Analisis Efisiensi Usaha Petani dan Nelayan Wilayah Pasang Surut Waduk Gajah Mungkur Wonogiri Tahun 2024
Abstract
Indonesia merupakan negara agraris sekaligus negara kepulauan yang memiliki potensi besar dalam sektor pertanian dan perikanan. Salah satu wilayah yang memanfaatkan potensi tersebut adalah daerah pasang surut Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, di mana masyarakat berprofesi sebagai petani saat kemarau dan nelayan saat musim penghujan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat efisiensi teknis usaha tani dan nelayan serta mengidentifikasi faktor-faktor input yang memengaruhi efisiensi pada masyarakat yang merangkap kedua profesi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis Data Envelopment Analysis (DEA) menggunakan model Variable Return to Scale (VRS) yang berorientasi pada input. Data diperoleh dari 100 responden di empat desa, yaitu Glesungrejo, Gambiranom, Talunombo, dan Boto. Variabel input yang dianalisis meliputi modal, pengalaman, jam kerja, dan teknologi, sedangkan output diukur dari pendapatan petani dan nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 46% nelayan dan 51% petani yang telah mencapai efisiensi teknis. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara efisiensi sektor pertanian dan perikanan. Input yang paling banyak menyebabkan inefisiensi adalah modal, pengalaman dan teknologi. Di sektor perikanan, kelebihan modal terjadi akibat mahalnya alat tangkap dan mesin kapal. Di sektor pertanian, inefisiensi dipicu oleh tingginya biaya modal dan teknologi yang belum tepat guna. Pengalaman kerja tinggi tidak selalu meningkatkan efisiensi tanpa pengelolaan input yang baik. Oleh karena itu, diperlukan strategi optimalisasi penggunaan input serta pendampingan teknis untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas masyarakat pasang surut.
