Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran <p>Proceeding Title: <strong>Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta<br /></strong>Organizer: Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta<br />ISSN (Online): <a href="https://issn.perpusnas.go.id/terbit/detail/1579573044" target="_blank" rel="noopener">2721-2882</a></p> <p>Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta diterbitkan dalam rangka seminar tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta.</p> Universitas Muhammadiyah Surakarta en-US Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2721-2882 Front Matter https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5549 <p>Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh</p> <p>Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Semesta Alam yang terus mencurahkan rahmat dan kuasa-Nya kepada kita semua, serta dengan ijin-Nya.</p> <p>Alhamdulillahi rabbil 'alamin Symposium dan Call for Paper TRABECULA dengan tema "The Recent Advances Breakthrough Emergency Cases in Trauma of Musculoskeletal, Cardiology, and Anesthesiology" dapat terlaksana dengan baik dan proceding ini dapat diterbitkan.</p> <p>Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh panitia rangkaian CME TRABECULA 2025 yang telah bekerja keras untuk mensukseskan acara ini, kepada dosen-dosen yang turut membantu dan membimbing sehingga acara in dapat terselenggara dengan baik, kepada reviewer yang tiada lelah mengkaji dengan baik artikel-artikel ilmiah "Call for Paper TRABECULA," dan yang tak kalah pentingnya adalah saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para peserta Call for Paper TRABECULA sehingga rangkaian acara ini dapat terselenggara dengan baik tanpa kendala yang berarti. Semoga prosiding Call for Paper "TRABECULA" ini dapat memberikan manfaat dan juga gerakan yang mampu mendukung peningkatan kesejahteraan dan kemajuan dunia kesehatan di Indonesia.</p> <p>Wassalamu' alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh</p> Bertha Nanta Pratama Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 Seorang Pria 62 Tahun dengan Tumor Paru Kanan, Brpn Bilateral, Hiponatremia, Anemia, Suspek Metastase Tulang Vertebra, Massa Endobronkial, Henoptisis https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5550 <p>Tumor adalah suatu benjolan abnormal di dalam tubuh yang disebabkan oleh berbagai macam penyakit seperti keganasan dan infeksi. Sel tumor mendesak jaringan sehat sekitarnya. Bronkopneumonia adalah infeksi yang mempengaruhi saluran udara masuk ke paru-paru. Riwayat klasik dingin menggigil yang disertai dengan demam tinggi, batuk dan nyeri dada. Hiponatremia merupakan keadaan kadar natrium serum &lt;135 mEq/L, merupakan gangguan keseimbangan elektrolit. Insufisiensi adrenal sekunder yang disebabkan karena gangguan hipofisis ataupun hipotalamus merupakan salah satu penyebab utama hyponatremia hipotonik, khususnya hyponatremia euvolemia adalah syndrome of inappropriate antidiuretic hormone (SIADH). Anemia adalah jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin (Hb) di dalam darah lebih rendah daripada nilai normal untuk kelompok orang menurut umur dan jenis kelamin. Untuk pria, anemia biasanya didefinisikan sebagai kadar hemoglobin kurang dari 13,5 gr% dan pada wanita sebagai hemoglobin kurang dari 12,0 gr%. Hemoptisis adalah ekspektorasi darah yang berasal dari saluran pernafasan bagian bawah dengan jumlah minimal yang dapat membahayakan jiwa.</p> Fadhilla Nurul Meydhiza Maria Reciana Setiailani Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 1 4 Aspergiloma Paru dengan Hemoptisis pasca Tuberkulosis https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5551 <p>Kasus infeksi paru di Indonesia paling umum antara lain tuberkulosis (TB), asma, kanker paru, dan pneumonia, namun terdapat infeksi yang jarang terjadi yaitu infeksi jamur paru/mikosis paru. Salah satunya terjadi akibat kekebalan seseorang terganggu. Diketahui mikosis paru sering terjadi pada individu pasca tuberculosis paru. Gejala yang ditimbulkan salah satunya batuk berdarah atau hemoptisis. Infeksi jamur yang umum terjadi pada paru-paru yaitu Aspergillosis. Data di Indonesia 7,7 juta pasien dirawat dengan 2,89% menderita mikosis paru dan Prevalensi aspergillosis pada orang dewasa diperkirakan sebesar 336.200. Artikel ini menggunakan metode studi kasus desain studi case report yang dilakukan di RSUP Surakarta yang bertujuan melaporkan kasus Aspergiloma paru dengan hemoptisis pasca tuberkulosis, adapun hasilnya yaitu seorang perempuan 55 tahun dengan keluhan sesak napas, batuk, dan hemoptisis dengan iwayat tuberkulosis paru pada pemeriksaan fisik menunjukkan suara ronkhi pada lapang paru kiri. Rontgen dada menunjukkan perbaikan akibat tuberkulosis paru dan CT scan Thorax menunjukkan adanya kavitas fibroinfiltrat dan lesi noduler disertai gambaran halo pada lapangan bawah paru kiri. Gambaran pada bronkoskopi tampak mukosa edema dan hiperemis. Pemeriksaan kultur bilasan bronkus ditemukan adanya jamur Aspergillus, sp. Pasien diberikan pengobatan itraconazole 100 mg selama 8 bulan hingga sembuh. Terapi supportif yang diberikan ialah fisioterapi dada dan terapi nutrisi.</p> Putri Isa Maharani Yaasiin Riana Sari Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 5 15 Seorang Perempuan 56 Tahun dengan Bronkopneumonia, Bekas TB, Bronkiektasis Terinfeksi dan Suspek Efusi Pleura Bilateral https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5552 <p>Bronkopneumonia adalah peradangan saluran pernapasan yang melibatkan bronkus hingga alveolus paru. Keadaan ini disebabkan oleh infeksi bakteri, meskipun infeksi virus dan jamur juga dapat menjadi penyebabnya. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan terutama menginfeksi parenkim paru, meskipun dapat menyebar ke organ tubuh lainnya. Bronkiektasis adalah kelainan kronis yang ditandai dengan dilatasi bronkus yang persisten dan gangguan fungsi mekanisme transportasi mukosiliar akibat infeksi berulang. Sementara itu, efusi pleura adalah kondisi di mana terjadi penumpukan cairan di rongga pleura, yaitu ruang antara pleura parietal dan visceral. Pada kasus ini, seorang pasien perempuan berusia 56 tahun datang dengan keluhan sesak napas disertai batuk selama tiga hari terakhir. Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang menunjukkan adanya bronkopneumonia, riwayat TB, bronkiektasis terinfeksi dengan retensi sputum, serta dugaan efusi pleura bilateral minimal. Kombinasi kondisi tersebut menimbulkan gangguan pernapasan yang memerlukan penanganan segera dan menyeluruh untuk mencegah perburukan fungsi paru, mengatasi infeksi, serta mengurangi retensi sputum agar kualitas hidup pasien dapat ditingkatkan.</p> Aninditha Syavela Azmi Maria Reciana Setiailani Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 16 23 Amoebiasis dengan Nefrotik Sindrom https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5553 <p>Amoebiasis atau disentri amuba merupakan infeksi enteral parasit yang umum. Amoebiasis dapat muncul tanpa gejala atau dengan gejala ringan hingga berat, termasuk nyeri perut, diare, atau diare berdarah. Diare dapat menjadi tanda bahwa tubuh sedang mengalami infeksi atau sistem kekebalan tubuh menurun. Penurunan imunitas dapat disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya yaitu sindrom nefrotik. Sindrom nefrotik adalah keadaan klinis dengan gejala proteinuria, hipoalbuminemia, edema, dan hiperkolesterolemia.</p> <p>Kasus: Seorang laki laki bernama tn. S usia 48 tahun, datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Kab. Karanganyar pada 5 Oktober 2024 dengan keluhan utama diare lebih dari 10 kali sejak 7 hari yang lalu. Diare encer tidak ada ampas. BAB cair disertai darah kemerahan dan kehitaman. Pasien memiliki riwayat dirawat di rumah sakit dengan keluhan serupa yaitu diare dan sindroma nefrotik.</p> Fidhia Nur Rifaini Musrifah Budi Utami Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 24 37 Seorang Anak Laki-Laki Usia 3 Tahun dengan Sesak Napas Akibat Bronkopneumonia Kedua Lapang Paru: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5554 <p>Pada kasus ini, melaporkan seorang anak laki-laki berusia 3 tahun yang mengalami demam selama 4 hari sebelum masuk rumah sakit, batuk selama 7 hari sebelum masuk rumah sakit, berdahak selama 5 hari sebelum masuk rumah sakit, pilek selama 3 hari sebelum masuk rumah sakit, dan sesak napas disertai napas cuping hidung selama 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien sebelumnya telah mendapatkan pengobatan berupa obat penurun panas dan antibiotik, namun kondisinya tidak membaik. Pemeriksaan fisik menunjukkan tanda-tanda sesak napas, suhu tubuh 36,2°c, frekuensi napas 36 kali per menit, dan saturasi oksigen 93%. Pemeriksaan penunjang selanjutnya dilakukan foto rontgen dada dan menunjukkan gambaran bronkopneumonia pada kedua lapang paru. Pasien diberikan terapi oksigen, nebulizer, antibiotik, infus, dan antipiretik. Setelah 5 hari perawatan, pasien dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang dengan diagnosis akhir bronkopneumonia pada kedua lapang paru.</p> Erwin Ivan Sanusi Eva Musdalifah Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 38 42 Seorang Wanita Usia 24 Tahun dengan Sesak Napas Akibat Anemia Mikrositik Hipokromik: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5555 <p>Anemia mikrositik hipokromik adalah suatu kondisi hematologis yang ditandai dengan ukuran sel darah merah yang lebih kecil dari normal (mikrositik) dan kadar hemoglobin yang rendah (hipokromik). Salah satu jenis yang paling sering adalah anemia defisiensi besi, yang disebabkan oleh kekurangan zat besi dalam tubuh. Kondisi ini dapat terjadi akibat asupan zat besi yang tidak memadai, gangguan penyerapan, atau kehilangan darah seperti pada perdarahan setelah melahirkan. Kekurangan zat besi menghambat sintesis hemoglobin, sehingga mempengaruhi kapasitas darah dalam mengangkut oksigen ke jaringan tubuh. Kami melaporkan kasus anemia defisiensi besi pada pasien yang datang ke RSUD Ir. Soekarno Sukoharjo dengan keluhan sesak napas, batuk disertai lemah letih dan pucat. Pemeriksaan laboratorium dan gambaran darah tepi menunjukan anemia mikrositik hipokromik atau anemia defisiensi besi. Pada pasien ini diberikan terapi tablet tambah darah, transfuse PRC 2 kolf, dan curcuma. Setelah 5 hari perawatan, pasien dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang.</p> Ryllia Nurul Ash Shiddieqy Auliya Andriyati Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 43 47 Pria Usia 64 Tahun dengan Parese Sinistra N.VII Dan N.XII dengan Hemiparese Sinistra Et Causa Stroke https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5556 <p>Stroke merupakan gangguan fungsional otak mendadak penyebab mortalitas tinggi. Menurut Riset Kesehatan Dasar prevalensi stroke di Indonesia pada tahun 2018 sebesar 10,9% dan mengalami kenaikan sebanyak 3,9% dalam lima tahun terakhir. Stroke menurut World Health Organization adalah sindrom klinis yang berkembang cepat akibat gangguan otak fokal maupun global dengan gejala klinis yang berlangsung selama 24 jam atau lebih. Sebanyak 80% dari seluruh stroke merupakan stroke iskemik/ non hemoragik dan 20% stroke hemoragik. Stroke non hemoragik terjadi akibat penutupan aliran darah ke sebagian otak tertentu. Tujuan dari penulisan laporan adalah untuk mempelajari seputar kasus stroke non hemoragik. Metode yang dilakukan adalah melakukan anamnesis terhadap pasien lalu menggali lebih lanjut penyakit pasien dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada kasus ini, seorang pria berumur 64 tahun dengan keluhan kelemahan anggota gerak kiri disertai Hipertensi tanpa penurunan kesadaran, nyeri kepala, dan mual muntah. Hasil pemeriksaan fisik Compos Mentis dengan GCS E4V5M6, tekanan darah 158/105 mmHg, parese N.VII dan N.XII sinistra tipe UMN. Pemeriksaan CT scan kepala tanpa kontras ditemukan gambaran infark di centrum semiovale dextra dan infark di corona radiata dextra. Untuk tatalaksana umum yang diberikan pada pasien ini seperti pemberian asupan cairan dan tatalaksana khusus dengan farmakologi seperti neuroprotektan dan antikoagulan.</p> Alessandro Melanio Putra Pratama Ahmad Muzayyin Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 48 69 Laporan Kasus: Laki-Laki Usia 31 Tahun Post KLL dengan Fraktur Tertutup Os Clavicula Sinistra https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5557 <p>Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh trauma atau keadaan patologis yang dapat terjadi pada tulang. Kejadian fraktur klavikula sebanyak 5% sampai dengan 10% dari seluruh kejadian fraktur, insiden kejadiannya antara 30 sampai dengan 60 kasus pada setiap 100.000 populasi. Laki-laki usia 31 tahun diantar keluarganya datang ke IGD dengan keluhan nyeri pada bahu kiri, dua jam sebelumnya pasien terjatuh saat mengendarai sepeda motor dengan bahu kiri sebagai tumpuan tubuh. GCS E4V5M6 compos mentis, pasien tampak sakit sedang, suhu 36°C, tekanan darah 120/70 mmHg, HR 89x/menit, saturasi oksigen 98%, dan RR 20x/menit.Pemeriksaan status lokalis pada tampak deformitas, tidak tampak luka, didapati krepitasi, nyeri tekan, sensibilitas baik, CRT &lt; 2 detik, dan didapatkan nyeri gerak aktif maupun gerak pasif dengan ROM terbatas. Pemeriksaan rontgen Thorax AP didapatkan tampak fractur complete pada os clavicula sinistra pars medial. Berdasarkan gejala, anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, pasien didiagnosis dengan fraktur tertutup os clavicula sinistra. Pasien diberi terapi infus Ringer Lactat 20 tpm, Inj. Ceftriaxon 1gr/12 jam, Inj. Ketorolac/8 jam dan rencana tindakan operatif ORIF.</p> Citra Dewi Savitri Alifia Rifki Rimanda Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 70 78 Tonsilitis Akut pada Anak: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5558 <p>Tonsilitis atau umum dikenal sebagai radang amandel adalah peradangan pada tonsil tepatnya di bagian cincin waldayer. Etiologi dari tonsilitis dapat disebabkan oleh virus dan bakteri. Tonsilitis sering terjadi pada anak-anak dan dapat bersifat akut ataupun kronis. Pada kasus ini akan membahas seorang anak usia 10 tahun dengan diagnosis tonsilitis akut. Penegakan diagnosis pada tonsilitis dapat dilakukan dengan anamnesis dan juga pemeriksaan fisik. Dari pemeriksaan tersebut daoat menentuan tonsilitis bersifat akut atau kronis dan juga apakah disebabkan oleh virus atau bakteri. Tonsilitis pada beberapa pasien juga dapat sembuh sendiri atau bisa dilakukan pembedahan jika sudah terdapat indikasi untuk dilakukan pembedahan.</p> Rafiudin Hidayat Nurmala Shofiyati Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 79 88 Pasien Laki-Laki Usia 75 Tahun dengan Pneumonia, TB Paru, PPOK, CPC (Cor Pulmonale Chronic) dan Congestive Hepatophaty https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5559 <p>Tuberkulosis merupakan infeksi pada paru- paru yang disebabkan oleh bakteri yaitu Mycobacterium tuberculosis. Pneumonia merupakan salah satu Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) berupa meradangnya pada alveolus. PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) penyakit ini ditandai dengan keterbatasan aliran udara yang persisten dan bersifat progresif/ yang semakin lama semakin memberat. Cor pulmonale chronic (CPC) merupakan penyakit yang disebabkan karena perubahan struktur dan atau fungsi dari ventrikel kanan. Congestive hepatopathy merupakan gangguan hati yang terjadi pada kondisi gagal jantung kanan. Tn. M berusia enam puluh empat tahun datang ke IGD RSUD Ir. Soekaeno Sukoharjo dengan keluhan sesak, keringat dingin di malam hari, BB (Berat Badan) semakin turun, mual, muntah, dan nafsu makan menurun sejak 3 bulan yang lalu. Dokter melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang untuk diagnosis pasien dengan Tuberkulosis paru dan melakukan terapi sesuai prosedur dokter dan bekolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk menangani pasien seperti perawat, petugas laboratorium, dan petugas radiologi.</p> Dwi Permatasari Ratna Lusiawati Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 89 102 Kejang Demam Sederhana dan Diare Cair Akut dengan Dehidrasi Ringan Sedang pada Laki-Laki Usia 10 Tahun https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5560 <p>Kejang demam adalah kejang pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun akibat demam, tanpa penyebab intracranial atau ketidakseimbangan elektrolit. Diare adalah buang air besar tiga kali atau lebih per hari dengan tinja lembek atau cair. Seorang anak laki-laki usia 10 bulan datang ke IGD RSUD Ir. Soekarno Sukoharjo pada tanggal 21 juni 2023 dengan keluhan kejang disertai demam, batuk, dan pilek. Kejang terjadi 15 menit sebelum masuk rumah sakit, berdurasi kurang 5 menit, dan hanya 1 kali dengan kaku seluruh tubuh, BAB cair 5 kali. Keadaan umum pasien tampak lemas, kesadaran compos mentis, demam. Pemeriksaan kepala normocephal, UUB sedikit cekung belum menutup. Pemeriksaan mata air mata tidak ada, didapatkan mata cowong. Pemeriksaan hidung didapatkan sekret. Pada pemeriksaan paru didapatkan suara bronkovesikuler. Pemeriksaan darah lengkap didapatkan peningkatan RDW-CV, serta penurunan , trombosit, hemoglobin, hematokrit, MCV, MCH. Pemeriksaan feses rutin didapatkan dalam batas..normal. Mendapatkan terapi O2 1 lpm, infus RL 70 cc/ jam selama 3 jam, lanjut 35 cc/jam, injeksi Paracetamol 90mg/ 4 jam jika demam (suhu &gt;38.5°C), diazepam 3x0,8 mg, paracetamol Syr ¾ cth/4 jam jika demam (suhu 37.5°C -38.5°C), L-bio 2x1 sacch, zink 1x 20 mg.</p> Ananda Hafid Firdausi Isna Nurhayati Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 103 115 Seorang Perempuan Usia 73 Tahun dengan Penyakit Arteri Perifer Disertai Ulkus DM https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5561 <p>Peripheral Artery Disease (PAD) merupakan salah satu komplikasi Diabetes Melitus (DM). Perubahan pada dinding pembuluh darah menyebabkan penurunan aliran darah (perfusi) ke ekstremitas bawah. Faktor risiko PAD yang telah dikenal mencakup aterosklerosis akibat usia, merokok, dislipidemia, diabetes melitus (DM), dan hipertensi. Prevalensi PAD saat ini di dunia diperkirakan lebih dari 200 juta orang, dan 15% terjadi pada populasi di Australia sedangkan PAD dengan keluhan gejala klinis diperkirakan terjadi pada usia di atas 65 tahun. Sebagian besar kasus PAD bersifat asimtomatik. Pada kasus simtomatik, dapat terjadi klaudikasio, critical limb ischemia, atau acute limb ischemia. Beberapa temuan pemeriksaan fisik pada PAD yaitu menghilangnya pulsasi ekstremitas bawah, dapat ditemukan hilangnya rambut, kulit yang mengkilap, dan atrofi otot. Pada beberapa kasus juga ditemukan luka yang sulit membaik atau gangren seperti pada pasien ini. Pemeriksaan penunjang sederhana yang yang dapat dilakukan yaitu ankle-brachial index (ABI), kemudian didukung dengan pemeriksaan magnetic resonance angiography (MRA), digital subtraction angiography (DSA), dan computed tomography angiography (CTA). Telah dilaporkan sebuah kasus peripheral arteri disease disertai ulkus dm pada seorang wanita berusia 73 tahun, yang pada akhirnya dirujuk. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.</p> Muchamad Iqbal Zainury Juono Prabowo Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 116 128 Penyakit Jantung Rematik pada Anak Laki Laki Usia 7 Tahun https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5562 <p>Demam rematik akut (DRA) adalah kondisi inflamasi yang dapat mempengaruhi berbagai organ dan sistem organ seperti jantung, sendi, sistem saraf pusat dan jaringan subkutan akibat infeksi Streptokokus β hemolitikus grup A. Penyakit jantung rematik (PJR) terjadi ketika reaksi silang antara dinding sel karbohidrat bakteri dengan jaringan katup jantung menyebabkan kerusakan kronis pada katup jantung. Prevalensi PJR mencapai 33 juta kasus dan menyebabkan sekitar 270.000 kematian setiap tahunnya. Seorang anak laki laki berusia 7 tahun datang berobat dengan keluhan sering merasa lemas sejak 1 bulan yang lalu terutama setiap beraktivitas sedang-berat dan pulih jika beristirahat. Lemas disertai adanya nyeri sendi yang berpindah. Pasien juga mengalami sesak napas saat beraktivitas sedang-berat Pasien memiliki riwayat batuk dan demam serta nyeri tenggorokan. Pemeriksaan fisik pasien didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, kompos mentis, nadi 132 kali/menit, tekanan darah 123/84 mmHg, laju nafas 44 kali/ menit, suhu 36,3 derajat celcius dan berat badan 41 kg. Pemeriksaan kepala didapatkan faring hiperemis. Pemeriksaan thoraks didapatkan murmur ejeksi sistolik. Pemeriksaan eksremitas didapatkan ektremitas kiri atas dan bawah edema. Hasil pemeriksaan penunjang menunjukkan imunoserologi ASTO positif. Foto toraks menunjukkan jantung tidak membesar. Pasien didiagnosa dengan penyakit jantung rematik. Pasien dianjurkan mengurangi aktifitas berat. Pasien diberikan terapi Phenoxymethylpenicilin 500mg/8jam PO selama 10 hari, prednisone 5mg/kgBB/hari 2-6 mg, dan captopril 3x 6,25 mg.</p> Mauliya Orezha Wati Rengganis Ayu Kinanti Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 129 136 Seorang Wanita Berusia 43 Tahun dengan Tumor Mammae Dextra https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5563 <p>Tumor mammae adalah kondisi patologis yang melibatkan pertumbuhan jaringan abnormal pada payudara. Tumor ini dapat bersifat jinak atau ganas dan sering kali menimbulkan gejala seperti benjolan, nyeri, atau perubahan pada jaringan payudara. Tumor mammae merupakan salah satu kondisi paling umum pada wanita, dengan prevalensi yang meningkat terutama pada kelompok usia 30 tahun ke atas. Di seluruh dunia, kanker payudara menjadi salah satu dari tiga jenis kanker paling umum, dengan tingkat insidensi yang terus meningkat setiap tahunnya. Dalam laporan ini, dibahas kasus seorang wanita berusia 43 tahun yang mengeluhkan benjolan di payudara kanan yang sudah dirasakan selama satu minggu. Benjolan tersebut memiliki diameter 4 cm, berbatas tegas, dan mobile tanpa disertai kemerahan atau nipple discharge. Pemeriksaan penunjang seperti FNAB, ultrasonografi, mamografi, dan tumor marker diusulkan untuk menegakkan diagnosis definitif. Penanganan yang disarankan meliputi tindakan operasi, seperti lumpektomi atau mastektomi, dengan terapi adjuvan untuk mencegah kekambuhan. Studi ini menyoroti pentingnya deteksi dini dan pengelolaan yang tepat dalam menangani tumor mammae guna meningkatkan kualitas hidup pasien.</p> Salma Angelina Hanifah Budi Yuwono Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 137 145 Seorang Anak Laki-Laki 43 Tahun dengan Herpes Zoster Oftalmikus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5564 <p>Latar Belakang: Herpes zoster (shingles zoster) adalah penyakit virus yang disebabkan oleh reaktivasi virus endogen yang bertahan dalam bentuk laten di dalam neuron ganglion setelah serangan varicella sebelumnya, apabila timbul kelainan pada mata dan kulit di daerah persarafan cabang pertama nervus trigeminus dinamakan Herpes zoster oftalmikus (HZO).</p> <p>Tujuan: Artikel ini menyajikan kasus Herpes Zoster Oftalmikus yang bertujuan untuk menegakkan diagnosis, memberikan penatalaksanaan yang sesuai dan mempertimbangkan potenis risiko terjadinya Herpes Zoster Oftalmikus.</p> <p>Metode: Artikel ini merupakan laporan kasus tentang seorang laki-laki berusia 43 tahun datang ke poliklinik RSUD Kabupaten Karanganyar dengan keluhan nyeri dan panas pada wajah kanan atas.</p> <p>Hasil: Pemeriksaan dermatologis menunjukkan adanya lesi vesikel multiple dengan dasar eritem pada wajah kanan atas terutama bagian mata. Pendekatan pengobatan utama adalah terapi sistemik seperti penggunaan antibiotik, analgetik, salep kortikosteroid.</p> <p>Kesimpulan: Diagnosis Herpes Zoster Oftalmikus pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis pasien dan pemeriksaan fisik. Edukasi faktor risiko dan pemilihan obat sesuai keluhan merupakan kunci keberhasilan terapi pada pasien Herpes Zoster Oftalmikus.</p> N Nurmaulida Milany Harirahmawati Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 146 154 Progresifitas Klinis dan Penatalaksanaan Pasien Angina Ludwig di RSUD Karanganyar https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5567 <p>Angina ludwig adalah bentuk selulitis difus, akut, dan menyebar cepat. Kematian tersering akibat gangguan jalan napas, sampai dengan 50% pada pasien tidak diobati, dan 8% yang menerima pengobatan yang memadai. Diagnosis dini dan perencanaan perawatan segera menjadi prosedur yang menyelamatkan jiwa.</p> <p>Tujuan: memprediksi level keparahan dan progresivitas penyakit melalui analisis keluhan dan tanda untuk penatalaksanaan yang tepat.</p> <p>Laporan kasus: kami laporkan satu kasus laki laki 27 tahun, keluhan nyeri tenggorok, bengkak leher, trismus, stridor dan gangguan pernapasan dengan diagnosis angina ludwig.</p> <p>Metode: analisa mekanisme gejala dan tanda pasien berdasarkan tinjauan pustaka, menentukan level keberatan dan progresivitas penyakit. Hasil dari analisa sebagai pedoman penatalaksanaannya, yaitu tentang penanganan gangguan pernapasan, pemberian antibiotik dan antiperadangan, incisi drainase, dan ekstraksi gigi.</p> <p>Hasil: analisa gejala dan tanda menetapkan tindakan invasif gangguan jalan napas, memberikan antibiotik untuk bakteri aerob dan anaerob, dan kortikosteroid. Kemudian incisi drainase dan ekstraksi gigi. Pasien sembuh dan dapat rawat jalan.</p> <p>Kesimpulan: analisa keluhan dan tanda pasien angina ludwig memberikan masukan untuk menetapkan penatalaksanaan penyakit. Keberhasilan penyelamatan jiwa pasien angina ludwig menjadi tantangan dokter dan petugas kesehatan, karena sampai saat ini standar baku penatalaksanaan angina ludwig belum ada.</p> Alya Nurkinasih Putri Handayani Iwan Setiawan Adji Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 155 162 Seorang Anak 2 Tahun dengan Iktiosis Lamelar https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5568 <p>Latar Belakang: Kejadian iktiosis lamelar pada anak jarang terjadi. Prevalensi global iktiosis lamelar adalah 1 kasus per 300.000 kelahiran.</p> <p>Tujuan: Kasus ini menyajikan iktiosis lamelar pada anak, yang bertujuan untuk menegakkan diagnosis, memberikan penatalaksanaan yang sesuai, dan mempertimbangkan potensi risiko terjadinya iktiosis lamelar.</p> <p>Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian laporan kasus. Adapun pemilihan pasien berdasarkan kasus yang didapatkan dari Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Kabupaten Karanganyar dan difollow up sebanyak 3 kali setiap kontrol.</p> <p>Hasil: Pemeriksaan dermatologis seluruh tubuh menunjukkan sisik hiperpigmentasi eritematosa sebagian, beberapa sisik berbatas jelas, dan beberapa plak menyatu. Pada kasus pasien ini, terapi yang diberikan terdapat perbaikan klinis yang terlihat dengan penggunaan pelembab emolien berupa vaseline dan klobetasol propionate serta cetirizine sirup, dan pedimin drop.</p> <p>Kesimpulan: Diagnosis iktiosis lamelar pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis pasien dan pemeriksaan fisik . Edukasi faktor risiko dan pemilihan obat sesuai keluhan merupakan kunci keberhasilan terapi pada pasien iktiosis lamelar.</p> Anisa Anggraeny Milany Harirahmawati Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 163 175 Ileus Paralitik disertai Imbalance Elektrolit dan Hipoalbumin pada Wanita 84 Tahun Post Herniorrhaphy: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5569 <p>Wanita berusia 84 tahun dengan keluhan utama muntah kehijauan post herniorrhaphy yang didiagnosis sebagai ileus paralitik dengan obstruksi parsial, disertai dengan ketidakseimbangan elektrolit, hipoalbumin, dan pneumonia yang dicurigai akibat tuberkulosis paru. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk menganalisis kondisi klinis dan penanganan pasien. Pemeriksaan fisik dan penunjang menunjukkan diagnosis ileus paralitik dengan kemungkinan obstruksi parsial, disertai ketidakseimbangan elektrolit, hipoalbuminemia, serta pneumonia yang dicurigai akibat TB paru. Penatalaksanaan melibatkan dekompresi lambung, koreksi elektrolit, terapi antibiotik, dan nutrisi parenteral. Selama perawatan, pasien menunjukkan perbaikan kondisi secara bertahap. Simpulan dari laporan ini adalah bahwa pengelolaan yang tepat dan cepat sangat penting dalam menangani kasus ileus paralitik pada pasien lanjut usia untuk mencegah komplikasi serius seperti peritonitis dan sepsis.</p> Anggelina Aiyoslla Nabilla Putu Pratomo Yudi Eko Prasetiyo Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 176 188 Peritonitis Et Causa Perforasi Gaster: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5570 <p>Akut abdomen adalah suatu kondisi yang membutuhkan perhatian dan perawatan segera. Kondisi ini disebabkan oleh infeksi, inflamasi, oklusi vaskular, maupun obstruksi. Kondisi ini dapat memicu terjadinya peritonitis, yakni inflamasi pada rongga peritoneum. Data CDC dari National Hospital Ambulatory Medical Care Survey tahun 1999 hingga 2008, melaporkan bahwa 11% kunjungan departemen ruang gawat darurat pada tahun 2008 akibat nyeri perut dan keluhan ini menyumbang 12,5% dari kejadian darurat. Angka kematian mencapai 30% dan angka kesatikan sampaii 50%. Kami melaporkan kasus peritonitis et causa perforasi gaster pada seorang laki-laki 68 tahun di RSUD Karanganyar dengan keluhan nyeri perut disertai kram, mual muntah, sulit BAB selama 3 hari, dan tidak bisa kentut. Pemeriksaan fisik abdomen ditemukan defans muskular, tidak ditemukan bunyi peristaltik, dan nyeri tekan di seluruh lapang perut. Hasil pemeriksaan foto polos abdomen 3 posisi menyimpulkan adanya gambaran subileus disertai tanda-tanda peritonitis. Pasien kemudian mendapatkan penanganan untuk dipuasakan, pemasangan NGT, DC, infus ringer laktat, O2 nasal canul 4 lpm, infus ringer laktat 20 tpm, injeksi metamizole 1 gram/8 jam, injeksi omeprazole 1 ampul/12 jam, injeksi ondancetron 1 ampul/12 jam, dan injeksi ceftriaxone 1 gram/24 jam. Tindakan operatif dilakukan dengan laparotomi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang perjalanan penyakit, tatalaksana operatif dan hasil akhir.</p> Pradipta Harsatyo Kusworo Juono Prabowo Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 189 201 Seorang Wanita Usia 67 Tahun dengan Katarak Senilis Imatur Oculus Dektra https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5571 <p>Katarak merupakan penyebab utama kebutaan di dunia, yang disebabkan oleh kekeruhan pada lensa mata, sehingga mengganggu proses masuknya cahaya. Laporan kasus ini mengungkapkan seorang pasien wanita berusia 67 tahun yang mengeluhkan penglihatan buram pada mata kanan selama satu tahun terakhir, yang disertai dengan silau. Keluhan semakin memburuk dalam sebulan terakhir, dan tidak membaik meskipun menggunakan kacamata. Pemeriksaan fisik dan status oftalmologis menunjukkan adanya katarak pada mata kanan dan pseudofakia pada mata kiri. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus yang terkontrol dengan obat. Diagnosis kerja mencakup katarak senilis imatur pada mata kanan pada mata kanan, dengan katarak pada mata kiri yang telah menjalani operasi sebelumnya. Penatalaksanaan yang disarankan adalah rujukan ke spesialis mata untuk tindakan pembedahan dengan teknik phacoemulsifikasi dan implantasi lensa intraokuler. Edukasi terkait pentingnya operasi dan pengontrolan kadar gula darah diberikan untuk mencegah komplikasi. Prognosis untuk kehidupan dan kesembuhan mata pasien adalah baik, meskipun pemulihan fungsional masih diragukan.</p> Asri Aji Wigati N Naziya Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 202 208 Evaluasi Manifestasi Klinis Neuropati Perifer dan Deformitas Ekstremitas pada Pasien Post-Kusta https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5572 <p>Kusta merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae, yang menyerang saraf perifer dan dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang neuropati perifer serta deformitas ekstremitas. Meskipun terapi multidrug therapy (MDT) efektif mengeliminasi infeksi, komplikasi neurologis dan muskuloskeletal sering berdampak pada fungsi motorik dan mobilitas pasien post-kusta. Penelitian ini mengevaluasi manifestasi klinis neuropati perifer dan deformitas ekstremitas serta dampaknya terhadap fungsi motorik dan aktivitas sehari-hari pada pasien post-kusta. Studi ini menggunakan metode laporan kasus pada seorang pria 44 tahun dengan riwayat kusta yang telah menyelesaikan terapi MDT. Evaluasi dilakukan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk menilai derajat neuropati perifer, kelemahan otot, serta gangguan mobilitas. Pemeriksaan fisik menunjukkan hipoestesia pada ekstremitas, atrofi otot, serta deformitas claw hand dan drop foot yang membatasi aktivitas pasien. Gangguan keseimbangan meningkatkan risiko jatuh dan cedera. Selain itu, pasien mengalami dampak psikososial akibat stigma sosial yang menyebabkan keterlambatan dalam pencarian pengobatan. Neuropati perifer dan deformitas ekstremitas pada pasien post-kusta memiliki dampak yang signifikan terhadap fungsi motorik dan kualitas hidup. Pendekatan klinis komprehensif, termasuk rehabilitasi fisik dan dukungan psikososial, diperlukan untuk meningkatkan kemandirian pasien dan mencegah komplikasi lebih lanjut.</p> Putri Dwi Anggreheni Femi Dwi Aldini Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 209 219 Seorang Laki-Laki Berusia 38 Tahun dengan Glaukoma Akut Et Causa Hipertensi Emergensi: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5574 <p>Hipertensi emergency adalah keadaan gawat medis ditandai dengan tekanan darah sistolik &gt; 180 mmHg dan atau diastolik &gt; 120 mmHg atau keduanya. Hipertensi emergency merupakan suatu keadaan dimana selain tekanan darah yang sangat tinggi terdapat kelainan atau kerusakan organ target yang bersifat progresif. Glaukoma adalah kumpulan kondisi yang terdiri dari neuropati optik progresif kronis, dengan karakteristik gangguan pada jaringan neuroretina dan caput nervus optikus yang mengakibatkan gangguan lapang pandang yang jika tidak diobati akan mengakibatkan kebutaan yang ireversibel. Pada penelitian ini menggunakan metode observasional.</p> <p>Hasil: seorang laki-laki 36 tahun dengan keluhan nyeri mata kiri membengkak tiba-tiba, serta memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol, tekanan darah 204/124 mmHg, tekanan intraokular &gt;40 mmHg. Diagnosis pasien adalah glaukoma akut et causa hipertensi emergency. Tatalaksana yang dilakukan adalah tirah baring, diet gizi seimbang, serta medikamentosa berupa Inf RL 20 tpm, sp nicardipin, candesartan, nifedipin, timolol, prednisolon, atropine, dan glausetron.</p> <p>Kesimpulan: Hipertensi emergency merupakan suatu keadaan hipertensi darurat yang disertai kerusakan organ target, sehingga tekanan darah harus diturunkan segera agar dapat membatasi kerusakan organ yang terjadi.</p> Fashiha Gusli Febri Retnosari Marcellino Mettafortuna Sephberlian Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 220 229 Tatalaksana Otitis Media Supuratif Kronik Tipe Benigna: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5575 <p>Pendahuluan: Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan suatu kondisi infeksi/inflamasi kronik mukoperiosteum dan jaringan tulang telinga tengah yang ditandai dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya sekret dari liang telinga lebih dari 2 bulan. Terdapat dua tipe OMSK, yaitu OMSK tipe benigna (tanpa kolesteatoma) dan tipe maligna (dengan kolesteatoma). Diagnosis OMSK ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik. Dua jenis klasifikasi yang sering digunakan yaitu OMSK tipe benigna dan tipe maligna, dan berdasarkan aktivitas sekret yang keluar (OMSK aktif dan OMSK tenang). Penatalaksanaan tuli mendadak meliputi terapi konservatif dengan beberapa medikamentosa tergantung dari tipe OMSK dan komplikasi yang menyertai. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk memberikan gambaran pemahaman yang komprehensif mengenai penatalaksanaan OMSK.</p> <p>Laporan kasus: seorang wanita usia 54 tahun datang dengan keluhan keluar cairan dari telinga kanan sejak 1 bulan yang lalu. Cairan yang keluar berwarna kuning kental, tidak berbau, dan tidak disertai rasa gatal. Pasien mengaku sebelumnya sering mengorek telinga. Pada status present dan status generalis dalam batas normal. Pada telinga kanan ditemukan sekret mukopurulen. Pada membran timpani kanan tampak perforasi pada bagian sentral regio postero superior. Tatalaksana yang diberikan berupa pembersihan liang telinga, antibiotik topikal dan sistemik.</p> Hilda Zaniba Ariffah Dony Hartanto Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 230 238 Severe Dengue dengan Syok Terkompensasi dan Hipertensi Stage II https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5576 <p>Severe dengue adalah kondisi Infeksi virus dengue yang harus segera mendapat penanganan di rumah sakit. Diantara kasus severe dengue, 244 (90%) mengalami perembesan plasma, perdarahan hebat 39 (14%), dan disfungsi organ berat 28 (10%). Severe dengue terbagi menjadi 2 klasifikasi yaitu syok dengue terkompensasi dan syok dengue tidak terkomoensasi. Kami melaporkan kasus Severe dengue dengan syok terkompensasi dan HT stage II pada anak Laki-laki 17 th di RS PKU Muhammadiyah Surakarta dengan penuruanan kesadaran, nyeri perut hebat, perdarahan dan muntah terus- menerus. Keadaan Umum pasien tampak sakit berat dengan GCS E3V4M5 dengan tensi 140/91 mmHg. Pemeriksaan fisik didapatkan wajah bengkak , rongki paru (+/+), hepatomegaly. Hasil pemeriksaan darah rutin didapatkan trombosit 19.000/ul, HCT 60.7%, SGOT 105U/L, SGPT 59U/L, Na 125.9 mmol/L, Kalsium 8.30 mg/dL. Pasien kemudian mendapatkan penanganan berupa pemasangan DC, infus NaCL 0.9% 40 tpm, O2 nasal canul 2 lpm, paracetamol 750mg/6 jam, Ondancetron 8mg/8j, Omeprazole 1v/12j, captopril 2x25 mg, beserta terapi penunjang lainnya.</p> Cantika Trikharena Ardityawati Rengganis Ayu Kinanthi Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 239 246 Seorang Laki-Laki Berusia 41 Tahun dengan Fistula Perianal Pengobatan TB on OAT: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5577 <p>Fistel adalah hubungan abnormal yang berkembang antara dua bagian tubuh yang terpisah satu sama lain. Fistula ani terjadi akibat abses anorektal yang telah keluar dan merupakan fase kronis. Kasus ini mendeskripsikan pasien berusia 41 tahun yang datang ke Poli RSUP Surakarta dengan keluhan keluar cairan dari lubang di dekat anus setelah terdapat benjolan yang pecah. Berdasarkan klasifikasi kasus ini termasuk fistula simplex subcutaneus karena mempunyai satu saluran dengan satu lubang eksterna dan satu lubang interna. Fistula ani lebih sering terjadi pada laki-laki. Hampir semua fistula ani disebabkan oleh infeksi anal glands pada interspinchter plane dan juga merupakan manifestasi dari tuberkulosis. Kemudian dilakukan pemeriksaan fisis dan penunjang didapatkan diagnosis fistula perianal dengan pengobatan TB on OAT. Penatalaksanaan pada pasien ini meliputi Fistulotomi atau Fistulektomi merupakan baku emas untuk tatalaksana fistula parianal.</p> Mandarini Dwi Putri Aryati Hitaputra Agung Wardhana Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 247 263 Efektivitas dan Keamanan Anestesi Total Intravena Versus Anestesi Inhalasi terhadap Hasil Pascaoperasi Darurat: Tinjauan Sistematik https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5578 <p>Pemilihan teknik anestesi dalam operasi darurat dipengaruhi oleh faktor ketidakstabilan hemodinamik dan risiko komplikasi tinggi. TIVA (Total Intravenous Anesthesia) sering digunakan dalam operasi darurat karena memiliki awitan cepat, pemulihan terprediksi, dan menurunkan risiko komplikasi pascaoperasi. Sementara itu, INHA (Inhalation Anesthesia) terbukti dapat melindungi fungsi ginjal, meskipun memiliki awitan lebih lambat. Dengan demikian, tinjauan sistematik diperlukan untuk membandingkan kedua teknik ini dalam operasi darurat. Tujuan dari penelitian ini, yaitu mengevaluasi efektivitas dan keamanan TIVA dan INHA dalam mencegah komplikasi pascaoperasi. Tinjauan sistematik melalui pencarian literatur di PubMed dan Scopus menghasilkan 366 studi, dengan enam studi tersisa berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data meliputi karakteristik studi, teknik anestesi, dan hasil pascaoperasi. Analisis data menggunakan deskripsi komparatif. TIVA menunjukkan keunggulan dengan menurunkan risiko komplikasi pascaoperasi, menghasilkan skala nyeri lebih rendah pada pasien thoracostomy dan perubahan AST/ALT lebih rendah pada pasien post non-hepatic surgery. TIVA juga memiliki insidensi POD (postoperative delirium) lebih rendah dibandingkan INHA. Sebaliknya, INHA pada pasien pediatri meningkatkan risiko bradikardia hingga 11 kali lipat dan insidensi IOA yang lebih tinggi. Maka dari itu, TIVA terbukti lebih aman dengan risiko komplikasi lebih rendah. Berdasarkan tinjauan tersebut, dapat disimpulkan bahwa efektivitas dan keamanan penggunaan TIVA lebih unggul dibandingkan INHA dalam operasi darurat.</p> Kanina Listyowati Jenny Khayla Zahirani Lutfi Lafil Cahya Putra Eka Maulana Zainul Muttaqin Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 264 277 Perbandingan Efektivitas Penerapan Splenorrhaphy dan Splenektomi pada Trauma Limpa Derajat Ringan hingga Berat https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5579 <p>Pendahuluan: Trauma limpa sering terjadi akibat trauma tumpul atau penetratif pada abdomen dan berisiko tinggi menyebabkan perdarahan internal yang signifikan. Splenorrhaphy dan splenektomi menjadi pilihan dalam memeperbaiki kondisi ini. Tinjauan ini mengeksplorasi perbandingan dari indikasi dan dampak yang diberikan baik dari tindakan splenektomi dan splenorrhaphy.</p> <p>Metode: Literatur ini membahas perbedaan, indikasi tindakan, efek, dan efisiensi biaya dari splenektomi dan splenorrhaphy. Data untuk literatur ini diperoleh dari sumber seperti PubMed Central dan Google Scholar dengan kata kunci splenektomi, splenorrhaphy dan trauma limpa.</p> <p>Hasil dan Diskusi: Splenorrhaphy dan splenektomi dapat digunakan untuk trauma ringan hingga berat dengan perdarahan masif atau kerusakan limpa yang tidak dapat diperbaiki. Splenorrhaphy memiliki risiko perdarahan ulang, sedangkan splenektomi meningkatkan risiko infeksi serius (Overwhelming Post-Splenectomy Infection/OPSI) karena hilangnya fungsi imun limpa. Kombinasi kedua tindakan ini dapat dilakukan untuk mempertahankan fungsi imun parsial sambil mengatasi cedera yang berat.</p> <p>Kesimpulan: Pendekatan manajemen cedera limpa memerlukan evaluasi berdasarkan kondisi pasien dan tingkat keparahan cedera. Splenorrhaphy dapat mengurangi mortalitas dibandingkan splenektomi total, tetapi jika gagal, tindakan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Oleh karena itu, penulis lebih mengutamakan splenektomi dilanjutkan dengan autotransplantasi untuk cedera limpa derajat sedang hingga berat.</p> Billy Daniel Messakh Casey Clarissa Gondo Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 278 292 Tiroidektomi pada Struma Nodusa Non Toksik: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5581 <p>Struma atau biasa yang disebut dengan goiter merupakan suatu pembesaran dari kelenjar tiroid yang diakibatkan oleh kelainan kelenjar tiroid. penyebab paling umum dari struma adalah kekurangan yodium. Manifestasi klinis dari penderita struma nodusa non toksik ini sebagian kecil mengeluh adanya penekanan pada esofagus (disfagia) atau trakhea (sesak nafas). Ultrasound adalah pendekatan radiologi awal yang paling umum digunakan untuk mendeteksi dan mengkarakterisasi nodul tiroid. Pada kasus ini dilaporkan seorang pria berusia 67 tahun dengan struma nodusa non toksik di RSUD Karanganyar. Metode utama yang digunakan untuk penyembuhan pada kasus ini yaitu dengan dilakukannya tindakan operasi yaitu metode tiroidektomi.</p> Muhammad Ghazy Attoriq B Bakri Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 293 298 Oesofagus Maag Duodenum (OMD) Kontras pada Ny. S Usia 19 Tahun dengan Suspek Gastritis https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5582 <p>Gastritis merupakan suatu masalah kesehatan yang umum terjadi, hampir 10% dari orang-orang yang di rawat di unit gawat darurat rumah sakit di Indonesia. Badan penelitian kesehatan dunia (WHO) tahun 2017 melakukan tinjauan terhadap beberapa negara di dunia dan mendapatkan hasil presentase angka kejadian gastritis di Inggris 22%, China 31%, Kanada 35%, Perancis 29,5%. Di dunia, insiden gastritis sekitar 1,8 - 2,1 juta dari jumlah penduduk setiap tahunnya. Angka kejadian gastritis di Indonesia menurut WHO pada tahun 2017 adalah 40,8%. Pemeriksaan Oesophagus Maag Duoenum merupakan jenis pemeriksaan radiologi yang mempunyai banyak manfaat terutama dalam melakukan diagnosis terhadap kelainan pada saluran pencernaan khususnya pada esofagus sampai usus halus (duodenum). Pemeriksaan OMD dapat membantu dalam mendiagnosis adanya gangguan seperti gastritis, divertikulus, dyspepsia dan beberapa penyakit lain pada esofagus, lambung dan duodenum.</p> Nastiti Aisyah Athari Abdul Aziz Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 299 318 Laporan Kasus: Seorang Anak Laki-Laki Usia 3 Tahun dengan Glomerulonefritis Akut pasca Streptokokus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5583 <p>Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus (GNAPS) adalah suatu bentuk peradangan glomerulus yang secara histopatologi menunjukkan proliferasi dan inflamasi glomeruli yang didahului oleh infeksi grup beta hemolytic strectococcus dan ditandai dengan gejala nefritik seperti hematuria, edema, hipertensi, oliguria yang terjadi secara akut. Berdasarkan laporan kasus ini, diketahui seorang anak laki-laki usia 3 tahun 7 bulan datang ke IGD RSUD Ir. Soekarno Kabupaten Sukoharjo diantar oleh keluarga dengan keluhan buang air kecil berwarna kemerahan disertai bengkak pada wajah dan kedua ekstremitas atas dan bawah. Keluhan ini sudah berlangsung sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien mempunyai riwayat sering radang tenggorokan disusul batuk lama sembuh. Pada pemeriksaan fisik didapatkan edema wajah terutama pada periorbital, ektremitas atas dan bawah, dan edema minimal pada skrotum. Pasien mendapat terapi infus ringer laktat 12cc/jam, injeksi cefotaxime 500mg/12j, injeksi gentamicin 15 mg/12j, injeksi ondancetron 1,5 mg/8 jam, Injeksi ranitidin 15 mg/12 jam, Injeksi Paracetamol 150mg/6 jam (bila suhu&gt;38,5C), injeksi furosemide 10mg/12 jam.</p> Yazid Aufa Najib Ida Farida Nurohmah Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 319 330 Seorang Perempuan Usia 61 Tahun dengan Fibrokistik dan Fibroadenoma: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5629 <p>Tumor mammae merupakan kelainan mammae yang sering terjadi pada wanita. Tumor terbagi menjadi dua, tumor jinak dan tumor ganas. Tumor terbagi menjadi dua, tumor jinak dan tumor ganas. Dimana tumor jinak dibagi menjadi kista mammae, fibroadenoma, tumor filoides, fibrokistik, dan galaktokel, sedangkan carcinoma mammae termasuk tumor ganas yang sering menyerang wanita. Pemeriksaan fisik, terutama mamografi, dan biopsi jaringan harus dilakukan untuk mendiagnosis tumor payudara. Pemeriksaan yang seksama dapat meningkatkan tingkat keberhasilan dari tatalaksana yang yang akan diberikan pada pasien tumor mammae, serta meningkatkan kualitas hidup pada pasien carcinoma mammae. Kami laporkan kasus tumor mammae pada perempuan usia 61 tahun dengan keluhan terdapat benjolan pada payudara bagian kanan. Pasien mengatakan awal mula benjolan kecil lalu semakin besar selama kurang lebih 1 bulan ini. Pasien juga mengeluhkan benjolan di payudara kanan terkadang nyeri. Pada pemeriksaan mammae didapatkan kedua payudara tampak tidak simetris, teraba sebuah massa di garis anterior axilla, bentuk bulat lonjong, konsistensi kenyal lunak, mobile, berbatas tegas, dan terdapat nyeri tekan. Pada pasien dilakukan terapi operati yaitu mastektomi. Pemeriksaan Histopatologi yang didapatkan dari mastektomi menghasilkan lesi fibrokistik, fibroadenoma intra dan perikanalikuler, serta matitis kronik dengan supurasi, ulserasi dan jaringan granulasi.</p> Amalia Salsabella Bakri Hasbullah Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 331 341 Laporan Kasus: Seorang Anak Laki-Laki Usia 3 Tahun dengan Bronkopneumonia https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5630 <p>Bronkopneumonia merupakan penyakit yang sering dijumpai pada anak kecil dan bayi, seringkali disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumonia dan Hemofilus influenza. Secara global, pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak di bawah usia 5 tahun. Rancangan studi kasus yang digunakan adalah deskriptif. Berdasarkan laporan kasus ini, diketahui seorang anak laki-laki usia 3 tahun 11 bulan datang ke IGD RSUD Ir. Soekarno Kabupaten Sukoharjo diantar oleh keluarga dengan keluhan demam tinggi 38.2oC disertai batuk dan pilek. Demam sudah berlangsung sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit dan batuk sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Demam dirasakan terus menerus dan batuk juga terus menerus hingga mengganggu aktivitas. Pasien juga mengeluhkan muntah ketika sedang batuk. Tidak ada penurunan kesadaran dan saat masuk rumah sakit pasien tampak lemas. Pasien mendapat terapi Inf. RL 45cc, Ampicilin 290mg/6j, Inj. Gentamicin 35mg/12j, Injeksi Ondancetron 1 mg/8 jam, Injeksi Paracetamol 120mg/4 jam (bila suhu&gt;38,5C), paracetamol syrup 1cth/4jam (bila suhu &gt;37,5C-38,5C (PO), dan Puyer Batuk 3x1 (Ambroxol 6mg, Salbutamol 1mg, dan Trifed 1/5 tablet).</p> Catur Permana Putra Elvia Maryani Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 342 350 Laki-Laki Usia 48 Tahun dengan Periappendiceal Mass: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5631 <p>Appendicitis adalah peradangan yang terjadi pada Appendix vermicularis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering pada anak-anak maupun dewasa. Appendicitis akut merupakan kasus bedah emergensi yang paling sering ditemukan pada anak-anak dan remaja. Terdapat sekitar 250.000 kasus appendicitis yang terjadi di Amerika Serikat setiap tahunnya dan dapat mengenai semua kelompok usia. Pada sebuah kasus dilaporkan seorang laki laki usia 48 tahun dengan keluhan utama nyeri perut kanan bawah sejak 10 hari yang lalu disertai mual muntah,konstipasi, dan demam. Pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan kuadran kanan bawah dan score alvarado 9 poin. Pemeriksaan penunjang darah lengkap menunjukkan peningkatan neutrofil, limfosit, dan leukosit serta pada pencitraan USG abdomen menyokong gbr. App Akut -Sub akut dengan peri infiltrat, cystitis, gambaran Fatty liver dengan hepatomegali. Tatalaksana yang diberikan infus ringer lactat 20 tpm, injeksi omeprazole 40 mg/ 12 jam, injeksi ondancentron 4 mg /8 jam, injeksi paracetamol 1 gr/ 8 jam dan dilakukan CITO laparatomi oleh dokter spesialis bedah.</p> Dhia Naila Alfatikha Yudi Eko Prasetiyo Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 351 361 Laki-Laki Usia 46 Tahun dengan Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB), Sifilis Laten Lanjut, dan HIV https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5632 <p>Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh infeksi bakteri Treponema pallidum. Sifilis mempunyai sifat perjalanan penyakit yang kronik, dapat menyerang semua organ tubuh, menyerupai berbagai penyakit (great imitator disease), memiliki masa laten yang asimtomatik, dapat kambuh kembali, dan dapat ditularkan dari ibu ke janin yang menyebabkan sifilis kongenital. Diagnosis sifilis harus selalu didukung hasil laboratorium yang sesuai dengan tetap mengacu hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan serologi sering untuk diagnosis, skrining, dan memantau respons terapi. Sifilis dapat disembuhkan pada tahap awal infeksi, tetapi apabila tidak mendapat pengobatan adekuat dapat menjadi infeksi sistemik dan berlanjut ke fase laten. Laki-Laki Usia 46 Tahun dengan Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB), Sifilis Laten Lanjut, dan HIV. Tatalaksana yang diberikan O2 5 lpm, Infus RL 20 tpm, Inj Ceftriaxone 2gr/24 jam, Solvinex 1 amp/8 jam, paracetamol 3x500mg, DST lini II, TLD 1x1 (pagi), Inj Benzatin B Penisilin 2,4 IU IM single dose (1x/seminggu sampai 3x pemberian), Inj Vit C 1gr/24jam, Itrakonazole tab 2x100mg, Nystatin drop 3xC1, CTM 3x2 tab. Sifilis merupakan infeksi menular seksual disebabkan oleh Treponema pallidum sub spesies pallidum. Manifestasi klinis tergantung stadium primer, sekunder, laten, atau tersier. Terapi sifilis berdasarkan pada stadium klinis.</p> Meidina Putri Pitaloka Milany Harirahmawati Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 362 373 Seorang Laki-Laki Usia 75 Tahun dengan Emfisema Subkutis https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5633 <p>Emfisema subkutis adalah kondisi dimana terdapatnya udara bebas pada jaringan subkutis dinding dada yang menjalar ke jaringan lunak di wajah, leher, dada atas, dan bahu. Tanda dan gejala emfisema subkutis bervariasi tergantung dari penyebab dan lokasi terjadinya. Tanda paling khas emfisema subkutis yaitu oedem dan krepitasi. Berdasarkan tingkat keparahan, emfisema subkutis dibagi menjadi 5 kategori. Penatalaksanaan pada kasus emfisema subkutis derajat berat dapat dilakukan dengan insisi subkutan dan drainase hingga cervical mediastinotomy sebagai opsi terakhir. Sementara itu, pada kasus emfisema subkutis yang bersifat ringan terapi khusus umumnya tidak diperlukan. Terapi juga perlu dilakukan pada penyebab yang mendasari emfisema subkutis. Komplikasi emfisema subkutis adalah gangguan pernafasan dan henti jantung. Laporan kasus ini akan membahas tentang perjalanan dan terapi pasien pasca kecelakaan lalu lintas. Tn. SS usia 75 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan sesak nafas dan bengkak pada hampir seluruh bagian tubuh. Selama perawatan didapatkan pneumothorax dan emfisema subkutis masif. Dilakukan penatalaksanaan dengan metode minimal invasif yaitu insisi multipel dan pemasangan WSD. Evaluasi fungsi paru dan komplikasi paska pembedahan dilakukan selama proses penyembuhan.</p> Farah Nabila Ryani Hitaputra Agung Wardhana Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 374 385 Cephalgia Kronis Et Causa Brain Tumor pada Pasien Pediatric https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/5634 <p>Tumor otak adalah sel-sel jaringan otak yang tumbuh secara abnormal yang asalnya dari otak maupun meningens, yang berupa tumor jinak maupun ganas yang membuat pendesakan desakan secara masif. Pendesakan bisa juga diakibatkan oleh edema di sekitar jaringan tumor sehingga terjadi peningkatan tekanan di daerah intracranial. Space occupying process (SOP) merupakan generalisasi adanya lesi pada ruang intracranial khususnya yang mengenai otak. Cephalgia merupakan gejala umum selama masa anak-anak, mempengaruhi 12,8% anak usia sekolah dan meningkat secara progresif menjadi 49% pada tahun-tahun remaja. Cephalgia mungkin merupakan gejala yang paling dikenal di antara gejala-gejala yang berhubungan dengan tumor otak dan pasien dengan cephalgia sering kali khawatir bahwa mereka mungkin memiliki neoplasma intrakranial. Kami melaporkan pasien anak perempuan berusia 12 tahun dengan diagnosis Cephalgia kronis et causa Brain Tumor yang dibuktikan pada anamnesis, pemeriksaan fisik didapatkan parese nervus VI sinistra dan nervus VII sinistra, UMN, serta pemeriksaan MRI didapatkan adanya massa pada frontoparietalis dextra. Diagnosis dapat ditegakkan lebih awal serta dapat dilakukan tindakan terapi yang sesuai dapat menurunkan angka mortalitas.</p> Ichsan Novianto Erupsiana Fitri Indrihapsari Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 386 398 Anak Perempuan Usia 6 Tahun dengan Anemia Penyakit Kronis, Bronkopneumonia, dan Infeksi Saluran Kemih: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6282 <p>Anemia pada penyakit kronik merupakan bentuk anemia tersering kedua setelah anemia defisiensi besi (ADB) dan yang tersering diantara pasien dengan penyakit kronik. Bronkopneumonia adalah peradangan pada saluran nafas utama dan paru-paru akibat infeksi. Infeksi saluran kemih adalah infeksi yang terjadi pada ginjal dan saluran kemih. Berdasarkan laporan kasus ini, seorang anak perempuan berusia 6 tahun 5 bulan yang mengalami Anemia Penyakit Kronis (APK), Bronkopneumonia, dan Infeksi Saluran Kemih (ISK). Pasien datang ke IGD dengan keluhan utama demam naik turun selama 4 hari, disertai badan lemas, pucat, pusing, nyeri perut, mual, muntah, batuk kering, dan pilek. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya anemia, pembesaran kelenjar getah bening, suara ronki pada paru-paru, serta tanda-tanda infeksi saluran kemih. Diagnosis ditegakkan ditunjang berdasarkan pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan urine, dan rontgen thorax. Tatalaksana yang diberikan meliputi infus cairan, antibiotik, antipiretik, antiemetik, transfusi darah, dan diet khusus. Pada kasus ini, terdapat kombinasi tiga penyakit serius dan membutuhkan penanganan multidisiplin. Meskipun mengalami kondisi serius, pasien menunjukkan perbaikan signifikan dalam waktu singkat sehingga membuktikan efektivitas terapi yang diberikan.</p> Kharisma Antanagara Ida Farida Nurohmah Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 399 412 Seorang Wanita Usia 34 Tahun dengan Abses Mammae Dextra https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6283 <p>Abses mammae adalah akumulasi nanah di jaringan payudara yang sering terjadi pada wanita menyusui akibat mastitis. Kondisi ini dapat menyebabkan gejala nyeri, kemerahan, dan pembengkakan yang signifikan, serta memengaruhi kualitas hidup pasien. Laporan ini membahas kasus abses mammae dextra pada seorang wanita berusia 34 tahun. Tujuan: Menganalisis penyebab, diagnosis, dan penatalaksanaan abses mammae dextra pada pasien serta memberikan wawasan mengenai pendekatan klinis yang optimal. Metode: Pendekatan deskriptif dilakukan berdasarkan data anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan penunjang. Penanganan meliputi insisi dan drainase abses, serta pemberian terapi antibiotik yang sesuai. Hasil: Pasien mengeluhkan nyeri payudara kanan sejak dua minggu sebelum masuk rumah sakit, dengan gejala demam, bengkak, dan kemerahan. Hasil laboratorium menunjukkan leukositosis (13,6 x 10^3/μL) dan anemia ringan. Pasien didiagnosis dengan abses mammae dextra. Intervensi berupa insisi dan drainase berhasil dilakukan, diikuti oleh pemberian antibiotik ampisilin dan analgesik. Pasien menunjukkan perbaikan klinis setelah beberapa hari perawatan. Kesimpulan: Penatalaksanaan abses mammae yang meliputi drainase dan terapi antibiotik efektif dalam mengatasi infeksi dan gejala klinis. Diagnosis dini dan penanganan yang tepat diperlukan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.</p> Alda Amelia Rifat Budi Yuwono Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 413 424 Acute Kidney Injury pada Pasien dengan Chronic Kidney Disease: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6284 <p>Latar Belakang: Acute Kidney Injury (AKI) masih menjadi masalah kesehatan global. Kejadian AKI mencapai 2.000-3.000 juta individu per tahun. AKI dapat terjadi pada kondisi Chronic Kidney Disease (CKD) dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas termasuk hilangnya fungsi ginjal jangka panjang. Penting untuk memahami lebih lanjut mengenai Acute on Chronic Kidney Disease (ACKD) termasuk peran CKD sebagai faktor risiko utama, serta manajemen yang tepat untuk mencegah penurunan fungsi ginjal lebih lanjut. Presentasi Kasus: Pria 58 tahun datang dengan keluhan sesak napas memburuk selama 3 hari terakhir. Terdapat riwayat hipertensi tidak terkontrol dan operasi batu ginjal. Ditemukan adanya ronki pada thoraks. Laboratorium menunjukkan anemia berat, kreatinin 5,4 mg/dL, dan nilai GFR 12 mL/min/1,73 m². USG ginjal menunjukkan hidronefrosis dengan hidroureter. Pasien didiagnosis AKI pada CKD akibat obstruksi. Diskusi: AKI dapat terjadi pada individu yang memiliki CKD karena pasien dengan CKD memiliki gangguan mekanisme autoregulasi ginjal yang mengurangi kemampuan kompensasi terhadap penurunan perfusi ginjal. Diagnosis AKI pada CKD mengacu pada kriteria Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO), melibatkan peningkatan serum kreatinin atau penurunan output urin. Simpulan: AKI pada CKD memperburuk prognosis ginjal. Diagnosis dan intervensi dini penting untuk mencegah komplikasi serius dan meningkatkan kelangsungan hidup pasien.</p> Desita Asri Yulistina Retno Suryaningsih Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 425 438 Seorang Laki-Laki Berusia 53 Tahun dengan Gagal Ginjal Kronis Stadium V: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6285 <p>Gagal ginjal kronis adalah gangguan progresif fungsi ginjal yang ditandai dengan adanya penurunan laju filtrasi glomerulus lebih dari tiga bulan. Kondisi ini menjadi masalah kesehatan global karena dampaknya terhadap kualitas hidup pasien dan angka mortalitas yang semakin meningkat dengan penyebab tersering adalah hipertensi. Prevalensi GGK berdasarkan The Global Burden of Disease Study pada tahun 2017, mencapai 9,1% (697,5 juta) dengan peringkat ke-12 dunia penyebab kematian (sekitar 1,2 juta) akibat GGK. Angka ini akan semakin meningkat terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Berdasarkan RISKESDAS tahun 2018, angka kejadian GGK di Indonesia sebesar 0,38% meningkat dari 0,2% dan 60% diantaranya menjalani hemodialisa. Pada penelitian ini menggunakan metode observasional.</p> <p>Hasil : Seorang laki-laki 53 tahun dengan keluhan bengkak pada kedua tungkai kaki dengan diagnosis gagal ginjal kronis stage V. Diagnosis GGK ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Tatalaksana yang diberikan kepada pasien adalah pembatasan konsumsi cairan, pemberian obat diuretik dan rencana hemodialisa.</p> <p>Kesimpulan: Gagal ginjal kronis merupakan masalah kesehatan serius yang mempengaruhi kualitas hidup pasien, sehingga diperlukan upaya pencegahan progresi perburukan fungsi ginjal pada GGK.</p> Sherly Marchelina Fadhilah Nurluthfi Sari Marcellino Mettafortuna Sephberlian Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 439 449 Laporan Kasus: Seorang Anak Laki-Laki Usia 6 Tahun dengan Diare Cair Akut disertai Dehidrasi Ringan-Sedang https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6286 <p>Diare akut adalah buang air besar yang terjadi lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan perubahan konsitensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang dari satu minggu. Episode diare dibedakan menjadi akut dan persisten atau diare kronis berdasarkan durasinya. Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 14 hari, sementara diare persisten atau diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari. Cara penularan diare pada umumnya melalui fekal oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak langsung tangan dengan penderita atau barang-barang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak langsung melalui lalat. Faktor risiko lainnya adalah makanan yang tidak higienis, tempat penyimpanan makanan dingin yang kurang, kontak makanan dengan lalat, dan mengkonsumsi air minum yang tercemar. Terapi dilakukan sesuai lintas diare dengan pemberian cairan rehidrasi dilanjutkan dengan maintenance, zinc, meneruskan nutrisi melalui makanan yang bergizi, dan membrikan nasihat kepada keluarga. Berdasarkan laporan kasus ini, diketahui seorang anak laki-laki usia 6 tahun 5 bulan datang ke IGD RSUD Ir. Soekarno Kabupaten Sukoharjo dengan diare cair akut disertai dehidrasi ringan-sedang.</p> Wanda Emdia Almansyah Isna Nurhayati Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 450 458 Seorang Laki-Laki Berusia 51 Tahun dengan Tetanus disertai Pneumonia CAP: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6287 <p>Tetanus merupakan masalah kesehatan yang terjadi di seluruh dunia terutama di negara-negara berkembang akibat penyakit ini yang disebabkan karena program imunisasi yang buruk. Tetanus merupakan toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang diproduksi oleh C. tetani ditandai dengan kekakuan dan kejang otot yang berkala dam parah. Neurotoksin ini akan menghambat pelepasannya neurotransmitter di sistem saraf pusat, menyebabkan kekauan otot. Laporan kasus seorang pria berusia 51 tahun datang ke Unit Gawat Darurat RSUD dr. Sayidiman Magetan dengan keluhan utama nyeri telan, pasien merasakan tenggorokan sakit sehinnga sulit untuk menelan makanan dan minuman sejak 2 hari karena terasa nyeri, selain itu pasien mengeluhkan demam sejak 2 hari yang lalu, batuk, kadang sesak, keringat dingin, mual muntah, lemas, pasien mengatakan belum pernah mengalami hal yang sama sebelumnya. Sebelumnya pasien sempat mengalami sakit pada area gigi berlubangnya dan tidak mendapat perawatan yang baik. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit seperti hipertensi maupun DM. Tanda vital 125/78 mmHg, nadi 88 x/menit, respirasi 18x/menit, suhu 37 C, SpO2 97%. Pada pemeriksaan fisik didapatkan trismus, leher kaku, rigiditas perut, opistotonus. Berdasarkan pemeriksaan tersebut, Tn. S 51 tahun didiagnosis dengan tetanus. Pasien diberikan terapi clindamycin 3x1, diazepam 3x1 dan asam folat 2x1.</p> Mawardah Al Nimmah Rio Yunandar Febri Retnosari Mohamad Ananto Cahyoajibroto Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 459 475 Seorang Pria Usia 74 Tahun dengan CKR, Vulnus Laceratum dan Varises: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6288 <p>Varises ini merupakan suatu manifestasi dari sindrom insufisiensi vena dimana pada sindrom ini aliran darah dalam vena mengalami aliran retrograde atau aliran balik menuju tungkai yang kemudian mengalami kongesti. Angka kejadian varises di Indonesia saat ini diperkirakan sekitar 25% sampai 30% pada wanita dan 10% sampai 20% pada pria. Dilaporkan pada salah satu kasus pada seorang pria usia 74 tahun dengan keluhan keluhan nyeri pada luka robek di kepala sebelah kanan post KLL, pusing dan nyeri pada tungkai bawah. Pasien terdiagnosis CKR, vulnus laceratum dan varises dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang. Pada pemeriksaan fisik berupa inspeksi didapatkan vulnus laceratum regio temporo occipital dextra dan vena yang menonjol dan berkelok-kelok. Pada palpasi didapatkan keaadan vena yang abnormal dengan ukuran 6 cm pada tungkai dextra dan 3 cm pada tungkai sinistra. Pada pemeriksaan penunjang CT scan didapatkan soft tissue swelling extracranial ringan regio parietalis dextra dan infarct kecil di centrum semiovale sinistra. Tatalaksana yang diberikan infus asering 20 tpm, injeksi antalgin 1 gr/12 jam kp nyeri, injeksi citicolin 500mg /12 jam, injeksi ranitidine 50 mg /12 jam, injeksi ampicillin 1 gr/8 jam.</p> Azahra Khansa Muza Budi Yuwono Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 476 488 Karsinoma Sel Basal https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6289 <p>Karsinoma Sel Basal (KSB) adalah kanker kulit tipe non melanoma yang berasal dari lapisan basal epidermis dan tidak mengalami keratinisasi. Karsinoma sel basal dikenal juga dengan basalioma atau sel basal epitelioma, penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan sekitar yang cukup besar sehingga mempengaruhi fungsi organ dan penampilan. Karsinoma sel basal sering ditemukan pada area yang terpapar sinar ultraviolet (UV), misalnya di daerah kepala, leher dan banyak ditemukan pada pasien berusia lanjut. Penyakit ini dapat menyerang secara lokal mengakibatkan kerusakan jaringan yang cukup besar sehingga mempengaruhi fungsi dan penampilan. Pertumbuhannya lambat dan jarang metastasis tetapi pada beberapa kasus dapat bersifat sangat agresif dengan infiltrasi cepat dan menghancurkan struktur yang lebih dalam. Insidensi KSB tercatat mencapai 2,75 juta kasus di seluruh dunia pada setiap tahunnya sehingga telah berkembang menjadi masalah kesehatan tersendiri. Di Indonesia, berdasarkan data Badan Registrasi Kanker, Ikatan Ahli Patologi Indonesia, dari 1.530 kasus kanker kulit, terdapat 39,93% kasus karsinoma sel basal sebagai kasus terbanyak.</p> Dwi Atika Milany Harirahmawati Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 489 497 Seorang Perempuan 16 Tahun dengan Periappendicular Infiltrat https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6290 <p>Periappendikular infiltrat atau appendicitis infiltrate merupakan salah satu komplikasi yang dapat terjadi akibat appendicitis atau radang usus buntu. Komplikasi ini terjadi ketika terbentuk massa pada daerah sekitar appendiks, yang diawali oleh appendicitis akut. Appendicitis akut sendiri disebabkan oleh obstruksi pada lumen usus buntu yang terjadi karena beberapa faktor, seperti hiperplasia limfoid, fekalit, fibrosis, benda asing (seperti makanan, parasit, atau kalkuli), serta neoplasia. Gejala klinis yang muncul pada periappendikular infiltrat umumnya mirip dengan gejala appendicitis akut, seperti nyeri perut, mual, dan demam. Pada kasus ini, seorang perempuan berusia 16 tahun dilaporkan mengalami periappendikular infiltrat. Penanganan utama untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan melakukan tindakan operasi, yaitu apendiktomi, yang bertujuan untuk mengangkat usus buntu yang meradang. Dengan operasi ini, diharapkan pasien dapat sembuh dan terhindar dari komplikasi lebih lanjut.</p> Hera Febrianti Juono Prabowo Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 498 504 Seorang Wanita Berusia 70 Tahun dengan Sirosis Hepatitis Dekompensata et Causa Hepatitis B: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6291 <p>Sirosis hepatis dekompensata merupakan tahap akhir dari kondisi patologis hati. Penyakit ini berkembang secara progresif, ditandai dengan perubahan struktur sel hati berupa fibrosis dan pembentukan nodul regeneratif. Prevalensi sirosis hepatis di dunia diperkirakan mencapai 0,3% dalam French Screening Programme, dengan penyebab utama di sebagian besar dunia ialah konsumsi alkohol dan infeksi virus hepatitis. Di Indonesia, diperkirakan sekitar 20 juta orang menderita hepatitis, dengan prevalensi tertinggi pada hepatitis B. Berdasarkan data dari BPJS Kesehatan, pada tahun 2022, terdapat 2.159 orang meninggal akibat sirosis dan kanker hati, yang merupakan komplikasi dari hepatitis kronis yang sering dialami oleh penderita hepatitis B pada stadium lanjut. Laporan ini menunjukkan pasien Wanita usia 70 tahun dengan kondisi lanjut dari sirosis hepatitis yaitu sirosis hepatitis dekompensata. Hasil dari pemeriksaan fisik abdomen didapati sklera ikterik (+/+), shifting dulness, dan edema tungkai (+/+). Berdasarkan dari pemeriksaan laboratorium, tampak adanya peningkatan fungsi hati, lalu dari pemeriksaan USG didaptkan kesan sirosis hepatis dan ascites. Penaganan diberikan untuk menekan progresifitas dari penyakit, menangani komplikasi dan mencegah kompikasi lainnya.</p> Febri Retnosari Fashiha Gusli Marcellino Mettafortuna Sephberlian Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 505 517 Fraktur Komplit Ramus Superior Inferior os Pubis Dextra https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6292 <p>Fraktur adalah hilangnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan epifisis dan atau tulang rawan sendi baik yang bersifat total maupun yang parsial. Fraktur dapat terjadi akibat peristiwa trauma tunggal, tekanan yang berulang- ulang, atau kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologik). Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan, yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, penekukan, pemuntiran, atau penarikan. Fraktur dapat disebabkan trauma langsung atau tidak langsung. Trauma langsung berarti benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu. Trauma tidak langsung bila titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan. Trauma biasanya terjadi secara langsung pada panggul karena tekanan yang besar atau karena jatuh dari ketinggian. Pada orang tua dengan osteoporosis dan osteomalasia dapat terjadi fraktur stress pada ramus pubis. Fraktur pelvis berhubungan dengan injuri arteri mayor, saluran kemih bagian bawah, uterus, testis, anorektal dinding abdomen, dan tulang belakang. Dapat menyebabkan hemoragic (pelvis dapat menahan sebanyak ±4 liter darah) dan umumnya timbul manifestasi klinis seperti hipotensi, nyeri dengan penekanan pada ramus pubis , perdarahan peritoneum atau saluran kemih. Prinsip penanganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan pengembalian fungsi serta kekuatan normal dengan rehabilitasi.</p> Alvina Kusuma Wijaya Alifia Rifki Amanda Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 518 531 Seorang Pria Usia 77 Tahun dengan Hernia Inguinalis Lateralis Dextra: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6293 <p>Hernia inguinalis merupakan kondisi prostrusi organ intestinal yang masuk ke rongga melalui defek atau bagian dinding yang tipis atau lemah dari cincin inguinalis. Insiden hernia inguinalis meningkat seiring bertambahnya usia, terutama pada pria dari dekade kelima hingga ketujuh. Jenis hernia yang paling sering terjadi adalah hernia inguinalis sekitar 75%. Dilaporkan pada salah satu kasus pada seorang pria usia 77 tahun dengan keluhan adanya benjolan pada selangkangan kanan yang mengganggu aktivitas dan semakin membesar. Pasien terdiagnosis Hernia Inguinalis Lateralis dextra dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang. Pada pemeriksaan status lokalis regio Inguinalis Dextra didapatkan benjolan di daerah inguinal dextra, warna sesuai dengan kulit sekitar, tidak ada kemerahan, benjolan tidak dapat masuk sendiri atau menetap dengan posisi pasien berdiri, duduk, mengejan, atau berbaring. Palpasi : teraba benjolan, berbentuk lonjong, tidak nyeri tekan, konsistensi kenyal, benjolan tidak bisa dimasukan dengan jari, dan finger test: benjolan teraba dengan ujung jari, dan pada auskultasi: bising usus (+). Tatalaksana yang diberikan infus RL 500ml/8jam, injeksi ceftriaxone 1gr/12jam, injeksi santagesik 1Amp/8jam dan tindakan operatif yaitu dengan hernia repair.</p> Hania Shofyana Khoirunniza Juono Prabowo Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 532 539 Batu Empedu https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6294 <p>Cholelithiasis adalah kondisi yang ditandai dengan sakit perut mendadak akibat terbentuknya batu di dalam kantung empedu. Penyakit batu empedu juga bisa terjadi di saluran empedu. Sebagian besar batu empedu berasal dari endapan kolesterol yang mengeras dan membentuk batu. Kami melaporkan kasus cholelithiasis pada pasien perempuan berusia 46 tahun. Pasien datang dengan keluhan utama berupa Perut kanan atas terasa penuh sampai kepunggung selama 6 bulan. Pada pemeriksaan terdapat nyeri tekan pafa perut kanan bawah. Pasien mendapatkan penanganan dengan tindakan operatif yaitu dengan cholesistektomi.</p> Garin Jhovany Bakri Hasbullah Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 540 550 Combustio Grade III et Causa Bunga Api (Petir): Sebuah Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6295 <p>Luka bakar merupakan suatu jenis trauma dengan morbiditas dan mortalitas tinggi yang memerlukan penatalaksanaan khusus sejak awal (fase syok) sampai fase lanjut. Luka akibat petir jarang terjadi tetapi berpotensi serius dan mengancam jiwa. Sambaran petir langsung jarang terjadi tetapi sering fatal, melibatkan sekitar 5% dari peristiwa sambaran. Sambaran petir adalah peristiwa yang kompleks yang dapat mengakibatkan spektrum luas luka dari trauma tumpul hingga henti jantung paru. Perawatan dan perhatian khusus harus dilakukan saat mengevaluasi korban sambaran petir. Kami menyajikan seorang wanita berusia 36 tahun yang terkena kembang api (petir) saat mengandarai sepeda motor. Pasien datang ke IGD dengan keaadaan tidak sadar penuh, muntah, terdapat luka bakar berwarna putih sekitarnya kemerahan tidak nyeri dan disertai bulla pada regio punggung. Hari kedua perawatan pasien mengeluhkan telinga berdengung dan muntah-muntah. Selain luka bakar, kami mewaspadai adanya gangguan pada jantung dan organ lainnya di regio kepala, sehingga perlunya pemeriksaan lebih lanjut dan perawatan intensif kepada pasien.</p> Zhela Fatin Fatiha Yudi Eko Prasetyo Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 551 556 Seorang Laki-Laki Usia 38 Tahun dengan Squamous Cell Carcinoma (SCC): Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6457 <p>Karsinoma sel skuamosa adalah neoplasma maligna yang berasal dari keratinizing cell/keratinocytes dari epidermis dengan karakteristik terjadinya anaplasia, tumbuh cepat, menginfiltrasi jaringan sekitar dan mempunyai potensi untuk metastasis. Manifestasi klinis KSS lebih sering dijumpai pada area leher dan kepala pada kulit putih dan pada daerah yang tidak terekspos matahari pada kulit hitam, dan orang asia. Karsinoma sel skuamosa merupakan salah satu dari 10 jenis kanker yang paling sering terjadi diseluruh dunia, insidensi pada pria 5% dan wanita 2%. Penyebab yang pasti tidak diketahui. Dapat timbul dari kulit yang normal (denovo), tetapi biasan yang timbul dari suatu kelainan yang sudah ada sebelumnya. Kebanyakan karsinoma sel skuamosa dapat dihilangkan seutuhnya dengan bedah minor atau kadang-kadang pengobatan terapi. Prognosis kelangsungan hidup jangka panjang (5 tahun) dianggap jelek kalau tebal lesi melebihi 4 mm. Metastasis pada melanoma cenderung terjadi pada tulang, hepar, paru-paru, lien, sistem saraf pusat dan kelenjar limfe.</p> Faridita Khoirun Nisa Arif Budi Satria Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 557 571 Diare Cair Akut dengan Dehidrasi Ringan Sedang https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6458 <p>Diare merupakan salah satu masalah yang sering terjadi pada anak dan dapat menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak di negara berkembang. Diare akut adalah buang air besar yang terjadi pada bayi atau anak lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang dari satu minggu, sedangkan diare persisten atau kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 2 minggu. Anak dengan diare sangat rentan kehilangan banyak cairan dan beresiko mengalami dehidrasi. Laporan kasus ini bertujuan untuk melaporkan seorang anak laki laki yang berusia 8 bulan dengan keluhan diare yang berlangsung lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi cair dan didapatkan juga tanda-tanda dehidrasi. Berdasarkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang pasien masuk didiagnosis dengan diare cair akut dengan dehidrasi ringan-sedang Hari rawat ke lima pasien diperbolehkan pulang dan mendapat obat pulang Cotrimoxazol Susp, L-Bio, dan zinc tablet dan puyer batuk serta diagnosis akhir diare cair akut viral infection dengan dehidrasi ringan-sedang.</p> W Widya Eva Musdalifah Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 572 581 Seorang Wanita Usia 63 Tahun dengan Close Fraktur Femur 1/3 Medial Dextra: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6459 <p>Fraktur adalah suatu diskontinuitas susunan tulang yang disebabkan oleh trauma atau keadaan patologis. Fraktur adalah terputus kontinuitas jaringan tulang dan atau rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. fraktur femur paling sering terjadi pada batang femur 1/3 tengah. Fraktur ekstremitas bawah termasuk kedalam 10 fraktur yang paling sering terjadi pada kasus kecelakaan kenderaan bermotor dimana dari 147.348 kasus fraktur pada ekstremitas bawah. Fraktur dibagi menjadi fraktur tertutup dan terbuka. Gejala klasik fraktur adanya Riwayat trauma, nyeri, bengkak, deformitas, gangguan fungsi muskolaskeletal, dan gangguan neurovascular. Penanganan pada fraktur dilakukannya imobilisasi dengan mengembalikan atau memperbaiki bagian tulang yang patah kedalam bentuk yang mendekati semula. Pasien seorang wanita usia 63 tahun masuk IGD dengan keluhan bengkak pada paha kanan disertai nyeri, pasien habis terjatuh di halaman rumahnya. Pasien memiliki riwayat operasi pada bagian yang sama sebanyak dua kali. Pemeriksaan foto polos menunjukkan hasil shortening dengan overraiding fragmen fraktur pada 1/3 medial os femur dextra. Pada kasus ini fraktur femur dextra dilakukan tindakan ORIF diikuti dengan fiksasi interna.</p> Tia Mella Citra Alifia Rifki Rimanda Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 582 589 Seorang Laki-Laki Usia 31 Tahun dengan Kista Duktus Tiroglosus: Sebuah Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6460 <p>Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang menetap sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. Umumnya ditemukan yaitu sekitar 70% dari seluruh kelainan kongenital di leher dan penyebab massa leher pediatrik kedua paling umum setelah adenopati. Artikel ini menyajikan kasus kista duktus tiroglosus yang bertujuan untuk menegakkan diagnosis dan memberikan penatalaksanaan yang sesuai. Artikel ini merupakan laporan kasus tentang seorang laki-laki usia 31 tahun datang ke poliklinik bedah RSUP Surakarta dengan keluhan benjolan pada garis tengah leher atau jakun. Ditemukan adanya benjolan yang berada pada garis tengah leher atau jakun dan benjolan bergerak ketika menjulurkan lidah, benjolan tidak terasa nyeri. Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang maka diagnosis kerja dari pada kasus ini yaitu kista duktus tiroglosus dan pasien diprogramkan untuk prosedur sistrunk serta pemeriksaan PA yang tidak didapatkan tanda keganasan.</p> Marchall Sheva Winarno Arif Budi Satria Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 590 595 Seorang Wanita Usia 24 Tahun dengan Kusta Multibasiler disertai Eritema Nodusum Leprosum: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6461 <p>Erythema Nodosum Leprosum (ENL) merupakan reaksi tipe 2 pada kusta yang tergolong sebagai hipersensitivitas tipe III. ENL ditandai oleh nodul eritematosa yang nyeri, demam, dan gejala sistemik lainnya. Studi kasus ini membahas seorang wanita berusia 24 tahun dengan kusta tipe multibasiler dan ENL kronik. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan uji penunjang seperti slit skin smear. Terapi melibatkan kortikosteroid oral (prednisolon), methotrexate, antihistamin, dan edukasi pasien. Lesi ENL yang terlokalisasi pada beberapa area kulit menunjukkan keluhan nyeri, pembengkakan, dan inflamasi. Pemeriksaan neurologis mendeteksi gangguan sensoris berupa anestesi pada telapak kaki dan hipostesi pada tungkai. Terapi kortikosteroid dikombinasikan dengan methotrexate sebagai pengurang kebutuhan steroid jangka panjang. Edukasi diberikan terkait pengelolaan diri dan tanda-tanda relaps. Prognosis pasien tergantung pada deteksi dini dan kepatuhan pengobatan. Pendekatan holistik penting untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan mengontrol gejala serta mencegah komplikasi jangka panjang. Studi ini menekankan perlunya diagnosis dan terapi yang cepat serta edukasi berkelanjutan untuk manajemen ENL pada pasien kusta.</p> Purista Tiara Dewi Aris Cahyono Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 596 613 Tatalaksana Kegawat Daruratan dan Komplikasi "Snake Bite" pada Rumah Sakit di Daerah Terpencil https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6462 <p>Indonesia mencatat terdapat 350-370 spesies ular dimana 77 diantaranya merupakan ular berbisa.Tercatat 135.000 kasus gigitan ular dengan kematian 10% dalam 10 tahun terakhir. Kami melaporkan kasus laki-laki 35 tahun yang tergigit ular pada manus 1 pedis sinistra dengan diagnosis Snake bite suspek Bungarus candidus dengan gejala sistemik lain yang bersifat membahayakan keselamatan pasien. Penatalaksanaan secara komprehensif dilakukan mulai dari penatalaksanaan trauma (airway, breathing, circulation, disability, exposure serta secondary survey), penatalaksanaan terhadap kelainan pada metabolik, hematologi, dan infeksi sekunder dilakukan pada pasien ini. Penanganan kasus gigitan ular dimulai dari setelah pasien digigit ular hingga pemantauan kondisi pasien lebih lanjut diperlukan dalam menangani pasien. Keterlambatan penanganan dapat memunculkan efek lokal maupun sistemik yang dapat menimbulkan efek yang fatal pada pasien.</p> Mada Sukma Dytho I Gusti Ngurah Arika Fermiawan Reza Ika Meliani Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 614 622 Seorang Laki-Laki Usia 19 Tahun dengan Human Immunodeficiency Virus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6463 <p>Acquired Immunodeficiency Syndrome adalah sindrom dengan gejala penyakit infeksi oportunistik atau kanker akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus. Virus HIV adalah suatu virus ribonucleic acid (RNA) yang termasuk retrovirus dari famili lentivirus. Kasus ini membahas tentang seorang pasien datang ke IGD RSUD dr. Sayidiman Magetan pada tanggal 25 februari 2024 dengan keluham utama demam sejak 3 hari yang disertai dengan lemas, mual, muntah 1x, nyeri kepala, sariawan (+), diare (+). Hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan HB 10.2 , HCT 29.6, Leukosit 2.7, Trombosit 100, SGOT 63, SGPT 44. Penatalaksanaan medikamentosa diberikan antara lain inf. Pz 20 tpm, pantoprazole 1x1, paracetamol 3x1, diatab 3x2, interlac 1x1.</p> S Shafwatunnisa Mohamad Ananto Cahyoajibroto Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 623 639 Laporan Kasus: Fraktur Tertutup Sepertiga Distal os Humerus Sinistra pada Anak Laki-Laki Usia 13 Tahun https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6464 <p>Fraktur tertutup sepertiga distal os humerus sinistra adalah kondisi di mana terjadi diskontinuitas tulang di bagian distal humerus tanpa adanya luka terbuka. Kasus ini sering terjadi akibat trauma tumpul yang menimbulkan nyeri hebat, keterbatasan pergerakan, dan deformitas pada lengan atas. Laporan ini membahas seorang pasien anak laki-laki berusia 13 tahun yang mengalami fraktur tertutup pada sepertiga distal os humerus kiri. Pemeriksaan awal dilakukan sesuai protokol ATLS untuk menilai kondisi vital pasien dan memastikan tidak adanya komplikasi yang mengancam jiwa. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan radiografi yang menunjukkan fraktur dengan pergeseran segmen distal tulang humerus ke arah lateral dan tipe spiral. Penatalaksanaan awal mencakup stabilisasi lengan menggunakan spalk untuk mengurangi nyeri dan imobilisasi. Penanganan definitif dilakukan dengan prosedur Open Reduction Internal Fixation (ORIF), menggunakan plate dan screw untuk memperbaiki posisi dan stabilitas tulang. Edukasi diberikan kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya pembatasan aktivitas, perawatan luka operasi, dan kemungkinan komplikasi seperti malunion, infeksi, atau cedera saraf radialis. Kasus ini menyoroti pentingnya pendekatan komprehensif dalam penanganan fraktur distal humerus, melibatkan diagnosis yang tepat, teknik pembedahan yang akurat, serta rehabilitasi pascaoperasi untuk memaksimalkan pemulihan fungsi ekstremitas atas. Fraktur ini memiliki prognosis yang baik jika ditangani dengan metode yang sesuai, meskipun risiko komplikasi tetap perlu diantisipasi.</p> Syblia Khorihati Tresna Angga Basunanda Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 640 651 Seorang Pria Berusia 55 Tahun dengan Hepatitis B: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6465 <p>Hepatitis merupakan peradangan sel-sel hati, yang disebabkan karena adanya infeksi, konsumsi obat-obatan, lemak berlebih, alkohol, ataupun penyakit autoimun. Hepatitis B dapat disebabkan karena adanya virus hepatitis B (HBV) dalam tubuh. Gejala hepatitis B dapat berupa simptomatik ataupun asimptomatik yang biasa terjadi pada hepatitis B kronik. Gejala klinis hepatitis B akut biasanya menimbulkan mual, muntah, malaise, dan ikterik yang muncul setelah 1-2 minggu. Prevalensi hepatitis B lebih tinggi dibandingkan dengan hepatitis lainnya dan diperkirakan terdapat 257 juta orang di dunia hidup dengan hepatitis B kronis, di Indonesia prevalensi hepatitis B adalah sebesar 21.8%. Diagnosis dari hepatitis B ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan fisik pada pasien ini didapatkan ikterik pada kedua mata dan badan pasien serta hepatomegali, pada pemeriksaan penunjang didapatkan HBsAg yang positif dan pada pemeriksaan USG didapatkan hasil hepatomegali cenderung hepatitis. Pasien tersebut diberikan tatalaksana berupa tirah baring, diet tinggi energi tinggi protein, dan pemberian obat-obatan simptomatik pada pasien. Kesimpulan pada laporan ini adalah menegaskan pentingnya deteksi dini dan manajemen komprehensif pada pasien hepatitis B akut untuk mencegah perkembangan penyakit. Tatalaksana yang tepat, meliputi terapi suportif dan pola hidup sehat, dapat meningkatkan prognosis dan mendukung pemulihan optimal pada pasien.</p> Fadhilah Nurluthfi Sari Sherly Marchelina Marcellino Mettafortuna Sephberlian Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 652 667 Seorang Wanita 29 Tahun dengan Torsio Kista Ovarium: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6466 <p>Kista ovari adalah pertumbuhan jaringan abnormal yang berbentuk kantung dan berisi cairan pada sekitar ovarium. Torsi atau puntiran kista ovarium terjadi bila kista terpuntir pada tangkai vaskularnya dan mengganggu suplai darah. Patofisiologi torsio kista ovarium adalah bahwa torsio terjadi ketika kista atau massa ovarium memutar ligamennya, menyebabkan gangguan aliran darah yang berpotensi berujung pada iskemia dan nekrosis jaringan ovarium. Faktor risiko termasuk ukuran kista yang besar, kelainan anatomis, kehamilan, atau riwayat pembedahan pelvis. Torsio ovarium sering muncul tanpa gejala spesifik, dan diagnosis biasanya dilakukan melalui pencitraan USG Doppler. Intervensi bedah yang cepat, baik dengan laparoskopi atau laparotomi, diperlukan untuk mencegah kerusakan permanen pada ovarium.</p> Trianda Aghnia Siwi Anggrahaenie Prima Diana Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 668 675 Seorang Anak Laki-Laki Usia 5 Bulan 3 Hari dengan Severe Dengue: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6467 <p>Demam berdarah disebabkan oleh virus dengue yang termasuk dalam famili Flaviviridae dengan 4 stereotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Virus dapat ditularkan oleh nyamuk betina Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kasus infeksi dengue yang tercatat di Indonesia pada tahun 2019 sebesar 138.127 kasus dengan jumlah kematian 919 orang pada tahun 2019. Laporan kasus ini memaparkan pasien seorang anak laki-laki usia 5 bulan 3 hari dengan severe dengue. Penulisan artikel menggunakan metode penelitian deskriptif observasional. Hasil pemeriksaan penunjang menunjukkan penurunan leukosit, penurunan trombosit, peningkatan nilai hematokrit dan pemeriksaan foto polos thorak menunjukkan adanya efusi pleura kanan minimal menjadikan diagnosis sindrom syok dengue. Pasien dilakukan perawatan total selama enam hari dan pasien mendapat perawatan di ruang Intensive Care Unit selama empat hari karena kondisi perburukan pasien. Penanganan terhadap kasus severe dengue pada anak-anak membutuhkan perhatian khusus, diperlukan monitoring ketat serta pemberian terapi, terutama terapi cairan agar tidak mengalami efek samping karena pemberian cairan yang berlebihan.</p> Reza Ika Meliani Gerin Orviyanti Mada Sukma Dytho Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 676 685 Kasus Stroke Infark pada Pasien Hipertensi: Faktor Risiko dan Tatalaksana https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6468 <p>Stroke adalah suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan otot fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko, masalah klinis dan memberikan penatalaksanaan pada pasien stroke infark. Penelitian ini merupakan studi case report dengan menggunakan data primer. Seorang laki-laki berusia 64 tahun, mengeluhkan kelemahan tangan dan kaki sebelah kiri secara tiba-tiba. Diagnosis stroke infark ditegakkan berdasarkan riwayat pasien, hasil pemeriksaan fisik, dan bukti pendukung. Suntikan citicolin dua kali, suntikan omeprazole dua kali, suntikan mecobalamin dua kali, semuanya merupakan bagian dari terapi. Kasus ini di diagnosis dengan stroke infark berdasar anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, sehingga diagnosis yang cepat dan tepat, serta tindakan terapi yang sesuai dapat menurunkan angka mortalitas. Penting untuk membedakan gejala klinis stroke hemoragik dan iskemik. Bila tidak dapat dilakukan CT-scan maka dapat dilakukan CT angiography dan CT perfusion scanning, MRI, Carotid duplex scanning, Digital subtraction angiography. Setelah dapat ditegakkan diagnosis, perlu dilakukan terapi segera agar tidak terjadi iskemik lebih lanjut.</p> Halim Gumelar Edy Rahardjo Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 686 695 Seorang Laki-Laki 79 Tahun dengan Cardiorenal Syndrome, Bronkopneumonia, dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis Eksaserbasi Akut https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6469 <p>Jantung dan ginjal berinteraksi erat untuk menjaga stabilitas hemodinamik dan perfusi organ. Sindrom kardiorenal mencakup spektrum gangguan yang melibatkan jantung dan ginjal, di mana disfungsi akut atau kronis pada satu organ dapat menyebabkan disfungsi akut atau kronis pada organ lainnya. Pasien Tn. MW berusia 79 tahun datang ke RSUD Kabupaten Karanganyar dengan keluhan sesak di dada. Selain sesak, pasien juga mengeluhkan batuk dan bengkak pada kedua tungkai. Keluhan dialami setelah pasien tidak rutin kontrol dan tidak minum obat selama 2 bulan. Cardiorenal syndrom menggambarkan pasien disfungsi ginjal hingga gagal jantung kronik, kelompok pasien ini memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi. Hemodinamik, neurohormonal serta aktivasi simpatis sistem jantung dan ginjal yang berlebihan menyebabkan mekanisme dua arah yang mengurangi fungsi kedua sistem organ. Pemahaman menyeluruh tentang patofisiologi, manifestasi, dan hubungan antara sistem ginjal dan kardiovaskular penting untuk diagnosis dini. Ketepatan terapi akan menjadikan masa perawatan lebih efektif dan lama rawat inap lebih singkat. Pendekatan multidisiplin yang melibatkan ahli jantung dan ahli ginjal sangat penting. Prognosis kelima subtipe tidak seragam, sangat tergantung pada proses penyakit yang mendasarinya.</p> Yasmindra Caroline Purdiatmaja Musrifah Budi Utami Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 696 722 Dermatitis Stasis dan Ulkus Stasis pada Wanita Dewasa dengan Chronic Venous Insufficiency: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6470 <p>Penyakit Vena Kronis (CVD) adalah kelainan umum yang berhubungan dengan gejala stadium lanjut suatu penyakit. Meskipun awalnya tidak menunjukkan gejala, CVD merupakan kelainan umum yang dapat dikaitkan dengan berbagai gejala. Kelas C4 (menurut klasifikasi CEAP) ditetapkan sebagai Chronic Venous Insufficiency (CVI). Dermatitis stasis sebagai manifestasi kulit dari CVI yang disebabkan oleh aliran darah vena retrograde. Ny. D berusia 46 tahun datang ke Poli Klinik Kulit dan Kelamin RS PKU Muhammadiyah Surakarta dengan keluhan terdapat perubahan warna kulit merah kehitaman sebagian pada kedua kaki, tampak luka pada kaki kanan yang sudah mengering, dan pembuluh darah yang melebar di kedua kaki. Pasien merupakan pasien kontrol rutin dengan diagnosis Chronic Venous Insufficiency. Pasien pertama kali periksa di Poli Klinik Bedah Thoraks dan Cardiovaskuler pada 2 tahun yang lalu dengan keluhan bengkak dan nyeri pada kedua kaki.</p> Kharisma Zahrotus Saida Ratih Pramuningtyas Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 723 734 Komplikasi Klinis Pasien DSS dan EDS Anak di RSUD Ir. Soekarno Sukoharjo Periode April 2024-Mei 2024 https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6471 <p>Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan virus dengue dan ditularkan nyamuk Aedes aegypti, manifestasi DBD perdarahan dikulit petechie, purpura, echymosis, epistaksis, perdarahan gusi, melena, hepatomegali, trombositopeni. Dengue Syock Syndrome (DSS) adalah sindroma syok yang terjadi pada penderita Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) menyebar luas tiba tiba. Expanded Dengue Syndrome (EDS) salah satu manifaestasi klinis dari infeksi virus dengue yang melibatkan organ paru, hati, ginjal, jantung, maupun otak dengan atau tanpa ditemukannya tanda kebocoran plasma. Tujuan: Mengetahui komplikasi klinis pasien DSS dan EDS pada anak yang dirawat di RSUD Ir. Soekarno Sukoharjo pada bulan April 2024 – Mei 2024. Metode: Observasional pendekatan deskriptif retrospektif. Penelitian dilakukan di RSUD Ir. Soekarno Sukoharjo menggunakan data sekunder rekam medis. Teknik pengambilan sampel total sampling dengan kriteria inklusi seluruh pasien anak dengan DSS dan EDS yang dirawat inap berdasarkan pendataan rekam medis pada bulan April 2024 – Mei 2024. Hasil: Terdapat 10 kasus yang memenuhi kriteria restriksi. Berdasarkan data demografi, pasien mengalami komplikasi klinis berupa encephalopati, massive bleeding, hipertensi, kematian, dan prolonged syok Kesimpulan: Kejadian DSS dan EDS pada anak di RSUD Ir Soekarno Sukoharjo periode April 2024- Mei 2024, memiliki komplikasi klinis berupa encephalopati (20%), massive bleeding (6%), hipertensi (2%), kematian (2%), dan prolonged syok (2%).</p> Aliza Mibawani Isna Nurhayati Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 735 745 Seorang Anak Laki- Laki 14 Tahun dengan Abses Peritonsil Bilateral https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6472 <p>Abses peritonsil merupakan kumpulan nanah antara kapsul fibrosa tonsil dan otot konstriktor faring. Abses peritonsil unilateral merupakan komplikasi umum dari tonsilitis akut, sedangkan abses peritonsil bilateral jarang terjadi. Insiden abses peritonsil bilateral masih belum diketahui namun diperkirakan mencapai 4,9% dari seluruh kasus abses peritonsillar. Laporan kasus: Seorang laki-laki berusia 14 tahun datang ke IGD dengan keluhan abses peritonsil bilateral dan mengeluh nyeri telan selama dua minggu. Pemeriksaan fisik ditemukan adanya tonsil membengkak T2-T4, hiperemis, uvula membengkak mengarah ke kiri, nyeri tenggorok, dan sulit menelan. Perawatan untuk pasien ini termasuk sayatan dan drainase peritonsil bilateral dan antibiotik intravena ampicilin. Kesimpulan: Kami telah melaporkan abses peritonsil bilateral dimana kami melakukan insisi dan drainase. Penatalaksanaan yang cepat dan tepat diperlukan untuk menghindari kesakitan dan kematian yang tidak diinginkan.</p> Putri Wahyu Wijayanti Nurmala Shofiyati Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 746 752 Seorang Anak Laki-Laki Usia 10 Tahun dengan Webbed Penis: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6473 <p>Webbed penis adalah kondisi ketika kulit skrotum meluas terlalu tinggi ke ventral penis dan membentuk jaringan atau lipatan kulit diantara penis dan skrotum sehingga mengaburkan sudut penoskrotal. Dilaporan kasus seorang anak laki-laki usia 10 tahun dengan keluhan Kulit yang menempel antara penis dan scrotum sejak lahir serta tidak didapatkan keluhan lain, Pada pemeriksaan fisik pada regio inguinal didapatkan penis tampak tenggelam dan tertutup oleh kulit penis. Pada kasus ini tindakan yang dilakukan pada pasien berupa rekontruksi penis. Rekontruksi pada penis menjadi pilihan tatalaksana pada webbed penis. Tujuan dari perbaikan ini adalah memperbaiki sudut penoskrotal. Pada anak anak hal ini dapat dilakukan dengan membuat sayatan kulit horizontal setinggi sudut penoskrotal dan menutup secara longitudinal.</p> Galih Widya Kusuma Hitaputra Agung Wardhana Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 753 760 Laki-Laki Berusia 77 Tahun dengan Hernia Inguinalis Lateralis Reponible Sinistra https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6474 <p>Hernia merupakan penonjolan abnormal isi suatu rongga melalui defek atau bagian yang lemah dari dinding yang bersangkutan. Dilaporkan kasus seseorang lai-laki dengan keluhan benjolan di selangkangan kiri. Benjolan dirasakan sejak 1 tahun yang lalu. Keluhan memberat saat beraktivitas seperti mengangkat barang berat, batuk, dan mengejan, keluhan membaik dengan istiraha. Pada pemeriksaan fisik didapatkan benjolan yang terletak di inguinal sinistra, pada pemeriksaan Ziemen Test, Thumb Test, dan Finger Test didapatkan hasil positif. Tujuan utama dilakukan Hernia repair dan Herniotomy untuk menghilangkan penyebab Hernia, memgurangi gejala klinis, dan mencegah komplikasi. Edukasi dan tatalaksana sesuai pedoman adalah kunci keberhasilan manajemen penyakit.</p> Andhika Huda Yanuarizki Hitaputra Agung Wardhana Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 761 782 Seorang Wanita 46 Tahun dengan Tension Type Headache (TTH): Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6475 <p>Cephalgia adalah nyeri atau sakit sekitar kepala, termasuk nyeri di belakang bola mata serta perbatasan antara leher dan kepala bagian belakang. Sakit kepala pada kenyataannya adalah gejala dan dapat menunjukkan penyakit organik, respon stres, vasodilatasi, tegangan otot rangka, atau kombinasi respon tersebut. Cephalgia dibagi menjadi primer dan sekunder dengan prevalensi Tension Type Headache (TTH) yang merupakan jenis cephalgia primer terbanyak di dunia, diperkirakan sekitar tiga milyar orang mengalami kelainan nyeri kepala, 1.89 milyar dengan TTH dan 1.04 milyar dengan migraine. Tension Type Headache (TTH) adalah nyeri kepala yang disebabkan oleh tegangnya otot pada wajah, leher atau kulit kepala. Pada kasus ini, seorang wanita 46 tahun datang dengan keluhan nyeri kepala terus-menerus selama 1 tahun dan memberat sejak 3 hari, keluhan disertai mual. Pasien memiliki riwayat vertigo dan hipertensi terkontrol. Berbagai pilihan pengobatan yang tersedia untuk manajemen nyeri kepala primer, termasuk intervensi farmakologis dan non farmakologis. Pilihan pengobatan tergantung pada diagnosis pasien, morbiditas, tingkat kecacatan dan preferensi. Manajemen gaya hidup dapat membantu pasien dengan nyeri kepala episodik, seperti sebagai migrain atau nyeri kepala tipe tegang. Manajemen mencakupi identifikasi pemicu, mengoptimalkan tidur, olahraga teratur, reduksi stres dan menjamin keteraturan makan.</p> Khurrun Aini Nazila Ahmad Muzayyin Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 783 792 Seorang Wanita Usia 75 Tahun dengan PPOK Eksaserbasi Akut, Bronkopneumonia, dan Diabetes Melitus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6476 <p>PPOK biasanya disebabkan oleh paparan signifikan terhadap partikel atau gas berbahaya. Hambatan jalan napas pada PPOK disebabkan oleh obstruksi saluran napas kecil (obstruksi bronkiolitis) dan kerusakan parenkim paru (emfisema). Bronkopneumonia adalah infeksi yang mempengaruhi saluran udara masuk ke paru-paru, juga dikenal sebagai bronkus. Keadaan ini terutama disebabkan oleh infeksi bakteri, tetapi juga dapat disebabkan oleh infeksi virus dan jamur. Seorang wanita Ny. M usia 75 tahun, datang ke Poli Paru RSUD Karanganyar dengan keluhan sesak dirasakan sejak 2 minggu yang lalu dan memberat 3 hari yang lalu, sesak disertai batuk berdahak, nyeri dada, nyeri ulu hati, keringat dingin, dan mual.Telah dilaporkan sebuah kasus PPOK disertai dengan bronkopneumonia pada wanita usia 75 tahun. Diagnosis ditegakkan setelah dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada kasus ini, dilakukan pemeriksaan penunjang berupa foto thorax, pemeriksaan darah rutin, elektrolit, hapusan darah tepi.</p> Dimas Bagus Pratama M Musdalifah Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 793 799 Seorang Perempuan Usia 76 Tahun dengan Kolelitiasis: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6477 <p>Kolelitiasis merupakan suatu keadaan dimana terdapatnya batu empedu di dalam kandung empedu (vesica fellea) yang memiliki ukuran, bentuk, dan komposisi yang bervariasi. Kolelitiasis terjadi akibat gabungan beberapa unsur yang membentuk suatu material mirip batu dimana terdapat di dalam kandung empedu. Dilaporkan kasus seorang perempuan usia 76 tahun datang ke IGD dengan keluhan nyeri perut di sebelah kanan atas. Nyeri dirasakan hilang timbul sejak satu bulan yang lalu. nyeri terasa tajam seperti ditusuk, nyeri tidak menjalar. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan pada regio hipokondriaka dextra. Pada hasil USG abdomen pada gallblader menunjukkan terdapat multiple batu dengan ukuran terbesar 1,54 cm. Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada pasien ini maka dapat ditegakkan diagnosis klinis yaitu Kolelitiasis. Dilakukan tatalaksana pembedahan berupa kolesistektomi. Kolesistektomi merupakan baku emas (gold standar) untuk tatalaksana kolelitiasis dengan disertai gejala. Terapi post pembedahan berupa tirah baring, perawatan luka post pembedahan, mobilisasi post pembedahan, diet tinggi protein dan diet rendah lemak.</p> Rr Nadhira Al Fajrie Hitaputra Agung Wardhana Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 800 806 Ketoasidosis Diabetik Campuran Sindrom Hiperglikemik Hiperosmolar https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6478 <p>Ketoasidosis diabetes (KAD) dan Sindrom Hiperglikemik Hiperosmolar (HHS) adalah komplikasi akut hiperglikemi yang umum terjadi pada orang dengan Diabetes Mellitus (DM). KAD umumnya dialami oleh penderita DM tipe 1, sedangkan HHS lebih sering didapati pada DM tipe 2, walaupun dapat terjadi sebaliknya. Meskipun KAD secara klinis dibedakan dengan HHS, dimana pada KAD didapati kondisi hiperglikemi dengan asidosis metabolik dan ketosis, sedangkan pada HHS ditandai dengan hiperglikemia ekstrim dan hiperosmolalitas tanpa ketosis, 2 kondisi ini dapat ditemukan secara bersamaan, yang menimbulkan dilema dalam penatalaksanaannya. Kami melaporkan kasus KAD campuran HHS pada seorang wanita 55 tahun di RSUD Ir. Soekarno Sukoharjo dengan keluhan tak sadarkan diri. Keadaan Umum pasien tampak sakit berat dengan GCS E1V2M2. Hasil pemeriksaan darah rutin didapatkan GDS 692 mg/dL, pH Darah 7.18, dan Natrium 151.3 mmol/L. Pasien kemudian mendapatkan penanganan berupa pemasangan DC, infus NaCL 0.9% 30 tpm, O2 nasal canul 4 lpm, syringe pump Insulin Aspart 50 U, 10 IU/ 2 jam, injeksi insulin Aspart 6 U/mL per 8 jam, injeksi Insulin Glargine 10 U/mL per 24 jam, beserta terapi penunjang lainnya.</p> Hilwamadda Arrumaisha Rosa Priambodo Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 807 816 Katarak Senilis Matur Oculus Dextra pada Laki-Laki 62 Tahun https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6479 <p>Gangguan penglihatan masih menjadi permasalahan utama di Indonesia sekitar 80% disebabkan oleh katarak. Gangguan penglihatan tidak hanya berpengaruh kepada penglihatan tetapi berpengaruh kepada seluruh aspek kehidupan penderitanya. Jadi gangguan penglihatan itu berpengaruh terhadap kualitas hidup orang yang menderitanya. Tuan D datang dengan keluhan pandangan kabur dirasakan pada mata kanan dan kiri sejak lima bulan yang lalu. Pada pemeriksaan fisik keadaan umum lemah, tanda vital dalam batas normal, visus kanan 1/~ dan kiri 1/60, kamera okuli anterior mata kanan dalam, dan mata kiri dangkal, jernih, iris berwarna coklat, kedua pupil bulat, letak sentral, pupil kanan berukuran 3mm, pupil kiri berukuran 4mm lonjong, dan reflek pupil +/+. Lensa kanan keruh padat dan kiri keruh kurang padat. Tekanan bola mata didapatkan 10-10 dengan tonometri. Tatalaksana untuk katarak meliputi tindakan bedah yaitu EKIK dan EKEK. Pasien tersebut direncanakan untuk dilakukan operasi katarak. Prognosis pasien ini baik karena katarak merupakan suatu kekeruhan lensa yang dapat diperbaiki dan dapat memperbaiki kualitas hidup pasien.</p> Fiqi Rahardian Arismar Ida Nugrahani Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 817 826 Seorang Perempuan Usia 64 Tahun dengan Keratokonjungtivitis: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6480 <p>Latar Belakang: Keratokonjungtivitis merupakan inflamasi pada konjungtiva dan kornea yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk infeksi, alergi, atau gangguan sistemik. Penyakit ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan yang signifikan jika tidak ditangani dengan tepat.</p> <p>Laporan Kasus: Seorang perempuan berusia 64 tahun datang dengan keluhan mata kanan terasa mengganjal, kemerahan, nyeri, gatal, penglihatan buram, serta sekret mukopurulen yang menetap meskipun telah menggunakan obat tetes mata. Pemeriksaan oftalmologi menunjukkan hiperemi konjungtiva, infiltrat kornea, serta sekret mukopurulen yang mengarah pada diagnosis keratokonjungtivitis. Pasien diberikan terapi antibiotik topikal, antiinflamasi, dan analgesik, serta dijadwalkan kontrol untuk evaluasi klinis lebih lanjut.</p> <p>Kesimpulan: Keratokonjungtivitis dapat menyebabkan gangguan penglihatan yang serius apabila tidak dideteksi dan ditangani secara tepat. Diagnosis yang akurat melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan oftalmologi sangat penting dalam menentukan terapi yang sesuai. Dengan penatalaksanaan yang tepat, prognosis pasien umumnya baik tanpa gangguan penglihatan jangka panjang.</p> Ocean Maxmillion Harist Nigel Xavier Ida Nugrahani Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 827 835 Seorang Laki-Laki Berusia 66 Tahun dengan Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6481 <p>Gangguan Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) merupakan vertigo yang disebabkan oleh perubahan posisi kepala atau badan terhadap gaya gravitasi dan disertai gejala mual, muntah dan keringat dingin. BPPV merupakan gangguan yang terjadi di telinga dalam dengan gejala vertigo posisional yang terjadi secara berulang-ulang dengan tipikal nistagmus paroksimal. Pada tulisan ini membahas seorang laki-laki berusia 66 tahun dengan diagnosis Benign Paroxysmal Positional Position (BPPV). Pada awalnya, pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan pusing berputar serta memberat jika beraktivitas, dan disertai mual. Tidak ada riwayat Vertigo sebelumnya. Penatalaksanaan BPPV meliputi non farmakologis dan farmakologis. Penatalaksanaan yang sering digunakan adalah non farmakologis yang meliputi manuever seperti manuever Epley, manuever Semount, manuever Lempert, forced prolonged position and Brandt-Daroff Exercise.</p> Rahardyan Surya Basusena Ahmad Muzayyin Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 836 853 Seorang Anak Usia 11 Tahun dengan Febris Hari ke 4 et Causa Dengue Hemorragic Fever https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6482 <p>Infeksi virus dengue ditularkan melalui gigitan vektor nyamuk Stegomiya aegepty dan stegomiya albopictus, Indonesia keempat serotipe virus dengue tersebut dapat ditemukan dan DENV-3 yang paling virulen. Kami melaporkan kasus seorang anak perempuan berusia 11 tahun 5 dengan keluhan demam naik turun sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, keluhan disertai pusing cekot-cekot, mual, nyeri perut bagian atas, lemas, nafsu makan menurun, rasa haus tidak meningkat. Pemeriksaan fisik didapatkan mata cowong, epistaksis, tidak ditemukan edema palpebra, gusi berdarah. Pemeriksaan thoraks tidak ditemukan efusi pleura. Pemeriksaan abdomen tidak ditemukan hepatomegali, Splenomegali, petekie, pekak beralih, penurunan turgor, bising usus normal. Pemeriksaan ekstremitas didapatkan akral hangat dan CRT &gt;2 detik, pada tahun 2020 pasien menderita penyakit yang sama dengan dirawat di rumah sakit. Pasien mendapatkan terapi Rehidrasi infus RL 225 cc/ jam selama 3 jam, pasien juga sempat diterapi resusirasi syok pada hari pertama dirawat dengan infus RL 270 cc selama 2 jam, lanjut RL 189 cc/ jam, Maintence 135 cc/ jam, Paracetamol syr 3x2 ½ cth/ 4 jam, injeksi paracetamol 270 mg/4 jam, Injeksi Ondansentron 4 mg/8 jam, Inejeksi Ranitidin 30 mg/12 jam, Injeksi Asam Traneksamat 250 mg 2x1.</p> Muhammad Umar Alfaruq Eva Musfalifah Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 854 868 Seorang Wanita Usia 22 Tahun dengan Penyakit Glaukoma Dextra https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6483 <p>Mata adalah salah satu indera yang penting, hampir 80% informasi diserap melalui sistem visual. Namun fungsi visual juga rentan terhadap berbagai gangguan/kelainan dari yang ringan sampai yang dapat berakibat kebutaan. Upaya mencegah dan menanggulangi gangguan penglihatan dan kebutaan. Glaukoma adalah kelainan pada saraf mata yang ditandai dengan neuropati optik disertai hilangnya lapang pandang yang khas dengan peningkatan tekanan intraokular sebagai faktor risiko utama. Saat ini glaukoma menduduki urutan kedua penyebab kebutaan terbanyak di Indonesia dan dunia. Klasifikasi glaukoma dapat dilakukan berdasarkan beberapa kriteria. Berdasarkan etiologinya glaukoma diklasifikasikan sebagai glaukoma primer, glaukoma sekunder dan glaukoma kongenital. Kebutaan akibat glaukoma pada tipe tertentu semestinya dapat dicegah karena kebutaan akibat glaukoma termasuk dalam kelompok kebutaan yang dapat dicegah. Masalah yang sering dihadapi adalah kurangnya kesadaran/kewaspadaan tentang glaukoma. Hal ini dapat dilatar belakangi kurangnya pengetahuan para petugas kesehatan tentang glaukoma terutama dalam hal mengenali dan menegakkan diagnosis.</p> Syafii Nanda Nuraini Ida Nugrahani Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 869 873 Seorang Perempuan Usia 28 Tahun dengan Parotitis Bilateral https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6484 <p>Parotitis merupakan suatu infeksi pada kelenjar parotis yang umumnya disebabkan oleh virus Paramyxovirus, terutama virus mumps. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak, tetapi juga dapat menyerang orang dewasa. Laporan kasus ini bertujuan untuk mendeskripsikan manifestasi klinis, penatalaksanaan, serta luaran dari seorang pasien perempuan berusia 28 tahun yang mengalami parotitis bilateral dan menjalani perawatan di RSUD Karanganyar. Metode yang digunakan dalam laporan ini meliputi analisis riwayat medis, pemeriksaan fisik, serta evaluasi terhadap terapi yang diberikan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pasien mengalami demam dengan suhu tubuh 37,9 °C, nyeri saat menelan, serta pembengkakan yang nyata pada area leher selama delapan hari. Pemeriksaan fisik mengungkapkan adanya pembesaran kelenjar parotis bilateral yang disertai nyeri. Penatalaksanaan yang diberikan mencakup pemberian analgesik, cairan intravena, dan terapi suportif lainnya. Berdasarkan laporan ini, parotitis bilateral pada pasien dewasa dapat ditangani dengan terapi suportif yang optimal, termasuk pengelolaan nyeri dan hidrasi yang adekuat. Deteksi dini serta penanganan yang tepat memiliki peran penting dalam mencegah komplikasi yang lebih serius.</p> Imam Muchlis Sukhufam YM Agung Prihatiyanto Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 874 884 Laporan Kasus: Seorang Laki-Laki Usia 56 Tahun dengan Hipertensi, Stroke Recurrent, Coronary Artery Disease ec Atrial Fibrilasi Unstable, Ventricular Extrasystole https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6485 <p>Stroke sindrom yang terjadi akibat gangguan fungsi otak fokal atau global, terjadi secara mendadak disebabkan oleh gangguan serebrovaskular. Stroke berulang atau stroke reccurent atau biasa di sebut stroke sekunder/ stroke serangan ke dua dan setelahnya. Serangan stroke berulang ini lebih fatal dari stroke primer sebab area kerusakan otak bertambah luas dari sebelumnya. Coronary Artery Disease (CAD) merupakan suatu gangguan fungsi jantung yang disebabkan karena otot miokard kekurangan suplai darah akibat adanya penyempitan arteri koroner dan tersumbatnya pembuluh darah jantung. Kondisi ini dapat mengakibatkan perubahan pada berbagai aspek, baik fisik, psikologis, maupun sosial yang berakibat pada penurunan kapasitas fungsional jantung dan kenyaman. Berdasarkan laporan kasus ini, diketahui seorang laki-laki usia 56 tahun datang ke IGD RSUD Hardjono Ponorogo 26 Januari 2024 pagi hari, diantar oleh keluarga dengan keluhan sulit bicara, lemah anggota gerak sebelah kanan, nyeri dada, sesak nafas, sulit menelan. Pasien mendapat terapi Inf. asering 16tpm, inj. citicoline 500mg/ 12j, inj. piracetam 1gr/8j, P.O Biocombin 2x1g, P.O Ramipril 1x5mg, P.O Bisoprolol 1x2,5mg, P.O Notisil 1x2mg.</p> Bagus Oktofa Haryanto Setyo Utomo Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 885 899 Anak Perempuan Berusia 15 Tahun dengan Otitis Media Akut Stadium Perforasi Auricula Dextra https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6486 <p>Otitis media akut adalah infeksi telinga tengah yang merupakan penyakit multifaktorial seperti infeksi, alergi, dan lingkungan, yang sering diawali dengan infeksi saluran nafas atas sehingga menyebabkan gangguan fungsi tuba Eustacius. Otitis media akut sering disebebkan oleh infeksi bakteri. Otitis media dapat mengenai pada semua usia, paling sering pada usia antara 6 bulan hingga 24 bulan. Dengan demikian anak yang menderita infeksi saluran pernafasan atas perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui adakah keterlibatan otitis media. Laporan kasus ini melaporkan seorang anak perempuan berusia 15 tahun yang dibawa ke poli THT-KL RSUD Ir Soekarno Sukoharjo dengan keluhan telinga berdenging sebelah kanan, sejak 5 hari yang lalu disertai penurunan pendengaran. Pasien mengatakan juga anaknya telinga terkandang terasa gatal dan nyeri pada sebelah telinga kanannya. Keluar cairan warna kuning dan berbau tidak sedap di telinga kanannya. Pasien memiliki kebiasaan sering mengorek telinga dengan cotton bud dan jari tangannya. Pada pemerikaan telinga sebelah kanan terdapat membran timpani tampak adanya perforasi , cone of light menghilang, dan hiperemis. Telinga sebelah kiri terdapat membran intak dan cone of light, tidak tampak perforasi dan hiperemis. Tatalaksana pada pasien diberikan antibiotik dan analgetik yang di berikan selama 3 hari, dan di observasi kembali untuk melihat perkembangannya.</p> Fathin Mufidah Nurmala Shofiyati Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 900 907 Studi Kasus: Tumor Nasofaring pada Pria 59 Tahun dengan Dugaan Kanker Nasofaring https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6487 <p>Karsinoma nasofaring (KNF) adalah kanker sel skuamosa yang berasal dari epitel permukaan nasofaring, dengan perkembangan yang umumnya terjadi di sekitar ostium tuba Eustachius pada dinding lateral nasofaring. Di Indonesia, KNF merupakan jenis kanker kepala leher yang paling sering, menyumbang 28% dari seluruh kanker THT-KL. Berdasarkan data GLOBOCAN 2012, insidens KNF di Indonesia tercatat 5,6 per 100.000 penduduk per tahun, dengan prevalensi tertinggi pada usia 40-50 tahun dan rasio pria dan wanita 2,3:1. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada tiga klasifikasi histologi kanker nasofaring yang perlu diperhatikan.Tujuan dar laporan kasus ini adalah untuk menilai karakteristik klinis pasien dengan karsinoma nasofaring. Laporan Kasus: Seorang pria berusia 59 tahun datang ke poli dengan keluhan dahak bercampur darah selama dua bulan, disertai sakit kepala, penurunan pendengaran pada telinga kanan, dan benjolan nyeri di leher. Pada pemeriksaan fisik, ditemukan limfadenopati pada sisi kanan dan kiri serta hipertrofi konkha pada kedua sisi. Pemeriksaan endoskopi hidung menunjukkan adanya massa tumor pada fossa Rosenmüller bilateral. Untuk memastikan diagnosis, direncanakan pemeriksaan lanjutan berupa biopsi massa tumor nasofaring. Langkah ini penting untuk menentukan apakah massa tersebut merupakan karsinoma nasofaring, sehingga dapat diberikan tatalaksana yang tepat berdasarkan hasil diagnosis yang akurat.</p> Nurhasyanah Fatmasari Dony Hartanto Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 908 917 Seorang Wanita Berusia 59 Tahun dengan Myofascial Trigger Point Syndrome Paralumbal Sinistra: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6488 <p>Myofascial Trigger Point Syndrome (MTPS) merupakan nyeri otot regional yang berasal dari suatu titik tertentu pada suatu otot yang mengakibatkan spasme pada otot dan rasa nyeri yang parah. Penyakit ini ditandai dengan adanya gejala motorik, sensorik, dan gejala otonom. Prevalensi yang dilaporkan memiliki rentang dari 95% pada pasien dengan nyeri muskuloskeletal. Penyebab umum penyakit ini dapat berupa trauma langsung maupun tidak langsung, kondisi patologis tulang belakang, paparan terhadap tegangan yang berulang dan kumulatif, atau postur tubuh yang tidak sesuai. Disajikan laporan kasus pada seorang wanita berusia 59 tahun dengan keluhan nyeri punggung kiri bawah yang menjalar. Pemeriksaan fisik pada regio spine didapatkan adanya asimetris bahu, asimetris lipatan lemak, nyeri tekan pada paralumbal sinistra, trigger point pada paralumbal sinistra, nyeri gerak, dan fleksibilitas trunk terbatas. Pemeriksaan penunjang MRI lumbal tanpa kontras didapatkan kesan stenosis lumbosacral, spondilolisthesis, dan osteoporosis. Tatalaksana rehabilitasi medik yang diberikan adalah fisioterapi berupa latihan stabilitas postur dan Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS).</p> Niken Mafatiha Nafila Retno Setianing Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 918 926 Seorang Wanita Usia 35 Tahun dengan Penyakit Bronkopneumonia disertai Efusi Pleura: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6489 <p>Banyak faktor penyakit paru dan pernafasan terus meningkat dan mempunyai aspek kesehatan masyarakat yang luas. Bronkopneumonia adalah infeksi yang mempengaruhi saluran udara masuk ke paru pada bronkus. Efusi pleura adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan adanya penimbunan cairan dalam cavum pleura. Laporan kasus ini akan membahas wanita 35 tahun dengan penyakit paru bronkopneumonia dan efusi pleura. Diagnosis telah ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, serta telah ditatalaksana dengan medikamentosa, non-medikamentosa dan edukasi. Pasien Ny. P usia 35 tahun datang dengan keluhan sesak kurang lebih 2 minggu terasa hilang timbul disertai napas terengah engah saat berjalan. Pemeriksaan fisik didapatkan hasil ronkhi di kedua lapang paru. Dilakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan darah lengkap, rontgen thoraks, ultrasonografi abdomen, analisis gas darah. Pasien dilakukan rawat inap dengan diberikan tatalaksana oksigen nasal canul, nebulizer, antibiotik, mukolitik, PPI, pungsi pleura.</p> Fahriza Mei Trihatmoko Maria Reciana Setiailani Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 927 937 Wanita 42 Tahun dengan Cushing Syndrome, Bronkopneumonia, Gerd, Infeksi Saluran Kemih, Hipertensi, dan Tinea Incognito https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6490 <p>Cushing's Syndrome adalah suatu penyakit yang ditandai dengan kumpulan tanda dan gejala karena pengaruh kadar hormon kortisol yang beredar secara berlebihan di dalam tubuh. Pneumonia adalah radang akut yang menyerang jaringan paru dan sekitarnya. GERD adalah suatu keadaan patologis akibat refluks kandungan lambung ke dalam esofagus dengan berbagai gejala akibat keterlibatan esofagus, faring, laring dan saluran napas. Infeksi pada saluran kemih biasanya terjadi karena kurangnya faktor kebersihan sehingga bakteri menginfeksi saluran kemih. Tinea inkognito adalah infeksi dermatofita yang telah kehilangan manifestasi khas gambaran klinisnya, sehingga dapat menyerupai gambaran penyakit kulit lainnya.</p> Ilham Edgar Fadhila Chandra YM Agung Prihatiyanto Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 938 949 Tuberkulosis Orcitis: Sebuah Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6491 <p>Latar Belakang: Tuberkulosis orcitis merupakan salah satu infeksi tuberkulosis ekstra paru yang jarang terjadi. Tuberkulosis orcitis dapat disebabkan oleh penyebaran hematogen Mycobacterium tuberculosis yang berasal dari paru. Menegakkan diagnosis tuberkulosis orcitis masih menjadi tantangan bagi setiap dokter.</p> <p>Ilustrasi Kasus: Seorang laki-laki berusia 69 tahun datang dengan keluhan nyeri pada skrotum sejak 1 bulan yang lalu, keluhan dirasakan hilang timbul, keluhan disertai berat badan menurun, batuk berdahak dan demam naik turun. Dari pemeriksaan skrotum didapatkan skrotum membesar disertai warna kemerahan, pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis 16.16 103/ul Pada foto toraks didapatkan infiltrat pada lobus atas paru kiri. Hasil pemeriksaan tes cepat molekular didapatkan Mikrobakterium Tuberkulosis detected medium, rifampicin resistance not detected. Dilakukan biopsi pada skrotum dan didapatkan gambaran sel datia langhans yang menunjukkan peradangan kronik granulomatosa yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.</p> <p>Kesimpulan: Tuberkulosis orcitis dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan laboratorium yang menyeluruh. Deteksi dini penyakit ini dapat mengurangi gejala pada pasien tersebut.</p> Syifa Ramadhani Susilo Joko Susilo Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 950 953 Seorang Wanita 13 Tahun dengan Cedera Kepala Ringan https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6492 <p>Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian utama dikalangan usia produktif khususnya dinegara berkembang. Cedera kepala merupakan cedera mekanik yang secara langsung atau tidak langsung mengenai kepala yang mengakibatkan luka kulit kepala, fraktur tulang tengkorak, robekan selaput tengkorak, robekan selaput otak dan kerusakan jaringan otak itu sendiri serta mengakibatkan gangguan neorologis. Insiden cedera kepala terutama terjadi pada kelompok usia produktif antara 15-44 tahun. Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab 48%-53% dari insiden cedera kepala, 20%-28% lainnya karena jatuh dan 3%-9% lainnya disebabkan tindak kekerasan, kegiatan olahraga dan rekreasi. Penegakan diagnosis terhadap cedera kepala yaitu anamnesis, pemeriksaan fisik berupa survei primer dan sekunder, pemeriksaan penunjang laboratorium dan CT-Scan. Studi ini merupakan laporan kasus cedera kepala ringan, yaitu seorang wanita berusia 13 tahun datang ke IGD RSUD Karanganyar karena kecelakaan lalu lintas dengan keluhan pusing. Setelah dilakukan anamesisn, pemeriksaan fisik dan penunjang pasien didiagnosis dengan cedera kepala ringan.</p> Rizka Aurina Dwindasari Juono Prabowo Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 954 981 Seorang Perempuan 53 Tahun dengan Closed Fracture Ankle Sinistra https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6493 <p>Fraktur adalah rusaknya kontinuitas dari struktur tulang, tulang rawan, fraktur dapat disebabkan oleh trauma langsung maupun tidak langsung. Peningkatan insiden fraktur radius distal sebanding dengan peningkatan usia. Kejadian fraktur radius distal di bawh usia 50 tahun yaitu sekitar 9 per 10.000 0rang per tahun tanpa memandang jenis kelamin. Pada wanita, insiden fraktur meningkat tajam dari usia diatas 50 tahun dan meningkat dua kali lipat dengan setiap interval usia 10 tahun sampai usia 70 tahun dan mencapai puncaknya setelah usia 90 tahun yaitu 144 per 10 orang/tahun. Studi ini merupakan laporan kasus fraktur ankle sinistra, yaitu seorang perempuan berusia 53 tahun datang ke IGD RSUD Karanganyar karena nyeri pada kaki kiri setelah terpeleset di lantai. Setelah dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang pasien didiagnosis dengan fraktur ankle sinistra.</p> Salsabila Ulima Hidayati Alifia Rifki Rimanda Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 982 994 Uji Efektivitas Antibakteri Ekstrak Jahe Merah (Zingiber officinale) terhadap Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6494 <p>Latar belakang: Indonesia merupakan salah satu negara di daerah tropis. Kondisi seperti ini berpotensi menjadi penghasil tanaman obat dunia. Jahe merah termasuk komoditas obat dan rempah dalam temu-temuan. Staphylococcus aureus dan Escherichia coli adalah bakteri komensal namun bisa menimbulkan penyakit pada manusia.</p> <p>Tujuan: Mengetahui potensi Jahe Merah sebagai antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus serta mengetahui efektivitas antibakteri jahe merah dibandingkan dengan ciprofloxacin.</p> <p>Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratorium dengan desain post test only controlled group. Metode menggunakan sumuran, terbagi menjadi empat konsentrasi yaitu 25%, 20%, 75%, dan 100%. Kontrol negatif menggunakan aquadest dan kontrol positif menggunakan ciprofloxacin. Hasil: Data yang didapatkan diuji statistik non-parametrik Kruskall Wallis mendapat nilai signifikansi 0.001 pada bakteri Escherichia coli dan nilai 0.012 pada bakteri Staphylococcus aureus.</p> <p>Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan zona daya hambat tertinggi oleh ekstrak jahe merah dengan konsentrasi 50% mendapat rerata 13.58mm untuk bakteri Staphylococcus aureus dan konsentrasi 25% mendapat rerata 8.1mm untuk bakteri Escherichia coli. Kesimpulan, ekstrak jahe merah memiliki efektivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus namun belum mampu menyamai daya hambat dari ciprofloxacin.</p> Narendra Putra Adi Pamungkas Devi Usdiana Rosyidah Retno Sintowati N Nurhayani Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 995 1004 Seorang Pria Berusia 62 Tahun dengan Hernia Inguinalis Medial Dextra Ireponible disertai Hipertensi dan Diabetes Melitus: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6495 <p>Hernia adalah penonjolan abnormal isi rongga perut melalui bagian lemah dari dinding perut yang rusak. Hernia dapat di klasifikasikan menajdi beberapa jenis yaitu hernia inguinalis, hernia umlikus,hernia femoralis, hernia diafragmatika. Sekitar 75% hernia terjadi di sekitar lipat paha, berupa hernia inguinal direk, indirek serta hernia femoralis; hernia insisional 10%, hernia ventralis 10%, hernia umbilikus 3% dan hernia lainnya sekitar 3%. Pria berusia 62 tahun dengan hernia inguinalis medial dextra ireponible disertai hipertensi dan diabetes melitus. keluhan terdapat benjolan di scrotum kanan dan terasa sangat nyeri. Benjolan di scrotum diakui sejak 4 tahun lalu. Benjolan keluar saat batuk terlalu kencang. Benjolan awalnya kecil dan lama kelamaan membesar Pada umumnya. Buang air kecil dan buang air besar tidak ada keluhan . keluhan ini umum pada orang dewasa berupa benjolan di lipat paha yang timbul pada waktu mengedan. Batuk atau mengangkat benda berat, dan menghilang waktu istirahat baring. Pemeriksaan hernia sederhana yang dapat dilakukan meliputi finger test, ziemen test dan thumb test.</p> Pendy Tri Hambodo Budi Yuwono Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 1005 1018 Laki-Laki Usia 16 Tahun dengan Hidradenitis Suppurativa: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6496 <p>Latar Belakang: Prevalensi kejadian Hidradenitis Suppurativa (HS) diperkirakan 4,1%. Kejadian terbanyak pada masa pubertas sampai dewasa muda, dan masa klimakterik dengan onset rata-rata pada umur 23 tahun. Penyakit ini dilaporkan lebih sering pada perempuan, dengan perbandingan antara 2:1 hingga 5:1.</p> <p>Tujuan: Artikel ini menyajikan kasus Hidradenitis Suppurativa, yang bertujuan untuk menegakkan diagnosis, memberikan penatalaksanaan yang sesuai, dan mempertimbangkan potensi risiko terjadinya Hidradenitis Suppurativa.</p> <p>Metode:Artikel ini merupakan laporan kasus tentang seorang anak laki-laki berusia 16 tahun datang ke poliklinik RSUD Kabupaten Karanganyar dengan keluhan terdapat benjolan di ketiak kanan dan kiri.</p> <p>Hasil: Pemeriksaan dermatologis seluruh tubuh menunjukkan Papul multiple pada ketiak kanan kiri. Pendekatan pengobatan utama adalah tindakan operatif dengan metode eksisi untuk menghilangkan benjolan. Terapi sistemik juga dapat dipertimbangkan seperti penggunaan antibiotik, analgetik, dan salep kortikosteroid.</p> <p>Kesimpulan: Diagnosis Hidradenitis Suppurativa pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis pasien dan pemeriksaan fisik . Edukasi faktor risiko dan pemilihan obat sesuai keluhan merupakan kunci keberhasilan terapi pada pasien iktiosis lamelar.</p> Andrea Safira Salsabila Milany Harirahmawati Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 1019 1029 Seorang Perempuan Usia 61 Tahun dengan Chronic Myeloid Leukemia: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6497 <p>Chronic Myeloid Leukemia (CML) merupakan jenis leukemia yang berkembang perlahan dan melibatkan sel darah putih myeloid di sumsum tulang. (CML) disebabkan oleh kelainan klonal dari sel pluripoten, menyebabkan terjadinya tranlokasi pada kromosom 9 dan 22 yang menghasilkan onkogen BCR-ABL. Faktor genetik dan factor lingkungan yang meliputi paparan radiasi dan bahan kimia berbahaya dapat menyebabkan terjadinya CML. Sebagian besar pasien CML merupakan pasien CML fase kronik (CP-CML). Dalam kasus ini dilaporkan seorang perempuan berusia 61 tahun di bangsal seruni RSUD Dr. Harjono S. Ponorogo mengeluhkan badan lemas sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit keluhan disertai adanya perut terasa nyeri dan keras pada bagian kiri atas. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya splenomegaly serta pemeriksaan darah lengkap didapatkan hasil anemia, dan leukositosis. Pada pemeriksaan hapusan darah tepi didapatkan hasil yang mendukung diagnosis CML fase kronik. Maka dari kasus klinis yang kami temukan, kami tertarik untuk membahas kasus ini beserta kriteria diagnosis dan tatalaksananya.</p> Zeindhita Arum Anggriyanti Khairunnisa JC Wijaya Nahda Aqila Asna Rosida Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 1030 1039 Gangguan Skizoafektif Tipe Mania: Sebuah Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6498 <p>Gangguan skizoafektif merupakan bagian dari sekelompok diagnosis penyakit mental dalam spektrum skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya. Gangguan ini menunjukkan gejala skizofrenia serta gejala gangguan afektif. Banyak orang dengan gangguan skizoafektif sering kali salah didiagnosis dengan gangguan bipolar atau skizofrenia pada awalnya karena gejalanya yang mirip dengan beberapa kondisi kesehatan mental tersebut. Kami menyajikan sebuah kasus seorang wanita berusia 54 tahun dengan beberapa riwayat pengobatan dan rawat inap psikiatri, pasien datang ke ruang gawat darurat dengan keluahan utama agitasi. Kami menganalisis catatan klinis dan anamnesis pasien dengan pasien sendiri dan keluarganya, setelah menyingkirkan penyebab organik, kami menilai pasien dengan Gangguan Skizoafektif Tipe Manik. Gangguan ini menimbulkan risiko tinggi rawat inap berulang dan biaya tinggi yang terkait dengan terapi dan tindak lanjut. Penelitian lebih lanjut untuk masalah ini diperlukan untuk menggali strategi manajemen yang efektif, mengurangi kemungkinan rawat inap di rumah sakit, meningkatkan prognosis dan kualitas hidup pasien, serta mengurangi biaya perawatan terkait.</p> Vitania Marsya Meiningsih Kusumawati Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 1040 1050 Hemoptisis Masif dan TB Paru terkonfirmasi Bakteriologis pada Wanita Usia 21 Tahun: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6499 <p>Hemoptisis atau batuk darah adalah ekspektorasi darah akibat perdarahan pada saluran napas di bawah laring, atau perdarahan yang keluar melalui saluran napas bawah laring. Batuk darah lebih sering merupakan tanda atau gejala penyakit dasar sehingga etiologi harus dicari melalui pemeriksaan yang lebih teliti. Batuk darah masif dapat diklasifikasikan berdasarkan volume darah yang dikeluarkan pada periode tertentu. Batuk darah masif memerlukan penanganan segera karena dapat mengganggu pertukaran gas di paru dan dapat mengganggu kestabilan hemodinamik penderita sehingga bila tidak ditangani dengan baik dapat mengancam jiwa. Tuberculosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi myobacterium tuberculosis. Bakteri ini biasanya menyerang paru-paru, tetapi bakteri ini juga dapat menyerang bagian tubuh mana saja seperti ginjal, tulang belakang, dan otak.</p> Liyuk Pungkasari Maria Reciana Setiailani Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 1051 1062 Anak Laki-Laki Usia 2 Tahun dengan Kejang Demam Kompleks: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6500 <p>Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada anak berusia 6 bulan hingga 5 tahun yang mengalami kenaikan suhu tubuh (suhu di atas 38° C, dengan metode pengukuran suhu apa pun) yang tidak disebabkan oleh mekanisme intrakranial. Faktor risiko utama kejang demam pada anak-anak berhubungan dengan faktor demam, usia dan riwayat keluarga, dan riwayat prenatal, riwayat perinatal. Kejang demam terbagi kepada kejang demam sederhana dan kompleks. Kami melaporkan kasus kejang disertai demam sebanyak satu kali selama 10 menit disertai dengan demam tinggi. Kejang terjadi pada seluruh tubuh dengan siku yang menekuk (tonik), pada saat kejang pasien tidak sadar, mata terbuka melihat ke atas. Pasien masih tidak sadar saat dibawa ke IGD. Kejang terjadi kembali saat di IGD sekitar 5 menit, Gerakan kejang sama dengan sebelumnya. Jarak kejang pertama dan kedua yaitu sekitar 10 menit. Pasien tidak sadar diantara 2 kejang.</p> Ikhwansyah Widyakangka Pramudya Tama Siti Ariffatus Saroh Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 1063 1070 Seorang Laki-Laki Berusia 38 Tahun dengan Glaukoma Akut et Causa Hipertensi Emergensi: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6501 <p>Hipertensi emergency adalah keadaan gawat medis ditandai dengan tekanan darah sistolik &gt; 180 mmHg dan atau diastolik &gt;120 mmHg atau keduanya. Hipertensi emergency merupakan suatu keadaan dimana selain tekanan darah yang sangat tinggi terdapat kelainan atau kerusakan organ target yang bersifat progresif. Glaukoma adalah kumpulan kondisi yang terdiri dari neuropati optik progresif kronis, dengan karakteristik gangguan pada jaringan neuroretina dan caput nervus optikus yang mengakibatkan gangguan lapang pandang yang jika tidak diobati akan mengakibatkan kebutaan yang ireversibel. Pada penelitian ini menggunakan metode observasional.</p> <p>Hasil: seorang laki-laki 36 tahun dengan keluhan nyeri mata kiri membengkak tiba-tiba, serta memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol, tekanan darah 204/124 mmHg, tekanan intraokular &gt;40 mmHg. Diagnosis pasien adalah glaukoma akut et causa hipertensi emergency. Tatalaksana yang dilakukan adalah tirah baring, diet gizi seimbang, serta medikamentosa berupa Inf RL 20 tpm, sp nicardipin, candesartan, nifedipin, timolol, prednisolon, atropine, dan glausetron.</p> <p>Kesimpulan: Hipertensi emergency merupakan suatu keadaan hipertensi darurat yang disertai kerusakan organ target, sehingga tekanan darah harus diturunkan segera agar dapat membatasi kerusakan organ yang terjadi.</p> Fashiha Gusli Febri Retnosari Marcellino Mettafortuna Sephberlian Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 1071 1080 Seorang Perempuan Berusia 27 Tahun dengan Hipertiroid et Causa Grave's Disease dan Lupus Eritematosus Sistemik Flare: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6502 <p>Grave's disease adalah penyebab hipertiroid yang paling sering tercatat sekitar 60-80% dari semua kasus tirotoksikosis di seluruh dunia. hipertiroid adalah kondisi klinis yang disebabkan oleh peningkatan produksi dan sekresi hormon tiroid. Lupus Eritematosus Sistemik merupakan suatu kondisi autoimun kompleks yang belum diketahui penyebabnya dan menyerang berbagai organ tubuh terutama pada wanita usia subur. Grave’s disease yang secara genetik dapat meningkatkan risiko terkena lupus eritematosus sistemik dan sebaliknya. Pada penelitian ini menggunakan metode observasional.<br>Hasil: seorang perempuan 27 tahun dengan keluhan utama dada berdebar sejak 1 minggu yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya pembesaran kelenjar tiroid difus, mata eksoftalmus, dan malar butterfly rash pada pipi serta pangkal hidung. Pada kasus ini didapatkan indeks wayne yaitu 25 dan skor SLEDAI 4. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan kadar Free Tiroksin (FT4) 31.68 mg/dl. Diagnosis pasien adalah hipertiroid ec Grave’s disease dan lupus eritematosus sistemik. Tatalaksana nonmedikamentosa dan medikamentosa diberikan pada pasien ini.<br>Kesimpulan: Lupus Eritematosus Sistemik (SLE) merupakan suatu kondisi autoimun kompleks yang dapat menyerang semua organ tubuh terutama pada wanita usia subur dan dapat mempunyai hubungan dengan penyakit Grave’s disease dimana hormon tiroid diproduksi secara berlebihan sehingga dapat menyebabkan beberapa gejala klinis (tirotoksikosis).</p> Fatwa Auliya Lillah Antary Desvi Dania Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 1081 1094 Wanita G3P2A0 Hamil Aterm dengan Kista Ovarium Dextra https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6503 <p>Kista adalah kantong berisi cairan, kista seperti balon berisi air, dapat tumbuh di berbagai bagian tubuh dan memiliki banyak jenis. Penyebab terjadinya kista ovarium yaitu terjadinya gangguan pembentukan hormon pada hipotalamus, hipofisis, atau ovarium itu sendiri. Kista ovarium timbul dari folikel yang tidak berfungsi selama siklus menstruasi. Angka kejadian kista ovarium di Indonesia adalah sebesar 37,2%. Rasa sakit tersebut akan bertambah jika kista tersebut terpuntir atau terjadi ruptur. Terdapat juga rasa penuh di perut. Keluhan yang timbul akibat kista seringkali tidak spesifik dan sering diinterpretasikan sebagai appendicitis ataupun keluhan wajar saat menstruasi. Nyeri perut bagian bawah dan perdarahan abnormal harus dicurigai adanya suatu kista ovarium tapi tidak ada tanda perdarahan hebat pada pasien. Keluhan yang tidak spesifik dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis, dan meningkatkan risiko komplikasi pada ibu maupun janin. Komplikasi tersering kista ovarium adalah torsio, dimana risikonya meningkat hingga 5 kali lipat pada kehamilan.</p> Zulaikha Hanif Hamdani Alip Sudarmono Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 1095 1107 Seorang Wanita 72 Tahun dengan Hernia Nukleus Pulposus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6504 <p>Latar Belakang: Hernia nukleus pulposus (HNP) adalah kelainan yang ditandai dengan perpindahan lokal diskus melampaui batas anatomi ruang intervertebralis yang menyebabkan nyeri, kelemahan atau mati rasa, dan atau kesemutan pada distribusi miotomal atau dermatomal. HNP menjadi penyebab paling umum terhadap tingginya angka kejadian masyarakat yang mengeluhkan nyeri punggung bagian bawah yang menjalar sampai ke tungkai bawah. Prevalensi Hernia Nukleus Pulposus 1-2% dari populasi dunia. Prevalensi umum Hernia Nukleus Pulposus dapat terjadi pada semua level vertebra mulai dari cervical hingga tulang belakang.</p> <p>Laporan kasus: Seorang perempuan berusia 72 tahun datang ke IGD dengan keluhan tidak bisa berjalan, disertai nyeri yang menjalar pada tungkai bawah dan lemah pada tungkai bawah. Pemeriksaan fisik ditemukan adanya tes lasegue positif kiri, tes patrick positif kiri, tes kontra patrick positif kiri. Perawatan untuk pasien ini termasuk pemberian muscle relaxant.</p> <p>Kesimpulan: Kami telah melaporkan hernia nukleus pulpoasus dimana kami melakukan pemberian medikamentosa. Penatalaksanaan yang cepat dan tepat diperlukan untuk menghindari kesakitan dan komplikasi yang tidak diinginkan.</p> Rikza Maya Hul Uyun Ahmad Muzayyin Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 1108 1114 Seorang Pria 79 Tahun dengan Status Hiperosmolar Hiperglikemik: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6505 <p>Status hiperosmolar hiperglikemik (HHS) adalah komplikasi akut dari diabetes mellitus ditandai dengan hiperglikemia akut, hiperosmolar, dan dehidrasi tanpa adanya ketoasidosis. Angka mortalitas, berdasar penyakit yang menyertainya mencapai sekitar antara 30-50%, lebih tinggi dibandingkan angka ketoasidosis diabetikum. Diagnosis dini dan tatalaksana segera penting dilakukan untuk menstabilakn hemodinamik, mencegah mortalitas, dan mengurangi adanya komplikasi. Laporan kasus ini bertujuan untuk melaporkan sebuah kasus seorang laki-laki berumur 79 tahun datang ke RSUD Ir. Soekarno Sukoharjo dengan keluhan utama lemas sudah 1 minggu. Keluhan disertai pusing, nyeri perut, terasa nyeri dan kaku dibadan sejak seminggu, sering buang air kecil, pusing, air seni pernah berwarna merah, nafsu makan menurun. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes mellitus tidak terkontrol. Pemeriksaan fisik pasien tampak lemah dan compos mentis, serta tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan penunjang seperti elektrokardiografi normal, darah lengkap didapatkan gula darah sewaktu 512 mg/dL, ureum 96,4 mg/dL, kreatinin 1,43 mg/dL, natrium 123,9 mmol/L, Chlorida 89,4 mmol/L. pH 7,37, PCO2 54,8 mmHg, HCO3 30,9 mmol/L, Asam urat hasil 8,1 mg/dL, urin didapatkan eritrosit positif satu, epitel, bakteri dan jamur. Pasien didiagnosa status hiperosmolar hiperglikemik dan mendapatkan terapi cairan salin, insulin, obat antidiabetes, analgesik, antipiretik, antiinflamasi non steroid (NSAID), antihistamin, PPI, dan antibiotik. Setelah mendapatkan perawatan pasien pulang dengan klinis membaik.</p> Ida Maesaroh Auliya Andriyati Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 1115 1125 Laki-Laki Berusia 71 Tahun dengan Diabetic Kidney Disease Stage IV dan TB Paru terkonfirmasi Bakteriologis https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6506 <p>Penyakit ginjal diabetik (Diabetic Kidney Disease, DKD) adalah komplikasi serius dari diabetes mellitus yang mempengaruhi fungsi ginjal dan berpotensi mengarah pada gagal ginjal kronis. Pathogenesis DKD melibatkan berbagai mekanisme, termasuk stres oksidatif, inflamasi, dan disfungsi endotelial, yang berkontribusi pada perubahan morfologi ginjal seperti glomerulosklerosis dan hipertrofi tubulus. Diagnosa awal dan penanganan yang tepat sangat penting untuk memperlambat perkembangan penyakit dan mengurangi risiko komplikasi lebih lanjut. Intervensi terapeutik meliputi pengelolaan glikemik, kontrol tekanan darah, dan penggunaan obat-obatan seperti inhibitor ACE atau ARB. Penelitian terkini terus mengeksplorasi terapi baru dan strategi pencegahan untuk meningkatkan hasil bagi pasien dengan DKD. Pendekatan yang komprehensif terhadap pencegahan dan pengelolaan DKD sangat penting untuk mengurangi beban penyakit ini pada individu dan sistem kesehatan global. Tn. S berusia tujuh puluh satu tahun datang ke IGD RSUD Karanganyar dengan keluhan lemas sejak menyuntikkan insulin pagi hari. Dokter melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang untuk diagnosis pasien dan melakukan terapi sesuai prosedur dokter dan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk menangani pasien seperti perawat, petugas laboratorium, dan petugas radiologi.</p> Mega Cantik Mutiara Cahaya Musrifah Budi Utami Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 1126 1136 Seorang Laki-Laki Usia 54 Tahun dengan Non ST Segment Elevation Myocardial Infraction (Nstemi): Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6507 <p>Non ST Segment Elevation Myocardial Infraction (NSTEMI) didefinisikan apabila gambaran Elektrokardiografi (EKG) didapatkan depresi segmen ST atau Inversi, gelombang T prominen dengan biomarker nekrosis yang positif (Troponin), tidak dijumpainya elevasi segmen ST pada gambaran EKG dan sesuai dengan gambaran klinis. Dari data menunjukan insiden ST elevation Mycardial Infaction (STEMI) menurun sedangkan untuk insiden Non ST Elevation Mycardial Infaction meningkat. Data menunjukan 5 juta orang mengalami STEMI dan 4 juta orang mengalami NSTEMI. Strategi awal pada pasien ini adalah meringankan gejala iskemia, pemantauan serial EKG dan memantau penanda nekrosis miokard yang dilihat dari nilai troponin pasien. Dilaporkan salah satu kasus pada seorang laki-laki usia 54 tahun di RSUR Ir. Soekarno Sukoharjo dengan keluhan nyeri dada seperti ditimpa beban berat disertai adanya penjalaran nyeri di bahu dan punggung. Hasil pemeriksaan EKG menunjukkan adanya ST depresi di lead II, III, aVF dan T inverted di lead III, aVF, dan V4. Dari hasil pemeriksaan penunjang didapatkan peningkatan troponin yaitu 156 ng/L. Maka diagnosis kerja pada kasus ini adalah NSTEMI. Sehingga tatalaksana Acute Coronary Syndrome (ACS) harus berfokus pada diagnosis yang cepat dan tepat.</p> Adityani Eki Nur Happy A Ardyasih Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 1137 1147 Seorang Wanita 26 Tahun Primigravida, G1P0A0 UK 13 Minggu + 2 Hari dengan Febris 9 Hari, Dengue Hemorrhagic Fever (DHF): Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6508 <p>Demam berdarah dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dengue. Pada wanita hamil yang mengalami DHF, meyebabkan pada penurunan tingkat hematokrit yaitu sekitar 34%, terjadi penurunan trombosit menjadi 35.000 yang akan menyebabkan trombositopenia pada ibu hamil yang mengalami DHF, infeksi pada kehamilan meningkatkan risiko perdarahan bagi ibu dan bayi baru lahir, lalu peningkatan insiden kelahiran prematur dan kematian janin. Terapi DHF adalah bersifat suportif dan simtomatis. Penatalaksanaan ditujukan untuk mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran plasma dan memberikan terapi substitusi komponen darah bilamana diperlukan.</p> Mukhti Maulana Muhammad Anggrahenie Prima Diana Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 1148 1160 Reccurent Seizure ec Epilepsi Edema Cerebri https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6509 <p>Epilepsi adalah salah satu penyakit kronik yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak dan mengurangi potensi anak di kemudian hari. Edema serebri adalah pembengkakan atau edema pada otak akibat peningkatan patologis volume otak. Seorang anak perempuan usia 10 tahun 6 bulan dengan berat badan 24 kg datang ke IGD RSUD Ir. Soekarno, Sukoharjo, dengan keluhan kejang berulang selama 3 bulan terakhir yang semakin memburuk. Pada 22 Juni 2023, pasien mengalami kejang lebih dari tiga kali dalam satu jam. Kejang berlangsung sekitar 30 detik, melibatkan tangan kanan, kepala, mata melirik ke atas, disertai sensasi tangan kaku sebelum kejang, dan lemas setelahnya. Hasil pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan monosit, eosinofil, dan basofil. MSCT tanpa kontras mengungkapkan edema serebri tanpa tanda perdarahan, infark, atau lesi intracerebral lainnya. Tulang sistemik tampak utuh. Pasien dirawat dengan infus RL 60cc/jam, piracetam 250 mg/12 jam, fenitoin 50 mg/12 jam, manitol 75 cc/6 jam, asam valproat 2x7 ml, dan fenobarbital 50 mg/12 jam. Setelah 4 hari tanpa perbaikan, pasien dirujuk ke RSDM Solo pada 25 Juli 2023 pukul 11.30).</p> Fathka Hanif Abimanyu Elvia Maryani Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 1161 1171 Osteomielitis https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/6510 <p>Osteomielitis adalah kondisi peradangan tulang maupun sumsum tulang yang disebabkan oleh infeksi yang dapat bersifat akut maupun kronis. Patogen penyebab paling sering adalah Staphlococcus aureus. Luka terbuka merupakan sumber perkembangan pada 80% kasus osteomielitis. Menurut sebuah penelitian di Glasgow, Skotlandia insiden osteomielitis hematogen akut pada anak-anak di bawah usia 13 tahun telah menurun dari 87 menjadi 42 per 10.000 per tahun namun osteomielitis akibat adanya fokus infeksi dan inokulasi langsung oleh mikroorganisme cenderung meningkat. Diagnosis osteomielitis akut diawali dari identifikasi klinis yang ditandai dengan rasa nyeri tulang, kemerahan, demam, dan pseudoparalisis. Gambaran radiografi pada osteomielitis akut cenderung normal. Osteomielitis kronik ditandai dengan ditemukannya sinus discharge dan tampak gambaran sequestrum serta involucrum pada radiografi yang merupakan tanda patognomonik yang biasanya muncul pada akhir minggu kedua. Tatalaksana osteomielitis mencakup pemberian antibiotik dan intervensi bedah tergantung pada faktor klinis dan stadium infeksi.</p> Oki Vinolia Amalanda Putri F Farhat Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-06-04 2025-06-04 1172 1184