Pengembangan Makanan Enteral Tinggi Branched-Chain Amino Acids berbasis Pangan Lokal Labu Kuning dan Ikan Lele untuk Pasien Sirosis Hati
Abstract
Pendahuluan: Malnutrisi sering terjadi pada 20-50% pasien sirosis hati akibat gangguan fungsi hati, penurunan absorpsi nutrisi, dan meningkatnya kebutuhan energi. Pasien juga mengalami penurunan kadar BCAA, yang penting untuk sintesis protein dan fungsi otot, sehingga asupan BCAA melalui makanan enteral sangat diperlukan. Formula enteral kaya BCAA dapat memperbaiki status gizi, mendukung regenerasi hati, dan mencegah komplikasi seperti ensefalopati hepatik. Formula berbahan pangan lokal labu kuning dan ikan lele yang tinggi BCAA dapat menjadi alternatif enteral tinggi BCAA untuk pasien sirosis hati.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan dua perlakuan, kemudian dibandingkan dengan formula enteral komersial (FEK). Parameter yang diuji meliputi daya terima, viskositas, nilai gizi, osmolalitas, daya alir, dan harga. Data daya terima dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis (p<0,05) dan uji Mann-Whitney bila signifikan. Perbedaan viskositas dianalisis dengan uji T-Test (p<0,05), sedangkan osmolalitas, daya alir, dan harga dianalisis secara deskriptif.
Hasil: Formula F1 memiliki kandungan energi, protein, karbohidrat, dan densitas lebih tinggi. Formula F2 menunjukkan viskositas berbeda signifikan (p=0,00), aspek gizi tidak berbeda signifikan (p=0,317) dan laju daya alir (0,25 cc/detik pada selang 12 dan 0,4 cc/detik pada selang 14). Osmolalitas F2 sebesar 485 mOsm/kg memenuhi standar formula enteral. Daya terima F1 dan F2 berbeda signifikan dibanding formula komersial (p=0,001). F2 lebih disukai karena proporsi labu kuning dan ikan lele 50% lebih sedikit dibanding F1, serta lebih ekonomis dengan biaya Rp31.219 per sajian.
Simpulan: Formula enteral blenderized F2 direkomendasikan untuk pasien sirosis hati karena kandungan gizinya setara formula komersial, dengan viskositas dan osmolalitas sesuai standar formula enteral blenderized. Kombinasi nilai gizi, kualitas fisik, biaya, dan daya terima membuat F2 layak sebagai alternatif formula enteral.


