Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran <p>Proceeding Title: <strong>Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta<br /></strong>Organizer: Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta<br />ISSN (Online): <a href="https://issn.perpusnas.go.id/terbit/detail/1579573044" target="_blank" rel="noopener">2721-2882</a></p> <p>Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta diterbitkan dalam rangka seminar tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta.</p> Universitas Muhammadiyah Surakarta en-US Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2721-2882 Front Matter https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7290 <p>Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,</p> <p>Puji syukur kepada Allah SWT atas kelimpahan berkah, rahmat, dan kesehatan yang diberikan, sehingga Prosiding Call for Paper The 19th Continuing Medical Education (CME) Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta: "Gastrophere" ini dapat terselesaikan dengan baik. Prosiding The 19th CME FK UMS yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta ini mengambil fokus pada pembaruan klinis dan riset kesehatan di bidang gastroenterologi yang bertempat di Surakarta pada tanggal 5 April 2026.</p> <p>Prosiding ini dibuat dengan tujuan memberikan pengetahuan bagi khalayak luas, khususnya klinisi, akademisi, dan praktisi kesehatan terkait penelitian dan perkembangan ilmu kedokteran terbaru. Melalui publikasi ini, diharapkan dapat menambah pengetahuan, memperkuat jejaring komunikasi ilmiah, serta meningkatkan motivasi terkait implementasi klinis sehingga riset kesehatan dapat terus dikembangkan di Indonesia demi terciptanya pelayanan kesehatan yang mandiri, unggul, dan berbasis bukti (evidence-based medicine).</p> <p>Prosiding The 19th Continuing Medical Education FK UMS: "GASTROPHERE" ini berisi karya dari para pemakalah yang berasal dari berbagai instansi, rumah sakit, dan universitas di Indonesia. Pada acara ini, sesi pemaparan karya dibagi menjadi 2 metode, yaitu presentasi oral (oral presentation) dan presentasi poster (poster presentation). Adanya sesi diskusi yang interaktif pada sesi oral maupun poster diharapkan dapat menjadi motivasi bagi peneliti untuk terus berinovasi dalam riset kesehatan sekaligus menjadi sarana evaluasi dan koreksi diri untuk perbaikan kualitas penelitian di kemudian hari.</p> <p>Kami menyadari bahwa prosiding ini tentu saja tidak luput dari kekurangan. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan demi perbaikan prosiding pada edisi tahun yang akan datang. Akhirnya, kami berharap Prosiding yang terlampir ini dapat bermanfaat sebesar-besarnya bagi para klinisi, tenaga kesehatan, mahasiswa, serta semua pihak yang memerlukan.</p> <p>Wassalamu' alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh</p> Farhan Dhio Yanuarsyah Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 Kateterisasi Pigtail sebagai Tatalaksana Efusi Pleura Rekurens pada Kanker Payudara Stadium Lanjut: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7291 <p>Efusi pleura rekurens akibat metastasis kanker payudara merupakan komplikasi yang sering terjadi pada stadium lanjut dan berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Penatalaksanaan yang tidak optimal dapat menyebabkan gejala persisten dan kebutuhan pungsi berulang. Laporan kasus ini bertujuan untuk memaparkan peran pemasangan kateter pigtail sebagai intervensi minimal invasif pada efusi pleura rekurens akibat metastasis karsinoma mammae. Dilaporkan seorang wanita berusia 47 tahun dengan karsinoma mammae sinistra pasca-mastektomi total dan kemoterapi yang datang dengan keluhan sesak napas berat. Pasien memiliki riwayat pungsi pleura dan kateterisasi berulang dalam satu bulan terakhir dengan perbaikan klinis minimal. Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik, foto toraks, pemeriksaan darah, dan CT scan toraks yang memperlihatkan efusi pleura sinistra, metastasis pulmonal, dan limfadenopati mediastinum. Pemasangan kateter pigtail berhasil mengeluarkan cairan pleura serohemoragik sebanyak 750 mL dengan perbaikan klinis dan tanda vital yang signifikan. Selama perawatan, tidak ditemukan komplikasi terkait prosedur. Kateter pigtail merupakan pilihan intervensi minimal invasif yang efektif dalam mengurangi gejala, meminimalkan pungsi berulang, dan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan efusi pleura akibat metastasis kanker payudara.</p> Rafif Ryandra Izdhihar Hitaputra Agung Wardhana Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 1 7 Seorang Anak Laki-Laki dengan Tonsilofaringitis Kronis Eksaserbasi Akut https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7292 <p>Tonsilofaringitis merupakan peradangan pada tonsil palatina dan faring yang termasuk dalam infeksi saluran napas atas dan sering terjadi pada anak. Penyakit ini dapat disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri, dengan Group A β-hemolytic Streptococcus (GABHS) sebagai penyebab bakteri tersering. Episode infeksi akut yang berulang atau tidak tertangani dengan adekuat dapat berkembang menjadi tonsilofaringitis kronis dan mengalami eksaserbasi akut. Laporan kasus ini menggambarkan seorang anak laki-laki usia 8 tahun 6 bulan dengan keluhan utama nyeri tenggorokan sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, disertai nyeri telan, demam tinggi terus-menerus, lemas, mual, muntah, nyeri perut, serta penurunan nafsu makan. Pasien memiliki riwayat nyeri telan berulang dan rasa mengganjal di tenggorokan selama ±3 bulan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan tonsil palatina membesar T3/T3, hiperemis, disertai detritus dan pelebaran kripte, faring hiperemis, serta pembesaran kelenjar submandibular bilateral yang nyeri tekan. Skor modifikasi McIsaac didapatkan nilai 4. Pemeriksaan penunjang menunjukkan leukositosis dengan dominasi neutrofil, peningkatan C-reactive protein (CRP), serta peningkatan titer Anti-Streptolysin O (ASTO), yang mendukung adanya infeksi streptokokus. Berdasarkan temuan tersebut ditegakkan diagnosis tonsilofaringitis kronis eksaserbasi akut ec infeksi bakteri probable Group A Streptococcus. Pasien diterapi dengan cairan intravena, antipiretik, kortikosteroid, antibiotik, serta obat kumur antiseptik, dengan hasil perbaikan klinis yang signifikan.</p> Karmila Indar Parawansa Rahma Anindita Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 8 20 Seorang Wanita Usia 24 Tahun dengan Pemfigus Vulgaris: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7293 <p>Pemfigus Vulgaris (PV) adalah penyakit autoimun langka yang ditandai oleh bula flasid pada kulit dan mukosa akibat autoantibodi IgG terhadap desmoglein-3 dan desmoglein-1 yang menyebabkan hilangnya adhesi antar sel epitel (akantolisis). Secara klinis, PV menampilkan bula mudah pecah disertai erosi nyeri pada mukosa mulut dan kulit. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, serta konfirmasi imunopatologis dengan Direct dan Indirect Immunofluorescence (DIF/IIF) atau ELISA. Studi kasus ini melibatkan wanita usia 24 tahun dengan lesi bula multipel di tubuh dan mulut tanpa rasa gatal. Terapi meliputi kortikosteroid sistemik (methylprednisolone), antibiotik (ceftriaxone), antihistamin (loratadine), dan kortikosteroid topikal (desoximetasone). Prognosis PV umumnya baik bila diagnosis ditegakkan dini dan terapi imunosupresif diberikan secara tepat.</p> Iffa Maulida Zufara Aris Cahyono Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 21 34 Tn. W, 64 Tahun dengan Asites Masif, Edema Generalisata, dan Efusi Pleura Bilateral https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7294 <p>Pendahuluan: Asites merupakan salah satu manifestasi dekompensasi sirosis yang paling sering ditemukan dan berkaitan dengan retensi cairan sistemik akibat hipertensi portal serta gangguan fungsi hepatoseluler. Penegakan etiologi asites sangat penting karena menentukan arah terapi dan prognosis.<br>Ilustrasi Kasus: Seorang laki-laki usia 64 tahun datang dengan keluhan perut membesar progresif selama dua bulan, disertai edema ekstremitas bawah dan efusi pleura bilateral. Pemeriksaan fisik menunjukkan asites derajat tiga dan hipoalbuminemia berat. USG abdomen menunjukkan asites masif dan tanda insufisiensi ginjal. Temuan klinis sangat mengarah pada sirosis hepatik dekompensata, namun diagnosis pasti belum dapat ditegakkan karena belum dilakukan parasentesis diagnostik serta evaluasi etiologi sirosis. Pasien telah mendapatkan tata laksana awal berupa restriksi natrium, spironolakton 100 mg/hari, furosemid injeksi, koreksi nutrisi, hepatoprotektor, dan terapi suportif sesuai pedoman PAPDI, KASL, dan algoritma JSH.<br>Hasil : Evaluasi klinis dan penunjang menunjukkan retensi cairan dengan asites masif, efusi pleura bilateral, dan edema perifer yang membaik setelah terapi diuretik dan restriksi natrium, meski etiologi asites belum terkonfirmasi.<br>Kesimpulan: Kasus ini menunjukkan gambaran asites derajat lanjut yang paling konsisten dengan sirosis hepatik dekompensata, namun etiologi pasti masih memerlukan konfirmasi melalui parasentesis serta pemeriksaan lanjutan. Tata laksana pada pasien saat ini difokuskan pada stabilisasi dan penanganan asites sebagai prioritas utama.</p> Adinda Zahrin Nisrina Naura Marcellino Mettafortuna Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 35 53 Pengambilan Keputusan Klinis pada Trauma Ginjal Tumpul Derajat IV: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7295 <p>Trauma ginjal merupakan cedera urogenital yang relatif jarang namun berpotensi menimbulkan komplikasi serius, terutama pada trauma derajat tinggi. Penatalaksanaan trauma ginjal sangat bergantung pada derajat cedera dan kondisi hemodinamik pasien, sehingga pengambilan keputusan klinis memegang peranan penting. Kami melaporkan kasus seorang laki-laki berusia 55 tahun yang mengalami trauma ginjal tumpul akibat kecelakaan sepeda motor, dengan keluhan nyeri pinggang kiri dan hematuria makroskopis. Pemeriksaan laboratorium serial menunjukkan penurunan progresif kadar hemoglobin dan hematokrit. Pemeriksaan tomografi terkomputasi (CT) abdomen dengan kontras memperlihatkan trauma ginjal sinistra derajat IV menurut klasifikasi American Association for the Surgery of Trauma disertai ekstravasasi urin. Meskipun awalnya direncanakan tata laksana konservatif, perburukan kondisi klinis berupa penurunan parameter hematologi yang berkelanjutan menjadi dasar pengambilan keputusan untuk melakukan nefrektomi. Pascaoperasi, pasien menunjukkan perbaikan klinis yang baik dan dipulangkan dalam kondisi stabil. Laporan kasus ini menekankan pentingnya evaluasi klinis dan laboratoris serial dalam menentukan waktu intervensi operatif pada trauma ginjal derajat tinggi.</p> Dina Salsabila Rahadatul Aisy Catur Widayat Faathir Baihaqi Ghifary Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 54 71 Koeksistensi Tinea Facialis, Tinea Corporis, dan Tinea Cruris pada Pasien dengan Immunocompromised: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7296 <p>Tinea adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh dermatofita, yang sering kali muncul pada badan, leher, lengan tangan, dan kaki, termasuk kulit kepala, wajah dan jenggot, pangkal paha, dan kuku. Penyebab utama infeksi ini adalah spesies Trichophyton. Ciri khas tinea adalah adanya lesi berbentuk cincin (annular) dengan tepi yang meninggi, eritem, berskuama, sementara bagian tengahnya tampak lebih jernih/hipopigmentasi, memberikan tampilan seperti target (central healing). Kami menyajikan laporan kasus tinea pada seorang wanita 26 tahun dengan HIV. Pasien datang dengan keluhan gatal dan bercak merah di wajah, kedua tangan, serta paha bagian atas dan inguinal. Pendekatan terapeutik yang perlu diberikan meliputi antifungi topikal dan sistemik, serta terapi simtomatik bila perlu. Kasus ini menekankan bahwa infeksi tinea lebih sering terjadi dan lebih parah pada pasien dengan imunosupresi seperti HIV, dan penatalaksanaan harus mempertimbangkan kondisi medis penyerta serta potensi interaksi obat.</p> Dianisa Indira Putri Flora Ramona Sigit Prakoeswa Ratih Pramuningtyas Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 72 81 Pentalogy of Fallot (POF) pada Seorang Anak 15 Bulan dengan Berat Badan Kurang dan Sangat Pendek https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7297 <p>Pentalogy of Fallot adalah kombinasi dari komponen Tetralogy of Fallot klasik yaitu VSD besar, overriding aorta, stenosis pulmonal, dan hipertrofi ventrikel kanan dengan tambahan kelainan kelima berupa defek septum atrium (ASD)/ Patent Foramen Ovale (PFO). Laporan kasus ini menjelaskan tentang kasus pasien dengan usia 15 bulan mengalami sesak napas secara tiba-tiba. Hasil saturasi 34% airroom. Ia tampak lemah dengan sianosis sentral dan perifer. Jari tangannya mulai mengalami clubbing finger. Hasil ekokardiografi memberikan kesan Tetralogy of Fallot (TOF) disertai Patent Foramen Ovale (PFO). Pasien mengalami anemia mikrositik hipokromik dengan kadar hemoglobin mencapai 6.00 g/dL. Status gizi pasien yaitu berat badan kurang dan sangat pendek. Upaya untuk menstabilkan hemodinamik diberikan kepada pasien. Kneechest adalah upaya pertama yang dilakukan. Ia diberikan oksigen 6 lpm dan mendapatkan transfusi PRC 150mL. Hemodinamik pasien mulai stabil dengan saturasi meningkat menjadi 70% dan sianosis mulai berkurang. Pasien dirujuk ke rumah sakit lain yang memiliki fasilitas lebih lengkap untuk tatalaksana selanjutnya. Tindakan kateterisasi telah direncanakan untuk pasien. Pasien diberikan propanolol 3x2mg untuk mengurangi serangan sianotik. Obat tersebut tetap diminum sampai pasien mendapatkan tindakan operasi complete repair.</p> Anggitania Shella Brillianingtiyas Siti Ariffatus Saroh Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 82 93 Seorang Laki-Laki dengan Cedera Mata akibat Ledakan Kembang Api: Suatu Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7298 <p>Trauma mata akibat ledakan petasan merupakan salah satu penyebab cedera mata yang sering terjadi, serta menyebabkan kerusakan berbagai struktur intraokular. Kasus ini melaporkan seorang pria dengan trauma mata kanan akibat ledakan petasan yang mengakibatkan ruptur konjungtiva. Melaporkan seorang pasien dengan trauma mata akibat ledakan petasan yang menyebabkan ruptur konjungtiva, serta komplikasi berupa perdarahan vitreous dan ablasio retina. Seorang pria datang ke unit gawat darurat dengan nyeri hebat mata kanan dan pandangan gelap mendadak setelah terpapar ledakan petasan. Pemeriksaan status lokalis mata menunjukkan visus OD 1/300 dan OS 5/15, OD Ruptur konjungtiva; CI (+); PCI (+), OS dalam kondisi tenang. Perbaikan konjungtiva dilakukan menggunakan teknik sutura, dan perawatan lanjutan serta pemantauan terhadap perkembangan kondisi mata pascaoperasi. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan adanya perdarahan vitreous dan ablasio retina pada mata kanan. Kondisi ini memerlukan penanganan lanjutan untuk mencegah kerusakan permanen pada penglihatan pasien. Trauma mata akibat petasan termasuk ke dalam trauma mekanik dan kimia yang dapat menimbulkan cedera kompleks dengan risiko komplikasi serius seperti perdarahan vitreous dan ablasio retina, sehingga memerlukan penanganan multidisipliner yang tepat.</p> Zeindhita Arum Anggriyanti Farhan Dhio Yanuarsyah Nahda Aqila Nabilla Johana Permata Putri Dessira Rizka Tri Ariany Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 94 102 Endometriosis https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7299 <p>Endometriosis merupakan penyakit neuroinflamasi kronis pada wanita usia reproduktif yang ditandai oleh adanya jaringan mirip endometrium di luar rahim. Endometriosis disebut sebagai estrogen dependent disease. Sekitar 6-10% wanita usia produktif mengalami endometriosis yang berhubungan dengan nyeri panggul kronis, dismenore, dispareunia, keluhan intestinal siklik, serta gangguan fertilitas yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup. Variabilitas manifestasi klinis dan kemiripan gejala dengan kelainan ginekologis lainnya menyebabkan keterlambatan diagnosis yang berdampak pada progresivitas penyakit dan peningkatan morbiditas, bahkan penelitian di Spanyol dan Inggris melaporkan penegakkan diagnosis endometriosis terlambat hingga 8 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil anamnesis gejala klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan laparoskopi sebagai baku emas. Tatalaksana endometriosis bergantung pada keluhan spesifik yang dialami, tingkat keparahan gejala, lokasi lesi, tujuan pengobatan, dan keinginan untuk mempertahankan kesuburan di masa mendatang. Tatalaksana endometriosis meliputi tatalaksana medikamentosa ataupun intervensi bedah. Endometriosis sulit disembuhkan kecuali perempuan sudah menopause, angka kesembuhan sekitar 10-20% bahkan setelah penanganan bedah konservatif.</p> Oki Vinolia Amalanda Putri Farid Nurdiansyah Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 103 126 Trauma Okuli akibat Semburan Bisa Ular pada Pasien Lanjut Usia: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7300 <p>Trauma okuli kimia merupakan kegawatdaruratan oftalmologis yang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada permukaan okular, termasuk akibat paparan biologis seperti bisa ular yang mengandung enzim proteolitik, sitotoksik, dan hemoragik. Laporan ini bertujuan mendeskripsikan kasus trauma okuli kimia pada pasien usia 82 tahun yang mengalami mata merah, nyeri, dan pandangan kabur setelah terpapar bisa ular. Data dikumpulkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik mata, slit lamp, dan fluorescein test. Hasil pemeriksaan menunjukkan erosi epitel kornea, edema periorbital, dan perdarahan konjungtiva, dengan visus menurun pada kedua mata. Pasien mendapat penatalaksanaan berupa irigasi mata berulang, antibiotik topikal, analgesik, vitamin C, serta tetes mata pelindung kornea. Deteksi dini melalui anamnesis, pemeriksaan slit lamp, dan identifikasi tanda envenomasi terbukti penting dalam menentukan tata laksana yang tepat. Kesimpulannya, trauma okuli kimia akibat bisa ular menimbulkan kerusakan kimiawi dan biologis yang kompleks, sehingga intervensi cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah kehilangan penglihatan permanen.</p> Nadhila Ismahani Dessira Rizka Tri Ariany Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 127 143 Batuk dan Sesak ec Bronchopneumonia, Febris dan Batuk Lama ec Tuberculosis Paru Terkonfirmasi Bakteriologis, Gizi Buruk https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7301 <p>Tuberkulosis merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh bakteri MTB (Mycobacterium tuberculosis). Jumlah kasus TBC pada remaja (10-19 tahun) diperkirakan sekitar 727.000 orang. Laporan kasus ini bertujuan untuk melaporkan gambaran klinis, temuan diagnostik, dan penatalaksanaan pada kasus Bronchopneumonia dan Tuberculosis pada anak. Penelitian ini merupakan laporan kasus anak laki-laki usia 15 tahun dengan keluhan sesak disertai demam, batuk dan penurunan berat badan. Data diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan foto rontgen thorax, kemudian dianalisis secara deskriptif. Pada pemeriksaan fisik paru ditemukan adanya retraksi dinding dada dan ditemukan suara tambahan wheezing pada saat auskultasi. Pada rontgen thorax didapatkan gambaran infiltrat di hampir seluruh parenkim bilateral terutama sinistra dengan kesan bronchopneumonia sinistra. Pemeriksaan sputtum TCM didapatkan hasil MTB Detected Low, RIF Resistance Not Detected. Hasil mantoux test positif dengan undulasi -/+ 15 mm. Pasien diberi terapi OAT fase intensif 1x6 tab dan pemberian nebu ventolin untuk mengurangi sesak serta edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyakit TBC. Berdasarkan kasus ini pentingnya diagnosis dan tatalaksana awal dapat meningkatkan kualitas hidup dan mencegah komplikasi jangka panjang dan mencegah penularan TBC.</p> Fladea Eka Nugraheni Eva Musdalifah Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 144 155 Seorang Wanita 28 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 37 Minggu dengan Anemia Gravis dan Letak Lintang https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7302 <p>Anemia pada kehamilan merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering ditemui dan dapat meningkatkan risiko komplikasi maternal maupun perinatal. Selain itu, letak lintang merupakan bentuk malpresentasi janin yang jarang namun berbahaya, terutama bila terjadi pada kehamilan aterm. Kombinasi anemia dan presentasi letak lintang memerlukan penatalaksanaan yang cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi serius. Dilaporkan seorang wanita berusia 28 tahun, G1P0A0, usia kehamilan 37 minggu, datang ke RSUD Ir. Soekarno Sukoharjo dengan hasil laboratorium menunjukkan anemia dan pemeriksaan USG yang menunjukkan letak lintang. Pada pemeriksaan hematologi menunjukkan anemia mikrositik hipokromik yang konsisten dengan anemia defisiensi besi. Pasien mendapatkan transfusi darah dan dilakukan pemantauan CTG, lalu direncanakan tindakan sectio caesarea transperitoneal. Pasien menunjukkan perbaikan klinis pada hari pertama pascaoperasi. Penatalaksanaan yang tepat, termasuk transfusi untuk optimalisasi kondisi ibu sebelum operasi dan tindakan sectio caesarea, merupakan langkah yang sesuai untuk mencegah komplikasi. Kasus ini menekankan pentingnya identifikasi dini anemia dan malpresentasi janin melalui ANC yang adekuat. Intervensi cepat dan tepat sangat penting dalam mengurangi risiko morbiditas pada kasus dengan anemia dan letak lintang.</p> Aufa Faza Fauzan Farma Alifa Agil Dhillu Yunitama Anggrahenie Prima Diana Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 156 167 Trauma Okuli akibat Serpihan Pemotong pada Pasien Laki-Laki Dewasa: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7303 <p>Trauma okuli merupakan kegawatdaruratan oftalmologi yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan permanen apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Trauma okuli non perforan umumnya disebabkan oleh trauma mekanik dan sering melibatkan permukaan mata, khususnya kornea. Laporan kasus ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran klinis, metode diagnosis, penatalaksanaan, serta luaran klinis pada pasien dengan trauma okuli non perforan. Metode yang digunakan adalah laporan kasus pada seorang laki-laki berusia 26 tahun yang datang dengan keluhan nyeri, rasa mengganjal, kemerahan, dan penglihatan kabur pada mata kanan setelah terkena serpihan cutter saat bekerja. Pemeriksaan meliputi anamnesis, pemeriksaan visus, pemeriksaan slit lamp, dan uji fluorescein. Hasil pemeriksaan menunjukkan visus okuli dekstra 5/6 dan okuli sinistra 5/5, dengan temuan injeksi kornea dan perikornea, abrasi kornea, serta hasil uji fluorescein positif tanpa tanda perforasi bola mata. Pasien didiagnosis trauma okuli non perforan dengan keratitis akut dan diberikan terapi antibiotik oral, antibiotik topikal, serta lubrikan mata. Evaluasi pascaterapi menunjukkan perbaikan klinis dan tidak ditemukan komplikasi. Simpulan laporan kasus ini menunjukkan bahwa diagnosis dini dan penatalaksanaan yang adekuat pada trauma okuli non perforan berperan penting dalam mencegah komplikasi dan mempertahankan fungsi penglihatan.</p> Lucia Mavikasari Dessira Rizka Tri Ariany Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 168 182 Laporan Kasus: Seorang Wanita Usia 21 Tahun dengan Dermatitis Kontak Alergi https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7347 <p>Dermatitis kontak alergi (DKA) merupakan reaksi inflamasi pada kulit akibat pajanan alergen eksternal yang diperantarai oleh mekanisme hipersensitivitas tipe IV. Kasus ini cukup sering dijumpai, terutama pada wanita yang menggunakan produk kosmetik. Seorang wanita berusia 21 tahun datang dengan keluhan wajah tampak kemerahan disertai rasa perih, gatal, dan panas setelah penggunaan kosmetik. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya makula eritem difus pada wajah dengan inflamasi ringan tanpa tanda infeksi sekunder. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, ditegakkan diagnosis kerja dermatitis kontak alergi akibat paparan kosmetik. Pasien mendapatkan terapi kombinasi topikal dan sistemik berupa gentamicin 0,1% salep, mometasone furoate 1 mg/g krim, methylprednisolone 4 mg tablet, dan loratadine 10 mg tablet. Selain itu, pasien diberikan edukasi untuk menghentikan penggunaan kosmetik, menghindari paparan panas dan asap, serta menjaga kebersihan kulit dengan sabun wajah yang lembut. Dermatitis kontak alergi memerlukan diagnosis yang tepat serta edukasi pasien yang baik untuk mencegah kekambuhan. Penghindaran terhadap faktor pencetus dan pemilihan produk kulit yang aman menjadi aspek penting dalam keberhasilan terapi.</p> Filda Tri Sakti Eddy Tjiahyono Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 183 189 Kejang Demam Kompleks pada Anak dengan Global Developmental Delay dan Gizi Kurang sebagai Faktor Risiko Klinis https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7348 <p>Kejang demam kompleks merupakan kondisi neurologis pada anak yang memiliki risiko kekambuhan lebih tinggi serta potensi gangguan neurologis jangka panjang, terutama disertai faktor risiko klinis tertentu. Dilaporkan seorang anak laki-laki usia tiga tahun sebelas bulan yang datang dengan keluhan kejang berulang disertai demam tinggi hingga 39,5°C. Kejang pertama bersifat tonik-klonik general dan berlangsung kurang dari lima menit, kemudian diikuti episode kejang fokal pada ekstremitas kanan beberapa jam setelahnya. Pasien memiliki riwayat kejang demam sebelumnya serta riwayat keluarga dengan kejang. Pemeriksaan klinis dan penunjang menunjukkan infeksi saluran napas atas sebagai pencetus demam, dengan respons inflamasi akut tanpa tanda keterlibatan sistem saraf pusat. Evaluasi tumbuh kembang mengungkap adanya global developmental delay pada berbagai domain perkembangan serta status gizi kurang, yang diduga berperan dalam kompleksitas dan kekambuhan kejang. Pasien mendapatkan terapi antipiretik, antibiotik sesuai sumber infeksi, serta antiepilepsi sebagai profilaksis kejang. Selama perawatan, kondisi klinis membaik tanpa kejang ulang, dan pasien dipulangkan dengan rencana tindak lanjut neurologi, terapi wicara, terapi okupasi, serta intervensi nutrisi terarah. Kasus ini menegaskan pentingnya pendekatan komprehensif dalam penatalaksanaan kejang demam kompleks dengan mempertimbangkan gangguan perkembangan dan status gizi sebagai faktor risiko klinis yang dapat memengaruhi luaran jangka panjang anak. Pendekatan multidisiplin diperlukan untuk mencapai hasil klinis yang optimal.</p> Putri Dwi Anggreheni R Rusmawati Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 190 197 Kolesistitis Akut Akibat Kolelitiasis pada Wanita Usia 51 Tahun: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7349 <p>Kolesistitis akut merupakan salah satu penyebab tersering nyeri abdomen akut dan umumnya terjadi akibat obstruksi duktus sistikus, yang menimbulkan stasis empedu, aktivasi proses inflamasi, serta dapat disertai infeksi sekunder pada dinding kandung empedu. Penyebab paling sering dari obstruksi tersebut adalah kolelitiasis. Kolelitiasis sendiri dilaporkan terjadi pada sekitar 10-15% populasi umum dan 20-40% pasien mengalami komplikasi kolesistitis akut sebagai manifestasi yang paling sering. Kolesistektomi masih menjadi pilar utama terapi pada sebagian besar kasus kolesistitis akut akibat batu empedu. Modalitas diagnostik utama yang digunakan adalah ultrasonografi, karena mudah, non-invasif, dan memiliki akurasi tinggi untuk mendeteksi batu empedu, penebalan dinding kandung empedu, cairan perikolekistik, dan tanda Murphy sonografis. Tokyo Guidelines 2018 juga menekankan pentingnya integrasi gejala klinis, temuan laboratorium, dan pencitraan untuk menegakkan diagnosis serta menentukan derajat keparahan. Tatalaksana yang tepat waktu sangat berpengaruh pada luaran pasien. Kolesistektomi laparoskopik dini (early laparoscopic cholecystectomy) direkomendasikan sebagai standar perawatan, karena terbukti menurunkan angka kekambuhan, komplikasi, serta lama rawat dibandingkan pendekatan konservatif atau operasi tertunda. Laporan kasus ini menyajikan kolelithiasis dengan kolesistitis akut pada seorang wanita berusia 51 tahun.</p> Desita Asri Yulistina Hitaputra Agung Wardhana Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 198 204 Penanganan Gawat Darurat Syok Perdarahan pada Fraktur Pelvis Tipe Vertical Shear https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7350 <p>Syok hipovolemik karena perdarahan masif dengan penyebab trauma menjadi masalah yang dapat mengancam nyawa. Pada kasus perdarahan masif trauma pelvis memiliki angka kematian hingga 46%. Kami melaporkan kasus dengan syok perdarahan derajat 3 karena closed fractur pelvis tipe vertical shear tidak stabil disertai dengan fraktur femur, tibia, dan fibula. Terapi gawat darurat untuk mengatasi syok perdarahan diberakan pada pasien hingga melakukan operasi gawat darurat stabilisasi pelvis secara eksternal. Tujuan utama dalam penangan dari fraktur pelvis tidak stabil adalah mereduksi fraktur dan memperbaiki fragmen untuk mencapai stabilitas pelvis, terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan diantaranya metode non operasi, reduksi terbuka, dan operasi metode reduksi tertutup yang memiliki kerugian dan keuntungan masing-masing. Penanganan terhadap fraktur pelvis dengan kondisi tidak stabil yang disertai syok harus segera dilakukan karena jika penanganan terlambat maka akan meningkatkan risiko kematian pada pasien.</p> Mada Sukma Dytho Anthoni Yusbida Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 205 211 Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Ny. S Usia 77 Tahun dengan Hipertensi dan Diabetes Tipe 2 https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7375 <p>Pendekatan kedokteran keluarga memainkan peran yang sangat penting dalam pengelolaan pasien dengan penyakit kronis, khususnya hipertensi dan diabetes mellitus tipe 2, yang memerlukan penanganan jangka panjang dan berkesinambungan. Studi kasus ini membahas penatalaksanaan holistik pada Ny. S, seorang wanita berusia 77 tahun dengan hipertensi stadium 1 dan diabetes mellitus tipe 2 yang telah lama dideritanya. Pendekatan yang diterapkan tidak hanya berfokus pada terapi farmakologis, tetapi juga mencakup aspek promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif secara terpadu. Penatalaksanaan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi biologis, psikologis, sosial, serta dukungan keluarga dan lingkungan komunitas pasien. Intervensi meliputi kunjungan rumah (home visit), pemantauan tekanan darah dan kadar gula darah secara rutin, edukasi mengenai pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, kepatuhan minum obat, serta modifikasi gaya hidup. Selain itu, keterlibatan keluarga berperan penting dalam memberikan dukungan emosional dan membantu pengawasan terapi harian pasien. Setelah dilakukan pemantauan berkala, ditemukan adanya perbaikan kondisi klinis dan peningkatan kualitas hidup pasien. Hasil ini menunjukkan bahwa model pelayanan berbasis kedokteran keluarga efektif dalam mengoptimalkan pengendalian penyakit kronis secara komprehensif dan berkelanjutan.</p> Alif Fahran Fadillah Yusuf Alam Romadhon Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 212 227 Leptospirosis sebagai "The Great Mimicker": Faktor Prognostik berbasis Parameter Klinis dan Laboratorium https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7376 <p>Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh infeksi bakteri genus Leptospira, famili Leprospiraceae ordo Spirochaetales yang patogen, dengan tikus sebagai reservoir utama. Menurut World Health Organization (WHO) insiden leptospirosis diperkirakan 0,1 sampai 1 per 100.000 penduduk pertahun pada daerah subtropis, serta 10 sampai 100 per 100.000 penduduk di daerah tropis. Centers for Disease Control (CDC) menetapkan leptospirosis sebagai neglected tropical disease (NTD) atau penyakit tropis yang terabaikan. Penyakit ini memiliki manifestasi klinis yang beragam dan sering menyerupai penyakit lain (the great mimicker), sehingga menyulitkan diagnosis dini dan penentuan prognosis. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor prognostik leptospirosis berdasarkan parameter klinis dan laboratorium yang berhubungan dengan keparahan penyakit. Kajian ini dilakukan melalui telaah literatur sistematis terhadap publikasi ilmiah terkini yang relevan. Hasil menunjukkan faktor klinis yang berhubungan dengan prognosis penyakit meliputi usia lanjut, oliguria atau anuria, dispnea, hipotensi, serta manifestasi perdarahan. Parameter laboratorium yang signifikan meliputi trombositopenia, leukositosis, peningkatan kreatinin dan ureum, gangguan fungsi hati, serta ketidakseimbangan elektrolit. Identifikasi dini faktor-faktor prognostik tersebut penting untuk stratifikasi risiko, penentuan tatalaksana yang tepat, serta upaya menurunkan morbiditas dan mortalitas leptospirosis di daerah endemis.</p> Oki Vinolia Amalanda Putri Femi Dwi Aldini Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 228 241 Studi Kasus Leptospirosis di Jawa Tengah: Hubungan antara Meteorologi dan Lingkungan https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7377 <p>Latar Belakang Jawa Tengah merupakan kontributor utama kasus leptospirosis di Indonesia, tahun 2024 jumlah kasus mencapai 545 kasus. Perubahan iklim dan peristiwa cuaca ekstrem diduga berperan mempengaruhi pola penyakit.</p> <p>Tujuan penelitian menganalisis faktor meteorologi dan lingkungan terhadap kejadian leptospirosis di Provinsi Jawa Tengah 2018-2024.</p> <p>Metode penelitian ini merupakan penelitian analitik desain time series, variabel dependen jumlah kasus leptospirosis dan lingkungan sebagai variabel independen meliputi suhu udara, curah hujan, kelembaban tanah, indeks ultraviolet, tekanan udara, dan tutupan awan. Sumber data berasal dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dan NASA. Analisis data dilakukan dengan regresi Ordinary Least Squares (OLS) dan uji asumsi linearitas, shapiro-wilk, Breusch-Pagan, Variance Inflation Factors (VIF), dan Durbin Watson.</p> <p>Hasil penelitian menjelaskan sebesar 26% variasi jumlah kasus leptospirosis (R² = 0,26). Variabel kelembaban tanah merupakan faktor lingkungan paling dominan (β = 240,46; p &lt; 0,001), menunjukkan peningkatan kelembaban tanah diikuti oleh peningkatan jumlah kasus leptospirosis. Sementara itu, variabel meteorologi lainnya, tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p &gt; 0,05).</p> <p>Simpulan kelembaban tanah berperan penting dalam peningkatan kasus leptospirosis dibandingkan faktor meteorologi lainnya.</p> <p>Saran perlu mengintegrasikan pemantauan kelembaban tanah dalam sistem peringatan dini kesehatan. Meningkatkan kewaspadaan di area dengan kondisi tanah basah. Eksplorasi faktor non-meteorologi direkomendasikan sebagai langkah selanjutnya.</p> Nayarana Eka Candra Nanda Fridiani Bintoro Iqbal Ardiansyah Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 242 254 Seorang Perempuan 40 Tahun dengan Lesi Vesikular Nyeri di Genitalia: Herpes Genitalis https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7378 <p>Herpes genitalis merupakan infeksi menular seksual yang paling sering disebabkan oleh Herpes Simplex Virus tipe 2 (HSV-2), ditandai dengan ulkus nyeri pada area genital yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien dan berisiko infeksi sekunder. Seorang perempuan berusia 40 tahun datang dengan keluhan luka gatal, nyeri, dan bernanah pada area genital sejak tiga hari, disertai demam. Pemeriksaan fisik menunjukkan vesikel multipel dengan dasar eritematosa dan eksudat purulen. Diagnosis ditegakkan sebagai herpes genitalis akibat infeksi HSV-2. Pasien diberikan mupirocin topikal untuk mencegah infeksi sekunder bakteri , serta pregabalin oral untuk mengatasi nyeri neuropatik yang mengganggu tidur dan kualitas hidup pasien. Selain itu, pasien diedukasi untuk menjaga kebersihan area genital, sering mengganti pakaian dalam, melakukan kompres NaCl setelah pembersihan, serta menghindari kelembaban. Perbaikan gejala dicapai setelah pengobatan dan perawatan suportif. Herpes genitalis HSV-2 memerlukan tatalaksana komprehensif tidak hanya dengan antivirus, tetapi juga terapi suportif seperti mupirocin untuk pencegahan infeksi sekunder dan pregabalin untuk nyeri neuropatik. Edukasi pasien mengenai kebersihan diri dan pencegahan penularan berperan penting dalam keberhasilan terapi.</p> Eka Safitri Retna Ika Suryaningrum Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 255 261 Nyeri Punggung Kronis pada Perempuan Usia 42 Tahun: Laporan Kasus Fraktur Kompresi Vertebra T12 Akibat Osteoporosis https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7379 <p>Osteoporotic Vertebral Compression Fracture (OVCF) merupakan komplikasi osteoporosis yang sering menyebabkan nyeri punggung kronik, keterbatasan mobilitas, dan penurunan fungsi aktivitas sehari-hari, yang dapat diperberat oleh Myofascial Trigger Point Syndrome akibat ketegangan otot berkepanjangan. Laporan kasus ini bertujuan menggambarkan manifestasi klinis dan penatalaksanaan rehabilitasi medik pada perempuan usia 42 tahun dengan fraktur kompresi vertebra thorakal ke-12 disertai Myofascial Trigger Point Syndrome. Pasien mengeluhkan nyeri punggung atas bilateral menjalar ke punggung bawah dan ekstremitas atas sejak satu tahun, memberat dalam dua minggu terakhir, terutama saat berdiri tegak dan berbaring. Pemeriksaan fisik menunjukkan nyeri tekan, trigger point pada otot trapezius bagian atas, nyeri saat gerak, serta keterbatasan fleksibilitas trunk. Pemeriksaan radiologi dan MRI menunjukkan fraktur kompresi VTh12 dengan retropulsi ke kanalis spinalis yang menimbulkan stenosis ringan dan perubahan degeneratif tulang belakang. Penatalaksanaan meliputi terapi farmakologis, penggunaan ortosis TLSO, serta program rehabilitasi medik berupa latihan stabilitas postural, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation, mobilisasi, pijatan, dan edukasi latihan mandiri. Pendekatan rehabilitasi medik yang komprehensif diharapkan dapat menurunkan nyeri, meningkatkan mobilitas, dan memperbaiki kemampuan fungsional pasien.</p> Salsabilla Kindly Aurelia Azzahwa Retno Setianing Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 262 271 Seorang Laki-Laki Usia 57 Tahun dengan Infark Miokard Akut Elevasi Segmen ST Anterior dan Thrombus Intracardiac: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7380 <p>ST-elevation myocardial infarction (STEMI) anterior merupakan sindrom koroner akut dengan mortalitas serta risiko komplikasi tinggi, termasuk pembentukan trombus intrakardiak. Kami melaporkan kasus seorang laki-laki berusia 57 tahun yang datang dengan keluhan nyeri dada kiri sejak 10 hari sebelum masuk rumah sakit, disertai mual dan keringat dingin. Pemeriksaan elektrokardiografi menunjukkan elevasi segmen ST pada sadapan anterior yang konsisten dengan STEMI anterior, disertai peningkatan signifikan high-sensitivity troponin I. Pasien menjalani terapi reperfusi menggunakan fibrinolisis streptokinase akibat keterbatasan fasilitas intervensi koroner perkutan primer, namun evaluasi pasca-fibrinolisis tidak menunjukkan resolusi segmen ST yang adekuat. Pemeriksaan ekokardiografi transthorakal selanjutnya menemukan trombus intrakardiak pada apikal ventrikel kiri dengan fraksi ejeksi menurun. Temuan ini sejalan dengan literatur yang menyebutkan bahwa infark anterior luas, disfungsi ventrikel kiri, dan keterlambatan reperfusi merupakan faktor risiko utama trombus ventrikel kiri. Pasien diberikan terapi antikoagulasi heparin intravena yang dilanjutkan dengan warfarin, menunjukkan perbaikan klinis dan pengecilan ukuran trombus. Kasus ini menegaskan pentingnya evaluasi ekokardiografi dini dan antikoagulasi yang tepat pada pasien STEMI anterior.</p> Faril Arwan Tri Rahma Anna Budiarti Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 272 282 Seorang Wanita 82 Tahun dengan Adenocarcinoma Caecum: Sebuah Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7381 <p>Kanker kolorektal merupakan keganasan yang berkembang melalui proses bertahap dari polip jinak hingga bisa menjadi kanker invasif, kanker ini diawali dari berbagai faktor risiko seperti penyakit inflamasi usus, kebiasaan merokok, paparan radiasi abdomen, obesitas, dan sindrom herediter. Faktor-faktor risiko tersebut dapat menyebabkan mutasi pada sel-sel kolon, sehingga dapat menyebabkan pembelahan sel yang tidak terkontrol dan dalam jangka waktu bertahun-tahun dapat berkembang menjadi kanker kolorektal. Pertumbuhan tumor kolon ini bisa menyebabkan penyempitan lumen dan dapat menyebabkan obstruksi. Penelitian ini merupakan sebuah laporan kasus yang disusun dari anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan terapi pada seorang pasien wanita usia 82 tahun dengan adenocarcinoma caecum. Dalam kasus ini dilaporkan seorang wanita usia 82 tahun datang ke RSUD dr. Harjono S. Ponorogo dengan keluhan nyeri perut yang sudah dirasakan sejak 3 tahun lalu, disertai dengan benjolan di perut kanan bawah yang dirasakan pasien semakin membesar, disertai sulit BAB dengan konsistensi feses cair dan kadang disertai darah segar. Kemudian dilakukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang berupa laboratoris, radiologis, dan mikroskopik untuk menegakkan diagnosis yang pada kasus ini didapatkan diagnosis pasien adalah adenocarcinoma caecum, kemudian terapi yang diberikan berupa operatif yang dilanjutkan dengan kemoterapi untuk tatalaksana paliatifnya.</p> Samara Leonarisabila Heru Iskandar Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 283 293 Tetanus Generalisata pada Pria Usia 57 Tahun: Sebuah Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7382 <p>Latar Belakang: Tetanus adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh Clostridium tetani, bakteri anaerob yang menghasilkan toksin tetanospasmin, yang menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan spasme otot yang menyakitkan serta gangguan fungsi otonom. Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan di negara berkembang, terutama pada individu yang tidak memiliki riwayat vaksinasi lengkap.<br>Metode: Laporan kasus ini membahas seorang pria berusia 57 tahun yang datang ke IGD dengan keluhan perut kaku dan nyeri sejak empat hari sebelumnya.<br>Hasil: Pasien disertai kesulitan membuka mulut (trismus), risus sardonikus, dan spasme otot generalisata. Pemeriksaan fisik menunjukkan hipertonus otot, opistotonus, dan tanda-tanda disfungsi otonom. Pasien didiagnosis dengan tetanus generalisata dan mendapat terapi suportif berupa pemberian imunoglobulin tetanus (TIG), antibiotik metronidazol, serta benzodiazepin untuk mengontrol spasme otot.<br>Kesimpulan: Penatalaksanaan tetanus memerlukan pendekatan multidisiplin yang mencakup netralisasi toksin, pemberantasan sumber infeksi, serta dukungan pernapasan dan kardiovaskular. Studi kasus ini menyoroti pentingnya deteksi dini, vaksinasi lengkap, serta penanganan segera untuk mengurangi mortalitas dan morbiditas akibat tetanus.</p> Anis Nuristiqomah Iin Novita Nurhidayati Mahmuda Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 294 307 Capsulitis Adhesiva sebagai Penyebab Nyeri dan Keterbatasan Gerak: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7383 <p>Capsulitis adhesiva atau frozen shoulder merupakan proses patologis pada jaringan ikat sendi glenohumeral berupa inflamasi dan adhesi kapsul yang menyebabkan nyeri serta keterbatasan gerak sendi bahu. Kondisi ini dapat bersifat primer atau sekunder akibat cedera, imobilisasi, maupun pascatindakan operatif, serta berkembang melalui fase freezing, adhesive, dan resolusi. Laporan kasus ini bertujuan untuk menggambarkan manifestasi klinis, penegakan diagnosis, dan penatalaksanaan capsulitis adhesiva bahu kanan. Laporan kasus pada seorang perempuan berusia 62 tahun dengan keluhan nyeri bahu kanan sejak tiga bulan disertai keterbatasan gerak. Data dikumpulkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik umum, status lokalis dan neurologis, uji provokasi bahu, serta pemeriksaan penunjang radiologis, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Pasien mengalami nyeri bahu kanan dengan skor Visual Analog Scale (VAS) 4-5, disertai nyeri tekan, spasme otot, krepitasi, dan keterbatasan hampir seluruh rentang gerak aktif dan pasif. Beberapa tes provokasi bahu menunjukkan hasil positif parsial yang mendukung diagnosis capsulitis adhesiva bahu kanan. Diagnosis capsulitis adhesiva dapat ditegakkan melalui evaluasi klinis yang komprehensif sehingga tatalaksana dapat diberikan secara tepat untuk memperbaiki fungsi bahu dan kualitas hidup pasien.</p> Rahma Ghaida Titian Rakhma Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 308 317 Asfiksia Neonatorum pada Bayi Aterm dengan Intrauterine Growth Restriction yang Lahir dari Ibu dengan Preeklampsia Berat: Laporan Kasus https://proceedings.ums.ac.id/kedokteran/article/view/7384 <p>Asfiksia neonatorum merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatal, terutama pada bayi dengan faktor risiko seperti preeklampsia dan intrauterine growth restriction (IUGR). Asfiksia terjadi akibat kegagalan bayi baru lahir untuk memulai dan mempertahankan pernapasan spontan yang adekuat, sehingga menimbulkan hipoksemia dan asidosis. Laporan kasus ini membahas seorang bayi perempuan aterm dengan IUGR yang lahir melalui seksio sesarea atas indikasi preeklampsia berat. Bayi lahir dengan skor Apgar 4-6, berat badan lahir 2200 gram, dan menunjukkan tanda klinis asfiksia sedang. Diagnosis ditegakkan berdasarkan skor Apgar, kondisi klinis neonatus, serta adanya faktor risiko maternal dan perinatal. Tatalaksana awal dilakukan sesuai pedoman resusitasi neonatus terkini dengan fokus pada ventilasi efektif dan perawatan suportif. Setelah dilakukan penanganan segera, kondisi klinis bayi menunjukkan perbaikan dan stabil. Berdasarkan literatur, preeklampsia dan IUGR berperan dalam menurunkan cadangan oksigen janin dan mengganggu adaptasi ekstrauterin. Kasus ini menegaskan pentingnya deteksi dini faktor risiko dan resusitasi neonatus yang tepat untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.</p> Faril Arwan Tri Rahma Kautsar Prastudia Eko Binuko Copyright (c) 2026 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-06-26 2026-06-26 318 326