Studi Kasus Leptospirosis di Jawa Tengah: Hubungan antara Meteorologi dan Lingkungan
Abstract
Latar Belakang Jawa Tengah merupakan kontributor utama kasus leptospirosis di Indonesia, tahun 2024 jumlah kasus mencapai 545 kasus. Perubahan iklim dan peristiwa cuaca ekstrem diduga berperan mempengaruhi pola penyakit.
Tujuan penelitian menganalisis faktor meteorologi dan lingkungan terhadap kejadian leptospirosis di Provinsi Jawa Tengah 2018-2024.
Metode penelitian ini merupakan penelitian analitik desain time series, variabel dependen jumlah kasus leptospirosis dan lingkungan sebagai variabel independen meliputi suhu udara, curah hujan, kelembaban tanah, indeks ultraviolet, tekanan udara, dan tutupan awan. Sumber data berasal dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dan NASA. Analisis data dilakukan dengan regresi Ordinary Least Squares (OLS) dan uji asumsi linearitas, shapiro-wilk, Breusch-Pagan, Variance Inflation Factors (VIF), dan Durbin Watson.
Hasil penelitian menjelaskan sebesar 26% variasi jumlah kasus leptospirosis (R² = 0,26). Variabel kelembaban tanah merupakan faktor lingkungan paling dominan (β = 240,46; p < 0,001), menunjukkan peningkatan kelembaban tanah diikuti oleh peningkatan jumlah kasus leptospirosis. Sementara itu, variabel meteorologi lainnya, tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p > 0,05).
Simpulan kelembaban tanah berperan penting dalam peningkatan kasus leptospirosis dibandingkan faktor meteorologi lainnya.
Saran perlu mengintegrasikan pemantauan kelembaban tanah dalam sistem peringatan dini kesehatan. Meningkatkan kewaspadaan di area dengan kondisi tanah basah. Eksplorasi faktor non-meteorologi direkomendasikan sebagai langkah selanjutnya.
