Hubungan Tingkat Pendapatan dan Tingkat Pendidikan dengan Kejadian Hipertensi pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Polanharjo Klaten
Abstract
Pada tahun 2019, lansia di Indonesia mencatat sebesar 9,60%, meliputi 25,64 juta individu. Data BPS juga menyebutkan bahwa lansia laki laki menyumbang 47,65%, sedangkan lansia perempuan 52,35%. Khusus di Jawa Tengah, prevalensi hipertensi pada lansia terus melonjak, dari 12,22% pada tahun 2020 menjadi 12,71% pada tahun 2021. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada keterkaitan antara tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan dengan kemunculan hipertensi pada lansia di area Puskesmas Polanharjo, Klaten. Penelitian ini dengan pendekatan kuantitatif berdesain cross‐sectional dan teknik pengambilan sampel consecutive sampling studi, ini mengumpulkan data dari 53 responden dengan kriteria lansia >45 tahun, tinggal sendiri atau dengan keluarga dan menganalisisnya menggunakan uji chi‐square.73,6% responden hipertensi, dan 26,4 tidak mengalami hipertensi. Penelitian ini dari berpendidikan diantaranya73,6% responden tamatan pendidikan dasar dan 83% memiliki pendidikan lanjutan. 58,5% responden berpendapatan tinggi dan 41,5% berpendapatan rendah. Analisis bivariat menunjukkan hasil adanya hubungan yang berarti antara tingkat pendidikan dan risiko hipertensi (p‐value 0,044 < 0,05). Namun, tidak ada hubungan signifikan yang antara tingkat pendapatan dan kejadian hipertensi (p‐value 0,534 > 0,05). Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan pendidikan berperan dalam kejadian hipertensi, namun pendapatan tidak dan diharapkan peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian dengan variabel langsung.
