Efektivitas dan Keamanan Anestesi Total Intravena Versus Anestesi Inhalasi terhadap Hasil Pascaoperasi Darurat: Tinjauan Sistematik
Abstract
Pemilihan teknik anestesi dalam operasi darurat dipengaruhi oleh faktor ketidakstabilan hemodinamik dan risiko komplikasi tinggi. TIVA (Total Intravenous Anesthesia) sering digunakan dalam operasi darurat karena memiliki awitan cepat, pemulihan terprediksi, dan menurunkan risiko komplikasi pascaoperasi. Sementara itu, INHA (Inhalation Anesthesia) terbukti dapat melindungi fungsi ginjal, meskipun memiliki awitan lebih lambat. Dengan demikian, tinjauan sistematik diperlukan untuk membandingkan kedua teknik ini dalam operasi darurat. Tujuan dari penelitian ini, yaitu mengevaluasi efektivitas dan keamanan TIVA dan INHA dalam mencegah komplikasi pascaoperasi. Tinjauan sistematik melalui pencarian literatur di PubMed dan Scopus menghasilkan 366 studi, dengan enam studi tersisa berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data meliputi karakteristik studi, teknik anestesi, dan hasil pascaoperasi. Analisis data menggunakan deskripsi komparatif. TIVA menunjukkan keunggulan dengan menurunkan risiko komplikasi pascaoperasi, menghasilkan skala nyeri lebih rendah pada pasien thoracostomy dan perubahan AST/ALT lebih rendah pada pasien post non-hepatic surgery. TIVA juga memiliki insidensi POD (postoperative delirium) lebih rendah dibandingkan INHA. Sebaliknya, INHA pada pasien pediatri meningkatkan risiko bradikardia hingga 11 kali lipat dan insidensi IOA yang lebih tinggi. Maka dari itu, TIVA terbukti lebih aman dengan risiko komplikasi lebih rendah. Berdasarkan tinjauan tersebut, dapat disimpulkan bahwa efektivitas dan keamanan penggunaan TIVA lebih unggul dibandingkan INHA dalam operasi darurat.
