Prevalensi Kecacingan pada Siswa Sekolah Dasar Pascapengobatan Massal Kecacingan di Bombana dan Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara

Authors

  • Rais Yunarko Pusat Riset Biomedis, Badan Riset dan Inovasi Nasional
    Indonesia
  • Yona Patanduk Pusat Riset Kedokteran Pra-Klinis dan Klinis, Badan Riset dan Inovasi Nasional
    Indonesia
  • Syarif Hidayat Pusat Riset Biomedis, Badan Riset dan Inovasi Nasional
    Indonesia
  • Nungki Hapsari Suryaningtyas Pusat Riset Biomedis, Badan Riset dan Inovasi Nasional
    Indonesia
  • Alfin Harjuno Dwiputro Universitas Gadjah Mada
    Indonesia

Abstract

Pendahuluan: Infeksi kecacingan akibat Soil-Transmitted Helminths (STH) paling umum terjadi pada anak usia sekolah di daerah tropis dan subtropis. Infeksi parasit usus dapat menurunkan status kesehatan, nutrisi, kecerdasan, produktivitas, dan kualitas sumber daya manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi STH pada anak sekolah dasar pascapengobatan massal di Bombana dan Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara.

Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah anak sekolah dasar kelas 2 dan 3 di Bombana dan Kolaka Utara. Spesimen yang dikumpulkan adalah sampel tinja yang diperiksa dengan metode langsung di bawah mikroskop. Dilakukan wawancara kepada wali responden terkait dengan umur dan riwayat minum obat antelmintik.

Hasil: Sebanyak 151 siswa di Bombana dan 156 siswa di Kolaka Utara dipilih secara acak untuk berpartisipasi dalam penelitian ini dan memberikan sampel tinja. Hasil pemeriksaan tinja menemukan bahwa prevalensi STH di Bombana adalah 2% dan di Kolaka Utara 7%. Spesies yang ditemukan di Bombana adalah Trichuris trichiura dan di Kolaka Utara adalah Ascaris lumbricoides dan T. trichiura. Umur dan jenis kelamin tidak mempunyai hubungan dengan infeksi cacing STH.

Riwayat mengonsumsi obat antelmintik dalam kurung dari satu tahun berhubungan dengan kejadian infeksi cacing STH di Kabupaten Kolaka Utara, dan mempunyai kecenderungan di Bombana.
Kesimpulan: Prevalensi kecacingan di Kabupaten Bombana adalah 2% dan di Kolaka Utara 7%. Masih ditemukannya infeksi cacing STH dan khususnya infeksi T. trichiura, menunjukkan bahwa pengendalian dan pencegahan STH selain melakukan pengobatan massal perlu diperkuat dengan edukasi higiene, perbaikan sanitasi, dan intervensi kesehatan lingkungan.

Downloads

Download data is not yet available.

Downloads

Published

2026-08-06