Hubungan Frekuensi Senam Aerobik dengan Indeks Massa Tubuh Anggota Sanggar Senam Bahagia Kecamatan Delanggu Kabupaten Klaten
Abstract
Obesitas adalah masalah gizi yang kompleks di Indonesia, dengan prevalensi nasional mencapai 21,8%. Wanita memiliki angka obesitas yang lebih tinggi (32,9%) dibandingkan pria (19,7%). Ketidakseimbangan energi dan kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor utama peningkatan risiko obesitas. Indeks Massa Tubuh (IMT), yang dihitung dari berat badan (kg) dibagi kuadrat tinggi badan (m), digunakan sebagai indikator sederhana untuk mengklasifikasikan status gizi. Senam aerobik dipilih sebagai intervensi karena terbukti efektif dalam meningkatkan kebugaran, mengurangi lemak tubuh, dan menurunkan IMT, dengan rekomendasi ideal 3-5 kali per minggu selama 30-60 menit. Penelitian observasional analitik ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara frekuensi senam aerobik dan status gizi pada 85 anggota Sanggar Senam Bahagia di Kecamatan Delanggu. Klasifikasi IMT meliputi Normal, Obesitas I, dan Obesitas II, sementara frekuensi senam dikategorikan sebagai kurang (<2 kali/minggu), cukup (3–4 kali/minggu), dan baik (>4 kali/minggu). Data dianalisis menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden (41,2%) melakukan senam 3–4 kali per minggu, namun sebagian besar (51,8%) masih berada dalam kategori Obesitas II. Uji Chi-Square mengungkapkan adanya hubungan signifikan antara frekuensi senam aerobik dengan status gizi (p = 0,000). Meskipun demikian, pola makan dan gaya hidup juga merupakan faktor penting yang memengaruhi status gizi. Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan adanya korelasi signifikan antara frekuensi senam aerobik dan status gizi, serta merekomendasikan peningkatan intensitas senam aerobik dan perhatian lebih pada faktor pendukung gaya hidup sehat lainnya.
