan perawatan pulpotomi pada gigi sulung dengan diagnosis pulpitis reversible</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5727 Perawatan Diastema Insisivus Sentral Maksila yang Disebabkan oleh Mesiodens: Laporan Kasus 2025-07-11T10:11:24+07:00 Annisa Anindya [email protected] Ajeng Qonitah Ramadhanty [email protected] Purwandito Pujoraharjo [email protected] <p>Latar belakang: Mesiodens merupakan gigi supernumerari yang paling sering ditemui di regio insisivus sentral maksila. Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi seperti maloklusi dan penampilan kurang estetik. Perawatan multidisiplin antara kedokteran gigi anak, ortodonti dan radiologi memiliki peran penting yang dapat mendukung diagnosis dini serta rencana perawatan yang tepat. Ekstraksi mesiodens kemudian dilanjutkan dengan perawatan ortodonti lepasan bertujuan untuk mengoreksi maloklusi pasien.</p> <p>Tujuan: Laporan kasus ini bertujuan untuk menjelaskan intervensi klinis mengenai diastema insisivus sentral maksila yang disebabkan oleh mesiodens dan penatalaksanaanya.</p> <p>Laporan kasus: Pasien laki-laki berusia 10 tahun dengan mesiodens yang telah erupsi sempurna sehingga terjadi pergeseran pada midline dan menyebabkan diastema insisivus sentral maksila. Mesiodens diekstraksi dengan anestesi infiltrasi dan ketika soket telah menutup sempurna, dilakukan insersi alat ortodonti lepasan.</p> <p>Diskusi: Ekstraksi mesiodens yang dilanjutkan dengan penggunaan alat ortodonti lepasan menjadi pilihan perawatan karena mempertimbangkan usia pasien masih dalam masa pertumbuhan. Perawatan ortodonti pada periode gigi bercampur harus memberikan tekanan ringan dengan gerakan tiping yang terbatas.</p> <p>Kesimpulan: Alat ortodonti lepasan dapat mengoreksi maloklusi pada anak dengan baik terutama jika diagnosis dan perawatan dini dapat dilakukan, bahkan ketika gigi telah erupsi.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5728 Suspek Fibroma pada Gigi Impaksi: Laporan Kasus 2025-07-11T10:14:53+07:00 Tomy Anugraha [email protected] Annisa Anindya [email protected] Purwandito Pujoraharjo [email protected] <p>Latar belakang: Fibroma merupakan tumor jinak rongga mulut yang paling sering terjadi sebagai respon terhadap iritasi atau trauma lokal. Ukuran fibroma dapat bervariasi dari milimeter hingga beberapa sentimeter yang berkembang secara bertahap selama beberapa bulan atau tahun. Fibroma memiliki karakteristik berupa lesi nodul dengan batas jelas, konsistensi kenyal, bertangkai, lebih pucat dari jaringan sekitar, dan asimptomatik. Perawatan multidisiplin antara penyakit mulut, bedah mulut, radiologi, dan patologi anatomi dibutuhkan dalam penegakan diagnosis dan penatalaksanaannya.</p> <p>Tujuan: Laporan kasus ini bertujuan untuk mempresentasikan gambaran klinis dan perawatan fibroma di regio molar ketiga mandibula yang impaksi.</p> <p>Laporan kasus: Pasien perempuan 45 tahun datang dengan keluhan adanya pembengkakan pada gusi daerah gigi belakang kiri bawah tanpa rasa sakit selama satu tahun terakhir. Pemeriksaan klinis menunjukkan lesi nodula pada distolingual gingiva gigi 38 yang impaksi, berbatas tegas, konsistensi kenyal, berukuran 6 x 12 mm, dan memiliki warna yang lebih pucat dibandingkan dengan jaringan sekitar. Berdasarkan anamnesis dan evaluasi klinis, didapatkan diagnosis sementara yaitu fibroma. Tatalaksana yang dilakukan yaitu odontektomi untuk menghilangkan faktor etiologi. Ukuran lesi mengecil menjadi 3 x 5 mm pada dua bulan pasca odontektomi. Hal ini menunjukkan bahwa odontektomi sangat efektif untuk menghilangkan faktor etiologi fibroma.</p> <p>Diskusi: Fibroma umumnya ditatalaksana dengan menghilangkan faktor etiologi diikuti dengan eksisi total. Rekurensi dapat terjadi jika regio yang sama mengalami trauma berulang.</p> <p>Kesimpulan: Menghilangkan faktor etiologi merupakan pilihan perawatan yang tepat untuk eliminasi fibroma dan kontrol jangka panjang diperlukan untuk evaluasi.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5729 Restorasi Mahkota Jaket dengan Pasak Fiber pasca Perawatan Saluran Akar pada Kasus Nekrosis Pulpa Gigi Insisivus Lateral Maksila 2025-07-11T10:18:23+07:00 Noor Hafida Widyastuti [email protected] Juwita Raditya Ningsih [email protected] Muhammad Aridhi Faza [email protected] <p>Nekrosis pulpa merupakan kondisi patologis akibat kematian jaringan pulpa yang umumnya disebabkan oleh karies gigi yang tidak tertangani. Perawatan saluran akar (PSA) menjadi prosedur utama untuk menghilangkan jaringan nekrotik dan mengembalikan fungsi gigi, sementara restorasi mahkota jaket diperlukan untuk meningkatkan kekuatan struktural dan estetika gigi yang telah mengalami PSA. Laporan ini membahas kasus seorang pria berusia 32 tahun yang datang dengan keluhan estetika akibat gigi depan yang berlubang. Pemeriksaan klinis dan radiografi menunjukkan diagnosis nekrosis pulpa pada gigi insisivus lateral maksila. Perawatan dilakukan dengan teknik step back, irigasi menggunakan larutan natrium hipoklorit (NaOCl) 2,5%, aplikasi medikasi intrakanal kalsium hidroksida (Ca(OH)₂), serta obturasi menggunakan gutta-percha dan sealer. Restorasi akhir dilakukan dengan pasak fiber dan mahkota jaket porcelain-fused-to-metal (PFM) untuk meningkatkan retensi, kekuatan, dan estetika gigi. Kombinasi perawatan PSA dan restorasi ini terbukti efektif dalam mempertahankan fungsi, mencegah fraktur, serta meningkatkan estetika gigi non-vital, sehingga memberikan hasil jangka panjang yang baik bagi pasien.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5730 Penatalaksanaan Apikal Fenestrasi akibat Trauma Gigi Sulung: Laporan Kasus 2025-07-11T10:20:47+07:00 Ardelia Griselda Tjiawi [email protected] Annisa Anindya [email protected] Purwandito Pujoraharjo [email protected] <p>Latar belakang: Apikal fenestrasi didefinisikan sebagai defek pada apeks yang menembus mukosa dan terekspos di rongga mulut. Hal ini terjadi akibat proses fisiologis dan patologis, yang bermula dari tekanan trauma oklusi sehingga terjadi inflamasi kronis pada periodontal. Daerah terisolasi pada fenestrasi memperlihatkan permukaan akar gigi yang hanya dilapisi oleh periosteum dan gingiva, namun tulang kortikal di sekitarnya tetap utuh. Hal ini memerlukan penanganan multidisiplin untuk memberikan prognosis yang lebih baik kepada pasien. Apikal fenestrasi dapat menjadi area retensi plak dan memengaruhi mukosa di sekitarnya.</p> <p>Tujuan: Laporan kasus ini bertujuan untuk mendeskripsikan pasien dengan diagnosis apikal fenestrasi pada gigi 51.</p> <p>Laporan Kasus: Seorang pasien laki-laki berusia delapan tahun datang ke Poli Gigi mengeluhkan gigi depan kanan atas yang menonjol ke area gingiva labial disertai stomatitis akibat trauma. Gigi 11 erupsi sebagian di palatal dan gigi 61 non vital. Apikal fenestrasi terdapat pada tulang alveolar labial gigi 51. Gigi 51 diekstraksi agar gigi 11 dapat mengalami reposisi fisiologis.</p> <p>Diskusi: Apikal fenestrasi dapat disebabkan olek tekanan dari trauma oklusi dan jarang terdeteksi oleh klinisi, terutama pada gigi sulung. Pemahaman menyeluruh tentang kondisi ini adalah kunci untuk diagnosis yang tepat serta penanganan yang sesuai.</p> <p>Kesimpulan: Ekstraksi merupakan salah satu pilihan perawatan untuk apikal fenestrasi akibat trauma pada gigi sulung.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5731 Identifikasi Saluran Mesiobukal Kedua pada Gigi Molar Rahang Atas berdasarkan Morfologi Anatomis 2025-07-11T10:30:32+07:00 Beta Cyndiana [email protected] Dini Asrianti [email protected] <p>Latar Belakang: Identifikasi saluran mesiobukal kedua (MB2) sangat penting, karena jika gagal menemukannya dapat meningkatkan risiko infeksi. Hal ini juga berkorelasi dengan insiden yang relatif tinggi dari kanal MB2 pada kasus gigi molar atas (69.6% kasus gigi molar pertama rahang atas dan 39.0% pada gigi molar kedua rahang atas).</p> <p>Tujuan: Laporan kasus ini bertujuan untuk menggambarkan proses identifikasi dan perawatan saluran MB2 pada gigi molar kedua maksila, serta menyoroti metode yang digunakan untuk menghindari missed canal.</p> <p>Laporan Kasus: Seorang pasien perempuan berusia 43 tahun dirujuk untuk perawatan saluran akar pada gigi 17 sebagai persiapan untuk pemasangan gigi tiruan. Pemeriksaan klinis dan radiografi menunjukkan nekrosis pulpa dengan periodontitis apikalis asimtomatik. Saat preparasi akses, orifis MB2 tidak langsung terlihat dan ditemukan setelah perluasan akses menggunakan instrumen ultrasonik dengan bantuan magnifikasi dan pencahayaan. Saluran kemudian dipreparasi dan diobturasi dengan baik.</p> <p>Diskusi: Saluran MB2 sering kali tertutup oleh pulpstone atau dentin sekunder yang dapat menyebabkan kalsifikasi pada saluran tersebut. Pembesaran yang baik dengan menggunakan loupe atau mikroskop dapat membantu identifikasi MB2 dengan menggunakan radiografi 2D, juga dengan menggunakan instrumen ultrasonik. Keberhasilan perawatan bergantung pada deteksi dini dan preparasi yang adekuat untuk mencegah infeksi residual.</p> <p>Kesimpulan: Pengenalan anatomi kamar pulpa dan teknik eksplorasi yang tepat sangat penting dalam menemukan saluran MB2 guna memastikan keberhasilan perawatan endodontik.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5732 Tatalaksana Non Bedah Perforasi Iatrogenik Molar Pertama Rahang Atas dengan Bio-C Repair: Laporan Kasus 2025-07-11T12:39:29+07:00 Affiva Aqmarina [email protected] Ratna Meidyawati [email protected] <p>Latar belakang: Perforasi iatrogenik dapat terjadi dalam proses preparasi akses perawatan endodontik. Kesalahan umumnya terjadi karena kurangnya pemahaman tentang morfologi gigi. Prevalensi perforasi pada permukaan servikal adalah 71.93% didominasi oleh permukaan mesial. Tatalaksana cepat dan tepat merupakan hal penting. Bio-C Repair merupakan material biokeramik berbahan kalsium silikat, memenuhi kriteria ideal sebagai pilihan material untuk menutup perforasi.</p> <p>Tujuan: Laporan kasus ini bertujuan menjabarkan tatalaksana non bedah perforasi iatrogenik pada molar pertama rahang atas menggunakan Bio-C Repair.</p> <p>Laporan kasus: Pasien wanita 71 tahun dirujuk ke klinik Spesialis Konservasi RSGM FKG UI dengan keluhan tambalannya lepas dan terasas nyeri serta tidak nyaman. Pemeriksaan klinis menunjukkan perforasi iatrogenik permukaan mesio-servikal pada molar pertama rahang atas yang telah dirawat sebelumnya. Pemeriksaan radiografis menunjukkan radiolusensi pada mesio-servikal mahkota meluas dari CEJ hingga puncak tulang alveolar. Penutupan perforasi dilakukan dengan Bio-C repair serta perawatan saluran akar dilakukan dengan Protaper Ultimate Rotary File.</p> <p>Diskusi: Perforasi iatrogenik pada tahap preparasi akses perawatan endodontik gigi yang telah dirawat sebelumnya dapat terjadi karena operator gagal dalam menentukan law of concentricity sehingga menyebabkan terjadinya komunikasi dengan jaringan periodontal. Bio-C repair merupakan material bioaktif berbasis kalsium silikat yang osteokonduktif, aplikasinya sederhana, dan memiliki solubilitas yang rendah dapat memfasilitasi sealing ability lebih baik sehingga menjadi pilihan material untuk mencapai keberhasilan perawatan.</p> <p>Kesimpulan: Tatalaksana non bedah perforasi iatrogenik pada gigi molar pertama rahang atas dengan bio-c repair efektif dalam mencapai keberhasilan dan penyembuhan.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5733 Perawatan Endodontik Gigi Molar Pertama Mandibula dengan Konfigurasi Vertucci Tipe II: Laporan Kasus 2025-07-11T12:45:01+07:00 Faradilla Mauliningrum [email protected] Ratna Meidyawati [email protected] <p>Latar belakang: Gigi molar pertama mandibula memiliki variasi anatomi saluran akar yang kompleks, salah satunya adalah konfigurasi Vertucci Tipe II. Konfigurasi ini ditandai dengan dua saluran akar yang terpisah di bagian koronal namun bergabung sebelum mencapai foramen apikal, sehingga menimbulkan tantangan dalam preparasi, irigasi, dan obturasi saluran akar.</p> <p>Tujuan: Laporan kasus ini bertujuan untuk menggambarkan pendekatan diagnostik dan strategi perawatan saluran akar pada gigi molar pertama mandibula dengan konfigurasi Vertucci Tipe II untuk meningkatkan keberhasilan terapi endodontik.</p> <p>Laporan kasus: Seorang pasien perempuan berusia 47 tahun dirujuk untuk perawatan saluran akar gigi 46 dengan diagnosis nekrosis pulpa dan periodontitis apikalis simtomatik. Pemeriksaan radiografi dengan teknik tube shift mengungkapkan konfigurasi Vertucci Tipe II pada akar mesial. Konfirmasi dilakukan menggunakan Electronic Apex Locator (EAL) dan teknik indentasi gutta percha. Preparasi saluran akar dilakukan dengan teknik crown-down menggunakan ProTaper Gold. Irigasi menggunakan NaOCl 2,5% dan EDTA 17% yang diaktivasi dengan EndoActivator. Obturasi dilakukan dengan teknik kondensasi hidrolik berbasis calcium silicate sealer.</p> <p>Diskusi: Strategi perawatan pada konfigurasi Vertucci Tipe II harus mempertimbangkan panjang kerja yang berbeda antara dua saluran akar untuk menghindari transportasi apikal. Irigasi aktif diperlukan untuk membersihkan area konfluensi secara optimal. Teknik kondensasi hidrolik memastikan adaptasi sealer lebih baik pada sistem saluran akar yang menyatu.</p> <p>Kesimpulan: Identifikasi dini konfigurasi Vertucci Tipe II dengan radiografi tube shift, konfirmasi dengan Electronic Apex Locator (EAL) dan indentasi gutta percha, serta pendekatan preparasi dan obturasi yang tepat, meningkatkan keberhasilan perawatan saluran akar pada kasus ini.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5734 Perawatan Saluran Akar Premolar Mandibula pada Pulpitis Irreversibel disertai Periodontitis Apikalis Simptomatik (Laporan Kasus) 2025-07-11T12:50:13+07:00 Nabila Shalsa Dwi Putri [email protected] Juwita Raditya Ningsih [email protected] C Cahyani [email protected] <p>Latar belakang: Gigi merupakan jaringan keras tubuh yang memiliki salah satu struktur berisi pembuluh darah dan syaraf yang disebut sebagai pulpa. Peradangan pada pulpa disertai nyeri denyut terus-menerus adalah tanda dari pulpitis irrreversibel. Kondisi ini memerlukan perawatan saluran akar untuk mengatasi rasa sakit dan mencegah perluasan infeksi yang lebih lanjut.</p> <p>Tujuan: Laporan kasus ini menjelaskan keberhasilan perawatan saluran akar pada kasus pulpitis irrevesibel disertai periodontitis apikalis simptomatik.</p> <p>Laporan kasus: Laki-laki 26 tahun dengan keluhan gigi kanan bawah belakang berlubang disertai nyeri terus menerus. Pemeriksaan intraoral gigi 45 terdapat kavitas pada distoklusal kedalaman pulpa, sondasi(+), perkusi (+), palpasi (-), tes vitalitas (+), EPT 37, OHI 1,8 (sedang). Pemeriksaan radiograf periapikal menunjukkan adanya gambaran radiolusen berbatas jelas pada area apikal. Perawatan saluran akar dilakukan pada gigi berhasil dilakukan diikuti restorasi akhir berupa onlay indirek berbahan resin komposit.</p> <p>Diskusi: Perawatan saluran akar yang dilakukan secara efektif memungkinkan gigi masih dapat dipertahankan. Perawatan dikatakan berhasil jika tidak ada keluhan dan gigi kembali berfungsi secara fisiologis dengan pengisian saluran akar yang hermetis meminimalkan celah bagi bakteri untuk berkembang biak. Restorasi akhir onlay resin komposit menjadi alternatif perawatan endodontik yang memberikan prognosis yang baik.</p> <p>Kesimpulan: Perawatan saluran akar yang adekuat diikuti restorasi akhir full coverage menghilangkan rasa sakit, mengembalikan fungsi, dan mempertahankan gigi lebih lama di rongga mulut.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5740 Pendekatan Koservatif pada Lesi Karies dengan ICDAS D5 pada Gigi Premolar Pertama Maksila 2025-07-11T16:30:51+07:00 Salsabila Luthfi Nur Insani [email protected] Juwita Raditya Ningsih [email protected] <p>Latar belakang: Indirect pulp capping merupakan perawatan yang bertujuan untuk mencegah terbukanya pulpa. Indirect pulp capping dapat dilakukan untuk lesi karies yang dalam tetapi belum mengenai pulpa.</p> <p>Tujuan: Laporan kasus ini melaporkan keberhasilan perawatan indirect pulp capping pada gigi premolar pertama rahang atas.</p> <p>Laporan kasus: Wanita usia 23 tahun datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Soelastri UMS mengeluhkan gigi atas kiri belakang berlubang disertai nyeri jika makan/minum dingin. Kondisi klinis menunjukkan terdapat kavitas pada oklusal dengan kedalaman dentin pada gigi premolar pertama rahang atas dan dilakukan perawatan berupa indirect pulp capping diakhiri dengan restorasi kelas 1 untuk mengembalikan fungsi gigi.</p> <p>Diskusi: Perawatan pulp capping indirect dilakukan untuk mempertahankan vitalitas pulpa dengan memfasilitasi terjadinya penyembuhan dan perbaikan jaringan pulpa dengan terbentuknya dentin reparatif. Penggunaan bahan kalsium hidroksida dalam perawatan indirect pulp capping merupakan gold standard karena memiliki pH yang tinggi, bersifat antibakteri, dan kemampuan untuk menstimulasi odontoblas dan sel-sel pulpa lainnya dalam berbagai cara untuk membentuk dentin reparatif dan perawatan yang diakhiri dengan restorasi kelas 1 sebagai akhiran yang berfungsi untuk mengembalikan struktur gigi dan mengembalikan fungsi gigi.</p> <p>Kesimpulan: Perawatan indirect pulp capping dengan bahan kalsium hidroksida diikuti dengan restorasi kelas 1 resin komposit menunjukkan keberhasilan pasca perawatan setelah dua minggu, dimana pasien tidak mengeluhkan rasa sakit dan merasa nyaman pada gigi yang telah dilakukan perawatan.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5741 Pengambilan Patahan File pada Gigi Molar Pertama Kanan Bawah menggunakan Instrumen Ultrasonik 2025-07-11T16:37:46+07:00 W Winasih [email protected] Citra Kusumasari [email protected] <p>Latar Belakang: Fraktur instrumen endodontik pada saluran akar secara signifikan dapat mempengaruhi prognosis perawatan. Tingkat frekuensi fraktur instrumen yang dilaporkan bervariasi dari 0,7%-13,54% kasus dan 73,4% terjadi pada gigi molar. Pendekatan umum untuk menangani fraktur instrumen endodontik adalah dengan mengeluarkannya. Penggunaan DOM (Dental Operating Microscope) dan teknologi ultrasonik secara signifikan dapat meningkatkan prognosis perawatan. Namun, pertimbangan lebih lanjut sesuai kasus tetap diperlukan.</p> <p>Tujuan: Untuk menggambarkan manajemen pengambilan instrumen pada saluran akar gigi molar menggunakan DOM dan teknologi ultrasonik.</p> <p>Laporan Kasus: Seorang pasien laki-laki berusia 20 tahun dirujuk dari Klinik Integrasi RSKGM FKG UI karena fraktur instrumen pada saluran akar gigi molar pertama bawah kanan belakang. Pemeriksaan radiograf menunjukkan adanya gambaran radiopak tipis sepanjang 2 mm pada sepertiga apikal saluran akar distolingual. Perawatan dimulai dengan pembuatan staging platform menggunakan ultrasonic tip ET-20 dan ET-25 (Satelec®, Prancis) untuk menciptakan celah di belakang instrumen dan melonggarkannya dari dinding dentin. Selanjutnya, dilakukan aktivasi irigasi dengan larutan 2,5% NaOCl, salin dan 17% EDTA. Setelah fraktur instrumen berhasil diangkat dan panjang kerja definitif sudah tercapai, prosedur selanjutnya yaitu preparasi saluran akar dan diakhiri dengan pembuatan restorasi onlay dengan teknik PIAR (Posterior Indirect Adhesive Restoration).</p> <p>Diskusi: Dalam kasus ini, fraktur instrumen endodontik berhasil dikeluarkan menggunakan DOM dan teknologi ultrasonik. Metode ini telah terbukti secara ilmiah efektif dapat mengangkat instrumen patah dalam saluran akar dengan resiko minimal terjadinya kerusakan pada jaringan sehat.</p> <p>Kesimpulan: Dental operating microscope dan teknologi ultrasonik memberikan solusi yang efektif dan efisien untuk menangani fraktur instrumen endodontik sesuai indikasi. Metode ini mampu meningkatkan prognosis perawatan dan meminimalkan risiko komplikasi. Follow-up jangka panjang sangat penting untuk mengevaluasi hasil perawatan.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5735 Restorasi Resin Komposit pada Gigi-gigi Anterior Maksila 2025-07-11T12:59:18+07:00 Muhammad Daffa Alam [email protected] Juwita Raditya Ningsih [email protected] <p>Latar belakang: Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi yang umum dan dapat mempengaruhi individu dari segala usia. Kavitas kelas III dan IV menurut klasifikasi GV Black sering terjadi pada gigi anterior dan dapat melibatkan dentin. Restorasi yang tepat sangat penting untuk memulihkan fungsi dan estetika gigi yang terkena.</p> <p>Tujuan: Laporan ini mendokumentasikan prosedur restorasi resin komposit pada kavitas kelas III dan IV, sekaligus mengevaluasi hasil klinis dan estetikanya. Kami menekankan pentingnya teknik yang tepat dan pemilihan bahan yang sesuai untuk mencapai hasil optimal.</p> <p>Laporan Kasus: Seorang pria berusia 22 tahun, datang dengan keluhan gigi berlubang pada gigi 12, gigi 22, dan gigi 21 yang telah ada selama lebih dari 5 tahun yang lalu tanpa rasa nyeri. Pemeriksaan klinis menunjukkan adanya karies kelas III pada gigi 12 dan 22 serta kelas IV pada gigi 21 yang melibatkan dentin pada permukaan labial gigi. Prosedur restorasi dilakukan menggunakan resin komposit, dan hasilnya menunjukkan integrasi yang baik antara material restorasi dan struktur gigi asli, dengan tidak adanya komplikasi pasca-prosedur.</p> <p>Diskusi: Kasus ini menunjukkan efektivitas restorasi resin komposit pada karies kelas III dan IV dalam mengembalikan morfologi gigi-gigi anterior maksila. Teknik restoratif yang tepat dan pemilihan bahan yang sesuai berkontribusi pada keberhasilan restorasi. Masing-masing prosedur disesuaikan dengan kebutuhan gigi, dimulai dari pembersihan karies, preparasi, isolasi, teknik adhesif, hingga aplikasi layering resin komposit. Evaluasi menunjukkan hasil yang memuaskan baik secara estetika maupun fungsional.</p> <p>Kesimpulan: Restorasi resin komposit telah menjadi pilihan utama dalam perawatan gigi yang mengalami karies, terutama untuk mengembalikan fungsi dan estetika pada gigi-gigi anterior maksila.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5742 Teknik Obturasi Hidrolik dalam Perawatan Ulang Non Bedah pada Gigi Insisivus Lateral Maksila: Laporan Kasus 2025-07-11T16:50:24+07:00 Belladina Maulani Yofarindra [email protected] Iffi Aprillia [email protected] <p>Latar belakang: Evaluasi hasil perawatan endodontik didasarkan pada pemeriksaan klinis dan radiografis. Periodontitis apikalis memiliki prevalensi sebesar 39% pada gigi yang telah dilakukan perawatan endodontik. Perawatan ulang endodontik nonbedah memiliki tingkat keberhasilan antara 78% hingga 87%. Teknik obturasi hidraulik dengan siler biokeramik berbasis kalsium silikat memberikan kemampuan sealing dan respons biologis yang lebih baik, sehingga meningkatkan hasil perawatan endodontik.</p> <p>Tujuan: Menjelaskan tentang teknik obturasi hidraulik pada perawatan ulang endodontik nonbedah insisivus lateral maksila.</p> <p>Laporan kasus: Seorang pasien laki-laki, 40 tahun, datang dengan keluhan perubahan warna pada gigi insisivus lateral kiri atas yang telah dilakukan perawatan endodontik tujuh tahun sebelumnya. Pemeriksaan radiografis menunjukkan adanya sealing tepi restorasi yang tidak adekuat, pengisian saluran akar tidak mencapai panjang kerja, serta radiolusensi tidak teratur pada sepertiga apikal disertai hilangnya kontinuitas lamina dura. Prosedur perawatan meliputi preparasi akses, serta pengangkatan material pengisi lama menggunakan tip ultrasonik, instrumen putar retreatment, dan solvent. Obturasi dilakukan dengan teknik hidraulik menggunakan satu kon gutta-percha dan siler CeraSeal. Evaluasi radiografis pasca perawatan menunjukkan sealing yang hermetis.</p> <p>Diskusi: Teknik obturasi hidraulik dengan satu kon gutta-percha dan siler biokeramik menghasilkan sealing yang hermetis, dengan tingkat keberhasilan antara 90% hingga 99%. Siler biokeramik bersifat bioaktif, hidrofilik, dan memiliki ukuran partikel kecil (0,3 μm–0,68 μm), sehingga mampu berpenetrasi ke dalam tubulus dentin dan membentuk ikatan kimia dengan dentin, serta meningkatkan kemampuan sealing dan mencegah kebocoran bakteri.</p> <p>Kesimpulan: Obturasi hidraulik dengan siler biokeramik merupakan teknik yang efektif, cepat, dan mudah untuk perawatan ulang endodontik nonbedah, serta menghasilkan sealing biologis dan meningkatkan hasil perawatan.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5736 Restorasi Komposit Kelas IV dan Mahkota Jaket Porselen Fusi Metal pasca Perawatan Saluran Akar 2025-07-11T13:09:08+07:00 Alifa Winna Zahra Himawan [email protected] Tamara Al Kautsar Sugiharto [email protected] Juwita Raditya Ningsih [email protected] <p>Latar belakang: Kasus karies gigi di Indonesia masih banyak ditemukan dengan tingkat keparahan yang cukup tinggi, namun sayangnya seringkali kurang mendapat perhatian dari masyarakat. Karies gigi merupakan penyakit yang menyebabkan kerusakan permanen pada struktur gigi yang dapat menghambat fungsi sehari-hari.</p> <p>Tujuan: untuk memaparkan dan mengevaluasi proses perawatan saluran akar, restorasi porselen fusi metal, dan restorasi komposit kelas IV pada gigi incisivus sentral atas yang mengalami karies.</p> <p>Laporan kasus: Laki-laki berusia 20 tahun mengeluhkan dua gigi depan atasnya berlubang dan datang ke RSGM Soelastri untuk mendapatkan perawatan. Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh dan diagnosis, pasien mengalami nekrosis pulpa pada gigi 11 dan karies dentin pada gigi 21. Pasien menjalani prosedur perawatan berupa restorasi komposit kelas IV pada gigi 21 dan perawatan saluran akar dengan pasak Fiber Reinforced Composite disertai mahkota jaket porselen fusi metal pada gigi 11.</p> <p>Diskusi: Karies yang terbatas pada email dan dentin umumnya dapat diatasi melalui tindakan restoratif, sementara kerusakan yang telah mencapai pulpa dan jaringan periapikal memerlukan penanganan berupa terapi endodontik berupa perawatan saluran akar. Perawatan saluran akar dilakukan untuk mempertahankan gigi dalam rongga mulut.</p> <p>Kesimpulan: Evaluasi klinis dan radiografis pada saat kontrol menunjukkan bahwa pasien telah mencapai hasil yang diinginkan, tanpa keluhan, dan merasa puas dengan perawatan yang diterima.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5737 Pendekatan Multidisiplin dalam Diagnosis dan Tatalaksana Lesi Endo-Perio: Laporan Kasus 2025-07-11T13:17:17+07:00 Uais Muhammad Sahl Jalaluddin Abdurrohman [email protected] Ratna Meidyawati [email protected] <p>Latar belakang: Lesi endo-perio merupakan kondisi kompleks yang melibatkan interaksi antara sistem endodontik dan periodonsium. Sekitar 50% kasus kehilangan gigi disebabkan oleh infeksi endodontik, periodontal, atau kombinasi keduanya. Diagnosis yang akurat dan penatalaksanaan yang tepat merupakan faktor kunci perawatan lesi endo-perio karena kesalahan mengidentifikasi sumber infeksi menentukan keberhasilan perawatan.</p> <p>Tujuan: Laporan ini bertujuan untuk mengevaluasi dan membahas pendekatan multidisiplin dalam diagnosis dan penatalaksanaan lesi endo-perio. Dengan menekankan pentingnya diagnosis yang akurat dan perencanaan terapi yang tepat, kedua faktor ini menjadi aspek krusial dalam memastikan keberhasilan penanganan kasus lesi endo-perio.</p> <p>Laporan kasus: Seorang pasien wanita berusia 27 tahun datang dengan keluhan sensitivitas pada gigi molar pertama mandibula. Pemeriksaan klinis dan radiografi menunjukkan adanya lesi endodontik primer dengan keterlibatan periodontal sekunder, termasuk keterlibatan bifurkasi. Penatalaksanaan dilakukan melalui kombinasi perawatan saluran akar, dilanjutkan dengan restorasi endocrown lithium disilicate, serta perawatan periodontal berupa free gingival graft.</p> <p>Diskusi: Evaluasi pasca-perawatan menunjukkan perbaikan yang signifikan, ditandai dengan tidak adanya keluhan dari pasien serta regenerasi tulang dan jaringan periapikal. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa diagnosis yang akurat dan pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan perawatan endodontik dan periodontal secara efektif dapat mengatasi lesi endo-perio dan meningkatkan keberhasilan perawatan.</p> <p>Kesimpulan: Penatalaksanaan lesi endo-perio memerlukan pemahaman mendalam tentang hubungan antara pulpa dan jaringan periodontal. Keberhasilan perawatan pada kasus ini dipengaruhi oleh penerapan protokol diagnostik yang komprehensif serta strategi terapi endodontik dan periodontal yang terintegrasi secara tepat. Hasil kasus ini menunjukan bahwa pendekatan multidisiplin efektif dalam menentukan keberhasilan perawatan.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5743 Restorasi Adhesif Indirect dengan Teknik Preparasi berbasis Morfologi pada Gigi Molar Pertama Maksila Post Endodontik 2025-07-11T17:39:40+07:00 Jessica Kurniawan [email protected] Ike Dwi Maharti [email protected] <p>Latar belakang: Restorasi pada gigi pascaendodontik dapat memengaruhi keberhasilan perawatan saluran akar. Restorasi indirek adhesif menjadi pilihan yang memungkinkan preparasi yang konservatif, dan meningkatkan adhesi dengan jaringan gigi.</p> <p>Tujuan: Laporan kasus ini menyajikan tatalaksana perawatan restorasi indirek adhesif pada molar satu rahang atas pasca endodontik.</p> <p>Laporan kasus: Pasien laki-laki 21 tahun dirujuk dari Departemen Ortodonsia, dengan keluhan gigi belakang kiri rahang atas tidak nyaman saat digunakan makan, gigi tersebut pernah ditambal dua tahun yang lalu. Pemeriksaan klinis menunjukkan karies sekunder di permukaan oklusal dan mesial, vitalitas negatif, perkusi positif, dan palpasi negatif. Pemeriksaan radiograf terdapat gambaran radiolusen di bawah radiopasitas pada mahkota mendekati pulpa. Diagnosis gigi 26 adalah nekrosis pulpa dengan periodontitis apikalis simptomatik. Gigi 26 dilakukan perawatan saluran akar dan pembuatan restorasi pascaendodontik berupa onlay bahan ceramic-reinforced composite dengan prinsip morphology-driven preparation technique (MDPT). Preparasi dilakukan dengan konservatif dan meningkatkan adhesi dengan memotong prisma email. Onlay disementasi secara adhesif dengan semen resin.</p> <p>Diskusi: Gigi pascaendodontik dengan kavitas yang luas membutuhkan restorasi cusp coverage untuk mengurangi kemungkinan fraktur. Pembuatan restorasi indirek dengan prinsip preparasi morphology-driven mengurangi preparasi yang ekstensif dan meningkatkan adhesi dengan mengekspos prisma email.</p> <p>Kesimpulan: Restorasi indirek adhesif dengan prinsip MDPT pada gigi molar satu rahang atas pascaendodontik berhasil dilakukan dengan adaptasi yang baik untuk mengembalikan anatomi, fungsi, dan estetika. Pada evaluasi satu minggu, tidak ada keluhan subjektif, pasien dapat mengunyah dengan baik, tes perkusi dan palpasi tidak peka.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5738 Tantangan dalam Manajemen Infeksi HSV-1 pada Pasien Geriatri: Laporan Kasus 2025-07-11T13:36:31+07:00 Haniah Alatas [email protected] Indriasti Indah Wardhany [email protected] Anandina Irmagita Soegyanto [email protected] <p>Latar Belakang: Rekurensi infeksi herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) pada populasi geriatri disebabkan oleh penurunan fungsi imun (imunosenesens), anemia, stres psikologis, paparan sinar ultraviolet, serta kondisi imunokompromis. Manifestasi klinis yang berat dan penyebaran lesi ke luar rongga mulut menuntut penanganan khusus.</p> <p>Tujuan: Laporan kasus ini bertujuan untuk membahas tantangan dalam manajemen HSV-1 rekuren pada pasien geriatri dengan berbagai faktor predisposisi, serta menekankan pentingnya pendekatan multidisipliner.</p> <p>Laporan Kasus: Seorang perempuan berusia 63 tahun datang ke RSKGM FKG UI dengan keluhan ulserasi multipel di rongga mulut, vesikel, dan krusta pada bibir serta cuping hidung, yang berulang hampir setiap dua bulan selama dua tahun terakhir. Pemeriksaan serologi menunjukkan IgG HSV-1 positif (rasio 5,07). Pasien memiliki riwayat anemia, gangguan kecemasan, hipertensi, dan gastroesophageal reflux disease (GERD). Terapi yang diberikan mencakup asiklovir oral 800 mg lima kali sehari, krim asiklovir 5%, kumur benzydamine HCl, dan kompres NaCl 0,9%, serta rujukan ke spesialis dermatologi. Evaluasi satu minggu kemudian menunjukkan perbaikan klinis.</p> <p>Diskusi: Rekurensi HSV-1 pada lansia dipengaruhi oleh imunosenesens, anemia, dan stres psikologis yang melemahkan sistem imun dan memicu reaktivasi virus. Terapi antivirus sistemik dan topikal efektif untuk fase akut, namun manajemen jangka panjang memerlukan penatalaksanaan komorbiditas dan dukungan psikososial.</p> <p>Kesimpulan: Manajemen HSV-1 rekuren pada pasien geriatri membutuhkan pendekatan multidisipliner yang mencakup terapi antivirus, kontrol komorbiditas, serta intervensi psikososial guna mencegah kekambuhan dan meningkatkan kualitas hidup.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5739 Faktor Kegagalan dalam Melakukan Restorasi pada Pasien Klas II: Laporan Kasus 2025-07-11T14:23:54+07:00 Rahma Auliannisa [email protected] Juwita Raditya Ningsih [email protected] Noor Hafida Widyastuti [email protected] <p>Latar belakang: Restorasi GV. Black klas II merupakan salah satu teknik restorasi yang sulit dilakukan karena terletak pada proksimal gigi yang dapat menghalangi jarak pandang operator dalam melakukan inspeksi. Aplikasi resin komposit pada kavitas restorasi klas II dapat mengalami kegagalan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu overfilling, karies yang belum bersih, pembentukan bevel pada proksimal gigi yang tidak disertai oleh dove tail pada oklusal, tidak menggunakan matrix sectional yang bertujuan untuk membentuk area proksimal dan memungkinkan kondensasi yang optimal, isolasi area kerja untuk meminimalisasikan terkena saliva dan kondensasi. Dalam restorasi GV. Black klas II harus memperhatikan teknik dan langkah-langkah, seperti preparasi kavitas, pembersihan karies, pembuatan bevel beserta dovetail, isolasi daerah kerja, pemasangan matrix sectional, teknik restorasi dan aplikasi bahan resin komposit.</p> <p>Tujuan: Melaporkan penanganan restorasi klas II yang mengalami kegagalan dan faktor-faktor yang perlu diperhatikan.</p> <p>Kasus: Seorang pasien laki-laki berusia 41 tahun datang ke RSGM dengan keluhan gigi kiri belakang rahang bawah terasa ngilu dan tambalan lepas belum ada satu minggu. Pemeriksaan intraoral terdapat kavitas kedalaman dentin. Perkusi (-), palpasi (-), sondasi (+) dan vitalitas (+), EPT 2.</p> <p>Diskusi: Perawatan karies dentin pada proksimal gigi dilakukan dengan restorasi klas II. Teknik restorasi klas II terdapat penyulit yaitu jarak pandang opator sehingga sulit untuk mencapai hasil yang ideal. Faktor kegagalan lainnya yang sering terjadi adalah isolasi area kerja, kondensasi, penggunaan matrix yang kurang tepat. Kondensasi kurang bagus dikarenakan interface antara gigi juga kurang bagus sehingga perlekatannya tidak sempurna.</p> <p>Kesimpulan: karies dentin yang terdapat pada proksimal dilakukan dapat dengan restorasi klas II dengan beberapa faktor kegagalan yang mungkin terjadi karena tambalan lepas yaitu isolasi area kerja, kondensasi,penggunaan matrix.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5744 Tatalaksana Fraktur Dentoalveolar pada Pasien Pediatri dengan ORIF: Laporan Kasus 2025-07-11T17:46:04+07:00 M. Yusuf Diansyah [email protected] Annisa Anindya [email protected] Roberto A. Hutapea [email protected] <p>Latar belakang: Fraktur dentoalveolar merupakan kerusakan pada tulang alveolar yang melibatkan struktur gigi akibat trauma. ORIF (Open Reduction Internal Fixation) merupakan salah satu pilihan tatalaksana fraktur dentoalveolar. Fraktur dentoalveolar pada pasien pediatri memerlukan pertimbangan khusus karena potensi komplikasi yang berhubungan dengan pertumbuhan alveolar, erupsi, posisi, dan oklusi gigi.</p> <p>Tujuan: Laporan kasus ini menjelaskan mengenai tatalaksana fraktur dentoalveolar pada pasien pediatri dengan metode ORIF dilanjutkan dengan fiksasi eyelet.</p> <p>Laporan kasus: Seorang anak laki- laki berusia 8 tahun datang ke Poli Bedah Mulut RSUP Dr. Johannes Leimena Ambon dengan riwayat nyeri dan bengkak akibat kecelakaan sepeda empat hari lalu. Pemeriksaan klinis ekstraoral ditemukan asimetri wajah, hiperemi, dan oedema. Pemeriksaan intraoral ditemukan trismus dan step deformitas alveolar regio distal 53 sampai distal tuberositas maksila dextra menyebabkan ketidakseimbangan oklusi. Pemeriksaan CT scan dilakukan untuk mengonfirmasi posisi fraktur. Pasien didiagnosis dengan fraktur dentoalveolar posterior maksila dextra, dengan tatalaksana refrakturing, ORIF, dan fiksasi intermaksila menggunakan eyelet pada regio anterior.</p> <p>Diskusi: Prinsip penanganan trauma dentoalveolar pada pasien pediatri perlu mempertimbangkan berbagai faktor dengan memberikan perhatian khusus terhadap pertumbuhan psikologis, fisiologis, dan anatominya. Kerjasama yang baik antara tim kegawatdaruratan dental dan bedah mulut harus diberikan kepada pasien sesegera mungkin.</p> <p>Kesimpulan: Perawatan fraktur dentoalveolar untuk pasien pediatri dalam periode gigi bercampur pada kasus ini menggunakan metode ORIF dipilih untuk mencegah komplikasi pertumbuhan tulang alveolar dan gigi. Tindak lanjut klinis dan radiografi jangka panjang pasca perawatan fraktur dentoalveolar pada pasien pediatri penting untuk dilakukan.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5745 Restorasi Indirek Inlay Komposit pada Gigi Molar Bawah Post Restorasi Amalgam 2025-07-11T18:03:28+07:00 Irvincha Aura Fasya Irawan [email protected] Juwita Raditya Ningsih [email protected] <p>Latar Belakang: Karies sekunder merupakan salah satu penyebab utama kegagalan restorasi, termasuk pada restorasi amalgam. Penatalaksanaan karies sekunder pada gigi posterior memerlukan pendekatan yang komprehensif dan material restorasi yang dapat memenuhi kebutuhan fungsional dan estetik. Restorasi amalgam memiliki kekurangan estetika, potensi toksisitas merkuri, dan kebutuhan preparasi kavitas yang lebih ekstensif untuk retensi mekanis sehingga lebih baik diganti menjadi restorasi inlay komposit karena estetika yang lebih baik karena warnanya yang menyerupai gigi, preparasi kavitas yang lebih konservatif, dan kekuatan serta daya tahan yang semakin mendekati amalgam.</p> <p>Tujuan: Laporan kasus ini bertujuan untuk menjelaskan tatalaksana kasus karies sekunder pada gigi molar bawah post restorasi amalgam menggunakan teknik restorasi indirek inlay komposit.</p> <p>Laporan kasus: Seorang Wanita berusia 46 tahun datang dengan keluhan gigi bawah belakang kirinya terdapat tambalan amalgam dan ingin diganti dengan tambalan sewarna gigi. Pemeriksaan intraoral menunjukkan adanya restorasi amalgam dan karies sekunder pada permukaan oklusal kedalaman dentin pada gigi 36. Jaringan periodontal sekitar gigi dalam kondisi normal. Diagnosisnya yaitu karies dentin pada gigi 36. Pasien menginginkan restorasi estetik sehingga restorasi inlay indirek komposit menjadi pilihan.</p> <p>Diskusi: Restorasi indirek inlay komposit ini menjadi pilihan dalam mengganti restorasi amalgam karena memiliki sifat resistensi dan kekuatan yang lebih baik, ketahanan aus yang lebih baik, serta mengurangi risiko kebocoran mikro dan tegangan pada struktur gigi.</p> <p>Kesimpulan: Perawatan restorasi indirek inlay komposit post restorasi amalgam pada laporan kasus ini mampu mengembalikan fungsi sistem stomatognatik dengan baik.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5746 Retreatment Perawatan Saluran Akar Gigi Molar Kedua Mandibula dengan Konfigurasi C-Shape Canal Tipe IV 2025-07-11T18:09:00+07:00 Stefani Nadia Loretta Parapat [email protected] Ike Dwi Maharti [email protected] <p>Latar Belakang: Kegagalan perawatan saluran akar dapat disebabkan ketidakmampuan dalam mengidentifikasi variasi anatomi kompleks seperti konfigurasi C-Shape.</p> <p>Tujuan: Laporan kasus ini bertujuan menyajikan perawatan ulang saluran akar pada gigi molar mandibula dua dengan konfigurasi CShape tipe IV.</p> <p>Laporan Kasus: Pasien perempuan usia 29 tahun datang ke RSKGM FKG UI dengan keluhan gigi kiri rahang bawah terasa sakit saat mengunyah dan pernah dilakukan perawatan saluran akar sekitar 1 tahun yang lalu. Pemeriksaan klinis tampak restorasi dikelilingi garis kehitaman di oklusal gigi. Pemeriksaan radiografis menunjukkan gambaran radiopak di mahkota hingga 2/3 saluran akar dan tampak lesi apikal diameter &lt;5mm. Tatalaksana perawatan ulang saluran akar non-bedah diawali dengan pembuangan gutaperca menggunakan kombinasi teknik hand-use file instrument dan ultrasonik tip dengan bantuan magnifikasi mikroskop dental. Dua saluran akar yaitu mesial dan distal dikonfirmasi dengan CBCT. Hasil CBCT menunjukkan hanya terdapat dua saluran akar sehingga konfigurasi C-Shape kasus ini dikategorikan sebagai tipe III. Teknik obturasi yang digunakan adalah warm vertical compaction.</p> <p>Diskusi: Morfologi saluran akar yang iregular atau saluran akar tambahan yang tidak teridentifikasi akan mempengaruhi keberhasilan perawatan. Penggunaan magnifikasi dan CBCT membantu dalam mengidentifikasi secara akurat. Penggunaan irigasi dengan ultrasonik meningkatkan efektivitas bahan irigasi selama pembersihan dan obturasi dengan teknik warm vertical compaction memastikan saluran akar ireguler terisi secara hermetis dalam tiga dimensi.</p> <p>Kesimpulan: Perawatan ulang saluran akar gigi molar dua mandibula dengan konfigurasi C-Shape tipe III menggunakan berbagai teknologi terkini berhasil dilakukan yang ditunjukkan dengan keluhan subjektif, tes perkusi dan palpasi tidak peka pada evaluasi 3 bulan.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5747 Preservasi Benih Gigi Permanen pada Fraktur Simfisis Mandibula pada Anak Umur 2,5 Tahun 2025-07-11T18:12:51+07:00 Lina Mariana [email protected] Bramasto Purbo Sejati [email protected] Poerwati Soetji Rahajoe [email protected] <p>Latar belakang: Penanganan fraktur mandibula pada pasien pediatrik berbeda dari pasien dewasa karena adanya kekhawatiran terkait gangguan pada pertumbuhan mandibula dan perkembangan benih gigi permanen. Tatalaksana fraktur mandibula pediatrik diharapkan dapat mereduksi fragmen fraktur sesuai anatomi semula, immobilisasi fragmen fraktur, dan mengembalikan fungsi dengan meminimalkan morbiditas pada perkembangan tulang dan benih gigi permanen.</p> <p>Tujuan: Laporan ini menyajikan penggunaan thermoformed splint yang dibuat pada saat intraoperatif dan difiksasi dengan circummandibular wiring tanpa fiksasi maksilomandibular sebagai perawatan konservatif dan minimal invasif pada pasien pediatrik.</p> <p>Laporan kasus: Seorang anak laki-laki berusia 2,5 tahun mengeluhkan perdarahan pada rahang bawah dan dagu kanan setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Tampak deformitas wajah, laserasi di regio mentum kanan dan di regio mesial gigi 71-81, avulsi gigi 81, maloklusi, terdapat diskontinuitas mandibula dengan segmen mandibula kanan bergeser ke lingual dan superior, dan tampak hematom sublingual. CT scan kepala praoperatif mengkonfirmasi adanya fraktur di regio simfisis mandibula dengan perpindahan segmen fraktur yang signifikan. Perawatan dilakukan dengan menggunakan thermoformed splint yang dibuat pada saat intraoperatif dan difiksasi dengan circummandibular wiring tanpa fiksasi maksilomandibular dengan anestesi umum. Oklusi pasien membaik setelah operasi.</p> <p>Diskusi: Thermoformed splint memberikan immobilisasi yang memadai untuk fragmen fraktur. Ketebalan splint yang merata membantu menjaga oklusi dalam hubungan yang normal dan memungkinkan pembukaan mulut yang aktif yang penting untuk menghindari ankilosis pada sendi temporomandibular.</p> <p>Kesimpulan: Perawatan fraktur mandibula pediatrik dengan thermoformed splint yang difiksasi dengan circummandibular wiring memberikan hasil yang baik, efektif, minimal invasif untuk mencegah cedera iatrogenik pada struktur anatomi di sekitar garis fraktur.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5748 Endodontik Intensional Gigi Premolar Maksila dengan Konfigurasi Vertucci Tipe II untuk Rehabilitasi Overdenture 2025-07-11T18:17:47+07:00 Kamilia Puspita Ayu [email protected] Dewa Ayu Nyoman Putri Artiningsih [email protected] <p>Latar belakang: Keberhasilan perawatan saluran akar bergantung pada kemampuan klinisi dalam mengidentifikasi konfigurasi saluran akar dengan tepat untuk mencapai perawatan saluran akar yang adekuat. Vertucci (1985) dan Versiani (2019) mengemukakan bahwa delapan konfigurasi Vertucci ditemukan gigi premolar maksila. Pada gigi premolar pertama maksila, vertucci tipe IV paling umum (50,1%), diikuti oleh tipe I (20,1%) dan tipe II (17,4%). Pada gigi premolar kedua maksila, vertucci tipe I paling umum (42.7%), diikuti tipe II (18.7%) dan tipe IV 17.6%. Kesulitan perawatan saluran akar pada konfigurasi Vertucci tipe II adalah memastikan kedua saluran akar dan area konfluensi dapat dibersihkan secara maksimal dan diobturasi secara hermetis.</p> <p>Tujuan: Memaparkan tatalaksana perawatan saluran akar gigi premolar maksila dengan kongifurasi Vertucci tipe II.</p> <p>Laporan kasus: Pasien laki-laki, 44 tahun, rujukan dari departemen prostodonsia dengan rencana perawatan pembuatan gigi tiruan akrilik over denture Pada pemeriksaan klinis ditemukan gigi 24 dan 25 vitalitas (+), perkusi (-), palpasi (-). Jaringan apikal normal berdasarkan radiograf. Diagnosis gigi 24 dan 25 pulpa normal ; jaringan apikal normal (AAE). Identifikasi konfigurasi Vertucci tipe II dilakukan dengan teknik gutta percha indentation dan dikonfirmasi melalui foto radiograf dengan teknik SLOB.</p> <p>Diskusi: Identifikasi konfigurasi saluran akar dilakukan dengan teknik gutta percha indentation setelah preparasi menggunakan sistem ProTaper Gold dengan teknik crown down. Obturasi dengan teknik warm vertical compaction menggunakan gutaperca dan siler AH Plus sehingga diperoleh obturasi yang hermetis.</p> <p>Kesimpulan: Keberhasilan perawatan saluran akar endodontik intensional pada gigi premolar maksila dengan konfigurasi Vertucci tipe II dievaluasi hingga 6 bulan pasca perawatan, Tidak ada keluhan subjektif, tes perkusi dan palpasi negatif.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5749 Tatalaksana Pulp Stone pada Molar Mandibula dengan Teknologi Ultrasonik 2025-07-11T18:21:53+07:00 Chininta Pratamasari [email protected] Iffi Aprilia Soedjono [email protected] <p>Latar belakang: Pulp stone adalah massa mineralisasi yang terbentuk di dalam ruang pulpa dan dapat menghambat akses pada perawatan saluran akar. Pulp stone disebabkan oleh stimulus berintensitas rendah yang berlangsung dalam waktu lama. Tindakan pada pulp stone diperlukan jika gigi tersebut menimbulkan keluhan. Pemeriksaan radiologi sangat berperan dalam menentukan rencana perawatan.</p> <p>Tujuan: Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk mendeskripsikan teknologi ultrasonik dalam manajemen pulp stone pada gigi dengan nekrosis pulpa disertai periodontitis apikalis kronis, serta mengevaluasi efektivitas proses penyembuhan pasca perawatan saluran akar.</p> <p>Laporan kasus: Seorang pasien wanita berusia 60 tahun mengeluhkan nyeri saat mengunyah pada molar pertama mandibula kanan. Pemeriksaan klinis dan radiografis menunjukkan adanya pulp stone yang menghalangi ruang pulpa, serta lesi periapikal yang mengindikasikan periodontitis apikal simtomatik akibat nekrosis pulpa. Penggunaan scaler ultrasonik dan tip diamond coated ET18D menjadi pilihan perawatan. Setelah pulp stone berhasil diangkat, perawatan saluran akar dilakukan hingga selesai, diikuti dengan restorasi onlay zirconia.</p> <p>Diskusi: Pengangkatan pulp stone menggunakan teknologi ultrasonik dilakukan secara efektif dan minimal invasif, memungkinkan akses optimal tanpa kehilangan struktur gigi yang berlebihan. Teknologi ultrasonik telah menjadi metode yang efektif dan minimal invasif untuk pengangkatan pulp stone, memberikan visibilitas dan kontrol yang lebih baik bagi operator.</p> <p>Kesimpulan: Penggunaan ultrasonik dalam manajemen pulp stone memberikan keuntungan dalam perawatan endodontik. Perawatan saluran akar yang hermetis serta restorasi akhir dengan onlay zirconia memberikan prognosis yang baik.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5750 Tantangan dalam Perawatan Endodontik pada Mesotaurodontism Gigi Premolar Kedua Maksila: Laporan Kasus 2025-07-11T18:25:22+07:00 Julia Dharmawan [email protected] Anggraini Margono [email protected] <p>Latar Belakang: Mesotaurodonsia pada gigi premolar ditandai dengan ruang pulpa yang memanjang secara vertikal serta perubahan konfigurasi saluran akar, sehingga menimbulkan tantangan tersendiri dalam melakukan perawatan endodontik, terutama dalam navigasi instrumen endodontik, irigasi serta adaptasi material obturasi. Penggunaan sistem magnifikasi, instrumentasi dan obturasi yang tepat penting untuk keberhasilan perawatan.</p> <p>Tujuan: Mendeskripsikan secara komprehensif penatalaksaan endodontik pada gigi premolar kedua maksila dengan mesotaurodonsia.</p> <p>Laporan Kasus: Pria berusia 25 tahun datang untuk melanjutkan perawatan saluran akar ulang pada gigi premolar kedua kiri atas dengan keluhan nyeri saat menggigit. Pemeriksaan klinis menunjukkan tambalan sementara pada oklusal. Uji vitalitas negatif, perkusi positif, dan palpasi negatif. Radiograf menunjukkan ruang pulpa yang memanjang secara vertikal dengan perbandingan korona-pulpa lebih besar dari normal, dua saluran akar dengan titik konvergensi lebih apikal dari normal Taurodontic Index (TI) = 39.57 (mesotautodonsia) dan adanya gambaran radiopasitas pada dinding saluran akar.</p> <p>Diskusi: Diagnosis berdasarkan AAE (2013) adalah previously treated; symptomatic apical periodontitis. Rencana perawatan berupa perawatan saluran akar ulang non-bedah, pemasangan pasak anatomis, dan restorasi adhesif indirek teknik preparasi berbasis morfologi. Preparasi saluran akar menggunakan ProTaper Gold files dengan aktivasi irigasi ultrasonik. Obturasi dilakukan dengan teknik single-cone menggunakan bioceramic sealer dibawah magnifikasi dental operating microscope. Pasak anatomis kemudian dibentuk, diikuti pembentukan core dan restorasi indirek adesif lithium disilicate.</p> <p>Kesimpulan: Mesotaurodonsia menimbulkan tantangan besar terutrama dalam negosiasi saluran akar dilanjutkan instrumentasi, dan obturasi selama perawatan endodontik. Keberhasilan perawatan bergantung pada penggunaan magnifikasi, teknik instrumentasi, obturasi dan restorasi pasca-endodontik yang optimal untuk memastikan penutupan hermetis saluran akar dan mencegah komplikasi jangka panjang.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5751 Pulpa Kaping Indirek diikuti Restorasi Direk Resin Komposit Bioaktif pada Gigi Premolar Maksila dengan Karies Sekunder 2025-07-11T18:29:26+07:00 Juwita Raditya Ningsih [email protected] Aprilieza Harinda [email protected] Dilla Septin Aulia [email protected] <p>Pendahuluan: Karies gigi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, dengan prevalensi yang meningkat di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu bentuk karies yang sering ditemukan adalah karies sekunder, yang terjadi akibat kebocoran pada restorasi sebelumnya dan ketidakpastian dalam pembersihan jaringan karies. Karies gigi dapat menyebabkan pulpitis, yang dapat dikategorikan menjadi pulpitis reversibel, di mana rasa nyeri hilang setelah stimulus dihilangkan. Perawatan yang digunakan untuk mempertahankan vitalitas pulpa termasuk perawatan pulpa kaping, yang terbagi menjadi indirect pulp capping dan direct pulp capping. Dalam kasus ini, dilakukan pengaplikasian bahan resin komposit bioaktif diikuti dengan indirect pulp capping menggunakan caoh pada gigi premolar maksila yang mengalami karies sekunder.</p> <p>Laporan kasus: Seorang pasien perempuan 29 tahun datang ke klinik Konservasi Gigi RSGM untuk merawat gigi kiri atas yang sering terasa ngilu. Pasien mengaku gigi terasa ngilu saat minum dingin. Ngilu hanya sesaat ketika terkena minuman dingin dan segera hilang setelahnya. Gigi tersebut pernah ditambal dengan tambalan berwarna logam sekitar 5 tahun yang lalu.</p> <p>Diskusi: Resin komposit bioaktif dipilih karena memiliki kemampuan untuk melepaskan ion kalsium, fosfat, dan fluoride yang dapat memperbaiki struktur gigi, mengurangi kebocoran mikro, serta berfungsi sebagai antimikroba dan untuk mengakomodasi kelembaban agar tidak terjadi karies sekunder berulang. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk melaporkan keberhasilan penggunaan bahan resin komposit bioaktif pada kasus karies sekunder.</p> <p>Kesimpulan: Hasil perawatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengelolaan karies sekunder serta mempertahankan kesehatan pulpa gigi secara optimal.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5752 Kelainan Pertumbuhan dan Perkembangan Gigi pada Anak di RSGM Soelastri: Rangkaian Kasus 2025-07-11T18:33:58+07:00 Khilmi Maulana Syifa [email protected] Nendika Dyah Ayu Murika Sari [email protected] <p>Latar Belakang: Pertumbuhan dan perkembangan gigi adalah proses biologis yang rumit, dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Gigi mulai terbentuk sejak tahap embrio dan melewati beberapa fase penting, termasuk inisiasi, proliferasi, histodiferensiasi, morfodiferensiasi, serta kalsifikasi. Jika terjadi gangguan dalam salah satu tahapan ini, dapat muncul kelainan tumbuh kembang gigi yang berdampak pada fungsi oral, estetika, serta kesehatan anak secara keseluruhan.</p> <p>Tujuan: Untuk melaporkan kelainan pertumbuhan dan perkembangan gigi pada anak di RSGM Soelastri.</p> <p>Laporan kasus: Kasus 1: anak 8 tahun datang dengan keluhan gigi kesundulan. Hasil pemeriksaan intraoral, gigi 81 dan 82 persistensi dengan kondisi geminasi. Hasil rontgen panoramik gigi 81 dan 82 menyatu bagian akar dan mahkota. Penatalaksanaan dilakukan ekstraksi. Kasus 2: anak 7 tahun datang dengan keluhan gigi permanen belum tumbuh. Hasil pemeriksaan intraoral, gigi 72 dan 82 missing. Hasil rontgen panoramik tidak ada benih gigi 31 dan 41. Kasus 3: anak 9 tahun datang dengan keluhan gigi berlubang. Hasil pemeriksaan intraoral terdapat karies pada gigi 55, 54, 52, 62, 64, 74, 84, dan 85. Hasil rontgen panoramik tidak ada benih gigi 15 dan 25. Penatalaksanaan pada kasus 2 dan kasus 3 dengan penggunaan space maintainer sebelum dilakukan perawatan ortodontik. Kasus 4: anak 10 tahun datang dengan keluhan giginya berwarna kecoklatan. Hasil pemeriksaan intraoral, gigi 14,24,34,44 mengalami hipoplasia enamel. Penatalaksanaan kasus ini dapat dilakukan penggunaan fluoride.</p> <p>Diskusi: Dari keempat kasus di atas bahwa kelainan tumbuh kembang gigi pada anak, seperti geminasi, hipodonsia, dan hipoplasia enamel, memerlukan deteksi dini dan penatalaksanaan yang tepat agar dapat mencegah dampak negatif terhadap fungsi pengunyahan, estetika, dan kesehatan mulut secara keseluruhan.</p> <p>Kesimpulan: Geminasi pada gigi decidui dapat dilakukan perawatan ekstraksi gigi. Pada kasus hipodonsia dapat dilakukan perawatan penggunaan space maintainer untuk tetap menjaga ruang. Perawatan pada hipoplasia enamel dapat menggunakan fluoride untuk memperkuat enamel.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5753 Case Report: Ulkus Decubitus Et Causa Apikal Fenestrasi pada Anak 2025-07-11T18:38:39+07:00 Indah Nur Safa [email protected] Nendika Dyah Ayu Murika Sari [email protected] <p>Latar belakang: Fenetrasi apikal pada anak timbul karena adanya infeksi yang telah mencapai bagian apeks menembus ke jaringan periapikal. Infeksi timbul karena adanya resorpsi patologis yakni kondisi gigi decidui yang mengalami kerusakan pada bagian dentin hingga akar gigi. Bakteri rongga mulut dapat menyebar ke jaringan sekitar gigi yang menyebabkan infeksi sehingga terjadi fenetrasi apikal dan menyebabkan ulkus dekubitus.</p> <p>Tujuan: Untuk mengetahui tata laksana ulkus decubitus et causa apikal fenestrasi pada anak.</p> <p>Laporan kasus: Anak perempuan berusia 6 tahun didampingi wali datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Soelastri Kota Surakarta mengeluhkan gigi terasa goyah sejak beberapa minggu yang lalu, Pasien tidak memiliki riwayat penyakit sistemik dan tidak memiliki alergi obat ataupun makanan, Pasien belum pernah ke dokter gigi, Pasien rutin menyikat gigi 2 kali sehari dan menyukai konsumsi makanan manis. Hasil pemeriksaan objektif didapatkan adanya mobilitas gigi pada radices gigi 75 derajat 1 dan terdapat ulcer berdiameter 2-3mm pada mukosa bukal sinistra.</p> <p>Diskusi: Dilakukan pencabutan dengan teknik anestesi infiltrasi pada gigi 35 dan diberikan medikasi berupa Paracetamol. Fenetrasi apikal disebabkan adanya plak bakteri yang menumpuk menyebabkan infeksi melalui asam yang merusak enamel gigi dan menyebabkan pembusukan. Bakteri menyebar ke jaringan di sekitar gigi hingga akar yang memicu terjadinya infeksi pada apeks. Infeksi yang timbul menyebar dan memberikan tekanan pada gingiva sehingga terjadi ulkus decubitus setelah dilakukan ekstraksi maka tekanan yang timbul dari fenetrasi apikal akan memulihkan ulkus decubitus dan mempercepat proses penyembuhan mukosa yang meradang kemudian tubuh mulai melakukan proses penyembuhan alami pada jaringan mukosa mulut yang terkena.</p> <p>Kesimpulan: penatalaksanaan ulkus dekubitus et causa fenetrasi apikal pada gigi decidui posterior dengan dilakukan ekstraksi infiltrasi sehingga bakteri di rongga mulut tidak menyebar, tekanan dari fenetrasi apikal dapat diatasi dan menyembuhkan ulkus dekubitus dan ulser akan sembuh dalam waktu 10-14 hari. Keberhasilan perawatan tergantung pada perilaku anak saat dilakukan tindakan pencabutan dan kebiasaan menyikat gigi dua kali sehari dapat menjadi faktor keberhasilan perawatan.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5754 Tantangan Diagnosis pada Pseudoepitheliomatous Hyperplasia Oral (Kasus Langka): Laporan Kasus 2025-07-11T18:41:59+07:00 Demilyadioppy Abevit [email protected] Febrina Rahmayanti [email protected] Indriasti Indah Wardhany [email protected] <p>Latar Belakang: Pseudoepitheliomatous Hyperplasia (PEH) adalah proliferasi reaktif sel epitel yang dipicu oleh infeksi, neoplasia, peradangan, atau trauma, di dalam rongga mulut memiliki kemiripan dengan karsinoma sel skuamosa oral (OSCC) sehingga menyulitkan dalam mendiagnosis.</p> <p>Tujuan: Mendeskripsikan tantangan diagnostik, identifikasi berbagai faktor lokal dan sistemik, serta pendekatan komprehensif dalam bidang penyakit mulut pada kasus Pseudoepitheliomatous Hyperplasia (PEH) oral.</p> <p>Laporan Kasus: Pasien rawat inap perempuan usia 60 tahun dikonsul dari penyakit dalam untuk evaluasi dan tatalaksana tumor lidah curiga karsinoma yang timbul sejak 6 bulan yang lalu. Diagnosis sistemik yaitu general weakness, diabetes melitus dan sepsis. Biopsi lidah sudah dilakukan di RS sebelumnya dengan hasil Pseudoepitheliomatous Hyperplasia (PEH). Tampak lesi berupa multipel nodul warna merah muda, konsistensi kenyal, disertai ulserasi multipel pada lidah, mukosa bukal, dan bibir disertai oral hygiene yang buruk. Nodul multiple warna coklat kehitaman pada tangan dan kaki. Tatalaksana oral dengan aplikasi chlorhexidine gluconate 0,2% dan visit rutin berkala setiap 2 hari. Saat pasien diperbolehkan rawat jalan, keluhan mulut dan oral hygiene membaik disertai ulserasi mukosa bukal yang sudah sembuh. Dua bulan kemudian, pasien kembali dikonsulkan dari instalasi rawat inap oleh dokter penyakit dalam. Pemeriksaan intra oral tampak ulserasi dan nodul pada lidah sebagian mengecil, nodul baru berwarna pink pucat pada mukosa bukal dan multiple pada bibir, disertai ulserasi dengan krusta kekuningan. Terapi masih dengan aplikasi chlorhexidine gluconate 0,2% dan visit rutin berkala.</p> <p>Diskusi: PEH oral memiliki tantangan diagnostik karena kemiripannya dengan OSCC dan lesi lainnya. Meskipun telah dikonfirmasi secara histopatologis, etiologinya masih belum jelas. Diagnosis banding mencakup iritasi kronis, peradangan sistemik, dan penyakit autoimun. Pendekatan multidisiplin sangat penting untuk diagnosis yang akurat dan penatalaksanaan yang optimal.</p> <p>Kesimpulan: Tantangan utama diagnostik pada kasus PEH disebabkan karena perubahan pada sebagian besar tampilan klinis yang diduga terkait dengan kondisi sistemik. Prevalensi terjadinya PEH oral sangat jarang, berkontribusi pada sulitnya penanganan yang komprehensif pada kasus seperti ini.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5755 Kerugian Negara Indonesia akibat Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut: Tinjauan Pustaka 2025-07-11T18:46:22+07:00 Michail Farhan Sutami [email protected] Sigma Algebra [email protected] Nashita Nawal Dzikra [email protected] <p>Pendahuluan: Masalah kesehatan gigi dan mulut, seperti karies dan penyakit periodontal menjadi tantangan besar di Indonesia dengan prevalensi yang tinggi. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi negara, termasuk kerugian langsung (perawatan medis) dan tidak langsung (kehilangan produktivitas).</p> <p>Sumber data: Data diperoleh dari database elektronik seperti PubMed, Google Scholar, ScienceDirect, ResearchGate, dan Semantic Scholar dengan rentang waktu publikasi 5 tahun terakhir.</p> <p>Kriteria kelayakan studi: Studi yang disertakan yang membahas prevalensi masalah gigi dan mulut. Artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi seperti studi berbasis populasi di Indonesia, tersedia dalam teks lengkap, dan menggunakan metode penelitian yang valid. Partisipan dan intervensi: Studi ini berfokus pada populasi umum di Indonesia, meliputi kelompok usia anak–anak hingga dewasa. Intervensi yang diteliti mencakup program promosi kesehatan gigi, perawatan klinis, serta kebijakan pemerintah terkait kesehatan gigi dan mulut.</p> <p>Metode penelitian: Literature review sistematis dilakukan dengan menggunakan pendekatan PRISMA untuk mengidentifikasi, menyortir, dan menganalisis artikel yang relevan. Sintesis dilakukan secara kualitatif untuk merangkum temuan utama. Sintesis studi: Studi menunjukkan bahwa kerugian negara akibat masalah kesehatan gigi dan mulut mencakup biaya langsung dan tidak langsung. Intervensi yang melibatkan penyuluhan seperti edukasi kesehatan berbasis sekolah dan promosi kebersihan gigi sangat efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, namun kegiatan tersebut masih belum merata pelaksanaanya.</p> <p>Hasil studi: Masalah kesehatan gigi dan mulut berkontribusi pada kerugian ekonomi negara hingga triliunan rupiah setiap tahun. Faktor–faktor seperti akses terbatas ke layanan kesehatan gigi, rendahnya kesadaran masyarakat, dan distribusi tenaga medis yang tidak merata dapat meningkatkan beban ekonomi negara.</p> <p>Keterbatasan: Keterbatasan studi meliputi kurangnya data longitudinal tentang dampak ekonomi jangka panjang serta variasi metodologi antar penelitian yang dapat mempengaruhi generalisasi hasil.</p> <p>Kesimpulan: Masalah kesehatan gigi dan mulut memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi negara Indonesia.</p> <p>Implikasi temuan utama: Diperlukan kebijakan komprehensif yang mencakup promosi kesehatan gigi secara nasional, peningkatan akses layanan kesehatan gigi, serta penguatan edukasi masyarakat untuk mengurangi kerugian ekonomi di masa depan.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5756 Potensi PDLSC (Periodontal Stem-cell) sebagai Terapi Periodontal Regeneratif pada Pasien Diabetes Melitus: Literature Review 2025-07-11T18:51:34+07:00 Dhea Arfiani Putri [email protected] Aprilia Yuanita Anwaristi [email protected] <p>Pendahuluan: Periodontitis merupakan salah satu penyakit inflamasi kronis yang paling sering terjadi dan dapat menyebabkan kerusakan perlekatan gigi (periodonsium), sehingga dapat mengakibatkan hilangnya gigi. Diabetes melitus adalah masalah kesehatan utama dan penyebab kematian terbanyak di dunia, sebanyak 4 juta kematian akibat penyakit diabetes melitus. Sel Punca adalah sel tubuh manusia dengan kemampuan istimewa memperbaharui atau meregenerasi dirinya sendiri (selfregenerate/selfrenewal) dan mampu berdiferensiasi menjadi sel lain (differentiate).</p> <p>Sumber data: Pencarian pustaka ini berbasis data elektronik seperti Google Scholar, PubMed, dan Science Direct dengan menggunakan beberapa kata kunci.</p> <p>Kriteria kelayakan studi: Penelitian ini dapat diterima karena bisa menjadi salah satu referensi adanya potensi stem cell terhadap perawatan periodontitis pada pasien diabetes melitus di masa mendatang.</p> <p>Partisipan dan intervensi: Penelitian stem cell pada pasien periodontitis dengan diabetes melitus.</p> <p>Metode penelitian: Penelitian dilakukan dengan cara pencarian sumber data dengan menggunakan beberapa kata kunci.</p> <p>Sintesis studi: Ditemukannya ke efektifan stem cell dalam pembentukan kembali jaringan periodontitis.</p> <p>Hasil studi: PDLSC (Periodontal Stem Cell) memiliki potensi untuk menyembuhkan periodontitis pada pasien diabetes melitus.</p> <p>Keterbatasan: Keterbatasan penelitian ini yaitu belum didapatkannya data yang menggunakan objek manusia dalam jangka panjang, objek yang diteliti masih pada batas sel dan tikus, belum ada penelitian lebih lanjut terhadap objek manusia.</p> <p>Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa stem cell memiliki potensi untuk memperbaiki jaringan periodontal pada pasien diabetes melitus. Stem cell yang berasal dari PDLSC masih lebih unggul untuk penyembuhan jaringan periodontal pada pasien diabetes melitus karena dalam lingkungan glukosa tinggi PDLSC dapat memperlambat penuaan sel dan memulihkan viabilitas sel.</p> <p>Implikasi temuan utama: Temuan penelitian ini dapat digunakan untuk memperkuat teori yang sudah ada dan dapat mengembangkan pengobatan terhadap pasien periodontitis yang mengidap penyakit diabetes melitus.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5757 Dari Tradisi ke Inovasi: Tinjauan Literatur terhadap Peran Areca catechu L. dalam Perawatan Oral pada Tradisi Nginang Masyarakat Indonesia 2025-07-11T18:55:59+07:00 Ridha Naura Triviana [email protected] Octavia Ferdina Faradilla Ramadhani [email protected] Taqifah Rusydiah Rauhah [email protected] <p>Latar belakang: Nginang merupakan kebiasaan tradisional yang dipercaya memiliki manfaat bagi kesehatan gigi dan mulut karena kandungan antiseptik pada bahannya yang dapat menghambat bakteri penyebab masalah pada gigi.</p> <p>Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peran nginang terhadap kesehatan gigi dan mulut berdasarkan kandungan senyawa aktif dalam bahan-bahannya.</p> <p>Sumber data: Penelitian studi literatur review menggunakan data dari berbagai studi sebelumnya.</p> <p>Kriteria kelayakan studi: Kajian ini merujuk pada sumber ilmiah terpercaya mengenai manfaat dan risiko nginang terhadap kesehatan gigi dan mulut.</p> <p>Partisipan dan intervensi: Menurut Riskesdas 2013, Berfokus pada kondisi masyarakat tradisional di Indonesia, seperti di NTT (17,7%), diikuti Papua Barat dengan jumlah (11,4%), dan untuk provinsi Maluku Utara dengan jumlah (7.1%) yang memiliki kebiasaan nginang.</p> <p>Metode penelitian: Metode penelitian ini berasal dari tinjauan literatur jurnal dan penelitian terkait manfaat nginang bagi kesehatan gigi.</p> <p>Sintesis studi: Bahan nginang seperti daun sirih, pinang, dan kapur sirih memiliki senyawa antibakteri yang dapat menghambat Streptococcus mutans dan mendukung remineralisasi enamel.</p> <p>Hasil studi: Nginang berpotensi menghambat bakteri penyebab karies dan mencegah plak, melalui kandungan bahan-bahannya.</p> <p>Keterbatasan: Namun, kelemahan dari studi ini adalah kurangnya data klinis serta potensi risiko penggunaan kapur sirih dan tembakau dalam efek jangka panjang terhadap kesehatan mulut dan tubuh.</p> <p>Kesimpulan: Bahan alami seperti buah pinang, daun sirih, dan kapur sirih berkontribusi dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut seperti menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans serta membantu menjaga kesehatan gigi.</p> <p>Implikasi temuan utama: Temuan ini dapat digunakan untuk mengembangkan alternatif perawatan gigi berbasis bahan alami, terutama di daerah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan gigi.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5758 Pemanfaatan Augmented Reality dalam Bidang Konservasi Gigi 2025-07-11T19:16:00+07:00 Noor Hafida Widyastuti [email protected] Adella Aurellia Rakyan Aristi [email protected] <p>Pendahuluan: Augmented Reality (AR) merupakan teknologi yang mengintegrasikan elemen digital ke dalam dunia nyata, mulai diterapkan dalam bidang kedokteran gigi untuk memberikan pengalaman interaktif yang dapat meningkatkan praktik klinis. Penulisan literatur ini bertujuan untuk meninjau dan mengeksplorasi pemanfaatan AR dalam bidang konservasi gigi.</p> <p>Sumber data: Mensintesis literatur mengenai AR dalam bidang konservasi gigi tanpa mengumpulkan atau menganalisis data primer apa pun, didapatkan desain penelitian dari literatur berupa studi in vitro dan studi eksperimental.</p> <p>Kriteria kelayakan studi: Penelitian ini memenuhi kelayakan studi dengan menggunakan tinjauan pustaka sistematis berdasarkan metode PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta- Analyses). Artikel yang dianalisis berasal dari jurnal peer-reviewed dalam database akademik terpercaya. Pemilihan studi dilakukan sesuai kriteria inklusi dan eksklusi untuk memastikan relevansi dan validitas penelitian.</p> <p>Partisipan dan intervensi: Sumber artikel literatur melalui website portal jurnal dengan pencarian kata kunci yang telah ditetapkan, didapatkan 2970 literatur, kemudian disaring dan diidentifikasi berdasarkan judul, abstrak, dan kata kunci diperoleh sebanyak 2481 literatur kemudian ditetapkan sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi serta menghapus adanya duplikasi didapatkan 64 literatur, disaring kembali dengan melihat seluruh isi didapatkan hasil 4 literatur.</p> <p>Metode penelitian: Data sekunder diperoleh dari hasil penelusuran melalui halaman penelusuran PubMed, Science Direct, Google scholar dan Wiley Online Library kemudian disintesis dengan metode PRISMA. Data yang dianalisis dan disintesis pada metode ini, yaitu data sekunder atau menggunakan literatur dan bukti yang tersedia tentang pemanfaatan AR dalam bidang konservasi gigi.</p> <p>Sintesis studi: Temuan pada 4 literatur yang telah disintesis dengan studi desain berupa studi in vitro dan studi eksperimental ditemukan bahwa AR memiliki manfaat dalam bidang konservasi gigi.</p> <p>Hasil studi: Augmented Reality dapat dimanfaatkan untuk menunjang berbagai perawatan seperti access opening saluran akar menjadi lebih aman dan akurat dibandingkan dengan teknik free-hand konvensional, retrieval instrument saat perawatan saluran akar, dan meningkatkan akurasi dalam penentuan lokasi apeks pada tindakan apikoektomi.</p> <p>Keterbatasan: tinjauan pustaka hanya mengandalkan data sekunder dari artikel yang tersedia. Tidak ada analisis data primer yang membuat hasilnya bergantung pada studi-studi sebelumnya sehingga penerapan temuan masih perlu diuji lebih lanjut.</p> <p>Kesimpulan: Augmented Reality memiliki potensi besar untuk meningkatkan praktik klinis dalam kedokteran gigi, khususnya dalam bidang konservasi gigi dengan memvisualisasikan informasi klinis secara langsung pada pasien.</p> <p>Implikasi temuan utama: Penerapan AR dapat meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam perawatan gigi sehingga diharapkan dapat terus berkontribusi dalam inovasi dan peningkatan kualitas layanan kesehatan gigi.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://proceedings.ums.ac.id/densium/article/view/5759 Ramah (Rawat Mulut Gigi dan Harumkan Ramadan) 2025-07-11T20:22:32+07:00 Kurnia Falasifa [email protected] Qurrota Ayun [email protected] Shelly Agusthia [email protected] <p>Latar belakang: Bulan Ramadan merupakan periode yang sangat signifikan bagi umat muslim yang diisi dengan praktik ibadah puasa. Namun, perubahan pola makan dan kebiasaan sehari-hari selama bulan ini dapat berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan mulut dan gigi. Meskipun kesehatan oral memiliki peran penting dalam kualitas hidup, perhatian terhadap perawatan mulut sering kali terabaikan, sehingga masalah kesehatan gigi, seperti karies dan bau mulut dapat meningkat. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi kesadaran masyarakat serta mengedukasi mereka tentang pentingnya menjaga kesehatan mulut selama bulan Ramadan.</p> <p>Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perawatan mulut selama bulan Ramadan, serta untuk mengidentifikasi praktik-praktik terbaik yang dapat diterapkan untuk menjaga kesehatan gigi selama periode ini.</p> <p>Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis data sekunder yang diperoleh dari berbagai studi dan laporan kesehatan terkait kesehatan mulut selama bulan Ramadan. Data yang dianalisis mencakup statistik prevalensi masalah kesehatan gigi, kebiasaan perawatan mulut, dan dampak pola makan selama bulan puasa. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi tren dan pola yang relevan.</p> <p>Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa 70% dari data yang ditinjau menunjukkan kurangnya kesadaran akan pentingnya perawatan mulut selama Ramadan. Selain itu, terdapat peningkatan 40% dalam kasus masalah kesehatan mulut, seperti bau mulut dan kerusakan gigi selama bulan puasa. Temuan ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk meningkatkan edukasi dan kesadaran mengenai perawatan mulut.</p> <p>Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa perawatan mulut yang tepat selama bulan Ramadan sangat penting untuk mencegah masalah kesehatan gigi. Diperlukan program edukasi yang komprehensif dan berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong praktik perawatan mulut yang baik.</p> 2025-07-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025